My Old Wife

My Old Wife
Siaran Televisi


__ADS_3

Terimakasih reader atas Like & Vote + Komennya (yang sangat menghibur.. ) πŸ™πŸ™ Maaf karena Author gak bisa balas Chatnya satu-satu.. Tapi yang pasti Author sangat senang😁😁


____________________________^_^


~Suatu kabar akan terus terdengar selama mulut manusia masih berbicara~


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu setengah jam, akhirnya dua orang itu sampai di tempat tujuan. Di depan pintu masuk kediaman Heru Prawijaya, seorang wanita paruh baya telah menyambut kedatangan mereka dengan hangat. Dia terus menunjukkan senyum bahagia pada putri dan pemuda yang sudah dia anggap sebagai calon menantunya itu.


"Bagaimana perjalanannya sayang? Apa kamu kelelahan?" Tanya Hanum sembari mengusap kepala Keisha lembut.


Keisha baru saja didudukkan oleh Angga di kursi rodanya, Hanum menghampiri mereka berdua, dia berinisiatif mendorong kursi roda Keisha, sementara Angga membawab tas besar tempat barang-barang perempuan itu disimpan.


Saat masuk ke dalam rumah, mereka bertiga disambut oleh Helen yang tersenyum ramah kepada Ibu dan Kakaknya. Mata perempuan itu berbinar-binar saat melihat Angga juga ikut bersama mereka.


"Kakak Ipar, kamu yang menjemput Kak Keisha?" Tanya Helen antusias.


Angga memasang senyum ramah pada wanita itu, dia mendekat ke arah Keisha dan memegang lengannnya.


"Tentu saja aku harus menjemput calon istriku, tidak akan aku biarkan dia terluka sedikit pun mulai sekarang," jawab Angga dengan senyum yang lebar.


Keisha yang mendengar jawaban manis dari Angga hanya bersikap biasa, perempuan itu sudah mulai tebiasa dengan sikap Angga yang demikian.


"Mulut pemuda ini begitu manis, sampai orang lain pun akan mudah dirayunya," pikir Keisha dalam benaknya.


Hanum mempersilahkan Angga untuk membantunya membawa ke kamar, mereka mulai bercengkrama layaknya keluarga sendiri. Namun, keharmonisan itu tidak bertahan lama karena Angga meminta izin untuk pamit terlebih dahulu, dia berkata bahwa dia ada urusan yang harus dilakukannya saat ini.


"Ibu mertua, nanti malam tolong nyalakan televisi Bu. Pastikan Nyonya Keisha dan Ayah mertua juga melihatnya," tutur Angga sopan seraya mencium punggung tangan Hanum untuk berpamitan.


"Iya, Ibu akan mengajak suami dan anak-anak Ibu untuk melihat TV nanti malam," jawab Hanum seraya tersenyum.


Wanita paruh baya itu tidak terlalu banyak bertanya pada Angga, dia mengantarkan Angga sampai di depan rumahnya. Saat mobil pemuda itu telah pergi, dia kembali memasuki rumahnya untuk merawat putri sulungnya dan putrinya yang sedang hamil.


Pukul 18.30 tepat, suaminya dan menantunya Kevin juga sudah tiba di rumah, mereka sudah selesai dengan aktivitas pekerjaan kantornya yang cukup menyibukkan hari ini. Hanum menyambut kedatangan dua pria itu dengan ramah, dia membantu membawakan tas kerja suaminya, sementara Helen juga sudah membawa Kevin naik ke atas kamarnya.


"Apa Keisha sudah pulang?" Tanya pria itu pada istrinya.


"Sudah, tadi Angga yang mengantarkannya," jawab Hanum sembari melepaskan dasi suaminya.


"Apa pemuda itu berbuat hal yang tidak-tidak kepada putriku?" Tanya Heru lagi.


"Tidak, dia sangat baik dengan Keisha. Dia bahkan tidak membiarkan putri kita kelelahan sedikit pun," tutur Hanum sembari tersenyum.


Wanita itu mengingat kembali bagaimana perlakuan Angga yang sangat lembut pada putri tertuanya.


"Aku tidak bisa percaya begitu saja padanya, pemuda itu sangat berbahaya untuk putriku. Bahkan saat aku ada saja dia masih berani menyentuh putriku," ucap Heru sedikit menggebu-gebu.


Hanum hanya tertawa kecil mendengarnya, karena suaminya begitu posesif pada Keisha mungkin itu juga karena apa yang telah dialami putrinya itu di masa lalu.


"Sekarang mandilah, dan segera ke meja makan. Kita akan makan malam bersama," tutur Hanum ramah.

__ADS_1


Perempuan itu bergegas ke luar dari kamarnya dan suaminya, dia menuju ke arah dapur untuk mengambil makanan yang telah dia siapkan tadi sore dan bergegas menatanya di meja makan. Setelah semuanya siap dia mulai memanggil satu persatu anggota keluarganya tidak terkecuali Keisha.


Mereka kini sudah duduk di meja makan dan mulai menikmati hidangan yang telah disiapkan.


"Bagaimana kondisimu Kei? Apa badanmu masih terasa tidak enak?" Tanya Heru halus pada putrinya yang kini tengah meminum segelas susu.


"Aku sudah baikan Ayah, Ayah tidak perlu mencemaskanku," jawab Keisha dengan sedikit senyum di bibirnya.


"Syukurlah kalau begitu, Ayah ikut merasa senang."


Sudah hampir lebih dari sepuluh menit mereka memakan makanan tanpa ada pembicaraan lebih lanjut, suasana di meja makan begitu sunyi. Setelah acara makan malam semua anggota keluarga itu mulai melakukan aktivitasnya masing-masing.


Sebelum membersihkan meja makan, Hanum menyuruh putri bungsunya untuk menyalakan TV di ruang tamu, benda kotak itu pada nyatanya jarang dinyalakan oleh mereka, karena terlalu sibuk bekerja mereka tidak punya waktu untuk sekedar menonton hiburan di televisi.


"Kenapa Ibu menyuruhku menyalakan TV? Apa sekarang Ibu sudah mulai menyukai sinetron? Sudahlah, setelah nyalakan TV langsung kembali ke kamar, aku ingin menghabiskan waktu berdua dengan Kak Kevin," kata Helen bermonolog sendiri.


Perempuan itu menekan tombol hijau pada remote TV, yang secara otomatis menghidupkan layar datar persegi tersebut. Saat Helen mulai mengganti channel TV bermaksud untuk mencari acara TV yang mungkin di sukai oleh Ibunya, Helen menemukan acara TV yang menyita perhatiannya.


"Kakak! Ibu! Ayah! Kak Kevin! Cepat kemari....!!" Teriak Helen memanggil semua anggota keluarganya.


Heru yang sampai duluan di ruang tamu langsung bertanya panik pada putrinya, takut jika putri sambungnya ini sedang kenapa-napa, mengingat dirinya sedang mengandung.


"Ada apa Helen? Apa terjadi sesuatu padamu?" Tanya Heru cepat.


Tidak lama setelah kedatangan Heru, Hanum, Kevin dan juga Keisha juga telah tiba di sana. Mereka langsung memasang raut muka penasaran bercampur khawatir.


Mata keempat orang itu langsung menatap layar datar benda persegi itu, terlihat jelas sesosok pemuda yang memakai Blazer hitam panjang dengan kaos abu-abu polos yang menutupi sampai bagian lehernya. Penampilannya dapat menghipnotis semua orang yang ada di sana.


"Lihatlah Ayah, calon menantu kita ada di sana," ucap Hanum sedikit antusias.


Dia bergegas menarik tangan suaminya untuk duduk di sofa, agar dapat menyaksikan acara TV itu, Helen dan Kevin pun sama mereka segera mendudukkan diri mereka di kursi yang sama dengan Ayah dan Ibu mereka. Sementara Keisha hendak kembali ke kamarnya, namun Hanum langsung mencegahnya, dia membujuk putrinya itu untuk duduk bersama mereka.


"Nona, Anda menemukan bibit baru lagi, pilihan Anda memang tidak salah," puji salah satu reporter di sana pada seorang perempuan yang memakai pakaian modis berwarna biru cerah.


Perempuan itu tidak lain adalah Nona Anggie Nicoline pemilik industri entertainment ternama di tanah air. Flow.X. Entertainment Industry.


"Tentu saja, mata saya sangat jeli dalam menilai berlian di masa depan," kata Nona Anggie sedikit sombong.


"Apa pemuda ini akan menjadi bagian dari agensi Anda?"


"Iya, dia aset kami. Pemuda ini akan menjadi model baru kami dalam dunia fashion, namanya Angga Adiputra," ujar Nona Anggie dengan senyum yang tidak lepas dari bibirnya.


Reporter itu beralih menanyai pemuda yang sedari tadi mencuri perhatian mereka, pemuda yang berhasil membuat semua orang yang ada di sana tidak dapat berkata-kata karena penampilannya yang memang menawan.


"Apa benar Anda akan bergabung dalam agensi Flow.X. Entertainment Industry?"


"Iya, saya akan menjadi bagian dari industri ini," jawab Angga dengan senyum manis di bibirnya.


"Apa alasan Anda masuk ke dalam dunia entertainment? Apa agensi dari Nona Anggie memberikan hak khusus pada Anda, sampai pemuda seperti Anda bersedia menjadi anggota baru dari agensi ternama di tanah air?"

__ADS_1


"Tidak ada, saya bergabung dengan inisiatif saya sendiri, saya ingin mencoba pengalaman baru, itu saja."


Angga masih terlihat menawan dengan senyum di bibirnya, pemuda itu mulai menjawab semua pertanyaan dari para reporter secara bergantian, ini merupakan debut perdananya dalam dunia entertainment. Sudah lebih dari tiga puluh menit acara itu berlangsung. Semua orang di industri itu merasa senang dengan semua jawaban yang diberikan oleh Angga sampai pada pertanyaan terakhir mereka.


"Apa sekarang Anda sedang menjalin hubungan dengan seseorang?"


"Ah tidak ada, baru-baru ini Angga tidak menjalin hubungan dengan siapa pun," sela Nona Anggie dengan cepat mencoba mengalihkan perhatian dari para reporter.


Namun Angga justru menganggukkan kepalanya, dia mengiyakan pertanyaan dari reporter tadi. Dan hal itu berhasil membuat semua orang di sana merasa tegang.


"Iya saya sekarang sedang menjalin suatu hubungan," jawab Angga jujur.


Jawaban yang diberikan Angga berbalik dengan jawaban yang diberikan oleh Nona Anggie, sehingga membuat para wartawan mulai terlihat ricuh.


"Siapa Tuan?"


"Dengan siapa sekarang Anda menjalin hubungan?"


"Tolong beritahu kami Tuan!"


Pertanyaan-pertanyaan mulai berdatangan, para reporter itu ingin mengetahui lebih dalam tentang wanita itu.


Sementara Angga terlihat tenang, dan tetap memasang senyum di bibirnya, berbanding terbalik dengan pemilik agensi itu. Nona Anggie terlihat cemas perempuan itu mulai mengeluarkan keringat sebiji jagung di dahinya.


"Maaf konferensi pers untuk hari ini kami tutup," kata Nona Anggie dengan cepat.


Perempuan itu bergegas menarik tangan Angga untuk segera berdiri dari kursinya, tapi pemuda itu tidak bergeming dari posisinya, dia masih setia duduk dengan santainya.


"Saya menjalin hubungan dengan pemilik Jewelry Group, Nyonya Keisha Prawijaya," tutur Angga tenang dengan senyum yang masih setia menggantung di bibirnya.


"Nona Anggie duduklah, Anda tidak bisa mengakhiri konferensi pers ini. Karena Tuan Angga masih bersedia menjawab pertanyaan kami," pinta salah satu reporter di sana dengan sopan.


Mau tidak mau perempuan itu kembali duduk pada tempatnya, dalam hati perempuan itu mengumpati Angga dengan kesal. " Sial! Pemuda ini, ingin membuatku bangkrut!" ucapnya dalam hati.


"Pemilik Jewelry Group? Nona Keisha Prawijaya, pebisnis muda itu?" Tanya reporter itu kembali mencoba memastikan.


"Benar, Nyonya Keisha Prawijaya, putri dari Tuan Heru Prawijaya. Dia adalah calon istri saya," jawab Angga lagi dengan senyum cerah diwajahnya.


Para reporter dan wartawan mulai ricuh, mereka bergegas mengabadikan momen itu dengan merekamnya, memotretnya, bahkan menarasikannya dalam artikel berita. Dapat dipastikan bahwa berita ini akan menjadi topik terhangat untuk majalah dan surat kabar malam ini dan esok hari.


Di sisi lain, keluarga dari Heru Prawijaya dibuat terkesiap dengan pernyataan dari pemuda itu.


"Pemuda ini sudah gila!" Teriak Heru dalam hatinya. Pria paruh baya itu terus mengumpati calon menantunya itu, dalam pikirannya dia merasa kesal tapi di relung hatinya paling dalam ada benih kebahagiaan yang tidak dapat dia tunjukkan.


"Angga sangat serius dengan putriku, ku harap putriku tidak lagi menolaknya kali ini," tutur Hanum sembari memandang wajah Keisha yang masih terlihat tenang.


"Kakak Ipar sungguh sesuatu, aku mengakuinya! Dia luar biasa!" ujar Helen penuh kekaguman dalam hatinya, mata wanita itu mulai melihat acara TV itu dengan serius.


Sementara Kevin hanya diam membisu, dia tidak berpendapat apa pun atas pernyataan yang diberikan Angga barusan.

__ADS_1


__ADS_2