My Old Wife

My Old Wife
Mencurahkan


__ADS_3

~Rasa yang disimpan terlalu banyak pada akhirnya akan tumpah juga~


Sudah lebih dari dua jam Angga mengemudikan mobilnya, hawa udara yang begitu dingin membelai kulitnya, namun pemuda itu mengabaikan hal itu. Tubuhnya hanya dipenuhi akan rasa kehangatan dari kebahagiaan yang ia rasakan saat ini.


Setelah sampai di area perumahan elit keluarga Heru Prawijaya, pemuda itu terus membunyikan klaksonnya berulang kali agar Pak Satpam membukakan gerbang untuknya. Kawasan elit rumah itu di tutup dengan palang sebagai garis pembatas antara kompleks perumahan dengan jalan raya kota.


"Tuan, kenapa pagi-pagi buta sudah kemari? Penghuni kompleks pasti masih banyak yang tidur," Tanya Pak Satpam itu sembari mengusap wajahnya kasar karena menahan kantuk.


"Tolong buka saja gerbangnya Pak, saya sudah tidak bisa menunggu sampai pagi, saya takut calon istri saya itu akan berubah pikiran," jelas Angga lagi.


Pak Satpam sudah paham dengan maksud Angga, karena beberapa hari ini pemuda itu sering berkunjung ke sana dan dia merupakan tamu dari keluarga Heru Prawijaya. Jadi tanpa banyak bertanya lagi, Pak Satpam membukakan jalan untuknya. Mobil Angga berjalan mulus di jalanan kompleks, mata pemuda itu dapat melihat jajaran rumah yang masih sepi dan lampunya berwarna kuning remang-remang.


Beberapa bunyi Jangkrik juga masih terdengar nyaring, angin malam yang sejuk dengan daun palem yang melambai-lambai menemani perjalanannya. Setelah lima menit mengendarai mobilnya dengan kecepatan di bawah rata-rata. Pada akhirnya pemuda itu sampai di depan gerbang rumah mewah berlantai tiga. Bangunannya megah dengan gerbang hitam yang kokoh mengelilingi pintu halaman depan rumah tersebut.


"Tuan Angga, kenapa pagi-pagi sudah berkunjung? Tuan Besar dan Nona pasti masih tidur," tutur Pak Hendri yang merupakan penjaga rumah Keisha.


"Saya ada perlu dengan Nona Keisha Pak, ini sangat penting. Tolong bukakan gerbangnya," pinta Angga pada pria paruh baya yang telah beruban rambutnya.


Pak Hendri langsung membuka gerbang lebar-lebar untuk pemuda itu, mobil Angga kembali melaju ke halaman depan rumah tersebut, dia menepikan mobilnya di dekat garasi dan bergegas turun.


"Terimakasih Pak."


"Sekarang apa yang akan Tuan Angga lakukan? Tuan dan Nona masih tidur, jadi pintu rumah masih di kunci," tutur Pak Hendri khawatir.


"Pak Hendri tidak perlu mencemaskan saya, bapak bisa kembali bekerja."


Setelah berpamitan dengan Angga, satpam itu kembali ke pos jaganya. Sementara Angga berjalan menuju ke halaman samping, di sana pemuda itu dapat melihat jendela kamar Keisha di lantai dua. Dia mengambil ponsel dari saku Blazer-nya dan mengetikkan sebuah pesan.


Nyonya, saya ada di halaman samping rumah Anda.

__ADS_1


Angga Adiputra


Setelah mengetikkan sebuah pesan teks tersebut pemuda itu bersandar pada pohon palem di sana, mata pemuda itu masih setia melihat ke arah jendela kamar Keisha. Jam sudah menunjukkan pukul 02.15 tepat, udara masih terasa dingin dan rembulan mulai condong ke arah timur bersiap-siap untuk terbenam dan digantikan oleh sang surya nantinya.


Sudah lebih dari tiga puluh menit pemuda itu menunggu di sana, kakinya masih betah berdiri meskipun angin bertiup dengan kencang. Beberapa lembar daun kering juga mulai beterbangan, dan tidak jarang beberapa helai dari mereka menerpa kain Blazer milik Angga.


"Nyonya, entah kenapa aku sangat ingin melihatmu. Tapi, aku juga tidak tega membangunkanmu," batin Angga dalam hati.


Tepat pada pukul 03.15 tepat, lampu dari kamar orang yang diperhatikannya sedari tadi menyala, tidak lama setelahnya terlihat seorang perempuan membuka daun jendela kamarnya. Perempuan itu masih memakai piyama tidur, dan rambutnya yang digelung sedikit berantakan.


"Nyonyaaaaaaa....!!!" Teriak Angga kencang agar suaranya dapat didengar oleh Keisha.


"Bisakah Anda turun Nyonyaaaa....??" Tanya Angga lagi.


Perempuan itu kemudian menutup daun jendelanya, lampu kamarnya masih dibiarkan menyala. "Apa Nyonya marah padaku?" tanya Angga pada dirinya sendiri. Dia menunggu lebih dari lima belas menit namun tidak ada tanda-tanda akan kedatangan calon istrinya. Pemuda itu bersedih dia segera menekuk wajahnya, dia memandang sendu tanah yang ada di bawahnya.


"Mungkin Nyonya membenciku karena aku mengganggu tidurnya," pikirnya dalam benaknya.


Pemuda itu menolehkan wajahnya ke sumber suara, dapat dilihatnya dengan jelas sosok perempuan yang telah menjadi alasan kebahagiaanya itu berjalan ke arahnya.


"Nyonya?"


Mata pemuda itu berbinar-binar, dia mulai dapat melihat dengan jelas wajah perempuan itu, kulit bersih dengan tahi lalat di sudut matanya yang terbalut oleh kacamata.


"Saya pikir Anda akan membenci saya, saya pikir Anda marah pada saya karena saya telah membangunkan Anda pagi-pagi buta," Kata Angga dengan suara sedikit tersendat karena menahan kesedihan.


Keisha berjalan ke arah pemuda itu dia memegang tangannya sebentar, dapat di rasakan kulit sedingin es di buku-buku jari-jemarinya.


"Jangan lalukan ini lagi, kamu akan melukai dirimu sendiri," tutur Keisha sehalus mungkin.

__ADS_1


Angin bertiup lembut menerpa wajah kedua insan tersebut, membawa hawa dingin dan tenang secara bersamaan.


"Pakai ini, agar tubuhmu terasa hangat."


Keisha melilitkan syal berwarna merah gelap di leher pemuda itu. Dia merapikan kera kaos pemuda itu, dan menata lipatan-lipatan yang mulai berbentuk akibat terpaan angin.


"Ini syal buatan Ibumu, sebelum Aku berangkat ke Kanada, Nyonya Susi memberikannya untukku. Sekarang ini milikmu."


'Deg..Deg..Deg..'


Jantung Angga mulai berdetak tak tentu saat mendengar nama Ibunya di sebut oleh perempuan di hadapannya ini.


"Terimakasih Nyonya, atas semua yang telah Nyonya lakukan untukku dan Ibu di masa lalu," ucap Angga.


Pemuda itu menatap manik hitam Keisha begitu dalam, entah kenapa dia dapat melihat wajah Ibunya dalam bayangan mata perempuan itu. Tatapan yang begitu teduh dan hangat sama persis dengan milik Ibunya.


"Ayo masuk ke dalam, aku akan membuatkan teh hangat untukmu."


Saat Keisha membalikkan tubuhnya, Angga langsung menyandarkan kepalanya di belakang punggung Keisha. Perempuan itu dapat merasakan pucuk kepala dari pemuda itu dipunggungnya. Rambut Angga juga tertiup angin lembut dan mengenai kulit lehernya.


"Terimakasih telah menerima lamaran saya Nyonya, saya berjanji akan menjaga Nyonya dengan baik seperti yang Ibu saya amanahkan," tutur Angga sembari memejamkan matanya.


Tanpa ia sadari matanya mulai berair, ya pemuda itu menangis di punggung Keisha. Syal yang tadinya kering kini telah basah oleh air mata.


"Mari kita hidup bersama dengan baik," jawab Keisha menyahuti perkataan Angga.


Angga hanya menganggukkan kepalanya kecil, pemuda itu masih setia pada posisinya, dia membenamkan kepalanya di punggung Keisha yang terasa hangat seperti kehangatan yang diberikan Ibunya ketika memeluknya dulu.


______________^_^

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan Like + Vote & Komen ya reader ..... 🤗🤗


__ADS_2