
~Selama harapan itu ada, maka tidak ada salahnya untuk tetap berusaha~
Dibawah pengawasan Lianda kesehatan Keisha terus membaik, Lianda memberikan saran pengobatan dan terapi untuk Keisha. Namun, setelah semua itu ada kalanya penyakitnya itu kambuh kembali.
“Tuan Muda, Nona Keisha jatuh___.” Belum selesai ucapan Romi, Angga sudah menutup teleponnya, terlihat jelas bahwa pemuda itu pasti buru-buru datang kemari setelah menerima panggilan dari Romi.
Saat ini Romi sedang ada di kantornya Keisha, sejak kejadian beberapa bulan lalu dia menjadi pengawal Keisha kemanapun perempuan itu pergi. Hal ini tentu atas perintah dari Tuan Mudanya, Angga.
Tidak berselang lama, Angga telah memasuki ruang direktur, terlihat jelas bahwa pemuda itu berlari saat datang kemari. Peluh keringat di dahinya menunjukkan semuanya.
“Apa ada yang terluka sayang?” Angga langsung menanyakan keadaan Keisha ketika dia datang, dia berjalan cepat ke arah Keisha dan segera memeriksa keadaan perempuan itu baik tangan, kaki, bahkan wajahnya.
“Aku tidak apa-apa Angga, jangan cemas.” Keisha menggenggam tangan Angga untuk menenangkannya. Angga langsung memeluk istrinya dan menyandarkan kepalanya di bahu Keisha. “Bagaimana saya tidak cemas Nyonya? Jika sampai terjadi apa-apa pada anda, saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan.” Keisha mengusap kepala Angga dengan lembut dan mengecup pelipisnya.
Setelah cukup tenang, Angga melepaskan pelukannya dan beralih menatap Romi, terlihat jelas bahwa wajahnya cukup marah pada Romi karena tidak bisa menjaga istrinya dengan benar. Romi hanya menunduk dan meminta maaf atas kelalaiannya.
Tidak butuh waktu lama, Lianda juga datang dengan alat kesehatannya, dia mulai melakukan pemeriksaan pada Keisha.
Saat tadi Keisha hendak mengambil air minum tiba-tiba saja kakinya terasa lemas sehingga dirinya terjatuh begitu saja di lantai.
“Bagaimana keadaan istriku Lian?” Angga sudah tidak sabar menunggu jawaban dari Lianda, pemuda itu terlihat gusar dan resah.
“Bisa kita bicara berdua Tuan Angga?” Tanya Lianda sopan, sepertinya ada hal penting yang harus dibicarakan pada Angga secara pribadi. Angga pun mengangguk sebagai jawaban, mereka meninggalkan ruangan itu dan bicara empat mata di ruangan lain yang lebih tertutup.
Lianda mulai menjelaskan semua duduk perkaranya, tentang kesehatan Keisha. Dia menyampaikan bahwa dirinya tidak mampu jika harus menyembuhkan Keisha seorang diri, karena dia bukan dokter spesialis neurologi yang secara khusus menangani cedera sistem saraf termasuk saraf tulang belakang.
“Lalu apa yang harus aku lakukan untuk menyebuhkan istriku Lian?” Angga sudah gugup, jantungnya berdetak sangat cepat dan tidak teratur karena rasa takut.
__ADS_1
“Kita harus membawa Nona Keisha kembali ke Kanada Tuan Angga, untuk mendapatkan perawatan lagi dari Dokter spesialis neurologi yang menanganinya dulu.” Lianda mengingat tentang catatan rekam medis milik Keisha, dimana perempuan itu pernah melakukan perawatan dengan salah satu dokter spesialis neuorologi yang ada di Kanada, dan berdasarkan catatan medisnya kesehatannya meningkat pesat dalam perawatannya. Namun, setelah kembali ke Indonesia dan tidak pernah lagi melakukan perawatan, cederanya kembali memburuk.
Angga terlihat berpikir sejenak sebelum pada akhirnya dia mengangguk, “apa pun akan aku lakukan demi istriku Lian,” ucap Angga mantap tanpa ragu sedikitpun.
Dalam kurun waktu dua minggu Angga sudah mengurus semuanya, hal itu tentu juga karena bantuan Romi. Semua surat-surat kepindahannya baik visa, paspor, dan lain sebagainya telah diurus oleh Romi. Sementara dirinya sibuk mengurus kontrak kerjasama dengan Nona Anggie Nicolin, setelah berdebat cukup panjang pada akhirnya Angga tetap tidak bisa memutuskan kontrak dengan agensi Nona Anggie, dia tetap bekerja dibawah agensi Nona Anggie namun dalam naungan rekan bisnisnya Nona Anggie yang ada di Kanada. Sepertinya profesi model memang sudah menjadi karirnya.
Untuk Keisha, Angga membujuknya dengan perlahan. Pada awalnya perempuan itu menolak, namun karena Angga tidak henti-henti membujuknya. Keisha pun setuju. Segala urusan kantor ia serahkan pada Ferdian asistennya dan Fina sekerarisnya. Kemudian masalah internal kinerja perusahaan ia percayakan pada Rafi sepupunya sebab Rafi memiliki bisnis yang sama dalam bidang industri perhiasan.
“Apa kamu serius dengan yang kamu katakan? Kamu akan membawa putriku ke Kanada?” Tanya Heru terkejut, saat ini Angga telah berkunjung ke rumahnya untuk minta restu. Belum selesai permasalahan rumah tangga Helen dan Kevin. Heru mendengar kabar tentang kepindahan Keisha.
“Jika ini terbaik untuk putriku, aku akan mengijinkannya. Asalkan kau menjaga putriku dengan baik di sana.”
Angga tersenyum senang dan mencium kedua tangan Ayah mertuanya sebagai tanda terimakasih.
“Aku menyayangimu Ayah.”
“Maafkan aku Ayah mertua, ini sebagai kenang-kenangan dariku sebelum pergi,” Angga tersenyum konyol dengan menunjukkan giginya yang putih. Heru hanya menarik napas berat melihat tingkah menantunya itu, dia cemas melepas kepergian putrinya tapi dia juga merasa tenang jika orang itu adalah Angga.
“Jika kesehatan putriku sudah baik, cepatlah pulang.” Pinta Heru pada Angga.
“Sepertinya aku akan berlama-lama di sana, agar aku bisa berduaan dengan putri anda Ayah mertua hehehe.” Ucap Angga dengan wajah tanpa dosa, Heru langsung memukul kepala Angga dengan Koran yang ia pegang.
“Jika kamu berani berbuat macam-macam pada putriku, akan aku pastikan mencincangmu saat pulang,” ancam Heru dengan nada sedikit bercanda.
“Tenang Ayah mertua, hanya satu macam. Saya akan membahagiakan putri anda sampai dia melupakan kesedihannya.” Ucap Angga sembari tersenyum cerah dan memegang tengkuk lehernya yang tidak gatal.
Heru hanya membalasnya dengan senyuman, apa yang dikatakan Angga sudah cukup menghibur hatinya. Mereka pada akhirnya hanya mengobrol santai, menghabiskan waktu mereka untuk yang terakhir kali sebelum berpisah.
__ADS_1
Pada akhirnya Angga bersama istrinya beserta Romi dan Lianda melakukan penerbangannya ke negeri yang dijuluki Pecahan Es, yang berada di negara bagian utara benua Amerika. Negara yang memiliki luas wilayah terbesar kedua setelah Rusia.
“Apa kamu tidak kedinginan sayang,” Tanya Angga khawatir pada Keisha, mengingat mereka datang ke negara itu saat musim dingin tiba dan salju mulai turun.
Keisha hanya menggeleng dan memegang lengan Angga serta menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.
“Kemari, aku akan menghangatkanmu.” Angga menarik tangan Keisha, menggenggamnya erat dan memasukkannya ke dalam saku jaketnya, kemudian dia membenarkan posisi syal yang ada di leher istrinya.
Mereka kini sedang menunju ke Ottawa, Ibu Kota Kanada. Romi telah menyewa sebuah rumah di sana untuk menjadi tempat tinggal sementara mereka di negara ini. Rumah desain arsitekstur bernuansa modern dengan memainkan banyak warna.
Angga mengusap kepala istrinya lembut untuk membuat perempuan pujaannya itu tertidur karena perjalanan mereka cukup panjang hampir memakan waktu dua jam lamanya dari bandara.
“Setelah sampai aku akan membangunkanmu,” kata Angga sembari mengecup pucuk kepala Keisha dan memeluknya dengan erat. Dia melihat ke arah luar, salju mulai turun dan udara semakin terasa dingin, langit pun mulai terlihat gelap. Menandakan bahwa malam telah tiba.
“Semoga ini menjadi awal yang baik untuk hubungan kita Nnyonya,” kata Angga sepelan mungkin agar tidak terdengar oleh Keisha.
______^__^_______
Suasana baru yang Sana maksud adalah kita akan setting tempat di Kanada teman2😁😁...
Next Episode akan berfokus pada kisah Angga dan Keisha saja..(Untuk tokoh yang lain mungkin di eps lain🤗🤗)
Jangan lupa tinggalkan like di dua chap yaa..takutnya kalian lupa karena keasikan baca..
Maaf Sana telat update..
(Besok alur udah normal gak kecepetan dan gak kelamaan).. Terimakasih atas saran2 nya yang membangun untuk Sana semakin berbenah diri😚😚
__ADS_1