My Old Wife

My Old Wife
Seorang Pianis Kecil


__ADS_3

~Jangan mengeluh karena merasa hidup kita berat, karena pada nyatanya ada orang lebih tidak beruntung di luar sana~


Seusai berkebun bersama Romi, Keisha mengistirahatkan dirinya di kamar. Ia duduk di kasur berselonjor. Tangannya mengambil figora di atas nakas yang memuat foto ia dan suaminya Angga saat berada di Festival Musim Panas. 


Seulas senyum terukir dibibirnya saat ia melihat ekspresi Angga yang sedikit gugup hingga ia tersenyum kikuk saat tiba-tiba perempuan itu mengajaknya berfoto. 


“Aku merindukanmu Angga,” ucap Keisha tulus seraya menyentuh foto pemuda itu di sana. Ia kembali menaruh figora itu di atas nakas, kemudian matanya beralih melihat ke arah kalender.


Tanggal merah dikalender tersebut mengingatkannya kalau ia sudah terlambat datang bulan selama satu pekan. Karena itu Keisha mulai berpikir mungkinkah ia hamil? Tapi itu tidak mungkin terjadi.


Sejak awal kedatangannya di Kanada, sebenarnya Keisha dan Angga sudah mengikuti rangkaian program kehamilan. Hal tersebut juga bagian dari saran Dokter Gazen. Dokter  spesialis neurologi yang menanganinya.


Dokter Gazen menyarankan untuk Keisha juga mengikuti prosedur rawat dari Dokter Kandungan, mengingat bahwa ia juga mengalami cedera di rahimnya. 


Dokter Gazen menduga bahwa karena saraf tulang belakangnya mengalami cedera, maka sensor motoriknya akan terganggu. Sehingga akan ada kemungkinan dimana Keisha tidak akan menyadari kehamilannya. 


 “Romi, aku akan pergi keluar sebentar.” Pamit Keisha yang sudah menuruni tangga membawa kunci mobil ditangannya dan berpenampilan rapi. Romi yang mengetahui niat Keisha untuk pergi, ia segera menghampirinya untuk mencegahnya. 


“Jika Nona membutuhkan sesuatu, biar saya yang membelikannya,” tawar Romi ramah. Ia mengingat pesan Tuan Mudanya dan peringatan yang sudah diberikan padanya melalui surat tadi pagi. 


“Ini kebutuhan wanita, kamu tidak bisa membelinya.” Keisha menolak Romi secara halus, kakinya berjalan menuju ke pintu keluar. Ia tidak  mungkin menyuruh Romi untuk membeli alat penguji kehamilan. 


“Kalau begitu, saya akan menemani anda Nona. Tuan Muda sudah menugaskan saya untuk menemani Nona, kemanapun anda pergi.”  


Jika sudah mendengar Romi menyinggung Angga, tentu Keisha tidak dapat menolaknya. Jadi ia membiarkan Romi menemaninya, dan mengambil kendali kemudi. 


“Kita akan pergi kemana Nona?” Tanya Romi seraya menyalakan mesin mobil. 


“Apotik, aku ingin membeli sesuatu di sana.” Jawab Keisha seraya memasang sabuk pengaman. 


Tanpa banyak bertanya lagi, Romi segera melajukan mobilnya ke pintu keluar, menuju ke jalan raya untuk mencari bangunan yang menjual kebutuhan rumah sakit. 


Dalam perjalanan ke Apotik tanpa sengaja mata Keisha melihat ke arah  anak laki-laki berusia kurang lebih sepuluh tahun tengah tersungkur di tanah karena didorong oleh penjaga toko roti. Pakaian anak itu terlihat dekil dan sedikit kotor, namun bagian atas lehernya yang berenda terlihat cukup bersih.


“Romi hentikan mobilnya,” perintah Keisha. Romi segera menepikan mobilnya sesuai dengan yang perempuan itu perintahkan. 


Ia dapat melihat bahwa Keisha terburu-buru membuka pintu mobil dan menyeberang jalan mendekati sosok anak berambut cokelat keemasan dengan pakaian bergaya Victoria di sana. Jika saja anak itu sedikit bersih dapat dipastikan wajahnya akan seperti boneka. 


“Kamu tidak apa-apa?” Keisha membantu anak itu berdiri. Tangannya mengambil sapu tangan dari saku jaketnya dan membersihkan wajah anak itu yang dipenuhi arang di pipinya. 


“Terimakasih Bibi, aku tidak apa-apa. Bibi tidak perlu cemas.” Kata anak itu sembari tersenyum manis. Ia menghentikan aksi Keisha yang mengelap wajahnya, kemudian ia menunduk hormat. Perilakunya begitu sopan. 


“Maaf telah merepotkan Bibi.” Anak itu berniat untuk pergi namun Keisha mencegahnya. Ia justru membawa anak itu masuk ke dalam toko roti dan membelikan sekantong roti di toko yang telah mengusirnya tadi. 

__ADS_1


“Ambilah, ini hadiah untukmu. Tadi aku sempat melihatmu ingin membelinya.” Keisha menaruh kantong roti berwarna coklat itu kepada anak laki-laki tadi. Tapi anak itu menggeleng dan menolak pemberian Keisha dengan keras. 


“Maaf Bibi, aku tidak bisa menerimanya. Aku akan membelinya dengan uangku sendiri.” 


Keisha melihat beberapa uang koin dan dua lembar dollar di tangan mungil anak itu. Apabila semua uang itu digabungkan, tentu tidak akan cukup untuk membeli sepotong roti. Dari sana Keisha mengerti bahwa anak ini memiliki harga diri yang tinggi.  


“Kenapa Bibi tersenyum?” 


“Aku tahu kamu anak yang baik, tapi tidak baik menolak pemberian orang dewasa. Jika kamu punya uang nanti, kamu bisa mengembalikannya pada Bibi.” 


Keisha kembali meletakkan kantong roti itu ditangannya, mata perempuan itu menatap penuh ketulusan. 


“Peter, nama saya Peter Sang Penyihir.” Ucap anak itu antusias dengan terkekeh kecil menutup mulutnya, tangan mungilnya menjabat jemari Keisha yang ramping. Keisha yang mendapatkan uluran tangan dari Peter hanya tersenyum. 


“Temui aku di taman kota besok Bibi, Aku akan membayar Bibi dengan laguku.” Peter memberikan kartu namanya pada Keisha, hanya sebuah kertas persegi kecil dengan coretan tulisan tangannya sendiri. 


“Pianis?” Ucap Keisha terkejut saat membaca biodata dari Peter, terutama dalam status pekerjaannya. Sungguh ia tidak percaya jika seorang bocah yang sangat muda ini telah bekerja sebagai pianis dari salah satu grup orkesta. 


Peter mengembangkan senyum bangga, giginya yang putih seperti susu ia tunjukkan pada Keisha. “Aku akan menunggu kedatangan Bibi,” ucap Peter senang. Ia mendekat ke arah Keisha, tangannya terulur mengusap pucuk kepala perempuan itu, bibirnya yang mungil tampak sedang mengucapkan mantra. 


“Aku sedang berdoa agar Bibi mendapatkan kebahagiaan.” Ucap Peter dengan senyum lebar menunjukkan giginya yang putih. Kemudian ia mengambil tangannya dari atas kepala Keisha dan kembali memegang kantong roti yang diberikan perempuan itu.


“Aku pergi dulu Bibi, sampai jumpa.” Peter menunduk hormat untuk pamit, setelah itu langkahnya yang kecil berjalan menyeberang jalan raya melewati beberapa mobil yang sedang berhenti menunggu lampu merah. Tangan mungilnya melambai ke arah Keisha. 


“Konsernya dimulai pukul empat sore Bibi, pastikan Bibi tidak terlambat.” Katanya sembari berteriak kencang penuh kegirangan. Tubuhnya yang kecil mulai hilang ditelan kerumunan pejalan kaki orang dewasa. 


Dering ponsel milik Romi terdengar beberapa kali, sebuah panggilan dari Angga telah masuk padanya. Romi segera mengambil ponselnya dan menerima panggilan itu. 


“Halo Tuan Muda,” sapa Romi terlebih dahulu. Namun belum ada suara balasan dari sana, hanya suara dengungan panggilan yang terhubung. 


“Kamu sedang ada dimana?” Pertanyaan Angga seketika mengembalikan kesadaran Romi, ia mengingat kembali pesan Angga. 


“Anda tenang saja Tuna Muda, Nona Keisha aman bersama saya. Tidak ada lelaki yang menemuinya.” Jelas Romi cepat-cepat sebelum Tuan Mudanya marah. Hening sejenak, Romi menduga bahwa Angga sedang mencerna kata-katanya. 


“Jika kamu berkata begitu, aku justru meragukannya.” Romi mengernyitkan alisnya bingung, sungguh berbicara dengan Tuan Mudanya harus membuatnya berpikir beberapa kali untuk menemukan kata yang tepat. 


“Anda harus percaya pada saya Tuan Muda. Nona tidak melakukan pertemuan dengan lelaki mana pun, hanya seorang anak kecil.” Tutur Romi halus dan lebih meyakinkan. 


“Laki-laki atau perempuan?” Tanya Angga terdengar sedikit memaksa. 


“Laki-laki.” Jawa Romi jujur. Setelah itu tampak hening sejenak, tidak terdengar jawaban cukup lama. 


“Itu artinya istriku sudah bertemu dengan laki-laki.” Romi mengerutkan dahinya tidak puas dengan jawaban Angga. Ia berpikir apakah Tuan Mudanya itu tidak bisa memberikan kelonggaran hanya untuk anak kecil?

__ADS_1


“Tapi, Tuan Muda. Itu hanya seorang anak kecil. Anda tidak  perlu cemas.” Bujuk Romi lagi.


“Jadi maksudmu kalau anak yang berusia enam belas tahun mendekati istriku, aku tidak boleh cemas?” Romi kelimpungan menjawab pertanyaan Angga.


“Iya, Tuan Muda.” Jawabnya begitu saja.  


“Setelah aku pulang, pastikan kamu menyiapkan kepalamu.” Kata Angga yang terdengar mengerikan ditelinga Romi. 


“Tuan Muda?” Protes Romi tidak terima, dia mulai memegangi kepalanya dan membayangkan jika rambutnya harus habis tanpa tersisa. 


“Mau anak-anak, pria dewasa, atau orang tua. Jika mereka semua laki-laki, mereka tidak boleh mendekati istriku.” Ucap Angga menyela ucapan Romi yang belum sempat ia teruskan. Setelah itu Angga menutup panggilannya tanpa berniat mendengar pembelaan dari Romi. 


Ketika Keisha sudah memasuki mobil, mendudukkan dirinya di kursi samping kemudi serta memasang sabuk pengaman. Tiba-tiba Romi memandangnya dengan tatapan berkaca-kaca. 


Keisha yang melihat keadaan Romi yang tampak menyedihkan dengan tangannya yang menjambak rambutnya berulang kali, merasa tidak tega. 


“Ada apa? Apa terjadi sesuatu padamu?” Tanya Keisha khawatir. Romi hanya menenggelamkan wajahnya ke bawah memandang lantai dasar mobil sembari keningnya menumpu pada setir mesin beroda empat tersebut. 


“Bisakah saya meminta tolong pada Nona untuk tidak menemui semua orang yang berjenis kelamin laki-laki?” Ucap Romi rendah terdengar frustasi. Wajahnya terlihat kusut seperti papan cucian. 


“Apa maksudmu? Tentu, aku tidak bisa. Aku bahkan sudah berjanji pada Peter untuk menemuinya besok.” Jawab Keisha polos seraya mengingat janjinya dengan anak kecil tadi. 


“Maka anda benar-benar ingin melihat saya menderita Nona,” ujar Romi lirih. Matanya sedikit memerah, kemudian ia mulai menyalakan mesin mobil untuk melanjutkan perjalanannya ke Apotik yang sempat tertunda tadi. 


Di sisi lain Angga kelihatan serius meninjau berkas-berkas yang diberikan Kakeknya tadi. Tuan Wilson berjanji pada Angga jika ia bisa memberikan keuntungan sedikit pada perusahaannya bulan ini, Angga akan diberikan waktu libur satu hari untuk ke Kanada bertemu istrinya. 


Jemy yang sedari tadi mengawasi Angga hanya tersenyum senang. Setidaknya Tuan Mudanya ini mau berusaha keras meski sedikit dibujuk. Dengan begitu apa yang ia ajarkan tidak sia-sia. 


“Kenapa kamu melihatku seperti itu?” Tanya Angga sedikit melirik Jemy sesaat. Jemy hanya menggeleng pelan sebagai jawaban. 


“Saya hanya merasa anda lebih terlihat dewasa jika seperti ini Tuan Muda,”  Tutur Jemy sembari memperhatikan penampilan Angga yang cukup menawan dengan pakaian formalnya beserta kacamata yang terselip di daun telinganya. 


“Jadi menurutmu aku tidak dewasa selama ini?” Angga menghentikan aksi meninjaunya dan menatap Jemy tajam. Jemy pun memasang sedikit senyum dibibirnya. 


“Bukan seperti itu Tuan Muda, hanya saja sifat anda terkadang sedikit kekanak-kanakan.” Jawab Jemy jujur yang justru membuat Angga bangkit dari duduknya, kemudian melepas kacamatanya. 


“Kalau begitu selesaikan semua ini.” Angga berjalan ke luar ruangan dengan santainya. Jemy hanya menatap Tuan Mudanya dengan tatapan datar tidak percaya. Pandangannya beralih pada tumpukan berkas di meja Angga. 


“Seharusnya aku tidak memuji anda Tuan Muda,“ sesal Jemy seraya merapikan dokumen itu dan mulai memeriksanya. 


HAPPY READING. 🤗🤗


Jangan lupa Like +Rate Bintang Lima+ Vote + Komentarnya. 🙏🙏

__ADS_1


Salam sayang dari Angga dan Keisha.


 


__ADS_2