My Old Wife

My Old Wife
Titik Terang


__ADS_3

~Segelap-gelapnya malam, masih ada terang rembulan~


Cahaya matahari di sore hari menembus jendela ruangan itu, korden hijau yang membatasi ruang rawat tersebut sedikit mengeluarkan warna kuning ketika daun jendela dibuka.


Sinarnya yang jingga kemerah-kemerahan membasuh wajah Kevin, pria berbalut pakaian rumah sakit yang tengah duduk bersandar di ranjang pasien. Tangannya yang kurus dan ramping mengambil figora yang berisi foto orang terkasihnya.


“Ayah merindukanmu,” kata Kevin lirih. Salah satu tangannya yang tidak terpasang selang infus meraba foto itu. Foto keluarga kecilnya, putrinya dan perempuan yang sempat menjadi istrinya. 


“Kau sudah bangun.” Suara seorang pria dengan setelan jas berwarna putih menghentikan tindakan Kevin, ia beralih melihat ke arah pria itu. Dokter yang sudah merawatnya selama ini, Dokter Andhika. 


Kevin meletakkan kembali foto keluarga kecilnya di atas nakas, kemudian ia berbaring kembali di ranjang untuk membiarkan Dokter Andhika memeriksanya. 


“Kondisimu semakin membaik, lambungmu sudah tidak menolak makanan lagi. Besok kau bisa mencoba untuk makan bubur terlebih dahulu,” jelas Dokter Andhika di sela-sela pemeriksaannya. Kevin hanya mengangguk mengerti. 


Selama sebulan ini Kevin berada dibawah pengawasan Dokter Andhika, dokter yang juga merawat adiknya dulu. Kevin bertemu dengan Dokter Andhika dua bulan yang lalu saat ia dirawat di rumah sakit yang pernah merawat Keisha. Kebetulan saat itu Dokter Andhika sedang pulang ke Indonesia untuk mengurus beberapa surat izin prakteknya saat ia akan dipindah tugaskan ke Singapura. 


Studi Dokter Andhika di Amerika sebagai seorang dokter spesialis gastroenterologi yang mengobati berbagai macam masalah saluran pencernaan telah selesai. Ketika Dokter Andhika merawat Siska dulu, ia masih menjadi seorang dokter umum.


“Terimakasih,” kata Kevin pada pria yang telah menolongnya. Dokter Andhika hanya mengangguk sebagai jawaban.


“Apa rasa sakit dari pukulanku sudah menghilang?” Kevin hanya tersenyum tipis.


“Lumayan.” Dokter Andhika menepuk pipi Kevin, “jika kurang, aku bisa memberikan satu pukulan lagi untukmu,” imbuh Dokter Andhika seraya memeriksa tekanan darah Kevin. 


Kevin masih mengingat dua bulan yang lalu ketika ia dirawat di rumah sakit karena infeksi lambungnya makin parah, Dokter Andhika marah padanya atas semua kebodohan Kevin yang sudah menyiksa dirinya sendiri. 


“Apa kematian Siska masih belum cukup untukmu?! Makanya kamu ingin menyerahkan nyawamu juga!” Kelakar Dokter Andhika tajam sambil menarik kerah baju Kevin, padahal pria itu tengah terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Tubuh Kevin begitu kurus hingga kerangka tulangnya tercetak jelas dikulitnya. 


Kevin justru tersenyum sinis, tangannya yang masih terpasang infus rumah sakit mendorong tubuh Dokter Andhika menjauh. “Ini pantas untukku.” Mendengar jawaban Kevin yang tidak mengenakkan, Dokter Andhika mendekat dan langsung memukul pipi Kevin hingga mulut pria itu mengeluarkan darah. 


“Jika kamu tidak ingin hidup teruslah seperti ini! Dan setelah kamu meninggal, jangan menyesal nanti karena telah meninggalkan keluargamu!” Tukas Dokter Andhika menggebu-gebu seraya mencengkram bahu Kevin yang kekurangan daging.

__ADS_1


Mendengar kegaduhan di ruangan Kevin, keluarga pasien yang lain beserta perawat di sana mulai berbondong-bondong ke ruangan Kevin. Ketika pihak rumah  sakit mengetahui kejadian tersebut, mereka memberikan sanksi pada Dokter Andhika hingga surat izin prakteknya dicabut. 


Namun, hal itu  tidak berselang lama. Karena dua minggu kemudian Kevin memohon pada pihak rumah sakit untuk memberikan izin praktek Dokter Andhika kembali. Saat itu juga kondisi Kevin sudah diambang batas, lambungnya telah rusak parah hingga semua cairan yang masuk ke dalam perutnya ikut ke luar. 


Tubuh Kevin  bertambah kurus, sampai kedua pipinya yang sebelumnya sedikit berisi berubah cekung. Sosok Kevin saat itu benar-benar menyerupai pria tua yang sudah akan meninggal. 


“Maafkan aku,” ucap Kevin lirih pada Dokter Andhika. Tangannya mengambil sesuatu dari lacinya, sebuah foto milik Inara dan Helen ia berikan pada Dokter Andhika. 


“Dia putriku bersama Helen, namanya Inara.” Kevin menghentikan ucapannya sejenak. “Jika aku tiada, tolong sampaikan padanya bahwa ayahnya sangat mencintainya.” Kevin menarik napas kembali, matanya yang sayu memandang ke langit-langit ruangan. “Tapi ayahnya tidak bisa tinggal bersamanya.” Imbuh Kevin lagi. 


Dokter Andhika memegang figora itu erat lalu meletakkan benda itu kembali pada Kevin. “Bodoh,” ucapnya. “Aku tidak akan mau lagi menjadi pengantar pesan untukmu.” Dokter Andhika menarik napas dalam, ia melihat pria yang tengah terbaring lemah itu dengan tatapan serius. 


“Jika kamu masih ingin melihat putrimu, ikutlah aku ke Singapura. Aku akan merawatmu di sana. Tapi, jika tidak? Kau bisa tetap di sini.” Tidak ada jawaban dari Kevin, suasana tampak hening sejenak. Sampai pada akhirnya Dokter Andhika berdiri dan memilih untuk pergi. 


“Jika bisa? Tolong sembuhkan aku. Aku ingin menebus kesalahanku.” Kata Kevin di detik-detik terakhir berhasil membuat Dokter Andhika menghentikan langkahnya, sebagian tubuhnya yang sudah berada di ambang pintu keluar segera menoleh kembali.


“Aku tidak bisa berjanji, tapi aku akan berusaha.” Dokter Andhika melihat Kevin sesaat, mata pria itu berair. Sejak hari itu Kevin keluar dari rumah sakit dan memilih pergi bersama Dokter Andhika ke Singapura untuk dirawat di sana. 


Malam menjelang pagi Keisha dan Angga tiba di bandara internasional Singapura. Mereka dijemput oleh Jemy bersama Willy asisten Tuan Sebastian. Romi tidak ikut mereka ke Singapura karena harus menggantikan Angga sementara untuk menangani bisnis Tuan Wilson di sana. Selain itu, Romi juga harus menemani Lianda yang masih berada di Kanada. 


Kedatangan cucu beserta istrinya disambut baik oleh Tuan Wilson. Ya, sekarang kakek tua itu sudah bisa menerima kehadiran Keisha sedikit demi sedikit. Lagi pula Angga telah menyelesaikan pembelajarannya tentang bisnis, cucunya telah melewati ujiannya dengan baik. Meski membutuhkan sedikit penekanan pada awalnya. 


“Selamat datang Tuan Muda dan Nona Keisha,” sapa Jemy sembari menunduk hormat. Willy juga memberi salam kemudian mengambil alih koper di tangan Angga. Mereka menggiring Angga dan Keisha untuk menaiki mobil menuju ke kediaman Keluarga Andreas. 


Setelah menempuh perjalanan hampir tiga jam lamanya, mereka pada akhirnya tiba di kediaman Angga. Saat mobil yang dikemudikan oleh Willy memasuki gerbang utama, para penjaga keamanan dan pelayan datang menghampiri mobil tersebut untuk menyambut Angga dan Keisha. 


Tuan Wilson terlihat berdiri di depan pintu bersama Sebastian yang duduk di kursi roda di sampingnya. Ketika menantu dan putranya terlihat menuruni mobil, Sebastian sedikit tersenyum dia menjalankan kursi rodanya mendekati anak dan menantunya. 


“Ayah,” sapa Keisha terlebih dahulu. Ia merasa tidak enak melihat ayah mertuanya masih belum tidur karena menunggu kedatangannya bersama Angga. “Bawa istrimu istirahat, Ellin sudah menyiapkan kamar untuk kalian. Willy antarkan putraku bersama istrinya ke kamarnya.” Sebastian melihat ke arah Angga. Penampilan putranya yang sekarang jauh lebih tenang. 


“Mari Tuan Muda dan Nona Keisha,” ajak Willy diikuti oleh dua pelayan wanita di belakangnya. Angga tidak mengatakan apa pun ia hanya menggenggam tangan Keisha halus dan menuntunnya. 

__ADS_1


Tuan Wilson hanya tersenyum tipis ketika melihat Keisha mendekat ke arahnya. “Kakek__,” belum sempat Keisha melanjutkan kata-katanya. Tuan Wilson mengusap punggung Keisha lembut.


“Istirahatlah.” Tangan Tuan Wilson beralih menyentuh pundak Angga. “Jaga istrimu baik-baik,” pesannya pada Angga.  Pemuda itu hanya mengangguk kecil sebagai jawaban. 


Tidak butuh waktu lama pasangan suami istri itu telah tiba di kamar yang sudah dimaksud oleh Sebastian. Willy bersama dua pelayan wanita tadi pamit undur diri, untuk memberikan waktu mereka berdua beristirahat. 


“Angga, aku akan menyiapkan pakaian ganti untukmu.” Keisha bermaksud membuka koper, untuk mencari pakaian yang nyaman untuk suaminya tidur. Tapi Angga segera mencegahnya.


“Tidak perlu Nyonya.” Pemuda itu melepas jas dan dasinya, kemudian ia menjatuhkan dirinya di tempat tidur.


“Kemari, aku tidak bisa tidur tanpamu.” Angga menarik tangan Keisha menuntun perempuan itu berbaring di sampingnya. Kemudian ia memeluk Keisha erat. “Ini terasa nyaman”. Deru napas Angga terdengar teratur, matanya mulai terpejam. 


Keisha melihat wajah suaminya yang semakin terlihat dewasa, fitur wajahnya lebih menawan dari sebelumnya. Ia baru menyadari bahwa sekarang pemuda yang menjadi suaminya ini semakin mempesona. 


”Aku takut aku akan kehilanganmu Angga.”


Beberapa hari terakhir ini Keisha tidak hanya memikirkan tentang Inara tapi ia juga mulai memikirkan tentang hubungan pernikahannya dengan Angga. 


Keisha mulai merasa resah, usianya terus bertambah dan ia belum bisa memberikan apa pun pada Angga. Sementara, pemuda itu selalu memberikan apa yang ia butuhkan.


Selain itu, Kharisma dari Angga mulai terpancar saat usianya bertambah dewasa. Meski Keisha percaya pada Angga, tapi ia tahu bahwa banyak perempuan di luar sana yang akan mudah jatuh hati pada suaminya.    


"Anda tidak akan kehilangan saya Nyonya." Angga membuka matanya perlahan, ia beralih menatap mata Keisha. Angga sudah hampir tidur tadi, tapi mendengar penuturan perempuan itu rasa kantuknya jadi menghilang.


"Karena hati saya hanya untuk anda, tidak ada wanita lain." Sambung Angga lagi. Tanganya memegang pinggang Keisha erat kemudian membenamkan ciuman di bibir ranum perempuan itu.


"Sekarang tidurlah, besok kita harus memastikan kondisi Kevin." Angga melingkarkan tangannya di perut Keisha, dan meletakkan kepala perempuan itu di dadanya. Rasa khawatir Keisha sedikit terobati. Ia pun tertidur dalam dekapan Angga, pemuda yang selalu membuatnya merasa nyaman.


Maaf Sana telat Update, karena lagi banyak kegiatan di dunia nyata.


Salam sayang.

__ADS_1


~As-Sana~


__ADS_2