
~ Hanya ada sebuah rasa yang menggebu-gebu saat seseorang mendapatkan apa yang sudah dia harapkan~
Malam hari itu terasa begitu panjang bagi Angga, pemuda itu sedang menanti datangnya hari esok. Entah mengapa pikirannya mulai berkeliaran ke mana-mana, ada rasa cemas, takut, khawatir yang menjadi satu. Rasanya hantinya begitu resah malam ini, dia kesulitan untuk tidur dengan tenang. Jadi Angga hanya merebahkan tubuhnya di atas kasur sambil memandang ke langit-langit ruangan.
"Apa Nyonya akan menolakku lagi? Apa mungkin besok adalah akhir dari semuanya? Ahhh.. Ibu aku bingung harus bagaimana kalau sampai Nyonya menolakku lagi, aku tidak tahu harus menggunakan cara apa lagi untuk membuktikan keseriusanku..huh kepalaku terasa pusing." Pikirya dalam benaknya, pemuda itu berulang kali menghembuskan napas tidak henti-hentinya mencoba menenangkan pikirannya.
Pada akhirnya Angga bangkit dari acara berbaringnya, pemuda itu mengambil sebuah buku berukuran kecil yang merupakan catatan harian Ibunya, Nyonya Susi. Di sana telah tertulis secara rinci segala hal pengalaman hidup yang dialami Nyonya Susi dan orang-orang di sekitarnya. Ibunya Angga meninggal saat dirinya memasuki bangku SMP di tahun terakhir kelulusan.
Hari-hari setelah kepergian Ibunya terasa sulit bagi Angga, dia mencoba bertahan hidup dengan kakaknya Liliyana sorang diri. Tidak ada lagi sanak saudara yang memperhatikan mereka, keluarga Ayahnya pun baru datang di tahun-tahun terakhir kelulusan SMA-nya. Namun, tidak dengan Ayahnya.
Sampai mereka terpaksa harus menjual toko bunga yang dirawat oleh Ibunya untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, terlebih saat itu dia sedang membutuhkan uang banyak untuk berobat kakaknya yang juga jatuh sakit. Uang yang dia dapatkan dari kerja part time juga tidak cukup, karena dia hanya bekerja di toko swalayan biasa, seorang bocah yang bahkan belum lulus sekolah tentu akan sulit untuk mendapatkan pekerjaan.
Angga mengambil buku bersejarah peninggalan Ibunya, di sana ia dapat melihat coretan-coretan tinta hitam yang rapi dengan gaya tulisan lama dan agak sulit dibaca.
Senin, 3 Januari XXX
Hari ini begitu berat, aku dan suamiku berpisah. Dia memilih kembali bersama orang tuanya dan meninggalkanku dan putraku seorang diri di kota metropolitan ini. Dia telah pergi ke Singapura dengan kapal pesiar malam itu.... aku sendirian....
Minggu, 10 Januari XXX
Kami tidak memiliki tujuan dan tempat tinggal, selama tujuh hari ini kami hanya menyusuri jalan raya mencoba mencari tempat berteduh... makanan pun kami tidak ada.. mungkin ini karena aku hanya seorang anak panti. Jadi tidak ada orang yang aku kenal selain keluarga suamiku, setelah kami berpisah maka putuslah juga hubungan kami....
Sabtu, 16 Januari XXX
Demam putraku belum juga turun.. bahkan malam itu hujan turun dengan lebat.. aku takut. Angga mulai kejang-kejang, aku membawanya ke rumah sakit, tapi pihak rumah sakit meminta uang untuk biaya administrasi.. tapi aku tidak punya uang saat itu..aku.. terpaksa membawa Angga pergi dari rumah sakit dalam kondisi yang sama..
Minggu, 17 Januari XXX
Angga kecilku pingsan, aku tidak tahu harus bagaimana? Beruntunglah saat itu aku datang ke toko bunga. Seorang perempuan berhati malaikat mau membantuku.. dia membawa putraku ke rumah sakit dan membayar semua pengobatannya.
__ADS_1
Dia bahkan memberikanku pekerjaan di tokonya, dan dia menolong kehidupanku..dia menitipkan toko almarhum Ibunya untuk dirawat..
Satu pekan setelahnya aku mengangkat seorang anak lagi.. Liliyana aku menemukannya di jalanan..
Rabu, 31 Desember XXX
Tepat pada malam tahun baru, setelah dua tahun aku hidup dibawah pertolongannya.. dia datang padaku malam itu dengan perasaan kacau.. matanya merah dan sendu tapi dia tidak menangis.. hati perempuan ini begitu kuat..
Lelaki yang dicintainya telah menikah dengan orang lain.. walau dia tidak mengatakannya aku tahu itu..
Dia akan pergi ke Kanada.. dan dia menitipkan tokonya padaku.. aku begitu sedih atas kepergian putriku itu.. dia sudah menjadi anakku sejak malam itu..
Selasa, 28 Februari XXX
Putriku belum memberikan kabar sejak dua tahun dia pergi ke Kanada.. aku begitu khawatir.. ku harap dia baik-baik saja.
Hidupku tidak lama lagi.. aku ingin melihatnya...untuk yang terakhir kali...
Jumat, 29 Februari XXX
Saat detik-detik terakhir hidupku.. aku masih tidak melihatnya..
Kuharap dia bahagia.. semoga di kehidupan selanjutnya aku dapat membalas kebaikannya..
Sabtu, 1 Maret XXX
Setelah putriku kembali ku harap.... putraku dapat menjaganya menggantikanku...
Pemuda itu menutup buku harian itu, matanya berair. Ah, hatinya mulai sedih saat mengenang kepergian Ibunya. Lembar terakhir tertulis nama perempuan yang membantu Ibunya "Keisha Prawijaya". Sejak saat itu, hari-harinya dipenuhi dengan perempuan itu. Bagaimana tidak? Hampir setiap hari dia mencarinya.
__ADS_1
Tapi, dia baru menemukannya tiga tahun terakhir ini. Pada awalnya dia hanya ingin berterimakasih kepada perempuan itu atas segala pertolongannya di masa lalu, namun hari itu saat dia ingin menemuinya dan menyampaikan tujuannya. Hatinya berdesir hebat dan dia jatuh hati padanya.
Dia sudah mencoba untuk menghapus perasaanya tapi tidak bisa, mungkin itu karena nama wanita itu sudah lama terukir di hatinya sejak beberapa tahun lamannya. Yang tanpa dia sadari nama perempuan itu sudah mengikat hatinya.
Datanglah ke rumahku besok.
Putriku telah menerima lamaranmu.
Heru Prawijaya
Satu pesan yang masuk dari Ayah mertuanya segera dibaca oleh Angga, pemuda itu langsung menyimpan kembali buku harian Ibunya ke dalam laci. Dia bergegas memakai blazer yang dia gunakan di acara konferensi pers tadi, kemudian ia juga mengambil kunci mobilnya di atas nakas.
"Aku tidak bisa menunggu sampai besok, aku sudah tidak sabar ingin menemui Nyonya," ujar Angga dalam hatinya.
Pemuda itu bergegas menuju ke basement, dia menyalakan mobilnya dan
mengemudikannya di jalanan yang sepi. Dia
menuju ke kediaman Heru Prawijaya meskipun jam sudah menujukkan pukul 00.00 dini hari.
"Semoga Nyonya masih belum tidur," gumamnya lagi.
Angga terus bersenandung ria selama perjalanan menuju ke rumah calon istrinya, pemuda itu tidak henti-hentinya tersenyum, kebahagiaan yang ia rasakan di dalam hatinya sudah membuncah tidak tertahankan lagi. Dadanya begitu sesak dipenuhi dengan pundi udara yang terus kembang kempis memenuhi paru-parunya.
___________________________^__^
Hallo Reader..
Jangan lupa dukung Author dengan Like + Komen & Vote (Sebanyak-banyaknya)..🤗🤗
__ADS_1