
^^^~Cinta akan datang disaat yang tepat~^^^
As-Sana
***
Lonceng toko bunga "Anggasa Florist" berbunyi, menandakan seseorang datang memasuki toko. Peter yang mendengarnya lantas menuju pintu masuk, mengecek siapa pelanggan yang datang di waktu sore hari. Anak lelaki berusia tiga belas tahun tersebut mengulas senyum melihat sosok pria berkemeja hitam menenteng kantong plastik membawa beberapa kotak ice cream.
"Hasa Ayahmu sudah datang!"
Bocah gembul yang dipanggil menyembulkan kepalanya dari pintu bilik kamar belakang. Kakinya berlari kencang sambil memanggil ayahnya berulang kali. "Paman cepat sekali datangnya," tutur Peter mengambil kantong plastik di tangan Angga membawanya ke dalam. Jemy terlihat mengisi teko dengan air untuk menyirami tanaman.
"Makanlah Peter, Paman sengaja membeli banyak untuk kalian, bagikan ini juga untuk Bibi Moly." Angga mengusap kepala Peter sayang bergantian menggendong si kecil. "Ayah mana okat untuk Hasa?" Angga tertawa menciumi pipi anaknya. "Tidak ada cokelat untuk Hasa," jawabnya membuat putranya ingin menangis.
"Kita akan makan cokelat setelah Ibu selesai marahnya. Jadi sementara itu, Hasa harus puasa oke," bisiknya menurunkan Hasa dari gendongan. Kemudian membiarkan anak itu berebut ice cream dengan Peter. Lalu Angga mulai berjalan memasuki bilik kamar belakang mencari keberadaan Keisha yang tengah merangkai bunga untuk pesanan pelanggan.
Di sana, tepat di samping jendela yang terbuka. Wanita pujaannya duduk manis memotong tangkai-tangkai bunga lalu menyusunnya. Angga bisa mencium aroma segar berbau wewangian buang Mawar di sekitar perempuan itu. Mencium harumnya saja dia jadi merindukan sang istri.
Perlahan tanpa membuat suara, Angga mendekati Keisha dari belakang. Memeluknya erat-erat. Ia bisa merasakan napas istrinya yang tenang berirama.
"Angga."
"Hmm."
"Kapan kamu datang?"
"Setiap kali Nyonya mengingatku, aku akan datang."
"Kita sedang berada di toko, jadi lepaskan pelukannya sekarang."
"Lima menit saja. Biarkan aku seperti ini."
__ADS_1
Pelukan Angga kian bertambah erat, ia menyandarkan kepalanya pada bahu Keisha menggenggam jari-jemari wanita itu lembut. Jantungnya berdebar, merasakan setiap hembusan napas istrinya. "Lihat, kau melukai jarimu untuk merangkai bunga." Kelima jari Keisha ia perhatikan dengan begitu teliti. "Aku bisa memberikanmu uang Nyonya," tambahnya.
Ekor mata Angga melirik bibir Keisha yang tengah tersenyum. "Aku tahu, suamiku bisa membelikan apa pun yang aku dan Hasa butuhkan. Tapi, aku juga ingin melakukan sesuatu untuk kalian. Aku ingin kita membagi beban yang sama. Jika kau bekerja, aku juga ingin bekerja. Jika kau sakit aku pun akan merasakan sakit. Dan bila Anggaku ini bahagia aku juga akan bahagia."
Jantung Angga bergemuruh. Ah entah bayangan nakal apa yang terlintas di otaknya sekarang. Yang pasti, ia begitu berdebar mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Keisha. Seandainya ia tidak terkena hukuman, bisa dipastikan lelaki itu akan merasakan bibir manis istrinya saat ini juga.
"Aaa...! Kau jahat Nyonya. Sekarang aku tersiksa. Rasanya aku ingin menciumi semua wajahmu. Tapi aku tidak bisa," gerutunya mengerucutkan bibir menenggelamkan kepalanya bersandar penuh pada bahu sang istri.
Melihat tingkah lucu suaminya yang mulai kambuh, Keisha menyunggingkan senyum manis. Mengusap kepala lelaki itu, "Tapi aku tidak bilang tidak akan mengecupmu 'kan? Jadi kau bisa mendapatkannya." Mata Angga mengerjap beberapa kali, mencerna perkataan ibu dari anaknya. "Jadi?" senyum Angga terbit. Tangannya langsung melepaskan pelukan. Pria itu membalikkan tubuh Keisha, memejamkan mata.
Ia menunjuk pipinya menunggu hadiah. "Aku tidak akan melihat," tuturnya.
Sepuluh detik tidak ada yang terjadi, Angga mengintip melihat Keisha justru asyik merangkai bunga kembali. Lelaki itu menepuk jidatnya. Astaga, ia kena tipu istrinya sekarang.
"Baiklah, kita selesaikan ini. Kemudian pulang," ucap Angga pasrah.
Namun siapa sangka tiba-tiba sebuah kecupan singkat mendarat di pipinya.
"Aku tidak bercanda Angga," tutur Keisha memiringkan kepala mengedipkan mata sebagai tanda persetujuan.
Berkali-kali Angga memegangi pipi bekas kecupan Keisha. Bibirnya tersenyum lebar tidak pernah surut sekali pun. Lelaki itu tak bergeming tetap pada posisinya menikmati sensasi beberapa detik yang lalu.
"Hasa tidak lihat. Hasa tidak lihat."
Suara si kecil tiba-tiba terdengar, dia berdiri di ambang pintu menutup kedua matanya sambil tertawa kecil malu-malu. Keisha yang mengetahui Hasa berada di sana mendekat. Berjongkok di hadapan Panda kecil mencoba melepaskan kedua tangan Hasa yang menutupi mukanya.
"Hasa," panggil Keisha halus. Anak itu terkekeh, menggelengkan kepala. "Ibu, Hasa tidak lihat. Pipi Ayah melah," ocehnya imut.
Sejenak Keisha menoleh melihat pada Angga yang memandangnya berbinar-binar. "Pipi Ayah sudah tidak merah, jadi sekarang buka matanya," bujuk perempuan itu halus pada putranya. Hasa melihat kedua orang tuanya bergantian, anak itu meminta gendong ibunya dengan segera.
Dengan penuh kasih sayang, Keisha mengangkat tubuh si kecil. Ia mengedipkan mata sekali sebagai pertanda kalau urusannya telah selesai. "Ayah ayo pulang, biar Bibi Moly yang membereskannya nanti." Kepala Angga mengangguk sebagai jawaban, dia mengekori Keisha dari belakang mengikuti setiap langkah ke mana pun wanitanya itu pergi.
__ADS_1
.
.
.
.
Catatan kaki:
1. Tokoh utama:
Angga dan Keisha
2. Tokoh Pendukung:
-Ella Jinsky
-Julian Fernandez
-Eliot Naver
-Sherin Tamolo
-Sahira Valinas
3. Alur: Maju-mundur
4. Setting: Kanada
Alur dan plot cerita sudah Sana buat, harap bersabar mengikuti ceritanya sampai akhir.
__ADS_1
Salam sayang dari,
-Angga & Keisha-