My Old Wife

My Old Wife
Season 2- Part 49 Biarkan Aku Bersama Istrimu


__ADS_3

~Aku yang merindukanmu dan selalu mencintaimu~


***


^^^(Julian Fernandez)^^^


Pada akhirnya Angga turun dari mobil, melihat Julian secara seksama. Ia tidak punya pilihan lain kecuali menemui lelaki itu. Pria yang juga mencintai istrinya. "Apa kau ada waktu sebentar? Ada yang ingin aku bicarakan," kata Julian menatap manik mata Angga serius. Tanpa pikir panjang, Angga melihat jam di tangannya. Tersisa sekitar empat puluh menit lagi untuk meeting.


"Aku tidak punya banyak waktu."


"Tidak masalah."


"Kita bicara di tempat lain saja."


Julian menurut tidak membantah, dia mengikuti kemauan suami dari Keisha itu yang mengajaknya ke kafe terdekat. Memang tidak baik jika membicarakan hal ini di luar. Terutama masih dalam wilayah lingkungan sekitar mereka.


Kini mereka duduk saling berhadap-hadapan. Suasana kafe tampak sunyi hanya ada beberapa pengunjung yang terlihat sedang menikmati pesanan mereka. Seorang waiters menghampiri Angga menyerahkan buku menu. "Kau duluan yang pesan," ucap Angga memberikan buku itu di meja depan Julian agar pelukis itu lebih dulu memilih. "Coffee latte tanpa gula." Sekarang giliran Julian yang menyodorkan buku menu itu pada Angga.


Lelaki yang berprofesi sebagai pimpinan perusahaan Wilson Corporation itu hanya melihat tidak melingkari menu apa pun. "Air putih, itu saja." Pelayan kafe mengerti segera kembali ke dapur untuk membawa pesanan pengunjung. Selagi menunggu kopi pahit Julian tiba, kedua lelaki beda usia itu memulai pembicaraan mereka.


Udara yang tadinya lembab di sekitar mulai terasa memanas. Karena atensi konsentrasi yang saling bertukar pandang. Angga dengan tatapan penuh tanda tanya, sementara Julian sorot mata teduh yang seolah-olah akan mengeluarkan api setelah ini.


"Aku ingin meminta padamu satu hal."

__ADS_1


Wajah Angga menelisik ekspresi Julian. Sedikit gugup saat pria itu mulai membuka mulutnya akan mengatakan sesuatu.


"Bisakah kau mengizinkanku untuk menghabiskan satu hari saja dengan Keisha?"


Kedua bola mata Angga membola, melebar sempurna. Dia berdiri langsung, tampak sedikit marah. "Apa yang kamu katakan Julian? Membiarkanmu dengan istriku sehari penuh? Begitu?" tanya Angga meninggikan suaranya. Julian tersenyum tipis menunduk lalu mendongakkan kembali kepalanya. Melihat Angga balik.


"Iya, hanya untuk satu hari."


"Kau!"


Tangan Angga mengepal, menganggap permintaan Julian sangat lancang. Bagaimana juga yang diinginkan oleh Julian sulit untuk Angga kabulkan. Tidak ada seorang suami yang bisa mengikhlaskan istrinya berdua saja dengan pria lain selama satu hari penuh. Terutama pria itu adalah orang yang jelas-jelas mencintai istrinya. Itu sama saja Angga memberikan jalan bagi Julian untuk kembali dekat dengan Keisha.


"Aku menolak. Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi."


"Angga dengarkan aku." Tangan Julian mencekal lengan pria muda itu yang hendak meninggalkan dia.


"Tuan Angga, segelas air putihnya."


"Terima kasih," jawab Angga datar tanpa ada senyum di bibir.


"Kalau begitu selamat menikmati hidangannya."


Pelayan tadi pergi, menyisakan Angga dan Julian berdua. Mereka kembali bersitatap, saling memandang dengan serius. Angga menggenggam kaca gelas, hampir memecahkannya. "Kenapa kau ingin aku memberikan izin agar istriku menghabiskan satu hari denganmu? Tuan Julian," kata Angga formal tidak suka.

__ADS_1


Julian tampak baik-baik saja, tidak ada rasa kesal sedikitpun dengan sikap Angga barusan. Julian mengambil amplop putih dari sakunya, memberikan benda itu pada Angga. "Hidupku tidak akan lama lagi." Julian tersenyum manis. Kemudian menarik napas dalam menyambung kembali kalimatnya. Dia memandang Angga yang masih mencoba memahami arti perkataannya.


"Saat aku masih belia, orangtua asuhku bertengkar. Mereka memperdebatkan soal rumah yang akan dijual untuk biaya pengobatanku. Aku telah menderita gagal ginjal dan rusak sumsung tulang belakang sejak berusia lima tahun. Aku baru keluar dari rumah sakit setelah lebih dari sepuluh tahun di rawat."


" Aku berharap saat pulang, Ayah dan Ibu akan menyambutku dengan senang hati. Tapi aku salah, mereka justru bertengkar hebat karena diriku. Aku memutuskan untuk pergi dari rumah karena tidak ingin membebani mereka lagi. Namun, aku lupa kalau kondisiku pun tidak baik. Malam itu turun hujan lebat. Diriku yang tidak punya lagi tempat tinggal terpaksa memilih bangku taman untuk berteduh."


Julian memulai kisahnya, awal pertemuan dia dengan Keisha. "Seorang mahasiswi datang, wanita itu membawakanku payung saat aku kehujanan malam-malam. Dia rela mencegat taksi dan mengantarku ke rumah sakit yang sudah hampir tidak sadarkan diri." Mata Julian menunjukkan kebenaran, tidak ada kebohongan yang ditutupi.


"Kau tahu Angga siapa yang menolongku? Keisha, dialah orangnya. Dia mengulurkan tangannya padaku untuk memberikan aku harapan hidup yang baru."


"Orang tua asuhku mengadopsiku dari panti asuhan. Ayahku hanya seorang sopir taksi. Semua gajinya sudah habis untuk biaya pengobatanku. Setiap minggu aku harus melakukan cuci darah. Rasanya aku hidup hanya untuk merepotkan orang lain. Aku membuat mereka kesusahan. Karena itu aku memilih kabur dari rumah saat aku berusia 16 tahun."


Julian tertawa sumbang. "Kehadiran Keisha membawa harapan baru untukku. Dia selalu menghiburku, kunjungannya ke rumah sakit setiap hari membuatku senang. Aku yang hidup tidak lagi memiliki tujuan mulai ingin menghirup udara di dunia ini lebih lama lagi. Aku ingin sembuh. Walau itu mustahil terjadi."


"Keisha, membantuku mendapatkan dana bantuan sosial dari rumah sakit untuk perawatanku. Setiap saat dia akan menemaniku mengobrol di taman. Dia juga selalu tersenyum menceritakan banyak hal. Namun, saat aku mulai ingin membalas kebaikannya dia sudah pergi. Dia pulang ke Indonesia. Aku sempat putus asa, tapi berkat semangat dari Dokter Zenn aku memutuskan untuk mengabadikan setiap momen kami dalam lukisan. Aku mulai suka melukis. Dan aku mencintainya dalam angan-angan."


Julian menatap Angga lalu menundukkan kepalanya dalam. "Bisakah kau izinkan aku berterima kasih pada istrimu sekali saja? Aku tidak pernah berniat untuk merebutnya. Karena aku tahu cinta Keisha hanya untukmu. Aku bersyukur karena dia menikah denganmu, bukan dengan Kevin."


Angga masih belum percaya, tetapi mendengar cerita Julian dan membaca surat yang dia genggam membuat Angga bimbang. Dia berada di antara dua pilihan. Lelaki itu--Julian Fernandez didiagnosa hanya memiliki kesempatan hidup satu bulan lagi. Kedua ginjalnya sudah tidak bisa lagi berfungsi. Dan dia selama ini bertahan dengan bantuan pil penambah darah.


"Aku tidak akan memaksa jika kau tidak mengizinkan. Tapi aku hanya ingin berterima kasih padanya untuk yang terakhir kali."


***

__ADS_1


-Bersambung.


Selamat Pagi, apa kabar semua? Masih kangen kah sama Angga?


__ADS_2