
Angkasa hanya akan melirik Bulan yang mempunyai cahaya yang paling bersinar di langit. Sayangnya aku hanya satu dari bermilyar-milyar Bintang di Angkasa.
“Aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi, aku tenggelam dalam lautan luka dalam. Aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulang. Aku tanpamu, butiran debu”
Perlahan tapi pasti aku mengikuti lantunan lagu yang terputar dari balik smartphone yang ku genggam. Lagu Butiran Debu, sudah lebih dari dua tahun menjadi teman setiaku ketika aku sedang berada pada titik terendah kehidupanku.
Alasannya simple, karena lagu itu adalah perwakilan dari diriku sekarang ini. Hidup bagai sebuah debu, tak punya tujuan dan arah yang pasti. Hanya sibuk mengikuti arah angin yang terus membawa debu-debu itu beterbangan kesana-kemari.
“Nggak usah nangis Ra, ada aku disini”
Aku menatap Willy dengan air mata yang masih menggumpal. Willy dengan pelan dan singkat mengusap bahuku yang mulai bergetar, sebelum akhirnya ia fokus kembali menatap jalanan panjang yang ada di hadapan kami.
“Wil, makasih”
Aku menatap dalam manik mata Willy yang memancarkan aura ketenangan. Sedang ia hanya mengangguk dan kembali menunjukkan senyum manisnya di hadapanku. Aku kemudian membuka kaca mobil dan menjulurkan kepalaku keluar, menikmati semilir angin yang menerpa wajahku.
Namaku Namira Quinsha, kebanyakan orang yang ku kenal selalu memanggilku Mira. Tapi tidak dengan Willy, sahabatku itu selalu saja memanggilku dengan sebutan Raqun ( Namira Quinsha ) Akan tetapi entah kenapa aku selalu senang jika Willy memanggilku dengan sebutan seperti itu. Dengan kata lain aku merasa menjadi orang yang spesial di kehidupannya.
Hari ini aku kembali mengunjungi Mama di pemakaman daerah Bogor. Setelah dua tahun bergelut dalam kesedihan yang merundung aku akhirnya bisa bangkit kembali.
“Papa kamu masih belum pulang?”
Aku menatap Wiily sekilas, entah kenapa pertanyaan sederhana darinya mampu membuat semangat hidupku seketika hancur lebur.
“Papa udah punya kebahagiaannya sendiri Wil. Jadi untuk apa Papa pulang”
“Sorry, aku nggak bermaksud ngomong kaya gitu”
“Santai aja kali, kamu kayak ke siapa aja ngomongnya. Aku ini Namira Quinsha, orang yang hatinya sekuat baja”
__ADS_1
Aku berusaha tersenyum semanis mungkin.
“Kita udah sahabatan lama, jadi nggak usah bohongin aku, apalagi perasaan kamu sendiri Ra”
Aku menutup wajahku dengan telapak tangan, sekeras apapun aku berusaha ikhlas dan merelakan kebahagiaan Papa bersama perempuan lain nyatanya hatiku tidak akan pernah bisa menerima semua kenyataan ini. Kenyataan bahwa Papa sekarang lebih memilih hidup dengan keluarga barunya dan menelantarkanku.
Mobil Willy kemudian menepi, aku dengan sekuat tenaga mendongak dan menatap wajahnya yang dipenuhi dengan cahaya ketenangan. Sayangnya, rasa sedihku sudah terlanjur menggerogoti.
“Menangislah Ra, aku bakal selalu ada disini buat hapusin air mata kamu yang jatuh”
Aku menghela napas pelan dan kembali meneguk ludah. Bahuku semakin bergetar hebat seiring dengan air mata yang meluncur deras. Aku sekarang sendiri tanpa Mama dan Papa. Tanpa Mama yang dulu selalu membangunkanku ketika aku malas bangun pagi, tanpa Mama yang berceloteh sepanjang hari karena aku tidak ingin menemaninya ke pusat perbelanjaan. Dan setahun setelah kepergian Mama, Papa juga ikut pergi meninggalkanku dan membangun bahagianya yang baru.
“Ma..ma. Aku kan..gen sama mama... Wil. Kenapa Tuhan harus ambil mama secepat itu”
Aku menjerit tertahan, dan berusaha mengigit bibir sekuat mungkin agar aku tak berteriak. Sekarang aku tak punya siapa-siapa, aku sendiri di dunia yang dihuni oleh bermilyar-milyar manusia.
“Kamu nggak sendiri Ra, kamu masih punya aku disini. Dan satu lagi masih ada tante Gina yang sayang banget sama kamu”
“Mira, sekarang tidak perlu khawatir sayang. Mira tidak sendiri, masih ada Tante. Anggap saja Tante adalah pengganti Mama. Tante tidak akan tega meninggalkan anak secantik kamu sendirian. Jangan sedih lagi ya nak. Sekarang Mira memang sudah kehilangan Mama dan juga Papa, tapi Tante akan berusaha menjadi kedua sosok itu untuk mira. Jangan bersedih lagi sayang”
Pelukannya yang hangat pada saat itu sedikit mampu memberikan secercah pengharapan pada hidupku.
“Kamu mau pulang atau mau ke suatu tempat dulu?”
Aku menghapus jejak air mata yang masih membekas, dan kembali menatap Willy sekilas. Tante Gina sekarang sedang tak berada di rumah, ia ada urusan di Bandung bersama dengan karyawan perusahaan lainnya.
“Aku mau ke timezone dulu”
Willy kemudian tersenyum dan memasang kembali seatbalt pada tubuhnya.
__ADS_1
“Siap tuan putri Raqun”
Aku tersenyum mendengar candaannya, walau rasa sedih itu masih membekas dengan jelas di pelupuk mata. Aku menggeleng berusaha mengeyahkan semua bayangan bahagiaku bersama dengan Mama dan Papa dulu. Aku sudah sejauh ini sekarang, dua tahun bukan waktu yang singkat untuk aku bisa bangkit dan kembali menata hidup. Dan hanya dengan satu peristiwa pertahananku hancur lebur. Sekarang aku benar-benar serius ingin menata kembali hidupku. Bukan untuk melupakan tapi karena bertahan bersama kenangan hanya akan berujung pada rasa sakit.
...
“Kamu mau main apa emangnya?”
Aku berhenti berjalan dan menengok ke samping tepatnya di tempat Willy sekarang berdiri.
“Belum tau Wil. Aku pusing kalau udah ada di tempatnya, kalau tadi di mobil aku main itu tapi setelah sampe aku jadi mau main yang lain”
Aku menunjuk sebuah kotak kaca besar yang dipenuhi dengan boneka kecil-kecil yang imut disertai dengan capit besar di atasnya. Tapi, setelah melihat wahana permainan yang lain aku menjadi labil dan tak bisa memilih.
“Aku mau ke wc dulu Ra, kalau ada apa-apa langsung hubungin aku aja”
Aku membentuk bulatan dengan ibu jari dan telunjukku. Setelahnya Willy langsung bergegas meninggalkanku sendirian yang masih bingung untuk memilih permainan apa yang akan ku mainkan terlebih dahulu.
Aku berjalan menelusuri area timezone sendiri. sekarang orang-orang akan semakin berpikir aku itu orang yang sedang jomblo atau tepatnya jones alias jomblo ngenest, bayangkan saja di area yang banyak sekali pasangannya ini aku malah berjalan sendirian tanpa pasangan. Aku menghelas napas sebelum akhirnya mengeluarkan ponsel dari saku celana yang ku gunakan.
“Halo Wil, kamu dimana, aku udah mau pulang”
“Iya aku kesana sekarang”
Panggilanku diputus secara sepihak. Aku menggerutu dan bersungut-sungut sambil menggengam ponselku. Aku sedari tadi hanya memainkan permainan boneka capit selama tiga kali kesempatan dan pulang dengan tangan kosong. Aku merasa tertipu sekali, tiga kali aku mencoba dan aku tidak mendapatkan sama sekali boneka. Selagi menunggu Willy aku mencoba membuka kenanganku bersama dengan sahabatku itu di galeri ponsel. Dan tiba-tiba saja pandanganku menjadi gelap. Aku tidak pingsan dan pusing, tapi karena sebuah tangan yang menutup mataku. Dari aromanya aku bisa menebak itu Willy dan benar saja ketika tangannya berhasil ku genggam aku berbalik dan sebuah senyum manis dari Willy langsung membuatku meneguk ludah perlahan.
“Kaget kan?”
Entah apa yang saat ini kurasakan, hatiku langsung menghangat, ada sesuatu yang menggelitik di dalam perutku. Senyum dan genggaman tangan Willy berhasil membuatku merasa tak sedang berada di bumi, aku seperti terbang ke atas awan. Katankanlah aku lebay tapi, yang kuyakini dari semua hal yang aku rasakan tadi alasannya simple yaitu aku sedang jatuh cinta kepada Willy, sahabatku sendiri.
__ADS_1
#TBC