
^^^~Cinta itu semanis permen kapas yang lumer dimulut. Namun, hambar saat manisnya hilang~^^^
As-Sana
***
Gugusan awan berarak di langit Ottawa yang jingga, silaunya menerangi jalur pejalan kaki menuju Pasar Byward. Angga memelankan laju kendaraan roda empat yang ia kemudikan. Tadi istrinya berpesan untuk membeli sirup sugar maple sebelum pulang ke rumah. Pria tampan memakai blazer itu turun di depan gerai kecil membeli manisan beserta minuman pesanan sang istri.
Bibirnya tersenyum tipis saat menangkap toko penjual makanan manis kesukaan Panda kecilnya. Lelaki mantan model ternama itu membelokkan arah membeli sekotak cokelat putih dan setoples permen favorit Hasa. "Tuan tidak ingin membelikan cokelat juga untuk kekasih Tuan?" penjual toko bertanya. Angga tersenyum lebar menyapukan pandangan pada area sekitar.
"Istri saya lebih suka bunga Mawar kuning daripada cokelat."
Bibi penjaga toko tersenyum tipis, "Saya kira Tuan belum menikah. Tuan masih terlihat muda untuk berumah tangga," kekehnya kecil.
Usia Angga yang baru menginjak 32 tahun memang terbilang muda jika menikah. Terutama di negara maju seperti Kanada yang memiliki indeks pertumbuhan ekonomi tinggi di benua Amerika.
Angga menyugar rambutnya, menerima sebuket Mawar yang dirangkai Bibi penjual toko. "Terima kasih Bibi." Angga menyerahkan beberap lembar dolar untuk membayar. Wanita paruh baya itu tersenyum senang, membungkuk sopan ketika pria berwajah Asia itu melenggang pergi membawa penuh kotak dan sebuket bunga di tangannya.
"Semoga rumah tangga mereka selalu bahagia."
Hanya membutuhkan waktu sekitar empat puluh menit bagi Angga untuk tiba di kompleks perumahannya. Para tetangganya terlihat memenuhi jalur kecil menuju taman pohon Maple yang terletak di danau warna. Kawasan indah di musim gugur, tempat yang biasa digunakan Keisha dulu untuk melakuan terapi bersama Dokter Gazen.
Melihat mobil yang ditumpangi Angga mulai memasuki kawasan. Pak Samm penjaga gerbang rumah mereka segera membukakan pintu untuk mobil hitamnya memasuki pekarangan. Perempuan yang dicintainya telah menunggu kedatangannya di teras bersama Hasa. Anak berusia tiga tahun itu diletakkan di kursi goyang sambil dipakaikan sepatu rajut dan topi berbahan wol yang dibuatkan Keisha saat ia masih mengandung.
"Ayah!" Hasa melompat dari kursi berjalan menghampiri Angga yang baru saja menuruni mobil.
__ADS_1
"Hasa!" Keisha sontak berteriak terkejut mengetahui putranya meloncat begitu saja dari kursi. Perempuan itu menggelengkan kepala kecil saat mengetahui Hasa justru tertawa saat terjatuh memeluk kaki Angga.
Keisha menghampiri sang suami, "Anak Ayah nakal sekali ya." Angga menggendong Hasa menaikkannya di atas kepala lalu mencium perut bocah gembul itu sampai tertawa cekikikan. "Selamat datang, aku akan membawa tas nya ke dalam." Keisha mengambil barang-barang lelaki itu di kursi kemudi. Angga tersenyum mengangkat Hasa tinggi-tinggi sembari memberikan kecupan di pipi perempuan yang memakai sweter putih bersih di sampingnya.
"Selamat hari valentine sayang," bisiknya saat Keisha menemukan sekotak cokelat, setoples permen, dan sebuket bunga Mawar kuning. Bunga yang selalu Angga berikan setiap satu bulan sekali, yang melambangkan kesetiaan.
"Okat! Okat! Hasa mau okat!"
Si Panda kecilnya mulai merengek meminta setoples permen dan sekotak cokelat. Keisha menjauhkan dua makanan manis itu menyembunyikan kado dari Angga di punggungnya.
"Hasa tidak boleh makan cokelat. Gigi Hasa sudah berlubang kemarin karena sering makan-makanan manis." Keisha menggeleng menyingkirkan benda berwarna-warni itu dari pandangan putranya.
Anak itu menangis kencang mengadukan perbuatan sang ibu pada ayahnya. "Okat! Ayah Hasa mau okat!" rengeknya. "Jangan menangis Panda kecil, nanti kita makan cokelat saat Ibu sudah tidur ya," bisik Angga sepelan mungkin menenangkan Hasa kecilnya. "Janji, jangan bilang-bilang Ibu, hmm," bujuknya lagi.
Saat petang mereka makan malam bersama dengan Romi dan Lianda. Baru setelah pukul 09.00 pm mendekati larut malam. Keduanya menidurkan Hasa di kamar anak-anak. Setelahnya Angga menghabiskan waktu berdua dengan istrinya di balkon untuk merayakan hari valentine hanya sekadar acara minum teh kecil dan memakan kue kering.
"Hari ini Ayah menelpon, dia bilang Helen dan Kevin akan mulai tinggal secara terpisah dengan mereka. Inara sudah mulai masuk taman kanak-kanak."
Angga tersenyum manis menenggak habis teh rasa jasmine yang ia suka. "Apa Ayah mertua bilang kalau dia merindukanku?" tanyanya menaikkan kedua alis bergantian.
Keisha menggeleng kecil memberikan lelaki itu tisu untuk membersihkan sisa kue kering di mulut. "Kau selalu menggoda Ayah, membuatnya jengkel dan marah. Tapi, aku tahu Ayah sangat menyayangimu." Angga memegang tangan Keisha menciumnya sekilas, lelaki itu memajukan kepalanya. "Dan Ayah mertua sangat mencintaimu Nyonya," ujarnya tertawa.
"Aku akan membersihkan ini, kamu bisa tidur lebih dulu." Keisha menarik tangannya dari genggaman lembut pria itu, pemuda yang melamarnya dengan gila di depan layar kamera.
"Baiklah kita bersihkan ini berdua. Setelah itu kita tidur bersama." Keisha mengangguk sebagai balasan. Dengan cepat lelaki dan perempuan yang mengenakan cincin pasangan itu mengemasi teko, piring, dan cangkir ke dapur. Mereka mencucinya bersama melarang Bibi Ellin membersihkannya.
__ADS_1
Kemudian keduanya kembali ke kamar, mematikan lampu tidur merebahkan diri di ranjang. "Nyonya," panggil Angga halus. Keisha berdehem sebagai jawaban. Tangan lelaki itu menarik pinggang Keisha mendekat, menenggelamkan kepalanya di belakang leher sang istri.
"Ada apa? Apa ada masalah di kantor?" tangan Keisha mengusap rambut Angga mencium pucuk kepalanya.
"Tidak, hanya saja aku masih merasa takut."
"Katakan, apa yang kamu khawatirkan?"
Angga mendongakkan kepala menatap lekat manik hitam wanita berwajah seteduh embun yang selalu memberinya ketenangan. "Aku takut suatu saat Nyonya akan meninggalkan aku dan Hasa sendirian," ungkapnya mengingat ucapan bibi penjual cokelat dan bunga tadi bahwa dia masih terlalu muda. Tiba-tiba pikiran Angga mengelana menerawang kembali bahwa usia dia dengan Keisha terpaut jarak sepuluh tahun. Jarak yang cukup jauh.
Keisha tersenyum tipis, menangkup kedua pipi lelaki tampan dengan manik hitam sepekat arang yang telah mencuri hatinya sejak lama. "Aku berjanji akan menjaga kesehatanku dengan baik. Menemanimu membesarkan Hasa sampai ia dewasa lalu menikahkannya dengan perempuan yang ia cintai. Kita akan menua bersama dan saling menggenggam tangan bergantian menggendong cucu kita. Jadi Angga, jangan khawatir. Semuanya akan baik-baik saja."
Bibir Angga tersenyum lebar, semakin menenggelamkan dirnya dalam pelukan sang istri. Dia merasakan nuansa damai dan tenang dalam hati. Merasa pikirannya sudah tenang, tangannya mulai nakal menelusup masuk ke piyama Keisha meraba pinggangnya.
"Angga," tegur Keisha yang dibalasi kekehan kecil dari lelaki itu. "Iya sayang," jawab Angga nakal. Keisha mendengkus pasrah membiarkan suaminya mulai mencium dia kembali dengan lembut dan penuh perasaan cinta. Mereka memadu kasih sama seperti sebelumnya.
.
.
.
~Bersambung
Adakah yang ingin Sana meneruskan MOW Season 2 kisah rumah tangga Angga dan Keisha saat ia membesarkan Hasa dan menemukan cintanya? kalau iya tulis sekurangnya 40 komentar baru akan Sana pertimbangkan. 🙈
__ADS_1