My Old Wife

My Old Wife
Kepastian


__ADS_3

~Hanya satu hal yang paling menyakitkan dalam hubungan, yaitu menunggu kepastian~


Sejak malam itu, hubungan antara Kevin dan Helen dimulai. Setelah melihat lelaki itu mengantarkan Kakaknya, Helen langsung meminta nomor pemuda itu pada Keisha. Pada awalnya Keisha enggan untuk memberikannya, namun tidak ada alasan baginya untuk menolak Helen. Jadi dia membiarkan Helen menyimpan nomor ponsel Kevin.


Sudah lebih dari satu minggu, sejak Kevin menanyakan tentang perasaan Keisha padanya. Dan hari-hari setelahnya mereka tetap menjalani hari mereka seperti biasanya. Hari-hari itu juga Helen semakin gencar menghubungi Kevin, bisa dibilang mereka pada akhirnya menjadi teman chatting.


Dua bulan berlalu tidak ada kemajuan hubungan antara Kevin dengan Keisha maupun Helen. Namun hari itu, Kevin berniat untuk menuntut jawaban kembali dari Keisha. Dia merasa resah akan perasaannya sendiri, apakah dia dapat menganggap Keisha lebih dari teman? Atau memang hubungan mereka hanya sebatas persahabatan?


Tepat pada hari minggu, Kevin mengajak Keisha dan Siska adiknya untuk menghabiskan waktu bersama. Mereka pergi ke pekan raya yang diadakan di pusat kota.


"Kak, apa kakak akan menyatakan perasaan Kakak saat ini pada Kak Keisha?" Bisik Siska ditelinga Kevin.


"Kakak tidak tahu, mungkin iya," jawab Kevin sedikit canggung.


Saat ini dia benar-benar merasa malu kalau harus membahas tentang perasaannya di hadapan adiknya.


"Kenapa wajahmu merah Kak? Hahahaha" Ledek Siska pada Kakaknya lagi. Gadis manis itu tertawa kecil melihat tingkah Kakaknya yang terlihat salah tingkah.


"Tidak ada, Kakak hanya merasa kepanasan. Hahhh, hari ini benar-benar panas." Ucap Kevin mencoba mencari alasan untuk mengelak dari pertanyaan adiknya.


"Lihat Kak Keisha sudah datang, cepat Kak hampiri Kak Keisha, ayo sana! Jangan menunggu lagi!" Siska mendorong tubuh Kevin yang masih setia duduk di kursi taman.


"Cepat sana!" Usir Siska lagi saat mendapati Kakaknya hendak kembali duduk disampingnya.


Mau tidak mau pemuda itu pada akhirnya menghampiri Keisha, dia memasang senyum canggung pada Keisha. Sebelum dia menghadap ke arah Keisha, Kevin memalingkan tubuhnya menghadap ke belakang dan menyentuh dadanya. Ya, pemuda itu sedang mencoba menenangkan detak jantungnya yang terus berdetak dan rasa kegugupannya.


"Kevin, kenapa kamu membelakangiku? Apa ada yang salah?"


Mendengar panggilan dari sahabatnya itu, Kevin langsung membalikkan tubuhnya menghadap Keisha, dia memasang senyum kikuk.


"Ah, tidak Kei. Tidak ada yang salah denganmu hari ini, hanya saja___ , hanya saja___,".


Karena saking gugupnya dia sampai tidak mampu menyelesaikan ucapannya. "Hanya saja apa? Cepat katakan, aku takut nanti Siska menunggu kita terlalu lama." Keisha tetap setia menunggu apa yang ingin diucapkan Kevin. Namun, pemuda itu tidak kunjung mengungkapkan perasaannya.


"Hari ini aku cuma mau bilang__, kalau aku___, aku ahhhh.. ! aku tidak bisa mengatakannya Kei. Ya sudah ayo kita hampiri Siska saja," ajak Kevin secara tiba-tiba seraya menarik paksa tangan Keisha.


"Dasar Kakak bodoh, kenapa dia malah datang kemari?" batin Siska sedikit kecewa.

__ADS_1


"Maafkan Kakak Sis, Kakak tidak sanggup mengatakannya," kata Kevin dalam hati saat melihat raut muka adiknya kecewa. Gadis manis itu menyilangkan kedua tangannya di dada sembari membuang mukanya dari Kevin. Sekarang dia sedang dalam mode "ngambek".


"Siska, maafkan Kakak karena terlambat," ucap Keisha sembari mencium kening gadis manis itu.


Melihat Keisha tersenyum dan mencium keningnya, gadis itu tidak jadi marah. Dia memeluk Keisha erat dan meletakkan kepalanya di perutanya. "Tidak apa-apa Kak, ini bukan salah Kakak. Tapi salah Kak Kevin karena dia terlalu pagi menjemputku dari rumah sakit," elak Siska sembari memasang senyum semanis mungkin.


"Kak Kei tolong temani aku sebentar, aku ingin jalan-jalan di sekitar taman ini," rayu Siska seraya bergelayut manja di lengan perempuan itu.


"Baiklah, putri kecil. Kau mau kemana? Biar Kakak antarkan," tawar Keisha seraya meraih tangan Siska dan menggenggamnya secara perlahan karena tubuh gadis itu masih begitu lemah.


Saat tangan Keisha menariknya untuk pergi dari sana, Siska menarik tangan Kevin mendekat hingga membuat Kakaknya itu terpaksa harus membungkuk untuk menyejajarkan tubuhnya.


"Kakak, aku akan membuat Kak Keisha sibuk sebentar, manfaatkan waktumu untuk menyiapkan diri Kak. Jangan gugup lagi, oke." Bisik Siska ditelinga Kevin, sembari mengelus pucuk kepala Kevin layaknya seorang Ibu mengelus kepala anaknya.


Pada akhirnya Keisha pergi berjalan-jalan bersama dengan Siska tanpa ditemani oleh Kevin. Gadis kecil itu terseyum senang saat membayangkan bagaimana nanti Keisha akan menjadi Kakak Iparnya dan terus menemaninya nanti. Mereka menghabiskan waktu berkeliling taman lebih dari lima belas menit.


"Kak aku lelah, aku ingin istirahat sembari memakan ice cream yang enak," kata Siska sembari menunjuk seorang pedagang ice cream di sana.


"Baiklah kita istirahat ya, tapi Siska tidak boleh makan ice cream. Ingat, dokter bilang jangan makan, makanan dingin kalau belum sembuh total," tutur Keisha berusaha membujuk adik sahabatnya itu.


"Baiklah sayang, ayo kita beli. Apa kamu senang sekarang?"


Siska menganggukan kepalanya antusias, dia langsung menarik tangan Keisha untuk menuju ke pedagang arum manis itu. Setelah mendapatkan apa yang dia mau, gadis itu mengajak Keisha untuk kembali ke bangku taman tempat Kevin berada.


"Aku harap Kakak sudah siap," ujarnya dalam hati seraya mengembangkan senyum yang lebar.


Saat dia sudah dekat dengan tempat tadi, dan jarak mereka tinggal tiga meter Siska mempercepat langkahnya, dia menarik tangan Keisha dan mulai berlari kecil. "Hati-hati Siska, ingat Dokter bilang kamu tidak boleh sampai terluka!" Tegur Keisha sedikit keras mencoba mengingatkan Siska. Namun bocah itu tidak mendengarkannya dan justru berlari semakin cepat. Saat mereka sudah sampai di tempat tujuan, Siska secara tiba-tiba memberhentikan larinya, dia menjatuhkan semua gula kapas ditangannya, dan berteriak.


"KAKAK!!"


Teriakan Siska sontak membuat Keisha menoleh dan memandang ke arah gadis kecil itu melihat. Di sana tepat di bawah pohon cemara dapat dilihat sepasang lelaki dan perempuan sedang memadu kasih. Mereka sedang berciuman, bahkan terlihat jelas bahwa kedua mahluk itu sangat menikmati apa yang mereka lakukan. Dan mereka adalah Helen dan Kevin.


"Kevin! Kamu?" ucap Keisha sedikit terkejut.


Kevin yang mengetahui bahwa adiknya sudah kembali, dia bergegas melepaskan Helen dari dirinya, dia mendorong paksa tubuh Helen yang mana tangannya masih setia menggelantung di lehernya.


"Siska, ini tidak seperti yang kamu bayangkan sayang, Kakak__" Kata Kevin dengan gugup bercampur cemas.

__ADS_1


Siska melangkahkan mundur kakinya dia tidak mau mendekat ke arah Kevin.


"Kakak jahat! Siska benci kakak! Siska benci!" Teriak Siska sembari terisak.


"Siska tolong maafkan Kak Kevin__," kata Kevin kembali mencoba membujuk adiknya.


"Tidak jangan dekati Siska! Siska gak mau punya Kakak seperti Kak Kevin! Siska benci Kakak!" Amuk Siska sembari menjaga jarak dari Kevin.


Kevin mencoba mendekat ke arah adiknya, namun gadis itu justru semakin memundurkan langkah kakinya. Pada akhirnya Siska berlari kencang ke belakang. Dia meninggalkan Kakaknya dan Keisha serta Helen di sana. Gadis itu terus berlari, meskipun sesekali dia terjatuh tapi dia tetap bangkit dan berlari terus.


"Kevin cepat kejar Siska!" Teriak Keisha cemas, sungguh dia sangat marah sekaligus kecewa pada sahabatnya ini saat ini.


Saat Keisha sudah pergi dari sana dan mengejar Siska, Kevin justru masih mematung di sana. Lelaki itu sungguh benar-benar payah dan tidak mampu membuat keputusan dengan cepat.


Sudah sejauh lima meter Keisha mengejar Siska, perempuan itu terus mengejar Siska dan sesekali memanggil nama gadis itu. "Siska! Siska! Tunggu Kakak Sayang!" Teriak Keisha kencang. Perempuan itu terus mengejar Siska tanpa henti. Saat Keisha mengambil napas sejenak, Siska berteriak dan itu membuat Keisha langsung berlari lagi.


"Aaaaaaaa......!!!!!"


Jerit gadis itu nyaring hingga membuat semua pengunjung di taman itu, menoleh ke arah sumber suara.


Beberapa balok kayu yang masih baru, yang pada awalnya hendak digunakan untuk memperbaiki permainan di taman itu hampir menimpa Siska, tapi untung Keisha segera menangkap dan menutupi tubuh gadis itu dengan tubuhnya. Dia mendekap Keisha dengan erat.


Brukkkkk....Brukkk...


Tumpukan balok kayu itu berhasil menindih semua tubuh perempuan itu. "Ka-Kak, sa-kit," rintih Siska lirih. Gadis itu terluka dibagian kepalanya sementara balok-balok kayu itu berhasil memberikan luka diseluruh tubuh Keisha terutama bagian perutnya.


Keisha telah kehilangan kesadarannya sementara Siska masih merintih kesakitan dengan darah yang mulai keluar dari hidung dan mulutnya. Tubuh gadis itu begitu rentan terhadap luka, sekali dia terluka maka dapat dipastikan pendarahan pada lukanya tidak akan berhenti.


_____________________________^_^


Hallo Reader seperti janji saya, untuk hari ini akan up lebih dari dua heheheh.. :D


Dan untuk up yang ketiga nanti malam yaa..


Selamat membaca..


Jangan lupa dukung Author dengan cara Klik Like + Vote (sebanyak-banyaknyaπŸ€—)

__ADS_1


__ADS_2