
keesokan harinya Adrian yang telah selesai bekerja di ruang kerjanya mengajak anak - anak bersepeda di halaman samping , aku tak menyangka jika dia sudah menyiapkan semua keperluan anak-anak mulai dari kamar , baju , mainan hingga perlengkapan sekolah juga sudah siap .
Sambil menunggu mereka kembali aku mengambil handphone yang dibawakan Nathan dari rumah , iya kemarin aku tidak membawa barang apapun kemari bahkan handphone pun tertinggal untung saja putra pertamaku begitu pengertian.
aku membuka beberapa pesan yang masuk dan ada sebuah pesan dari sebuah nomor yang selama bertahun-tahun ku nantikan , pesan itu berasal dari sebuah detektif swasta yang aku bayar untuk menyelidiki kasus Bella, aku ingin tahu siapa pria itu namun beberapa tahun ini usaha ku sia-sia, tapi saat aku membaca pesan baru itu aku menjadi kembali bersemangat mungkin ada sebuah harapan bisa menemukan pria itu karena menurut informasi dari detektif tersebut ayah kandung Nathan juga berada di kota ini, namun melihat sulitnya informasi yang dia peroleh seolah-olah sengaja di tutupi , berarti orang itu bukan orang biasa atau bisa jadi dia sengaja menyembunyikan identitasnya .
Sebenarnya aku tidak ada niatan untuk mencari nya jika bukan karena Nathan aku tidak akan memperdulikan nya pria itu akan lebih baik bagi Nathan jika dia tak mengetahui semuanya tapi Nathan memerlukan dirinya sebagai pendonor tulang sumsum agar Nathan bisa sembuh dari penyakit nya sebelum penyakit kanker Nathan semakin parah .
Terbesit pikiran ku untuk meminta bantuan kepada Adrian tapi apa yang harus aku jelaskan , aku baru saja mengenalnya aku tak bisa dengan mudah menceritakan semua ini padanya , aku tak ingin sikapnya berubah jika mengetahui Nathan adalah anak hasil hubungan yang tidak sepantasnya terjadi .
lamunanku buyar saat Nathan tiba-tiba datang dan memelukku.
" mom, aku lapar " rengek nya manja padaku aku mengajaknya ke ruang makan dan menyuruhnya duduk sedangkan diriku menggoreng nugget ayam untuk nya beserta yang lain .
setelah selesai aku memanggil si kembar yang saat itu masih bermain di luar bersama Adrian .
__ADS_1
mereka semua berlari dan menyantap makanan yang aku siapkan sambil menonton film kartun , sedang kan aku dan Adrian hanya duduk di sofa sambil sesekali berbincang , karena dia sibuk dengan handphone yang terus berdering, aku tahu itu dari Theo , pasti karena masalah pekerjaan meski dia mengambil cuti tapi di rumah dia juga menghabiskan waktu sekitar 5 jam sehari untuk melakukan pekerjaan kantornya jika bukan siang maka dia akan mengerjakannya di malam hari . karena hari sudah sore aku segera menyuruh anak-anak membersihkan diri mereka begitupula Adrian, semua nya patuh dan memasuki kamar masing-masing . aku ingin mengajak adrian dan anak-anak untuk makan malam di luar . setelah semuanya selesai bersiap begitu pula denganku , kami semua pergi ke sebuah restoran Jepang di dekat tempat kami tinggal . tak lupa aku mengabadikan momen kebersamaan ini dalam bentuk foto . Menurut ku malam ini adalah malam terindah dalam hidupku , malam ini adalah pertama kalinya aku merasa menjadi wanita yang sempurna yang memiliki suami seperti dirinya dan anak-anak yang begitu lucu serta menggemaskan seperti mereka , sungguh aku ingin setiap saat seperti ini menghabiskan waktu bersama mereka.
sayang sekali kebahagiaan malam ini pudar saat kami bertemu dengan orang tua Adrian , terlihat mereka tidak suka dengan diriku begitu juga dengan anak-anak ku. Tapi tidak dengan Adrian dengan percaya diri mengenalkan diriku pada ayah dan ibunya sebagai istri sahnya namun tak ada tanggapan dari mereka berdua .
" sungguh kebetulan kita bertemu di sini, oh iya aku tahu pasti kalian tidak senang mendengar hal ini tapi aku harus tetap mengatakan jika aku dan kekasih ku sudah sah menjadi suami istri " sambil memeluk diriku .
" sungguh keterlaluan kamu Adrian , kamu mengabaikan kata-kata ku ! " umpat ayahnya dan terlihat ayahnya yang sedang menahan emosi .
" oh iya lihat ini adalah anak kami , lucu bukan ? pasti kalian senang memiliki cucu seperti mereka, ayo beri salam pada kakek dan nenek " dengan sikap tenangnya tak lupa Adrian juga mengenalkan Nathan dan si kembar kepada mereka sama sikapnya padaku mereka juga tak menganggap keberadaan mereka bertiga .
Terlihat Adrian juga sedang menahan emosinya karena ini di tempat umum, aku segera menggandeng tangan nya dan berusaha menenangkan dirinya . Adrian menoleh ke anak-anak dan segera mengajak mereka pergi dari tempat itu tanpa berpamitan kepada kedua orang tuanya dan menyuruh ku membayar tagihan makan kami. meski mereka tak menganggap ku setidaknya aku masih menghormati mereka dan dengan sopan berpamitan dengan mereka berdua .
saat di mobil suasana jadi hening , kami pulang kerumah dengan suasana hati yang buruk . anak-anak segera masuk ke kamar mereka masing-masing . Saat ini aku dan Adrian sudah berada di dalam kamar , aku sedang mengganti pakaianku dengan gaun tidur, Adrian mendekat padaku .
" maaf iya " katanya lirih .
__ADS_1
" maaf ? untuk apa?" tanya ku tak mengerti .
" maaf karena sikap orang tua ku padamu dan juga anak-anak , aku tak bisa membela karena tadi di depan umum aku tak mau terjadi keributan" jawabnya dengan nada suara sedih .
" sudahlah tidak perlu minta maaf, aku tidak mempermasalah itu semua " ucap ku padanya sambil memeluk tubuhnya .
Adrian berkali-kali mencium kening ku sambil mengucapkan terima kasih .
" oh iya aku harus melihat anak-anak apa mereka sudah tidur atau belum " aku melepaskan pelukan ku padanya.
" tidak perlu , aku sudah memasang camera pengawas di kamar mereka jadi kamu bisa memantau mereka dari sini " aku melihat ke layar hpnya , nampak mereka sudah tidur aku pun menjadi lega. tapi aku jadi merasa cemas apa mungkin dia juga memasang nya di kamar kami berdua. seakan tahu apa yang aku pikirkan dia berkata " tenang saja aku tidak akan menaruhnya semacam itu di kamar kita " aku yang mendengarnya pun jadi merasa lega.
" hoam, aku sudah mengantuk , selamat malam " kataku sambil merangkak ke atas kasur empuk ku aku segera menarik selimut dan menutupi sebagian tubuhku . aku mulai memejamkan mata namun aku merasa ada tangan kekar yang melingkar di pinggang ku .
ternyata Adrian juga menyusul ku ke tempat tidur . aku tak berani sembarang bergerak karena tubuhnya berada dekat sekali dengan tubuhku sampai aku merasa ada sebuah tonjolan di belakang karena aku mencari aman aku lebih memilih diam dan tetap membiarkan dirinya memelukku meski udara saat itu terasa hangat yang membuat
__ADS_1
pelukannya memberikan rasa nyaman dan kehangatan sehingga diriku merasa tenang berada dalam dekapan nya.