My Old Wife

My Old Wife
Perjumpaan yang Tertunda


__ADS_3

~Ketika raga mulai mengelana dan usia telah menua, aku dan kamu hanya tinggal menunggu waktu Tuhan memanggil kita~


Pada pukul 08.00 pagi pesawat yang ditumpangi oleh Sebastian telah tiba di Bandara Internasional  Soekarno-Hatta. Dia sudah dijemput oleh beberapa staff pekerjanya yang ada di kota ini. Pria itu selalu terlihat sempurna meskipun usianya sudah tidak muda lagi. 


“Selamat datang Tuan Sebastian,” sapa salah seorang dari mereka. 


Sebastian hanya mengangguk sebagai jawaban. 


“Apa kita akan langsung ke kediaman Tuan Heru, Tuan?”


“Aku ingin berkunjung ke suatu tempat terlebih dahulu.”


“Baik, Tuan.” 


Kursi roda Sebastian dilipat dan dimasukkan ke dalam bagasi mobil, sementara dirinya didudukkan di kursi penumpang. Mereka melakukan perjalanan kurang lebih selama tiga jam, di dalam mobil mata pria paruh baya itu terus memandang ke luar menikmati pemandangan kota Jakarta yang padat dan sesak beserta gedung-gedung yang menjulang tinggi.  


“Aku merindukan kota ini,” batin Sebastian dalam hati.   


“Tuan kita sudah sampai.”


Perkataan dari supirnya membuyarkan lamunan Sebastian tentang masa lalu. Mengenai beberapa potongan kisah hidupnya di kota ini bersama orang yang pernah dicintainya. 


Willy asisten Sebastian yang baru membantunya turun dari mobil, lelaki itu kembali mendudukkan Sebastian di kursi roda kesayangannya. Hamparan rumput hijau terlihat sejauh mata memandang, beberapa gundukan tanah berbentuk persegi dengan batu nisan di atasnya menjadi perhatian utama bagi Sebastian. Kini lelaki paruh baya itu sedang berada di makam, dia datang ke sini untuk mengunjungi orang terkasihnya yang tidak pernah dia lupakan semasa hidupnya. 


“Tuan, apa Anda butuh bantuan?” Tawar Willy setelah mengantar Sebastian ke salah satu makam yang batu nisannya terukir nama “SUSI”. 


“Tidak perlu, kamu bisa menungguku di Mobil Willy,” kata Sebastian sembari menjalankan kursi rodanya agar lebih dekat ke makam istrinya. 


“Baik Tuan,” pamit Willy seraya berjalan meninggalkan Tuannya, karena mungkin lelaki itu sedang membutuhkan waktu sendirian. 


Sepeninggalan Williy, Sebastian menyentuh batu nisan di makam itu, huruf demi huruf yang merangkai nama  wanita yang dicintainya mulai dia sentuh dan resapi. Hatinya bergetar, entah apa yang terjadi padanya saat ini. Beberapa helai daun kering yang menutupi makam itu segera ia singkirkan. Makam itu terawat dengan baik, ada beberapa tangkai mawar berwarna kuning yang tergeletak di sana, menandakan seseorang baru saja mengunjungi makam itu. 

__ADS_1


“Apa kabar sayang?” Tanya Sebastian sembari mengusap batu nisan milik istrinya. 


“Maafkan aku karena baru mengunjungimu,” sambung Sebastian lagi. 


Lelaki paruh baya itu mengambil sesuatu dari sakunya dan meletakkan benda tersebut di atas makam wanita  yang dicintainya. Itu adalah sebuah kotak kecil berwarna merah yang terbungkus dengan pita putih. 


“Kau pasti sudah menungguku begitu lama untuk kembali. Tapi diriku bahkan tidak juga datang menemuimu.” Sebastian berhenti sejenak dia menarik napas dalam dan menghembuskannya kembali. 


“Seharusnya kamu marah padaku sayang, tapi kenapa kamu justru sangat mencintaiku? Sebegitukah aku berharga di hidupmu?” Tanya Sebastian sembari mengingat surat yang ditulis Susi terkahir kali untuknya. Tidak terasa air matanya mulai mengalir. 


“Terimakasih untuk semuanya, kesetiaanmu, cintamu, dan putra kita.” Kata Sebastian tercekat di tenggorokannya suaranya susah untuk dikeluarkan. 


Sebastian membuka kotak persegi berwarna merah tadi, ada gulungan kertas yang ujungnya sudah koyak serta sebuah anting berlian di sana, sangat indah dan elegan. 


“Sayang, aku sengaja membelikan ini untuk mengganti anting yang kau jual untuk menambah biaya kelahiran anak kita.” Mata Sebastian mulai menerawang masa lalu, ketika masa-masa sulit yang dilaluinya di awal pernikahan mereka. 


“Tapi bahkan aku tidak memiliki kesempatan untuk memberikannya untukmu.” Pria itu mulai menyesal atas tindakannya yang meninggalkan Susi saat itu, dan membiarkan perempuan itu terluka setelah kepergiannya. Sebastian kembali memasukkan kembali perhiasan itu ke dalam wadahnya, dia menaruhnya di atas makam istrinya. 


“Sekarang aku ingin memberikannya untukmu, meskipun sedikit terlambat. Ku harap kamu mau menerimanya sayang.”


“Tuan, cuacanya sedang buruk, mari kembali ke dalam mobil,” Tawar Willy yang sudah berlari ke arah Sebastian dan bergegas membuka payung hitam untuk Tuannya. 


Tanpa aba-aba dan menunggu jawaban dari Sebastian, Willy sudah lebih dulu mendorong kursi roda Sebastian, salah satu rekannya juga menyusulnya dan membantunya, mereka kembali ke dalam mobil sebelum rintik-rintik hujan berhasil turun secara sempurna. 


Tempias hujan dapat terlihat dengan jelas di jendela kaca mobil, butiran-butiran air itu semakin deras sehingga membasahi sedikit kera kemeja Sebastian. 


“Kita bawa Tuan ke hotel terlebih dahulu untuk berganti pakaian dan istirahat, setelah itu baru ke rumah Tuan Heru,” perintah Willy pada supir pribadi Sebastian.


Sesuai dengan instruksi Willy mobil itu melaju di jalan kota yang cukup padat, guyuran hujan tidak menghambat perjalanan mereka. Kendaraan beroda empat itu berjalan mulus tanpa hambatan suatu apa pun. 


“Aku berharap Tuhan akan menyatukan kita kembali di kehidupan berikutnya, saat itu terjadi aku tidak akan pernah menyianyiakanmu,” batin Sebastian dalam hati.  

__ADS_1


Di tempat lain, seorang lelaki dan perempuan tengah menatap rintikan hujan dari jendela kamar mereka. Keduanya melihat awan hitam yang menggulung-gulung di sana. 


“Apa kita akan tetap pergi ke rumah Ayah?” Tanya Keisha pada suaminya. 


“Iya sayang, tapi setelah hujannya reda. Aku tidak ingin nanti kamu jatuh sakit.” Pemuda itu memeluk istrinya dari belakang, meletakkan selimut hangat di bahu perempuan yang dicintainya. 


“Angga,” panggil Keisha dengan pelan. 


“Hmmm, ada apa?” Angga semakin mempererat pelukannya. 


“Entah kenapa aku merasa sedih.”


Angga langsung membalikkan tubuh Keisha ke arahnya, agar dia dapat melihat wajah perempuan itu dengan jelas. Mata yang teduh, yang selalu ia dambakan memberikan tatapan hangat terlihat sendu. Guratan kecemasan dan kesedihan terlukis di wajah istrinya, sesuatu yang tidak pernah ia ingin lihat. 


“Jangan bersedih, aku ada di sini untukmu.”


Angga mengusap kedua pipi Keisha dan memberikan kecupan kecil didahinya. Kemudian dia menuntun Keisha untuk menjauh dari jendela agar hawa dingin tidak menyakiti istrinya. Pemuda itu mendudukkan istrinya di atas kasur, sementara dia duduk berjongkok di hadapan Keisha dan menggenggam kedua tangannya erat. 


“Saat kita bersama tidak akan aku biarkan kesedihan menghampirimu Nyonya, karena hanya kebahagiaan yang akan mengisi hari-hari kita, aku berjanji,” ucap Angga dalam hati seraya melihat mata Keisha dengan dalam. 


Suasana itu begitu sunyi tanpa ada pembicaraan sama sekali, namun dibalik itu semua mereka sedang berdialog dengan pikirannya masing-masing. 


“Tuan, ada telpon dari Tuan Sebastian untuk Anda,” ucap Romi sembari mengetuk daun pintu kamar Angga berulang kali. 


“Sebentar sayang, aku akan mengangkat telpon dari Ayah terlebih dahulu.” Angga mengecup tangan Keisha sesaat dan segera melangkah ke arah daun pintu, membukanya lebar-lebar. 


“Kita bicara di luar,” kata Angga sembari mengajak Romi untuk meninggalkan kamarnya.   


_______^_^________


MAAF ya Author baru bisa Up...🙏🙏

__ADS_1


Semoga suka dengan Episode ini...🤗🤗


Jangan lupa berikan Like + Komen + Vote + Rate bintang Lima😊😊


__ADS_2