My Old Wife

My Old Wife
Season 2 – Part 32 Angga?


__ADS_3

...~Kau yang aku cintai tidak akan pernah terganti~...


-Keisha Prawijaya~


***


Jajaran pot bunga telah di tata di depan toko. Eli yang menyusun tanaman hias tersebut. Sementara Jemy yang mengantarkan beberapa pesanan dari pelanggan. Lonceng bunga itu berbunyi, kedatangan seorang tamu. Eliot yang membawakan beberapa kotak makan yang dipesan Keisha.


[Apa kabar Nona?]


Gerak tubuh Eliot mengatakan demikian. Dia membiarkan Eli mengambil kantong plastik itu menaruhnya di belakang.


Keisha tersenyum tipis sebagai balasan, "Aku baik Eliot. Bagaimana denganmu?" lelaki yang ditanya menyematkan senyum lalu mengangguk sebagai jawaban. Eli datang menyerahkan beberapa kertas catatan serta uang pembayaran.


"Kau menambahkan satu kotak lagi. Kalau terus seperti ini kau bisa bangkrut," ketus Eli mengomeli pegawai restoran Paman Gio yang selalu memberikan bonus tambahan satu kotak makanan padahal mereka tidak memesannya.


[Ini untuk Hasa, siapa tahu nanti Hasa datang kemari.]


Secarik kertas diberikan kepada Eli, wanita itu mendengus kasar. "Eliot, tidak setiap hari Hasa bermain di sini. Tapi terima kasih karena telah menyayangi putraku. Ambilah bunga apa pun yang kau suka untuk kekasihmu." Keisha melihat wajah bahagia terlukis pada ekspresi Eliot. Dia senang menerima hadiah dari Keisha.


"Kau mengambil Lili merah, artinya orang itu sangat berkesan untukmu."


Eliot membenarkan ucapan Keisha dengan mengangguk antusias. Karena baginya Ella memang perempuan yang paling berkesan dalam hidupnya.


'Nona Keisha sangat baik, saya berharap Tuhan juga memberi keajaiban untuk Anda agar bertemu dengan Tuan Angga,' batin Eliot mendoakan dengan tulus.


Keisha meminta pada Eli agar merangkai Lili merah yang diambil Eliot. Kemudian perempuan itu mengobrol dengan Eliot sebentar sembari menyirami tanaman.


***


Julian tengah membenarkan bangku lukisnya. Menata kanvas beserta kuas di tempatnya. Dering ponsel dari teman lama menganggunya, membuat ia berhenti sejenak mengangkat panggilan tersebut. Suara serak khas Dokter Zen terdengar dengan jelas.

__ADS_1


"Untuk apa kau menghubungiku?" Julian menerima panggilan itu sambil menyusun panel-panel lukisan. "Kau tidak mau melakukan kontrol sebentar?" bukan menjawab Julian justru mengalihkan topik pembicaraan.


"Muridku Hasa sudah datang, kita sambung obrolannya lain waktu," pungkasnya.


"Julian, hei Julian?"


Panggilan diakhiri secara sepihak. Lelaki bermanik batu rubi itu membiarkan Dokter Zen memanggilnya berulang kali.


Bayangan Hasa yang terlihat memasuki galeri bersama Peter dan satu bocah gembul lagi membuat Julian tersenyum senang. Memang hal yang paling ia cintai adalah Keisha. Namun, Hasa juga salah satu orang yang telah memasuki hati Julian. Anak itu sangat ia sayangi seperti putra kandungnya sendiri.


"Paman!" Hasa segera memeluk Julian bersikap manja. "Kau membawa teman?" pandangan Julian melihat ke arah bocah bertubuh gempal di samping Peter. Hasa terkekeh mengenalkan Bernard seperti seorang pembawa acara di televisi.


"Dia Bear, teman baruku," ungkapnya membuat Bernard memanyunkan bibir. "Namaku Bernard, bukan Bear," sanggahnya.


"Ya tidak jauh beda antara Bernard dan Bear, apa yang salah?" balas Hasa semakin membuat putra Romi kesal setengah mati.


"Dia Bernard Paman, anak Paman Romi dan Bibi Dokter," tambah Peter menengahi pertengkaran dua bocah nakal itu. Julian mengangguk mengerti, dia menghampiri Bernard mengenalkan dirinya sebagai guru lukis Hasa.


"Jadi apa yang akan kita pelajari hari ini Panan?" Hasa tampak antusias melihat alat-alat lukis di meja. Julian mengusap kepala anak itu sayang. "Goresan dasar, cara membuat sketsa." Mata Bernard dan Hasa berkaca-kaca. Tertarik dengan hal yang baru.


"Apa yang kau pikirkan Hasa?"


"Sebuah gambar beruang besar," jawabnya tertawa kecil yang mulai memicu keributan lagi.


Peter memilih melihat lukisan lain sementara dua bocah itu berdebat. Dia cukup tertarik dengan seni. Namun, dia telah menggeluti musisi sebagai profesi kecilnya untuk manggung mencari uang tambahan.


Saat Hasa bersama Bernard sibuk melukis wajah masing-masing. Peter berpamitan pergi karena dia ada pertunjukan dengan regu orkestranya sebentar lagi di taman kota.


"Paman, aku titip Hasa dan Bernard," pamitnya yang dibalasi anggukan tanda setuju dari Julian.


Sambil menunggu dua muridnya melukis Julian memilih berdiri di depan galeri menyaksikan lalu-lalang orang-orang yang melintas. Dia mengingat sosok lelaki yang ia duga sebagai Angga. Julian tahu pria itu ada di Ottawa. Tersembunyi di suatu tempat.

__ADS_1


***


Di sebuah mini mart tidak jauh dari kedai kopi. Beberapa karyawan tengah disibukkan dengan berbagai macam barang baru yang datang dari pabrik. Barang-barang ini dipindahkan ke gudang sebagai stok penjualan.


Lelaki tampan berambut hitam legam itu tampak keletihan, dahinya dipenuhi keringat yang menetes.


"Angga, bisa kau bantu aku menata ini di rak? Beberapa stok sabun mandi bayi dan mie instan telah habis."


Laki-laki itu mengangguk, dia bersemangat mengangkat satu box besar berisi sabun bayi dari berbagai merek. "Hari ini kerjamu bagus, bulan depan Bos pasti memberimu bonus tambahan." Angga cuma tersenyum lebar, menata barang-barang itu di rak pembeli.


"Ya aku harus bekerja keras, Sonia membutuhkan banyak biaya untuk sekolah."


"Kau Kakak yang baik."


"Kapan kau akan menikah?"


"Disaat yang tepat."


Mereka tertawa saling menggoda satu sama. lain. Ya kini Angga tengah hidup dengan seorang anak remaja. Gadis yang menjadi tanggung jawabnya setelah sang ibu meninggal -- Sahira.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


~Bersambung


Maaf saat ini kesehatan Sana menurun, sering demam kalau malam. Mungkin karena tugas RL semakin banyak. Jadi update MOW maupun ST juga telat. Harap sabar menunggu.


__ADS_2