
Mira menatap dalam manik mata Willy yang berwarna hitam pekat begitupun dengan Willy yang terus menatap Mira tanpa berkedip. Senyum keduanya tak berhenti mengembang sedari tadi. Suasana kelas yang bising tak menjadi penghalang untuk kedua sahabat berbeda gender itu untuk terus saling menatap satu sama lain.
“Aish! Sialan”
Mira menggerutu dan mengerucutkan bibirnya kesal. Kristal bening langsung keluar dari matanya yang jernih.
“Kamu kalah lagi”
Willy mengapit hidung Mira lama, sampai hidung gadis itu meninggalkan bekas memerah pada kulit wajahnya yang putih.
“Aku kalah karena ada angin yang lewat tanpa permisi”
Mira kembali memberenggut kesal. Bayangkan saja, sudah lebih dari lima kali Mira dan Willy melakukan kontes tatap-menatap tanpa berkedip dan selama itu pula Mira yang selalu kalah. Dan Willy selalu saja berhasil membuat hidungnya memerah dengan sempurna seperti buah tomat.
“Terima saja kalau kamu itu kalah, tidak usah menyalahkan angin. Lagian mana ada angin yang lewat permisi dulu”
Willy mencubit pipi Mira dengan gemas, sahabatnya itu selalu saja membuat Willy gemas sepanjang hari, ditambah lagi pipi bulat Mira yang sangat penuh dengan lemak.
“Aish, WILLY SIALAN!!”
Mira mengumpat dengan kesal, sedang si pembuat onar sudah berlari menjauh dan menjulurkan lidahnya kepada Mira dari kejauhan. Willy akhirnya tak lagi terlihat, Mira yang penasaran kenapa sahabatnya itu tidak muncul lagi akhirnya berjalan ke arah pintu kelas, kepalanya sudah terjulur keluar hingga akhirnya.
“ULAR!!”
Mira langsung berjingkrak-jingkrak dan melompat ke sembarang arah. Jantungnya memompa seribu kali lebih cepat dari biasanya. Mira akhirnya memberanikan diri untuk membuka matanya dan memegang lehernya yang dilingkari oleh sesuatu. Jemarinya dengan cekatan melepas dan membuang ular mainan yang Willy kalungkan di lehernya tadi.
“WILLY BATARA, SIALAN”
Mira melempar ular mainan tersebut ke sembarang arah dan Oliv yang menyaksikan kejadian kocak dua sahabat itu di pagi hari langsung memungut ular mainan milik Willy dan mengayunkannya di depan mata Mira.
“CIEE, yang baru pagi-pagi udah pacaran aja. Apalah daya dedek Isyana ini yang jomblo”
Mira melirik Oliv, yang memasang tampang memelas. Dedek Isyana? Apa-apaan tuh, masa penyanyi papan atas disamakan dengan bayi bekantan seperti Oliv. Mira langsung bergidik ngeri melihat tingkat kehaluan Oliv yang semakin hari bertambah parah.
“Sabar ya Liv, cobaan Tuhan memang berat. Tapi kamu jangan sampai gila di umur yang baru tujuh belas tahun. Aku nggak mau punya sahabat yang tingkat kewarasannya di bawah rata-rata”
“Aku itu nggak halu Mira, banyak kok orang yang bilang aku mirip Isyana. Mama aku aja bilang kayak begitu. Kemarin aja nih, ada dua belas orang yang bilang aku mirip Isyana. Bayangin dua belas orang”
Oliv mengikuti langkah Mira yang sudah duduk di kursinya. Kalau Mira terus-terusan menanggapi tingkat kehaluan Oliv yang mendarah daging bisa-bisa anak itu overdosis tingkat kepedean yang tinggi.
“Terserah kamulah Liv, sebahagiamu aja”
Oliv memberenggut kesal dan langsung meletakkan tasnya di kursi yang bersebelahan dengan Mira.
“Tapi tumben kamu terlambat Liv? biasanya juga kamu yang buka gerbang, saking rajinnya ke sekolah pagi-pagi”
Oliv tak menanggapi dengan marah candaan Mira yang berlebihan, justru Oliv merasa bangga menjadi anak rajin yang selalu datang pagi-pagi ke sekolah bahkan penjaga sekolah pun kalah cepat datang dari Oliv, yang rumahnya hanya beberapa meter dari sekolah.
“Aku habis ke ruang kepala sekolah”
Mira menatap Oliv dengan tatapan menuntut, ia butuh kejelasan akan kalimat yang Oliv sampaikan.
“Teman lamaku yang sekaligus tetangga rumahku kemarin datang dari Jakarta dan berencana untuk menetap dan bersekolah disini. Jadi tadi pagi-pagi sekali aku mengantarnya ke ruang kepala sekolah, tapi beliau belum datang. Karena aku orang yang baik makanya aku temenin temanku untuk tunggu kepala sekolah sampai beliau datang. Gitu jalan ceritanya Mira kepo”
__ADS_1
Mira hanya membulatkan mulutnya dan mengucapkan huruf vokal O pelan. Sedang Oliv kemudian mengangguk dan mengeluarkan buku teks Bahasa Indonesia yang akan mereka pelajari pada saat jam pertama nanti.
Mira tersenyum sambil terus melihat pergerakan Oliv yang sibuk menata semua peralatan menulisnya di atas meja, jujur Mira sangat senang mengenal makhluk seperti Oliv. Disaat teman-teman yang lain sibuk membaca postingan di facebook, instagram atau twitter Oliv adalah satu-satunya teman yang paling anti dengan yang namanya sosmed dan malah memilih buku pelajaran dan novel sebagai teman setianya. Menurut Mira, Oliv adalah satu dari sejuta manusia yang sangat unik. Dan ia bersyukur bisa mengenal Oliv dan menjadi sahabatnya.
“Nanti aku kenalkan kamu, sama Keira”
“Keira?”
Oliv mengangguk dan kemudian menyodorkan sebuah foto berukuran kecil kepada Mira.
“Ini Keira, sewaktu kecil dan ini aku. Kami dulunya adalah sahabat, tapi setelah Papanya dipindahkan ke Jakarta aku dan Keira menjadi jarang bertemu. Tapi sampai saat ini kami masih tetap sahabat”
Mira lantas mengangguk dan mengembalikan foto kenangan tersebut kepada Oliv. Percakapan keduanya pun akhirnya tak terdengar lagi saat bel jam pelajaran pertama telah dimulai.
...
“Kamu serius?”
Kalimat dari Oliv mampu membuat Mira membulatkan matanya dan menatap terkejut kearah gadis bertubuh gumpal itu.
“Iya, dua hari lagi akan ada konser HI5 disini Ra!!”
Oliv membuat penekanan kalimat pada akhir katanya, ketika melihat ekspresi tak percaya dari sahabatnya.
“Di Bogor?”
“Bukan, tapi di planet Mars. Ya iyalah di Bogor. Memangnya kita sekarang lagi tinggal di planet lain apa?”
Kini Mira asyik berkhayal dan membayangkan dirinya ada di tengah-tengah manusia yang menonton konser band terkenal asal Bogor tersebut. HI5 band yang Mira sangat tahu dan hafal sejarahnya. Mulai dari awal tahun, bulan, dan tanggal terbentuknya, nama-nama setiap personelnya, dan semua lagu-lagu yang telah di produksi band tersebut.
“Aku harus beli tiketnya Liv, temenin aku sekarang ke tempat penjualan tiketnya, aku harus gimana, kita beli tiketnya dimana? Oliv ayo cepetan”
Oliv mengusap pelipisnya pelan dan menatap Mira dengan lesu. Sahabatnya itu selalu saja seperti ini jika menyangkut hal-hal yang berkenaan dengan band HI5, jiwa kekalemannya langsung menguar entah kemana.
“Slow Ra, sahabatmu yang imut ini, sudah menyiapkan sesuatu yang spesial untukmu”
Mira kembali duduk dan memperhatikan pergerakan dari Oliv. Jantungnya masih berdetak tak karuan sekarang, apalagi bayangan akan kelima personel HI5 yang tiba-tiba menguasai pikirannya. Sepertinya Mira ingin terbang ke angkasa saja kalau seperti ini.
“TARA!!”
Oliv sukses membuat Mira tercengang dan hampir saja pingsan, saking cepatnya jantungnya berdetak. Dua lembar kertas yang ada di tangan Oliv membuat Mira menitikkan air mata, karena terharu.
“Ini buat kamu”
Dua lembar tiket konser HI5 langsung berpindah ke tangan Mira.
“Kamu serius Liv?”
“Iyalah, abangku kemarin beli beberapa tiket dan karena dia lagi happy banget makanya kami sekeluarga dapat jatah tiket, tapi berhubung para orang tua yang ada di rumahku paling anti sama yang namanya musik keras-keras. Makanya semua tiket dihibahkan kepadaku”
Mira asyik memeluk tiket itu ke dalam dekapannya dan menganggap kalimat Oliv hanya angin lalu. Oliv yang melihat tingkah Mira hanya bisa menatap pasrah kepada sahabatnya yang kini jadi tontonan warga sekolah. Bagaimana tidak jadi tontonan, semenjak kehadiran dua makhluk itu suasana kantin yang tadinya agak hening langsung diisi oleh celoteh massal dari keduanya. Kalau Oliv yang cerewet sih itu sudah biasa bagi anak-anak yang lain, tapi kalau gadis yang seheboh tadi adalah Mira yang notebennya adalah murid yang paling kalem maka lain lagi ceritanya.
“Lebih baik, kamu cepat habiskan baksomu Ra, atau kalau tidak kamu akan kelaparan sepenjang hari dan perutmu akan berulah lagi seperti tiga hari yang lalu”
__ADS_1
Mira yang tadinya fokus menatap tanpa berkedip dua lembar tiket konser yang ada di tangannya menjadi kehilangan gairah hidup. Kejadian memalukan tiga hari yang lalu langsung membayangi pikirannya. Bagaimana tidak malu, disaat kelas lagi hening-heningnya perut Mira malah berulah dan menimbulkan bunyi kelaparan yang agak keras.
“Iya, iya”
Mira kemudian memakan dengan lahap beberapa bakso yang masih ada di mangkoknya. Bayangan memalukan yang dialaminya beberapa hari yang lalu langsung terganti dengan sebuah senyum kecil dari bibirnya. Dua tiket yang Oliv berikan kepadanya pas sekali, untuk satu orang yang akan ia ajak ke konser HI5 tiga hari yang lagi. Siapa lagi yang akan ia ajak kalau bukan Willy. Membayangkan senyum Willy yang disertai dengan ekspresi kaget langsung membuat Mira senyum-senyum sendiri sekarang.
“Tunggu aku, Wil. Tiga hari lagi kita akan pergi nonton konser HI5 band kesukaan kita berdua”
...
Mira mengatur napasnya yang tersengal-sengal, karena berlari dengan kecepatan penuh ke arah kelas yang dihuni oleh Willy, sahabatnya. Setelah sampai matanya sibuk mencari keberadaan cowok berkacamata itu di kelas, tapi yang malah Mira lihat hanyalah segerombolan anak laki-laki yang asyik bermain gitar sambil bernyanyi.
“Eh ada Mira, cari Willy ya Ra?”
“Iya Nan, kamu liat Willy nggak?”
Kenan yang setahu Mira adalah teman sebangku Willy, menghampirinya dan langsung mengajak Mira keluar kelas sambil mengenggam jemarinya.
“Pepet teros!!”
“Suit...suit. Jadian aja”
“Gas terus Nan, jangan sampai di tikung temen sebangku!!”
Teriakan dari teman-teman Kenan membuat Mira mengusap pelan telinganya dengan satu tangan.
“Sorry temen-temen gue emang suka ceplas-ceplos kalau ngomong. Makanya gue ajak lo kesini”
Mira hanya mengangguk dan melepaskan jemarinya yang masih digenggam dengan erat oleh Kenan.
“Willy ke perpus sama pacarnya tadi, disuruh balikin buku paket sama bu Tika”
“Pacar?”
Kenan mengangguk sambil menatap Mira dengan ekspresi lembut seperti biasanya. Padahal yang Mira tahu Kenan itu orangnya dingin, kayak es batu yang didinginkan di kutub utara. Apalagi kalau sama anak perempuan yang centil-centil pasti Kenan langsung mengasingkan diri dari tempat yang diisi oleh anak-anak cewek seperti itu.
“Ini sih pemikiran gue aja, Ra. Soalnya yang dari gue liat Willy baru kali ini deket banget sama anak cewek, selain lo”
Melihat Mira yang berdiam diri tanpa membalas perkataannya, Kenan pun memegang kedua bahu Mira dengan pelan.
“Ra, lo suka ya sama Willy?”
Kalimat tanya dari Kenan sukses membuat Mira memasang ekspresi kaget dan melepaskan kedua tangan Kenan dari bahunya. Kenapa Kenan bisa berpikiran seperti itu, padahal ia selalu menegaskan kepada siapapun yang menanyakan status kedekatannya dengan Willy itu hanyalah sebatas sahabat baik, tidak lebih dan tidak kurang.
“Nggaklah, mana mungkin aku suka sama sahabat aku sendiri. Udah deh aku mau susul Willy dulu. Makasih infonya”
Mira melambaikan tangannya dan berlari meninggalkan Kenan yang masih berdiri di tempatnya.
“Lo itu cantik Ra, sayangnya setiap orang yang mau deket, jadi mundur setelah tahu kalau lo suka Willy, dan gue termasuk orang-orang itu. Dan yang lebih parahnya lagi lo malah nggak sadar kalau lo itu sekarang malah kejebak syndrome friendzone”
Kenan menatap Mira yang masih terus berlari, di bawah teriknya panas matahari. Terkadang cinta memang rumit, tapi apa kalian tahu yang lebih rumit dari cinta? Itu adalah, hati yang ingin bertahan walau dalam keadaan menyakitkan sekalipun.
#TBC
__ADS_1