My Old Wife

My Old Wife
Kembali Bersama


__ADS_3

~Waktu yang paling berharga dalam hidup seseorang, yaitu saat kau habiskan waktu itu bersama orang yang kau cintai~


Bangunan berlantai dua dengan desain arsitekstur modern itu kini tampak lebih hidup dari sebelumnya. Lampu-lampu ruangan mulai dinyalakan beserta penghangat ruangannya. Tungku perapian yang biasa dipakai pada musim dingin sedikit dipanasi. Kayu-kayu bakar yang berasal dari batang pohon pinus dibakar dengan api perapian. 


“Ini tehnya Tuan Muda.” Romi menyeduh teh hangat beraroma Jasmine dengan campuran kayu manis ke dalam cangkir yang terbuat dari batu marmer terbaik. Angga menerima teh hangat pemberian Romi kemudian menyesapnya perlahan-lahan. 


“Apa masih terasa dingin?” Tanya Keisha halus. Ia memakaikan selimut ditubuh Angga seraya menggosok telapak tangan pemuda itu beberapa kali untuk membuat suhu tubuh Angga sedikit hangat. 


“Ini jauh lebih baik,” ucap Angga dengan nada rendah. Tubuhnya masih menggigil dan bibirnya sedikit bergetar. Hidungnya mulai terasa gatal, hingga membuatnya bersin beberapa kali.  


“Romi tolong ambilkan selimut yang lebih tebal lagi, aku akan menyiapkan air hangat untuk Angga.” Keisha sedikit khawatir melihat kondisi suaminya yang kedinginan, tubuhnya pucat pasi seperti orang sakit. 


“Maaf karena merepotkanmu sayang,” kata Angga lemah. Pemuda itu bersin beberapa kali, hidungnya mulai memerah dan matanya cukup berair. Angga menyesali kebodohannya yang menunggu Keisha diluar rumah sepanjang sore, hingga membuat ia terserang flu sekarang.


Setengah jam yang lalu ketika Romi dan Lianda mengetahui kedatangan Angga, mereka cukup terkejut, terlebih untuk Romi karena kedatangan Tuan Mudanya membawa ketakutan tersendiri untuknya. 


Tapi beruntung karena kondisi tubuh Angga yang cukup buruk membuat Romi sedikit merasa tenang, sebab dengan begitu Angga tidak akan mengingat ancamannya untuk mencukur rambutnya sementara waktu.


“Kenapa kau tersenyum?” Tanya Angga pada Romi saat melihat wajah pria itu tampak berseri-seri ketika menyodorkan selimut yang Keisha minta tadi. Romi hanya menggeleng menutupi rasa bersyukurnya agar Angga tidak menambah hukumannya. 


“Tidak Tuan Muda, saya hanya cukup prihatin dengan keadaan Tuan Muda saat ini. Saya akan membuatkan sup hangat terlebih dahulu untuk Tuan Muda.” Romi mencoba menyunggingkan senyum setulus mungkin agar Angga tidak curiga. Kemudian ia memilih pergi dari sana menuju ke dapur membuatkan sup yang ia tawarkan tadi. 


Tidak berselang lama Keisha yang datang membawa seember air hangat dan handuk ditangannya. Disusul Lianda dari belakang membawa peralatan medisnya untuk memeriksa Angga. 


Lianda mulai memeriksa denyut nadi Angga dan memberikan sedikit suntikan kesehatan agar suhu tubuh pemuda itu sedikit menghangat. “Bagaimana Lian? Apa Angga baik-baik saja?” Tanya Keisha khawatir, raut wajahnya terlihat cemas dan tidak sabar menunggu informasi yang diberikan Lianda.


“Tuan Angga tidak apa-apa Nona. Kekebalan tubuhnya cukup kuat hingga ia hanya terkena Hipotermia ringan.” Jelas Lianda seraya mengakhiri pemeriksaannya. Keisha sedikit lega mendengar ucapan Lianda, dia kembali melihat ke arah Angga dan menggenggam tangan pemuda itu erat. 


Hipotermia ringan merupakan gejala awal terjadinya Hipotermia sedang atau berat, dalam kasus ini seseorang akan mengalami penurunan panas tubuh lebih cepat, hingga suhu tubuh mencapai 32-35º C. 

__ADS_1


Seseorang yang mengalami Hipotermia ringan harus segera ditangani oleh Dokter sebelum kondisi tersebut berubah menjadi Hipotermia berat yang menimbulkan sesak napas dan gagal jantung hingga menyebabkan kematian.  


“Jangan lakukan ini lagi,” tutur Keisha pada Angga. Ia menggosok kembali tangan pemuda itu dan meniupnya perlahan-lahan untuk menyalurkan udara panas ditubuhnya. Angga hanya mengangguk kecil sebagai jawaban. 


“Tuan Muda memang ceroboh Nona, ia terbiasa tidak menggunakan akalnya sebelum bertindak.” Sahut Romi dari pintu masuk sembari membawa nampan yang berisi semangkuk sup lobak dan tomat di tangannya. Angga hanya menatap Romi tajam untuk memperingatkan agar Romi tidak berbicara lebih jauh dari ini. Tapi sepertinya Romi mengabaikannya. 


“Jika Tuan Muda merasa apa yang saya katakan salah, saya akan meminta maaf. Tapi menurut saya, apa yang saya katakan benar adanya. Jika tidak?  Anda tidak mungkin menunggu di luar berjam-jam seperti orang gila di tengah cuaca dingin seperti ini.” Romi menghentikan ucapannya sejenak untuk mengambil napas, sembari menaruh nampan itu di meja. Angga tampak ingin membela diri, tapi Romi segera menyela ucapannya ketika ia membuka mulutnya. 


“Apabila kami tidak pulang malam ini. Apa anda akan tetap menunggu di luar sampai kami datang ?” Romi bersedekap dada, kemudian ia kembali mengomeli Angga seperti yang dilakukan ibu pada anaknya. 


“Seharusnya anda menghubungi saya atau Nona Keisha, Tuan Muda. Untuk memberikan kabar bahwa anda sudah pulang sehingga kami dapat segera kembali ke rumah." Sambung Romi lagi, kemudian ia menghela napas panjang. Sebelum berbicara kembali.


"Jika Tuan Sebastian dan Tuan Wilson tahu tentang ini, saya pastikan mereka akan marah besar pada anda. Juga pada saya dan Lianda, karena telah gagal menjaga anda." Romi menurunkan tangannya dari dadanya, kemudian ia melihat ke arah Lianda mengisyaratkan agar perempuan itu segera menghubungi Tuan Sebastian untuk melaporkan apa yang sedang terjadi pada putranya.


"Maafkan aku, aku bersalah." Kali ini Angga meminta maaf dengan nada penuh penyesalan. Romi sedikit tersenyum tipis karena rencananya untuk menekan Angga sedikit berhasil.


"Karena ini permintaan dari Nona Keisha kami akan melakukannya. Tapi Tuan Muda harus berjanji satu hal pada saya." Romi melihat Tuan Mudanya meminta persetujuan, Angga hanya menghela napas panjang kemudian menarik selimut untuk lebih menutupi dirinya.


"Katakan, aku harus berjanji apa?" Romi tampak sedikit tersenyum tipis ke arah Angga, kemudian ia mulai mendekatkan dirinya pada Angga lalu membisikkan sesuatu di daun telinga pemuda itu.


"Saya hanya meminta agar anda tidak lagi menghukum saya Tuan Muda, termasuk menyuruh saya untuk mencukur rambut saya." Ucap Romi sepelan mungkin dan hanya di dengar oleh Tuan Mudanya. Ketika Angga mencerna ucapan Romi, baru ia tahu apa tujuan Romi melakukan semua itu padanya.


"Jadi kamu memanfaatkan situasi ini untuk memperoleh keuntungan buat dirimu sendiri dan merugikanku?" Tanya Angga dengan seringai tipis di bibirnya. Romi mengernyitkan dahinya bingung atas respon Angga barusan. Ia kira Angga akan takut dan menurutinya. Tapi ternyata? Nampaknya pemuda itu justru menekan balik padanya.


"Ada apa Angga?" Tanya Keisha khawatir karena melihat suaminya dan Romi masih belum mengatakan apa pun.


"Tidak sayang, Romi hanya menyuruhku berjanji agar aku lebih hati-hati. Jika aku menepati janjiku, Romi berkata bahwa dia bersedia memotong gajinya untukku." Kata Angga seraya tersenyum manis ke arah Keisha. Kemudian ia memegang tangan Romi pelan mencoba meyakinkan istrinya.


"Terimakasih, Romi karena kamu sangat menyayangiku." Puji Angga tersenyum lebar dan melingkarkan tangannya di pinggang Romi. Keisha tersenyum tulus dan bersyukur dalam hati karena memiliki Romi yang dapat menjaga suaminya dengan baik.

__ADS_1


"Romi kamu bisa memberikan gajimu padaku, jika kamu tidak mau. Tuan Angga sudah memiliki banyak uang di tangannya." Timpal Lianda mengajukan diri agar sahabatnya itu juga mau berbaik hati padanya.


Angga melepaskan pelukannya pada Romi kemudian melihat ke arah Lianda. "Tenang Lian, nanti aku akan memberimu sepuluh persen dari bonus yang diberikan Romi padaku." Lianda langsung memegang tangan Angga untuk berterimakasih kemudian ia beralih menepuk bahu Romi sebagai ucapan rasa syukur. Dalam hati perempuan itu bersorak senang karena dia dapat berbelanja banyak bulan ini.


"Anda benar-benar membuat saya jatuh miskin Tuan Muda." Batin Romi menyesal atas perbuatanya tadi. Niat hati untuk menekan Tuan Mudanya tapi dia justru yang ditekan dalam keadaan ini. Sungguh Romi meratapi nasibnya sekarang.


"Aku akan memberikan bonus padamu Romi. Kamu jangan khawatir." Tutur Keisha menepuk pundak Romi. Perempuan itu cukup menyadari kalau sampai gaji Romi dipotong dan diberikan pada Angga, maka pria itu akan sedikit kesulitan bulan ini. Setidaknya ia ingin memberi penghargaan pada Romi atas jasa-jasanya selama ini karena telah menjaga dia dan Angga dengan baik.


"Anda adalah penolong saya Nona," kata Romi berkaca-kaca. Romi hampir saja memeluk tubuh Keisha jika bukan Angga yang menarik perempuan itu menjauh darinya. "Jangan coba-coba menyentuh istriku!" Ketus Angga seraya menarik Keisha dalam pelukannya. Pemuda itu begitu erat mendekap Keisha hingga membuat Keisha sedikit kusilatan bernapas.


"Saya hanya ingin berterimakasih pada Nona, Tuan Muda." Romi kembali mencoba meraih tangan Keisha tapi segera ditepis oleh Angga.


"Tidak boleh!" Tukas Angga tajam sembari melotot ke arah Romi.


"Hanya sekali Tuan Muda," desak Romi lagi masih berusaha memegang tangan Keisha.


"Tetap tidak boleh!" Angga semakin memeluk Keisha erat tak membiarkan Romi menyentuh tangan istrinya. Ia meletakkan kepala Keisha di dadanya secara paksa hingga membuat Keisha menggeliat karena merasa tidak nyaman.


"Saya janji hanya satu menit saja Tuan Muda, biarkan saya berterimakasih pada Nona Keisha." Ucap Romi lagi. Angga semakin menajamkan tatapannya pada Romi memberi peringatan untuk menjauh.


"Berani kamu menyentuh istriku! Jangan harap kamu menerima gajimu!" Tukas Angga lantang hingga membuat Romi diam langsung tidak berani mendekat lagi pada istri Tuan Mudanya.


"Angga aku kesulitan bernapas," tutur Keisha mengingatkan suaminya. Tapi Angga tidak mendengarkannya dan semakin mendekapnya erat-erat.


Melihat pertengkaran Angga dan Romi membuat Lianda tidak bisa untuk menahan tawanya. "Kamu boleh memelukku teman," tawar Lianda pada Romi. Namun Romi segera beringsut mundur menjauhi Lianda karena mengingat kembali memorinya tentang dia dan Lianda yang menjadi pasangan. Lianda justru semakin menggoda Romi hingga membuat Romi masuk ke dalam kamarnya dan langsung mengunci pintu.


"Kenapa teman? Apa kamu suka padaku hingga tidak berani memelukku?" Ujar Lianda tertawa puas dari balik pintu seraya menggedor-gedor pintu kamar Romi. Tapi tidak ada jawaban dari Romi karena pria itu sedang menutupi telinganya dengan bantal, serta menyembunyikan dirinya dalam selimut.


"Tidak-tidak, aku tidak mau bersama wanita ini." Gumam Romi seraya menggelengkan kepalanya beberapa kali di balik selimut untuk menghilangkan bayangan Lianda.

__ADS_1


__ADS_2