
Angkasa sangatlah luas dan Bintang mampu untuk berada pada setiap sisi Angkasa. Dan walau Bulan yang memiliki sinar yang paling terang di langit, tapi pada dasarnya Bintanglah yang akan selalu berada paling dekat dengan Angkasa.
“KEIRA?”
Aku berbalik ketika mendengar dengan jelas namaku dipanggil oleh seseorang. Senyumku langsung terbit tatkala mengetahui si pemanggil yang ternyata adalah kawan lamaku dulu.
“Aku nggak nyangka kita bakal ketemu lagi”
Satu pelukan hangat langsung dihadiahkan Oliv kepadaku, dan aku hanya bisa membalas pelukannya.
“Kamu apa kabar Liv?”
“Seperti yang kamu lihat. Aku baik, dan sangat baik malah”
Aku tertawa mendengar kalimat dari Oliv disertai dengan gerakan berputar ala-ala princess darinya.
“Kamu akan tinggal disini lagi?”
Aku mengangguk. Hari ini memang adalah hari kepindahanku kembali ke kota kelahiranku, tepatnya di Bogor. Itu semua kulakukan tentunya dengan pertimbangan yang matang, karena orang tuaku yang masih menetap di Jakarta. Tapi, tentunya aku tidak sendiri disini. Aku sekarang akan tinggal bersama Eyang Sekar atau ibu dari Mama. Alasannya karena aku ingin menemani Eyang yang sekarang tinggal sendiri karena Om Hendra yaitu adik dari Mama yang tiba-tiba dipindah tugaskan ke daerah Gowa, atau tepatnya di kota Makassar.
“Aku harap kamu akan betah disini Kei, kalau begitu aku pulang dulu. Nanti malam aku akan kesini lagi, atau kalau perlu aku akan bermalam dan menceritakan banyak hal kepadamu. See you”
Oliv langsung pergi dan berlari ke arah rumahnya yang hanya dibatasi tembok dengan ukuran tak terlalu tinggi dengan rumah Eyang. Setelah kepergian Oliv aku langsung masuk ke dalam dan membawa serta koper dan tas besar yang kubawa.
“Assalamualaikum, Eyang?”
Aku masuk ke dalam rumah dengan nuansa monokrom di dalamnya. Mataku sibuk mencari keberadaan wanita paruh baya yang sudah lama sekali tak kutemui. Terakhir kali aku kesini pada saat umurku masih tiga belas tahun. Sejujurnya aku memang pernah menetap disini bersama dengan Eyang tapi tidak lama hanya sekitar dua tahun lebih karena akhirnya Papa dialihkan bekerja di Jakarta, dan aku serta Mama pun mengikuti Papa untuk pindah ke Jakarta.
“Waalaikumsalam”
Aku tersenyum kepada Eyang yang langsung menghampiriku dengan rentangan tangan lebar.
“Kenapa kamu tidak mengabari Eyang kalau mau datang kesini. Mamamu juga tidak bilang, padahal tadi ia menelepon”
Aku tersenyum dan bergelayut manja di lengan Eyang.
“Ini kan kejutan, kalau Keira dan Mama beritahu Eyang. Eyang pasti akan repot menyiapkan ini dan itu sendirian. Keira tidak mau Eyang kecapean”
Eyang mencubit lenganku dengan pelan dan aku hanya bisa meringis.
“Jadi kamu akan menginap berapa hari disini Kei?”
Aku duduk di meja makan sedang Eyang berjalan menuju kulkas dan membawakan sekotak susu beserta dengan gelas di tangannya. Aku menunjukkan angka dua dengan jariku tepat saat Eyang duduk di hadapanku dan menuang susu untukku.
“Dua hari? Kenapa cepat sekali?”
“Dua tahun, Eyang”
__ADS_1
Eyang membulatkan matanya dan melepas kacamatanya di hadapanku.
“Apa Eyang tidak salah dengar?”
“Tidak. Keira akan tinggal disini selama dua tahun. Itu kesepakatan yang Keira buat dengan Mama dan Papa. Awalnya mereka memang melarang, Eyang. Tapi karena Keira yang tidak mau Eyang sendirian dan kesepian akhirnya Mama dan Papa mengijinkan Keira untuk tinggal disini”
“Kamu memang anak yang bandel”
Aku tersenyum dan Eyang hanya terus memandangiku dengan tatapan lembut. Sorot matanya memancarkan aura kebahagiaan, mungkin senang karena kehadiranku yang tiba-tiba dan alasanku yang akan menginap selama dua tahun disini. Menginap? Oke mungkin itu kosakata yang salah. Aku akan tinggal disini selama dua tahun.
Rumah Eyang sekarang banyak yang berubah, terganti dengan furniture yang baru. Walau masih ada beberapa benda yang masih ada sampai sekarang. Seperti foto keluarga dengan ukuran besar yang terpampang dengan jelas di ruang tamu tadi.
“Keira sudah mengurus kepindahan Keira kesini Eyang dan Keira akan bersekolah disini selama dua tahun”
“Kamu pilih sekolah dimana?”
Aku berpikir sebentar karena sejujurnya aku tidak terlalu ingat dengan pasti nama sekolah yang akan kutempati untuk menimba ilmu selama dua tahun kedepan.
“Sekolah yang paling dekat disini nama sekolahnya apa, Eyang?”
“Sma Nusa Cendana?”
“Iya itu, Sma Nusa Cendana. Mama dan Papa memilih sekolah itu untuk Keira karena jaraknya yang paling dekat dengan rumah”
“Oliv juga sekolah disana, nanti Eyang bilang ke Oliv supaya kamu bisa berangkat ke sekolah besok dengan dia”
“Nanti setelah makan kamu langsung ke kamar saja istirahat. Eyang sekarang mau ke rumahnya Bu Sri”
Aku hanya mengangguk, karena mulutku penuh dengan kue brownies. Setelahnya Eyang langsung melenggang pergi ke kamarnya mungkin bersiap-siap untuk ke rumah orang yang Eyang sebut tadi. Bu Sri, aku memang tidak mengenal orangnya yang mana dan aku juga tidak ingin menanyakan alasan kenapa Eyang ingin pergi ke rumah orang tersebut bukan tidak penting, tapi karena pasti Eyang akan ke rumah seseorang untuk hal yang penting saja.
...
Aku melangkahkan kakiku masuk ke dalam bangunan bertingkat dengan tulisan timezone di atas pintu kaca besarnya. Setelah meminta ijin ke Eyang aku akhirnya memberanikan diri untuk pergi sendiri kesini. Alasannya karena aku ingin berjalan-jalan sebelum memanaskan otakku dengan pelajaran hitungan besok di sekolah baru.
Mataku kembali melirik kesana-kemari mencari penjual minuman dingin. Setelah menemukan tempat yang sekiranya tepat aku langsung berjalan dan memesan minuman dengan warna kuning cerah yang tertera pada banner, tempat penjualan minuman tersebut. Rasa lega langsung menghampiri kerongkonganku yang tadi sempat sangat kering. Aku berjalan kembali sambil terus melihat beberapa permainan yang disediakan dalam area timezone ini. Mataku yang semula fokus menatap pemandangan anak kecil yang saling berebut bermain boneka capit langsung teralihkan ketika mendengar suara notifikasi dari ponselku. Aku membaca sebuah pesan yang masuk, dan mengetahui pesan itu dari Mama. Pandanganku terus saja menunduk dan asyik berbalas pesan dengan Mama hingga sesuatu yang mengerikan lagi memalukan itu terjadi.
“Aduh!!”
Aku meringis pelan ketika pantatku secara refleks mendarat pada dinginnya lantai putih area timezone.
“Maaf saya tidak sengaja”
Mataku sekilas sempat menangkap sosok laki-laki yang sekarang berdiri dengan ekspresi kaget didepanku. Laki-laki itu kemudian membantuku berdiri dan memungut ponselku yang tergeletak tak berdaya di sampingku tadi.
“Maaf saya benar-benar tidak sengaja”
Aku tersenyum sekilas kala mendengar kosakata yang dilontarkan laki-laki itu padaku. Saya. Terdengar biasa memang, tapi entah kenapa kata-kata formal darinya sedikit mampu membuatku takjub. Dimana biasanya setiap anak laki-laki atau cowok bad boy di sekolahku dulu akan menggunakan kata gue yang terkesan gaul.
__ADS_1
“Sorry. saya beneran nggak seng...”
Aku hanya mengangguk dan mengatakan tak apa. Setelah memeriksa hpku yang tenyata masih bisa digunakan dan masih baik tanpa ada cacat sedikitpun aku akhirnya bergegas untuk pergi.
“Tunggu”
“Sebagai permintaan maaf, aku bakal ganti minuman kamu”
Kalimat yang keluar dari mulut laki-laki yang menabrakku tadi mampu membuat langkahku terhenti. Aku menatap manik mata hitamnya dalam.
“Oke, tapi aku harap ini bukan salah satu cara kamu buat modusin aku”
Dia hanya tertawa dan selanjutnya aku memperkenalkan namaku kepadanya. Karena tentu terlalu mustahil jika ia telah mengganti minumanku dan aku tidak mengenal namanya.
“Aku Willy”
Nama yang bagus, seperti paras yang dimiliki oleh laki-laki yang sekarang ada di depanku ini. Tubuhnya tinggi, kulit yang putih dan ukuran wajah yang bisa dikatakan ganteng atau malah sangat ganteng, serta kacamata yang bertengger di pangkal hidungnya menambah kesan ganteng yang ia miliki.
Setelah Willy, anak laki-laki yang menabrakku tadi mengganti minuman yang ku punya. Aku langsung bergegas pamit untuk pulang darinya. Tapi lagi-lagi langkahku terhenti akibat perkataannya.
“Kalau kamu mau, kamu bisa pakai jaket saya”
Aku lantas berbalik kembali dan menolak dengan lembut penawarannya. Lagipula kalau aku memakai jaket yang ia punya bisa-bisa aku tidak mengembalikan jaket itu.
“Kalau kita nggak ketemu lagi, jaket itu buat kamu saja”
Ia kembali menyerahkan jaket jeansnya kepadaku dan akhirnya aku hanya bisa pasrah. Karena mau bagaimana pun ia pasti akan tetap bersikeras meminjamkan jaket itu kepadaku.
“Sekali lagi terima kasih, bagaimanapun caranya aku pasti akan mengembalikan jaket ini kepada pemiliknya”
Aku tersenyum kepadanya sebelum akhirnya benar-benar pergi. Aku memang sering menemui anak laki-laki yang kadar kegantengannya melebihi Willy, tapi entah kenapa dari sekian banyak laki-laki yang pernah kutemui hanya Willy yang bisa membuatku ingin bertemu dengannya kembali. Seperti magnet yang selalu mengikat dan menarik, aku selalu ingin melihat senyumnya yang manis.
Aku menggeleng pelan, pikiranku pasti sedang kacau sekarang. Mana mungkin aku jatuh cinta secepat ini pada seseorang yang baru kutemui beberapa jam. Keira kamu pasti sekarang sudah benar-benar gila. Dan yang lebih parahnya lagi hatiku malah berdetak dengan kuat setiap mengingat nama Willy. Benar-benar keajaiban yang sangat aneh.
#TBC
Assalamualaikum, Hai, dan Halo.
Perkenalkan Ratu adalah author baru disini, jadi masih belum terlalu benar-benar mengerti sistem kerja noveltoon/mangatoon.
Daripada di call author, mending panggil Ratu aja yah, soalnya lebih nyaman kayak gitu. Tapi tenang ini bukan Ratu Keraton Agung Sejagad kok.😅
Anyway, ini adalah cerita pertama Ratu yang akhirnya Ratu beranikan Publish, karena ingin mengikuti lomba yang diadakan pihak Noveltoon. So, Ratu sangat berharap dukungan dari kalian semua untuk mendukung cerita ini.
Oke, mungkin itu aja yang Ratu bisa sampaikan. Salam MINGGU SENDU.
__ADS_1