My Old Wife

My Old Wife
Lembaran Baru


__ADS_3

~ Tidak baik mengenang kenangan lama, lebih baik mulai merencanakan apa yang akan kita lakukan saat ini dan masa depan~


Kembali ke masa sekarang dimana semua orang tengah berkumpul di ruang rawat Keisha, semua pasang mata di sana tengah memperhatikan dua orang pria yang sedang beradu pandang dengan serius.


"Bagaimana Tuan? Apa Anda menerima lamaran saya?" Tanya Angga sudah tidak sabar.


Setelah cukup lama terdiam menanti jawaban dari Heru, pemuda itu mulai merasa gelisah. Bagaimana tidak? Calon Ayah mertuanya ini memliki hati yang keras seperti batu, sehingga dibutuhkan perjuangan lebih untuk meluluhkan hatinya agar mau menerima dirinya sebagai calon menantunya.


"Meskipun kamu telah bersumpah atas nama Ibumu bahwa kamu akan menjaga putriku. Aku masih meragukanmu," ucap Heru kepada pemuda yang sedari tadi memohon padanya agar dia mau menerima lamarannya.


"Aku tidak ingin putriku terluka lagi, cukup sudah semua penderitaannya di masa lalu," batin Heru sembari mengusap lembut rambut Keisha.


"Saya butuh bukti, jika kamu serius dengan putri saya. Saya ingin kamu membuktikannya dengan tindakanmu, bukan hanya ucapanmu," tutur Heru kembali.


Dia mengarahkan tatapannya pada pemuda di hadadapannya itu. Heru menarik napas dalam dan mengeluarkannya pelan, dia mempersiapkan dirinya untuk memberitahukan kebenaran tentang Keisha pada semua orang. Perannya sebagai seorang Ayah dibutuhkan saat ini.


"Jika saya mengatakan bahwa putriku tidak dapat memberikanmu keturunan, apa kamu akan tetap menerimanya?"


Kini pria paruh baya itu membenarkan posisi duduknya, dia menghadap lurus ke arah Angga, dirinya ingin melihat reaksi apa yang akan diberikan pemuda itu setelah mendengar kebenaran tentang Keisha.


"Saya akan menerimanya Tuan, bagi saya menjalin sebuah hubungan dalam pernikahan bukan hanya untuk mendapatkan keturunan. Namun lebih dari itu, membangun bahtera rumah tangga yang baik adalah yang paling penting. Anak ada untuk menguatkan ikatan pasangan suami istri, tapi seorang anak tidak harus dilahirkan dari rahim Ibunya. Karena pada dasarnya peran dari orang tua bukan hanya sekedar melahirkan anak-anak itu ke dunia, tapi juga harus merawat dan mendidiknya dengan baik," jelas Angga pada Heru dengan nada yang masih serius.


Dia mulai mengingat bagaimana Ibunya, Nyonya Susi mengajarkan banyak hal padanya, petuah-petuah untuk membekali hidupnya. Nasihat Ibunya selalu mengarahkannya untuk menghargai suatu hubungan dan ikatan apa pun itu. Meskipun Ayahnya telah meninggalkan dia dan Ibunya sendirian tapi itu tidak mengurangi kasih sayang yang diterimanya sebagai seorang anak.


Selain itu, benar adanya bahwa untuk memiliki anak tidak harus melahirkan terlebih dahulu. Namun yang lebih penting adalah bagaimana cara kamu membesarkan anak itu dan merawatnya, mengajarkannya banyak hal agar menjadi orang yang berbudi luhur di kehidupannya, seperti yang telah Ibunya lakukan. Nyonya Susi mengangkat seorang anak yang ditemukannya di jalanan, dan anak itu sekarang telah tumbuh menjadi pribadi yang baik dan penyayang, dia adalah kakak perempuanya Liliyana.


"Lalu apa kamu akan menduakan anak saya nanti?" tanya Heru lagi.


Kali ini Angga lebih menekankan suaranya, entah mengapa menaklukan hati calon Ayah mertuanya ini begitu sulit.


"Saya tidak akan pernah melakukannya Tuan, saya berjanji. Jika Tuan masih tidak percaya Tuan dapat membuat surat perjanjian pra nikah. Jika di masa depan saya melanggar janji itu, Tuan dapat menggunakan surat itu untuk menuntut saya ke pengadilan nanti," ujar Angga lagi.


Mata Heru membelalak mendengar jawaban dari Angga, pemuda yang tadi terlihat menyebalkan dan tidak punya sopan santun tiba-tiba memiliki wibawa seperti ini. Sungguh aneh pikir Heru. Ia kembali melihat ke arah Angga, dan ia baru menyadari bahwa ternyata pemuda itu memiliki penampilan yang cukup tampan.


"Apa tidak apa-apa putriku menikah dengan pemuda ini? Lihat, dari ujung kaki sampai ujung rambutnya dia memiliki kharisma yang menawan! Bagaimana mungkin putriku dapat tahan bila mulai banyak wanita yang mengejarnya? Dia juga masih muda, peluangnya cukup banyak untuk bermain-main di luar sana," pikir Heru dalam hati.

__ADS_1


Mengetahui bahwa calon Ayah mertuanya tengah memperhatikan tubuhnya, Angga merasa aneh.


"Apa penampilanku seburuk itu untuk bersanding dengan Nyonya Keisha?" pikir Angga dalam benaknya.


Heru membuka suara lagi, sekarang dia memberikan jawaban yang sudah ditunggu-tunggu oleh semua orang. Ya, semua manusia penghuni ruangan itu sedari tadi menyimak arah pembicaraan mereka, bahkan suster dan pasien yang dirawat di sana juga menjadi pendengar setia dari perbincangan dua lelaki itu. Dalam hati mereka berkata bahwa 'Terima saja Tuan, Anda hanya memiliki kesempatan ini satu kali seumur hidup.'


"Kalau begitu, aku titipkan putriku padamu," tutur pria paruh baya itu sedikit malu, karena semua orang telah memandangnya dengan tatapan memohon bahkan tidak hanya keluarganya, dokter, suster, dan pasien yang ada di sana pun sama. Mereka menantikan jawaban dari Heru.


"Selamat Nak, akhirnya usahamu tidak sia-sia. Semoga kamu dapat menjaga calon istrimu dengan baik, jangan buat dia bersedih atau Ayahnya akan mengambilnya kembali darimu," nasihat Kakek yang beberapa waktu lalu sempat terganggu oleh suara teriakannya.


"Selamat Tuan, saya berbahagia untuk Anda," ujar Suster yang sempat menegurnya tadi.


"Kemarilah Nak, aku ingin memelukmu. Restuku selalu menyertaimu," ucap Hanum sembari mengusap punggung Angga.


Perempuan paruh baya itu turut senang untuk kebahagiaan putri sambungnya, dia tidak ingin melihat putrinya itu terus sendirian di saat usianya semakin bertambah.


"Semoga dengan ini, Ibu dapat menebus kesalahan Ibu Kei. Maafkan Ibu, karena tidak bisa menjadi Ibu yang baik untukmu. Karena Ibu dulu terlalu menyayangi putri kandung Ibu. Sehingga Ibu lupa kalau sekarang Ibu juga punya putri yang harus Ibu beri perhatian juga," batin Hanum sembari tersenyum hangat pada pemuda di hadapannya.


Namun di saat semua orang merasa senang wanita yang menjadi alasan kebahagiaan mereka terlihat tertekan dan tidak menunjukkan wajah senang sedikit pun.


"Aku tidak ingin menikah dengan pemuda ini," sambung Keisha lagi.


Kini Helen menghampiri Kakaknya dia menggenggam tangan Keisha.


"Tapi kenapa Kak? Apa karena Angga lebih muda darimu?" tanya Helen lagi.


Kini Keisha menghembuskan napas pelan dia mulai memperhatikan semua anggota keluarganya yang ada di sana.


"Bukan hanya karena usianya masih muda, aku hanya tidak ingin merusak kehidupan pemuda ini. Ayah tahu bukan, kalau dia akan memiliki kehidupan yang lebih baik jika dia tidak menikahiku. Masa depannya masih panjang, dia masih bisa mendapatkan istri yang lebih baik dariku, yang bisa memberikan keturunan dan seusianya. Lagi pula, dia masih memiliki karir yang panjang, dia akan bertemu banyak orang nantinya," tutur Keisha menjelaskan.


"Jika dia menikah denganku, aku takut hanya akan membawa penderitaan untuknya," batin Keisha.


Helen langsung memeluk Keisha, dia mengelus punggung Kakaknya dengan halus dengan harapan dapat menenangkannya.


"Maafkan aku Kak, karena kesalahanku di masa lalu kau harus menderita seperti ini. Tapi sampai saat ini pun aku masih saja takut jika kau akan merebut Kevin dariku, aku takut kak." batin Helen dalam hati.

__ADS_1


Helen melepaskan pelukannya dia menatap manik hitam milik Keisha, perempuan itu mencoba meyakinkan Kakaknya untuk menerima lamaran pemuda itu.


"Angga adalah pemuda yang baik Kak, sebelum dia mengambil keputusan pasti dia telah memikirkannya terlebih dahulu. Jika dia sudah memutuskan untuk memilih Kakak menjadi pendampingnya, itu berarti memang hanya Kakak yang terbaik untuknya," bujuk Helen dengan halus.


"Tapi aku tetap tidak bisa menerimanya, bagaimana pun alasannya aku tidak bisa menerimanya." Tolak Keisha lagi.


Heru dan Hanum memilih untuk diam, kedua orang tua itu ingin menyerahkan semua keputusannya pada putrinya karena mereka tidak ingin mengulangi kesalahannya lagi. Meskipun tadi mereka telah menerima lamaran Angga, tapi jika Keisha tidak menerimanya mereka tidak dapat berbuat apa-apa.


"Kalau begitu apa itu berarti Nona Keisha menerima lamaran untuk putra saya Brian?" ujar William mencoba mengambil kesempatan yang ada untuk merayu Keisha menjadi menantunya.


"Maaf Paman, saya juga menolak lamaran Paman. Saya tidak ingin menikah denga pria yang bahkan tidak menepati janjinnya," ucap Keisha sedikit menyinggung. Ia kembali mengingat perlakuan Brian yang buruk padanya di hari pertama mereka seharusnya bertemu.


Harapan William pun juga pupus sudah, untuk menjadikan Keisha sebagai menantunya. Dalam hati pria paruh baya itu membatin "Ini karena anakku terlalu bodoh sampai melukai hati wanita ini, jika saja dia sedikit bisa menahan sifatnya yang buruk maka aku mungkin dapat membawa pulang calon menantuku saat ini."


Saat semua orang tengah sibuk merayu Keisha untuk menerima lamarannya, justru pemuda yang mengajukan lamaran itu tidak merasa terganggu sedikit pun. Dia bahkan masih tersenyum manis dan menikmati pemberian restu yang sempat didapatkannya oleh calon Ayah mertuanya beberapa saat lalu.


"Aku sudah tahu Nyonya Keisha masih akan menolak lamaranku, baiklah kalau begitu sepertinya aku harus sedikit lebih bersungguh-sungguh," gumam Angga dalam hati.


"Ayah mertua dan Ibu mertua tenang saja, besok saya akan membuat Nyonya Keisha menerima lamaran saya." Ucap Angga dengan penuh keyakinan.


Pemuda itu telah kembali ke sifatnya yang sebelumnya, dengan seenaknya memutuskan dan melakukan hal yang dia inginkan. Dia tidak lagi menjaga martabatnya di depan orang banyak. Angga berjalan mendekat ke arah Keisha dia meraih punggung tangan Keisha dan menciumnya. Perlakuan Angga yang tiba-tiba membuat Keisha tidak dapat menghindar dari tindakan pemuda itu.


"Besok bersiaplah Nyonya, saya akan melamar Nyonya lagi," ucapnya dengan senyum yang lebar di bibirnya.


"Dia berani sekali menyentuh putriku! Jika tahu begini aku tidak akan memberikan restuku padanya tadi," batin Heru dalam hatinya seraya mengumpati perlakuan Angga tadi.


Keisha segera mengalihkan pandangan matanya dari Angga, sementara pemuda itu masih begitu setia pada posisinya ia membungkuk untuk melihat wajah calon istrinya.


"Rencana apa yang akan dilakukan pemuda ini?" pikir Keisha dalam benaknya.


"Nyonya begitu manis," puji Angga dalam hati. Ya, pemuda itu masih memperhatikan wajah Keisha yang terlihat indah di matanya, meskipun pada nyatanya perempuan itu sedang memasang wajah datarnya.


___________________________^_^


Jangan lupa berikan Like + Vote sebanyak-banyaknya untuk mendukung Author..😁

__ADS_1


__ADS_2