ORANG KETIGA

ORANG KETIGA
Cinta Itu Menyenangkan


__ADS_3

Ada yang bilang kalau cinta itu adalah suatu anugerah dari Tuhan yang paling indah wujudnya. Bayangkan saja, cinta dapat membuat seseorang yang tadinya murung menjadi tertawa dan senyum-senyum tidak jelas, seperti yang sekarang dialami oleh Mira, remaja yang hari ini tepat menginjak usia tujuh belas tahun.


“Aku harus pakai baju apa ya?”


Mira mengambil dua baju dengan model yang berbeda dan mematut dirinya di cermin. Beberapa menit kemudian ia langsung menggeleng disertai dengan hembusan napas kasar. Semua baju yang ada di lemarinya kini berserakan di berbagai sudut kamar, ada yang di tempat tidur, di kursi meja belajar, dan terakhir di lantai yang kakinya sekarang pijak. Mira menghempaskan tubuhnya yang kecil di kasur bermotif bunga tulip kesukaannya.


“Kenapa aku jadi kayak nggak punya baju yang bagus sih”


Mira menggerutu dengan sebal dan melihat bajunya yang berserakan. Tangannya dengan cekatan mengambil satu persatu baju, rok, dan celana jeans yang pernah ia pakai dan belum pernah dipakainya, dan Mira pun kembali melakukan hal yang sama seperti beberapa jam yang lalu ia lakukan. Memilih baju, memakainya, dan mematut dirinya di cermin sambil berputar untuk melihat setiap sisi tubuhnya.


“Oke, aku akan pakai yang ini”


Mira akhirnya memutuskan pilihannya dan jatuh kepada baju kaos putih polos dengan celana jeans biru dan nantinya ia akan memakai sepatu converse putih. Untuk rambutnya Mira memilih menguncir dan menggulung rambutnya hingga hanya surai rambutnya yang menjuntai. Kalau seperti ini, Mira merasa sepuluh tahun lebih muda. Oke fix sekarang ia sudah jauh melantur kemana-mana.


Beberapa jam berkutat dengan pakaian Mira akhirnya turun ke ruang tamu dan menunggu sang pangeran berkuda hitam datang kerumahnya. Siapa lagi kalau bukan Willy, yang mengendarai motor besar warna hitamnya, yang sering Mira khayalkan sebagai pangeran berkuda hitam. Suara notifikasi dari ponselnya yang tergenggam membuat Mira buru-buru membuka icon pesan. Setelah membaca pesan dari si pengirim di luar sana, Mira dengan segesit mungkin melangkah, sambil menarik napas dalam-dalam.


“Cepetan naik”


Mira kembali menarik secepat mungkin oksigen yang ada di sekitarnya. Hari ini Willy benar-benar berbeda dari yang biasanya. Baju hitam, celana jeans biru, dan rambut yang sedikit acak-acakan, menambah kesan ganteng untuk Willy hari ini. Kalau ini komik maka sudah pasti hidung Mira sudah keluar darah sedari tadi, karena efek kegantengan Willy yang melebihi batas wajar.


“Kenapa bengong, kita harus cepat-cepat kesana Ra. Atau kalau nggak kita pasti bakal ada di barisan belakang dan nggak bisa lihat personel HI5”


Mira tersenyum mendegar celoteh panjang dari Willy. Sahabatnya itu selalu saja bisa membuat Mira terdiam.


“Pegangan yang kencang. Aku bakal ngebut”


Setelah memasang helm yang diberikan Willy, Mira pun naik ke atas motor dan memegang jaket hitam Willy. Ia tak berani memeluk laki-laki itu, karena akibatnya akan berdampak pada hatinya yang bisa saja meloncat keluar saking gugupnya.


...


“Bisa nggak?”


Mira menatap Willy dan kemudian menggeleng pelan, ia sudah mencoba beberapa kali untuk membuka helm yang dipinjamkan Willy kepadanya tapi tetap saja helm sialan itu tidak bisa terbuka.


“Sini, biar aku bantu”


Mira akhirnya menghampiri Willy, jarak keduanya sangat dekat sekarang. Bahkan Mira bisa merasakan deru napas Willy yang menerpa hangat ke wajahnya.


“Kenapa sih cewek selalu aja susah kalau buka helm? Padahal kan gampang banget. Atau jangan-jangan ini cara kamu buat bisa modusin aku ya?”


Helm berwarna putih itu kemudian terlepas dari kepala Mira.


“Bukan modus, tapi aku emang nggak bisa. Lagian kamu sih, kan tadi bilangnya bawa mobil”


“Kalau pakai mobil, kita bakal kejebak macet Mira, sayang”


Willy mencubit gemas pipi Mira yang memerah karena cuaca yang panas. Dalam diam Mira tersenyum kecil karena perlakuan kecil dan manis dari Willy yang mampu membuat hatinya menghangat seketika.


“Kamu masih mau disini?”


Mira buru-buru mengejar Willy yang sudah berjalan menjauh darinya menuju gedung tempat dimana konser HI5 digelar. Willy mencari tempat yang sekiranya tepat untuk ia dan Mira melihat secara langsung dan jelas personel HI5 nantinya. Tangannya dengan sigap menggenggam jemari Mira, untuk mengajaknya ke tempat yang lebih dekat dengan panggung.


“Kita nonton disini aja. Kamu jangan kemana-mana, nanti kalau hilang bisa gawat. Aku nggak mau diamuk Tante Gina, kalau sampe hilangin keponakan kesayangannya ini”

__ADS_1


Willy mengacak-acak rambut Mira yang sebelumnya sudah terikat dengan rapi. Wajah Mira yang semula senyum-senyum sendiri menjadi masam seketika. Baru saja Mira merasa terbang karena jemarinya yang digenggam dengan erat oleh Willy, sekarang ia merasa sangat jengkel karena ikatan rambutnya yang kini melorot dan ia malas untuk memperbaikinya kembali.


“Kenapa nggak diperbaikin?”


“Malas nanti kamu acak-acak lagi”


Willy terkekeh dan kembali memegang rambut Mira, kali ini ia tidak mengacak-acaknya tapi hanya memperbaiki surai Mira yang jatuh menutupi mata bulatnya.


“Makasih”


Mira tersenyum kecil dan seolah biasa-biasa saja setelah mendapat perlakuan yang istimewa dari Willy, padahal hatinya sudah sedari tadi berdangdut ria di dalam sana.


“MIRA, WILLY?”


Kedua pasang sahabat itu berbalik dan mendapati Oliv dan juga Keira diantara rombongan orang yang baru saja datang. Senyum Mira mengembang menyambut kedatangan Oliv dan sahabat barunya yaitu Keira.


“Kenapa telat Liv?”


“Tadi angkotnya tiba-tiba mogok di tengah jalan. Makanya, kita buru-buru cari ojek, tapi di jalan kita berdua malah ketemu personel HI5 dan kamu tahu Ra, kita berdua satu mobil sama kakak-kakak HI5 yang genteng-genteng itu. Aduh aku nggak tahu lagi harus mengekspresikan kesenanganku kayak gimana, rasanya aku kayak terbang ke langit ketujuh”


Mira sontak menutup mulutnya karena kinerja jantungnya yang tiba-tiba berpacu dengan hebat.


“Liv, harusnya tadi kamu ajak aku juga!!”


Mira memukul bahu berlemak Oliv yang membuat gadis bertubuh gumpal itu meringis kesakitan.


“Salah sendiri perginya bareng sama Willy, coba tadi bareng kita berdua. Iya nggak Kei?”


“Oh iya sampe lupa, ini sahabat yang aku ceritain Ra. Namanya Keira Gista Putri, biasanya dipanggil Keira”


“Terlambat, aku udah kenal dari beberapa hari yang lalu sama Keira. Dan sekarang kita berdua udah jadi sahabat. Iya nggak Kei?”


Keira tersenyum mengangguk dan menampilkan sederet gigi putih serta lesungnya yang manis. Mira memang sudah mengenal Keira, pertemuan pertamanya dengan gadis berlesung pipi itu adalah ketika ia mengahmpiri Willy di perpustakaan dan mendapati Keira yang ternyata adalah orang yang Kenan sempat kira adalah pacar Willy, padahal keduanya hanyalah seseorang yang bertemu di timezone dan menjadi akrab karena kejadian yang tidak disengaja.


Percakapan ketiga perempuan yang ada di dekatnya membuat Willy mengulas senyum kecil dan ikut tertawa ketika para gadis-gadis itu membuat lelucon. Apalagi semenjak kehadiran Keira, gadis manis itu selalu saja bisa menarik senyum Willy untuk terbit ketika ia juga tersenyum. Terkadang memang cinta semanis ini bahkan ketika perasaan itu tak diungkapkan, dan hanya disimpan sendiri pada perasaan masing-masing.


...


Teriakan heboh dari para penonton membuat acara konser yang digelar band HI5 semakin meriah. Semangat penonton yang semakin menggebu, membuat band itu melancarkan aksinya untuk membuat para penggemarnya diam. Setelah beberapa menit berlalu akhirnya teriakan dan jerit histeris dari para penonton perempuan tak terdengar lagi.


“Oke, sebelumnya terima kasih kepada kalian semua yang hari ini sudah datang ke konser band kami. Kedepannya kami berjanji akan memberikan yang terbaik bagi kalian semua, untuk mengistirahatkan suara dari Kak Hifan yang sudah mulai serak, kami akan mengadakan games yang menarik untuk mengisi waktu kosong ini, selagi menunggu suara dari Kak Hifan agak pulih. Oke permainannya simpel banget, penonton yang berani silahkan naik ke atas panggung dan menyanyi satu lagu untuk orang spesial di hidupnya. Bebas lagu apapun bisa lagu yang band kita produksi ataupun lagu penyanyi atau band yang lain, itu terserah kalian. Baik, ada yang berani maju?”


Semua khalayak di gedung yang sangat besar itu saling mendorong dan meneriakkan nama temannya satu sama lain. Sampai-sampai ada seorang gadis yang terdorong kesana-kemari karena desakan penonton yang hanya saling mendorong satu sama lain, tapi tidak ada yang bernait untuk tampil dan maju.


“Oke guys, tenang-tenang. Kalau kalian nggak ada yang berani buat maju, kami yang akan pilih satu orang perwakilan dari kalian”


Kak Hikal yang tadinya berbicara kemudian berjalan menuju teman-teman HI5 dan membentuk lingkaran satu sama lain. Setelah berembung cukup lama sambil menunjuk-nunjuk ke deretan penonton akhirnya suara merdu dari Kak Hifan yang sekarang terdengar menyapa penggemar.


“Masih semangat?”


“MASIH”


Teriakan keras dari para penggemarnya membuat Kak Hifan mengulus sebuah senyum tipis yang langsung membuat penonton perempuan baik muda maupun yang tua meleleh seketika.

__ADS_1


“Oke, setelah berdiskusi untuk waktu yang cukup lama. Suara personel HI5 akhirnya jatuh kepada......”


Debaran jantung memenuhi seisi gedung, tatap mata saling beradu pandang, tak ada kalimat apalgi kata yang keluar dari mulut semua orang yang ada disana. Bahkan, suara Kak Hifan sekarang tak terdengar karena jeda yang ia ambil untuk membuat para penggemarnya pensasaran.


“Mas yang memakain baju hitam dan kacamata yang ada disana”


Semua mata langsung mengarah pada satutitik yaitu tempat yang sekarang dipijak oleh seorang laki-laki yang memakai kacamata dan baju hitam yang membuat kulit putih mulusnya terekspos dengan bebas. Sorakan dan jeritan dari perempuan yang ada di tempat itu semakin menambah meriah suasana apalagi setelah laki-laki itu sudah berdiri di dekat Kak Hifan. Benar-benar kolaborasi ketampanan yang membuat kaum hawa harus meneguk ludah dengan susah payah.


“Kalau boleh tahu nama mas siapa dan statusnya?”


“Nama saya Willy Batara. Saya masih seorang pelajar, tepatnya di Sma Nusa Cendana”


“Oke, Willy. Bro sekarang lo mau nyanyi lagu apa nih dan buat siapa?”


Willy tampak berpikir sebentar, dan melihat ke barisan penonton. Matanya terus saja terpaku pada satu tempat.


“Lagu dari Jaz, Teman Bahagia. Lagu ini untuk sahabat saya yang bernama Raqun”


Setelah mengatakan hal yang demikian romantis, suara acoustic langsung membuat para penonton bersorak kegirangan, jangan tanyakan para barisan perempuan yang kini seperti mayat hidup saking terhanyutnya mereka ke dalam lantunan suara Willy yang merdu, sambil diiringi petikan gitar yang menenangkan.


*Aku milikmu...


Kamu milikku...


Aku kan selalu ada...


Hingga di hari tua...


Percaya...


Aku takkan kemana-mana...


Setia akan kujaga...


Kita teman bahagia*...


Tepuk tangan meriah langsung memenuhi seisi gedung besar itu, tak ada kata-kata yang keluar dari mulut semua orang, bahkan ketika Willy meninggalkan panggung dan turun menuju ke tempat yang semula ia pijak. Willy tersenyum kepada seseorang yang sedari tadi telah menunggunya dengan sebuah senyum yang tak pernah berhenti mengembang.


Mira tersenyum menyambut kedatangan Willy kembali, tak ada kata ataupun kalimat yang keluar dari mulut Mira. Tapi percayalah, jauh sebelum Mira menyadari perasaanya sendiri, rasa itu sudah semakin membesar. Bukan hanya rumit tapi ternyata jatuh cinta itu adalah hal yang paling menyenangkan saat ini bagi seorang Namira Quinsha.


#TBC



Assalamualaikum, Hai, dan Halo.


Ratu kembali menyapa kalian nih, walaupun cuma ngasih dua bab baru. Tapi jangan galau soalnya cerita ini masih ada lanjutannya kok.


Oke balik lagi, karena berhubung cerita ini masih fresh Ratu harap kalian semua bisa dukung cerita ini.


Untuk jadwal updatennya, masih belum pasti kapan. intinya stay aja terus. Sekian dulu cuap-cuap Ratu semoga cerita ini masih punya tempat di hati para pembaca sekalian.


#Selamatselasabahagia.

__ADS_1


__ADS_2