
5 tahun kemudian
Seorang anak perempuan dengan rambut kuncir kuda sedang berayun di taman di depan rumahnya sendiri , anak perempuan itu terlihat sedang kesal akan suatu hal, hingga seorang pria dewasa menghampirinya "Ara! apa yang kamu lakukan di sini sendirian?" tanya Luis .
Ara masih tidak ingin menjawab Luis, dia masih terus berayun -ayun dengan wajah yang masam.
Luis yang sudah sangat paham temperamen dari gadis kecil itu pun menghampirinya "siapa yang membuat keponakan paman yang imut ini kesal huh?" goda Luis.
Ara dengan wajah kesalnya pun berkata "mommy!"
"mommy? kenapa Ara kesal dengan mommy?coba ceritakan!" tanya Luis .
" tentu saja karena mommy tidak adil, mommy lebih sayang Luna daripada Ara! " celetuk bocah itu.
"ohh, coba jelaskan pada paman kenapa Ara bisa berpikir jika mommy tidak adil pada Ara"
"em , ta tadi Ara sedang bermain sepeda lalu Luna datang ingin meminjam sepeda Ara, tapi Ara tidak kasih pinjam Luna karena itu sepeda pemberian Daddy, lalu mommy mendengarnya dan marah pada Ara, pokoknya Ara tidak suka Luna, Ara benci Luna!" dengan memanyunkan bibirnya.
"Ara tidak boleh seperti itu iya, bagaimana pun kalian itu saudara, jika ayahmu mendengarnya dia pasti akan memarahi Ara, jadi Ara harus jaga bicara Ara"
" oh iya Ara tenang saja meski mommy lebih sayang Luna tapi Ara kan masih tetap tuan putri kesayangan di rumah ini" imbuh Luis
"paman Luis benar, masih banyak orang yang sayang dengan Ara,"perkataan Luis akhirnya membuat mood gadis kecil itu kembali ceria apalagi saat ini Luis malah mengayunkan ayunan tempat Ara berada hingga gadis kecil itu kegirangan .
Di dalam rumah, Ranti saat ini sedang membuat kue untuk di jadikan buah tangan saat dirinya beserta keluarga nya, pergi ke rumah salah satu rekan bisnis Adrian. Di sela -sela memasak Ranti juga mengawasi Luna yang saat ini sedang bermain sendirian tanpa adanya Ara.
" pasti Ara ngambek lagi! huh, entah menurun dari siapa sifat anak itu!" gumam Ranti sambil memasukkan adonan kue ke dalam oven.
__ADS_1
"Ara di mana mom?" tanya Vero yang kala itu baru pulang dari sekolah.
"palingan juga di taman, sudah sana ganti baju dulu! mommy siap kan makan siang nya iya?" jawab Ranti.
Dengan patuh Vero berjalan ke arah kamarnya, saat menuju ke dalam kamar Luna mendekatinya "Vero baru pulang? Vero mau main sama Luna?" dengan wajah imutnya namun dalam benak Vero hanya Aralah yang paling imut dan menggemaskan baginya.
"boleh tapi harus main dengan Ara juga!" jawab Vero singkat sembari masuk kedalam kamar dan menutup pintu itu dengan agak keras .
" kenapa selalu Ara sih ! " kesal Luna .
Luna memang terlihat pendiam dibandingkan Ara namun sifatnya lebih buruk dari Ara karena dia sering merasa iri dengan saudaranya yang lain dan karena hal itu dia juga sering mengadukan saudaranya pada kedua orang tua mereka tentang kenakalan mereka pada Luna, padahal malah sebaliknya , hal itulah yang membuat Ranti sering memarahi Vero dan Ara, jika sudah begitu Adrianlah yang harus menenangkan Ranti dan kedua anaknya, sedangkan sosok Adrian memang terlihat begitu memanjakan anak-anaknya hingga terkadang Ranti harus memarahi Adrian akan hal itu, percekcokan pun harus terjadi diantara mereka hingga hasilnya Adrian yang harus mengalah.
Seperti hari ini saat semuanya sudah bersiap untuk pergi ke rumah teman Adrian, Ara malah terlihat sedang bertengkar dan bahkan mendorong Luna hingga terjatuh.
"Ara! masuk kamar!" bentak Ranti , Ara sambil menangis masuk kedalam kamarnya.
Ranti yang sudah emosi tidak memperbolehkan Ara untuk ikut bersama mereka.
" Adrian , jangan coba-coba membela Ara terus iya, dia itu sudah keterlaluan hari ini pada adiknya, jika kita membawanya pergi entah apalagi yang akan dia lakukan nanti! " jawab Ranti sambil berjalan ke arah mobil.
Adrian hanya bisa mengikuti Ranti untuk kali ini, karena kepergian mereka hari ini juga bisa di bilang untuk mempererat kerja sama diantara kedua keluarga.
Alhasil , mereka hanya pergi berempat dan menyisakan Ara yang di temani oleh ibu Adrian yang tinggal di rumah itu, tentu butuh waktu yang tidak sedikit untuk menenangkan tangisan Ara kecil, hingga pada akhirnya gadis itu pun tidur .
Acara makan malam itu pun berjalan lancar, namun siapa sangka jika teman Adrian menanyakan sebuah pertanyaan " em, apakah dia putri kecil yang selalu kamu banggakan itu Adrian? dia terlihat manis? "
" oh, bukan , ini Luna putri bungsu kami! " jelas Adrian.
__ADS_1
" oh lalu mengapa kamu tidak mengajak putri mu yang lain?" tanya teman Adrian lagi .
" dia sedang di rumah neneknya!" jawab Adrian bohong mana mungkin dia menceritakan yang sebenarnya.
" bagaimana jika kita jodohkan anak kita saja Adrian ! lagipula usia anak kita hampir sepantaran"
"maaf , tapi mereka masih terlalu kecil " sela Ranti
" benar, lagi pula ini sudah bukan jaman nya lagi untuk perjodohan!" tambah istri teman Adrian .
" iya gak apa lah biar keluarga kita semakin dekat saja, lagi pula jika kelak mereka menolak juga tidak masalah " jawab teman Adrian .
" boleh juga ide mu ini!" kata Adrian, Ranti sempat menatap sinis ke arah Adrian .
sesampai nya mereka di rumah , Ranti terlebih dahulu menuju ke dalam kamar arabella , dia melihat putri kecilnya yang tertidur dengan mengenakan gaun yang tadi dia pakaikan, terlihat mata sembab Ara dan perlahan Ranti mengecup kening putrinya itu .
" maaf iya sayang , mommy memang salah tapi kamu harus tahu mommy paling menyayangimu, tapi mommy juga kasihan pada Luna, bagaimanapun dia telah kehilangan orang tuanya jadi mommy tidak ingin dia merasa berbeda dengan kalian!" akhirnya Ranti pun pergi dari kamar Ara.
Ranti telah membersihkan sisa make up dan berganti baju tidur, meski seiring bertambahnya umur tak membuat Ranti terlihat berubah baik bentuk tubuh dan wajahnya, adrian menghampiri istri tercintanya nya itu dan memeluk tubuh ramping Ranti "kamu terlihat begitu cantik malam ini sayang" bisik Adrian di telinga Ranti.
Ranti yang sudah hafal betul dengan apa yang sebenarnya Adrian inginkan darinya itu sengaja menjauhkan diri dari suaminya .
" memangnya selain malam ini aku tidak cantik?" sambil menatap sinis pada sang suami .
" Ten tentu saja istri ku cantik setiap hari, tapi malam ini berbeda!" jawab Adrian mulai mendekati Ranti lagi .
" sepertinya suamiku ini sudah kehabisan kata untuk merayu?" kini giliran Ranti yang menggoda Adrian dengan memainkan jarinya pada bagian dada sang suami.
__ADS_1
Nafas Adrian mulai berat, baginya Ranti sekarang lebih berani daripada yang dulu, walaupun mereka saling bertengkar tapi keduanya masih begitu harmonis dan mesra apalagi soal urusan ranjang.
Malam itu rantilah yang memimpin permainan sedangkan Adrian hanya perlu menikmati permainan Ranti yang sudah dia nantikan.