
Angkasa mungkin sanggup untuk kehilangan Bulan, tapi Angkasa tidak akan pernah sanggup jika kehilangan Bintang. Karena Angkasa bisa saja indah tanpa kehadiran Bulan tapi tidak ketika tak ada Bintang di langit.
Willy Batara, itulah nama yang diberikan oleh kedua orang tuaku untuk anak laki-laki kesayangannya. Hari ini seperti biasanya aku akan mengantar sahabat terbaikku ke tempat yang selalu ia kunjungi setiap satu kali dalam seminggu.
“Wil, makasih”
Aku melirik sekilas Mira, wajahnya sama sekali tak menampakkan aura keceriaan seperti biasanya. Bahkan senyum yang ia tunjukkan tak lebih dari senyum seorang penipu. Berusaha terlihat baik-baik saja padahal kenyataannya ia sedang tak baik-baik saja.
“Papa kamu masih belum pulang?”
Satu pertanyaan sederhana yang melesat dari mulutku akhirnya mampu membuat pertahanan Mira runtuh. Tangis yang ia tahan sedari tadi akhirnya pecah, sejujurnya aku memang sengaja untuk memancing emosinya. Bukan tanpa alasan, itu semua kulakukan karena aku tidak ingin sahabatku terlarut dalam kenangan menyakitkan sepanjang hidupnya nanti.
“Menangislah Ra, aku bakal selalu ada disini buat hapusin air mata kamu yang jatuh”
Sejujurnya aku ingin sekali memeluk dan menenangkan Mira, tapi akhirnya aku hanya membantu menghapus air matanya. Memeluk seseorang yang sedang bersedih dan mengusap rambutnya meruapakan hal yang paling dibutuhkan Mira saat ini, tapi aku tidak akan melakukan itu semua karena walaupun kami sahabat aku tidak ingin membuat Mira menjadi canggung dengan perlakuanku yang mungkin sedikit berlebihan.
“Kamu mau pulang atau mau ke suatu tempat dulu?”
Setelah beberapa menit menumpahkan segala rasa sedihnya di hadapanku, Mira akhirnya berhenti menangis dan menghapus jejak-jejak air matanya. Sejujurnya aku masih ingin berlama-lama dengan Mira, alasannnya simple karena yang kutau Tante Gina sekarang tak ada di rumah dan kalau Mira ingin pulang sekarang aku malah akan semakin was-was dan berpikiran yang macam-macam. Aku takut Mira berbuat nekat dan mencelakai dirinya sendiri.
“Aku mau ke timezone”
Kalimat singkat dari Mira membuatku bernapas lega, aku buru-buru memasang seatbalt pada tubuhku dan selanjutnya kembali melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Sekilas aku melirik Mira, yang mengerucutkan bibirnya sambil terus fokus bermain gadget. Imut, satu kata yang tepat untuk Mira saat ini.
...
Kami akhirnya sampai ke timezone, lalu lalang manusia hampir setiap hari sepadat ini. Apalagi hari ini adalah hari minggu, setiap anak sekolah yang libur pasti akan memilih tempat ini untuk me-refresh otak mereka kembali.
Aku kembali melirik Mira, yang terus saja berjalan. Matanya sibuk mencari permainan yang sekiranya tepat. Padahal di mobil tadi ia sudah mengatakan akan bermain boneka capit. Tapi entah kenapa sekarang ia seperti orang yang kelimpungan.
“Kamu mau main apa emangnya?”
Mira akhirnya berhenti berjalan dan menengok ke samping tepatnya ke arahku.
“Belum tau Wil. Aku pusing kalau udah ada di tempatnya, kalau tadi di mobil aku main itu tapi setelah sampe aku jadi mau main yang lain”
Mira menunjuk mesin capit besar yang tadi ia katakan akan memainkannya kalau sudah di timezone. Mira memang bukan tipe perempuan yang sibuk memilih baju apa yang akan ia kenakan hari ini, tapi Mira adalah perempuan dengan tipe labil jika ingin memilih suatu permainan dan masih ada yang lebih parah dari itu. Mira adalah tipe perempuan yang sangat pemilih dalam hal makanan, bahkan ia bisa menghabiskan waktu berpuluh-puluh menit hanya untuk memilih dessert apa yang kami akan makan.
__ADS_1
“Aku mau ke wc dulu Ra, kalau ada apa-apa langsung hubungin aku aja”
Setelah menerima persetujuan dari Mira akhirnya aku meninggalkan sahabatku sendirian. Aku berbalik dari kejauhan dan melihat Mira yang menunjuk arah kanan atau kiri. Mungkin, menimbang permainan apa yang harus ia mulai terlebih dahulu. Setelah Mira pergi dari tempatnya berdiri aku pun membalikkan tubuhku dan berniat segera ke wc umum.
“Aduh!!”
Aku refleks menggigit bibir ketika tidak sengaja aku malah menabrak seorang perempuan, dan sialnya lagi minuman yang ia pegang tumpah dan membasahi baju putih yang ia kenakan.
“Maaf saya tidak sengaja”
Aku membantu perempuan yang ada dihadapanku berdiri dan memungut gadget¬ yang tergeletak di sampingnya.
“Maaf, saya benar-benar tidak sengaja”
Aku memperhatikan perempuan yang sekarang berdiri di hadapanku. Baju putihnya langsung bernoda. Untung saja celana jeans yang ia kenakan tidak basah. Kalau iya, maka perempuan ini pasti akan dikira pipis di celana oleh beberapa pengunjung timezone.
“Sorry... saya beneran nggak seng...”
“Udah, nggak usah minta maaf lagi. Aku juga salah kok, jalan sambil main hp”
“Hp kamu masih bisa digunain kan?”
“Hpku baik. Kalau gitu aku permisi”
Ia tersenyum sekilas sebelum melenggang pergi.
“Tunggu”
Perempuan yang ku tabrak tadi berbalik dan menunjuk tepat pada dirinya sendiri. aku langsung mengangguk dan menghampiri tempatnya berdiri.
“Sebagai permintaan maaf, aku bakal ganti minuman kamu”
Ia tertawa kecil dan kemudian menggeleng.
“Nggak usah”
“Tapi, saya masih merasa bersalah. Jadi tolong biar saya ganti minuman kamu. Ini penawaran terakhir dari saya dan saya mohon kamu tidak menolak untuk yang kedua kalinya”
__ADS_1
Ia kembali tersenyum dan menampilkan sederet gigi putihnya disertai dengan lesung pipi yang menawan. Manis, hanya satu kata itu yang tepat untuk mewakili perempuan yang sekarang ada di hadapanku saat ini.
“Oke, tapi aku harap ini bukan salah satu cara kamu buat modusin aku”
Aku refleks tertawa mendengar guyonannya.
“Tapi karena kamu sudah menebak jalan pikiran saya, mungkin kamu sudah tahu apa yang akan saya tanyakan selanjutnya”
Ia mengangguk dan mengulurkan tangannya kepadaku.
“Namaku Keira Gista Putri. Panggil Keira atau Kei saja”
“Aku Willy”
Aku menjabat tangan perempuan yang ada di depanku. Jemarinya hangat dan entah kenapa seperti ada aliran aneh yang langsung menjalar ke dalam tubuhku.
Aku berjalan dengan Keira, perempuan yang tanpa sengaja ku tabrak saat aku serius memperhatikan Mira dari kejauhan. Entah hal ini suatu kebetulan atau memang takdir, yang pasti karena hal itu aku bersyukur bisa dipertemukan dengan seseorang seperti Keira.
“Terima kasih telah mentraktir minuman ini. Sepertinya tidak ada lagi yang harus kita bicarakan. Jadi, kalau begitu aku permisi”
“Kalau kamu mau, kamu bisa pakai jaket saya”
Keira menunduk dan memperhatikan bajunya yang sebagian besar warnanya menjadi kuning.
“Aku memang butuh, tapi aku nggak tahu cara kembaliin jaket kamu nanti kayak gimana”
“Kalau kita nggak ketemu lagi, jaket itu buat kamu saja”
Keira tertawa kemudian menatapku dengan alis yang bertaut.
“Saya serius. Ini”
Aku menyerahkan jaket jeans yang ku pakai kepada perempuan yang baru ku kenal beberapa jam yang lalu.
“Sekali lagi terima kasih, bagaimanapun caranya aku pasti akan mengembalikan jaket ini kepada pemiliknya”
Aku tersenyum dan akhirnya ia benar-benar pergi. Aku memegang bagian dadaku, ada sesuatu yang bergemuruh di dalam sana. Tapi aku tak yakin, karena terakhir kali aku merasakan sesautu yang aneh ini pada saat satu tahun yang lalu. Aku memejamkan mataku sesaat, apa benar aku mulai menyukai Keira, perempuan yang tanpa sengaja kutemui. Lantas bagaimana dengan Mira? Bahkan pertanyaan dari diriku sendiri pun aku tak mampu untuk menjawabnya.
__ADS_1
#TBC