
selama seminggu brian dan sinta berbulan madu kini tiba saatnya mereka kembali ke negara nya.
" sayang apa kau sudah menyiapkan semua nya " ucap brian
" sudah mas " ucap sinta
mereka menuju bandara untuk penerbangan ke indonesia.
beberapa jam di dalam pesawat tepat jam 1 siang brian dan sinta sampai di indonesia dengan selamat.
mereka langsung kembali menuju rumah nya.
sinta merebahkan badannya karena kelelahan dan brian tidur di samping sinta, mereka pun terlelap
skip
di seberang sana luna menelpon dion
" mereka sudah pulang ke indonesia " ucap luna memberitahu dion
"bagus sekarang kita jalankan rencana kita " ucap dion dan langsung mematikan telepon luna.
luna mencoba mengabari brian kalo di kantor sedang ada masalah brian pun segera kembali ke kantor.
keesokan hari nya brian buru-buru ke kantor untuk mengecek permasalahan apa yang sedang terjadi.
" luna segera keruangan saya " ucap brian di telepon
luna langsung masuk ke ruangannya brian.
" selamat pagi pak" ucap luna
" luna dimana romi? " tanya brian
" sekarang di kantor cabang pak, jadi disini tidak ada yang mengawasi pak " ucap luna
" bawa semua berkas yang saya minta dan tolong belikan saya makanan karena saya belum sarapan " ucap brian
luna keluar ruangan brian dan mengambil beberapa berkas di meja nya dan kembali masuk ke dalam ruangan brian lalu pergi lagi untuk membeli makanan.
*rencana pun di mulai.
beberapa menit luna kembali dengan kotak makanan yang di minta pak brian.
__ADS_1
"ini pak makanannya " ucap luna lalu meninggalkan brian sendiri di ruangannya.
brian memakan sarapan itu dia tidak sadar bahwa luna sudah mencampur obat perangsang dalam makanan itu.
setelah brian selesai makan beberapa. menit brian merasakan badan nya panas, hasratnya tiba-tiba naik, dia bingung mondar mandir karena obat perangsang nya sudah bereaksi.
luna sengaja masuk ke ruangan brian dengan membuka kancing kemeja nya sampai ke pay*dara nya terlihat sedikit.
tok.. tok.. tok
" masuk "
" pak ada berkas yang ketinggalan " ucap luna sengaja membungkukan badannya supaya brian bisa melihat pay*dara nya, dan brian pun melihat langsung dia memegang lengan luna dan mendudukan dirinya di kursi.
brian mencoba mendekatkan wajahnya ke wajah luna tapi tiba-tiba pintu kebuka sinta melihat suaminya yang hampir mencium luna.
brakkkkk suara tempat makan yang di bawa sinta pun jatuh berserakan. mereka berdua kaget melihat sinta datang. sinta yang melihat kejadian itu langsung berlari keluar kantor dan segera di susul oleh brian.
sinta pulang dengan meneteskan air mata. " kenapa ini terjadi lagi " ucap sinta sambil menangis di dalam taxi.
sesampainya di rumah sinta langsung masuk kamar dan mengunci pintu nya.
beberapa menit brian datang langsung ke kamar tetapi pintu nya terkunci dia berteriak " sayang dengar penjelasan ku dulu " ucap brian.
sinta tidak memperdulikan suami nya dia melangkah terus sesampainya di pintu keluar sinta merasa pusing dan jatuh pingsan, di tangkaplah tubuh sinta dan membawa nya ke kamar
" bi surti " teriak brian
" iya tuan "
" panggil dokter bram sekarang bi sinta pingsan " ucap brian yang begitu panik
" sayang bangun sayang, maafkan aku " ucap brian
tak lama dokter pun datang dan memeriksa sinta.
" bagaimana dok keadaan istri ku " ucap brian
" dia sangat begitu stress, dan tidak baik buat janinnya, sebaiknya jangan terlalu banyak pikiran " ucap dokter bram
" apa dok, janin? " ucap brian
" iya istri mu sedang hamil 3 minggu, tolong jangan sampai dia terlalu banyak pikiran " ucap dokter bram dan meninggalkan rumah brian karena sudah selesai.
__ADS_1
beberapa menit sinta bangun lalu menangis sejadi-jadinya. brian yang melihat sinta sudah sadar dia mendekat dan memeluknya tetapi di tepis oleh sinta.
" tolong dengarkan aku dulu, sekali saja setelah mendengarkan kamu boleh melakukan apapun terhadapku " ucap brian
sinta pun diam pertanda dia menyetujui ucapan brian.
" aku tidak ada niat untuk menyentuhnya, tadi aku belum sarapan dan aku minta dia membelikannya, tetapi aku merasakan hal aneh dalam diriku, sampai luna masuk membawa berkas ku pikir itu kamu, makanya kenapa aku ingin mencium nya " ucap brian
sinta menatap mata brian tidak ada kebohongan di mata nya.
sinta langsung memeluk brian " aku terlalu takut mas hiks hiks " ucap sinta sambil menangis di pelukan brian.
" aku sudah berjanji padamu tidak akan mengkhianatimu " ucap brian mengusap-usap punggung sinta
" sudah-sudah kamu tidak boleh menangis kasihan nanti anak kita di dalam sini " ucap brian mengelus perut sinta.
" maksud mas apa? " ucap sinta kebingungan karena dia memang tak merasakan apa-apa
" kamu hamil sayang " ucap brian yang begitu bahagia sampai melupakan masalah yang tadi
" beneran mas aku hamil? " ucap sinta tersenyum bahagia karena begitu cepat dia dan brian di berikan keturunan.
" iya sayang, tadi kamu pingsan terus dokter memeriksamu dan bilang kalau kamu hamil dan gak boleh banyak pikiran " ucap brian langsung memeluk sinta bahagia.
sedangkan di kantor luna menyuruh ob untuk membuang kotak makanan brian dan membersihkannya karena tadi sinta juga menumpahkan makanan di ruangan brian. luna segera kembali ke ruangan dan melepon dion mencertikan kepadanya apa yang sudah terjadi.
" bagaimana kalau aku ketahuan, dia bisa saja bunuh aku " ucap luna ketakutan.
"lakukan apa yang tadi aku katakan " ucap dion di sebrang sana
sinta mematikan teleponnya dan melakukan apa yang di perintah dion. tiba-tiba hp nya berdering bertuliskan nama brian.
" tamat deh tamat " ucap luna sendiri
"hallo lun " ucao brian di sebrang sana
" iya pak ada apa " ucap luna menetralkan suaranya supaya brian tidak curiga.
" aku tidak kembali ke kantor tolong jadwalku hari ini di undur besok saja " ucap brian
" baik pak" ucap luna dan mematikan teleponnya.
luna mengelus dadanya karena brian tidak menyinggung masalah tadi.
__ADS_1