ORANG KETIGA

ORANG KETIGA
episode 143


__ADS_3

Ranti menggendong bayi Arabella yang menangis .


" cup cup sayang jangan nangis iya " sungguh Ranti tidak mengerti mengapa bayinya tiba-tiba menangis dan tidak bisa tenangkan .


Tak lama Adrian pulang ke rumah dia segera masuk kedalam kamar miliknya kaena mendengar suara tangisan sang anak .


" Ara kenapa ? " tanya Adrian melihat Ranti yang mencoba menenangkan bayi mereka .


" entahlah aku tidak tahu sedari tadi Ara menangis " jawab Ranti .


Adrian bergegas membersihkan dirinya terlebih dahulu karena dia sudah seharian berada di luar pasti dia sangat kotor dan banyak kuman yang menempel padanya lalu setelah selesai mandi Adrian mengambil alih Ara dari Ranti .


hanya hitungan detik saja Ara langsung merasa tenang saat Adrian menggendongnya " oh jadi kamu sedari tadi menangis karena kangen Daddy iya " Ranti mencoba berbicara pada bayi yang belum mengerti apa-apa itu.


bayi Ara tersenyum membuat Ranti terpikirkan sebuah ide .


" hoam aku mengantuk sekali , suamiku kamu jaga Ara iya " Adrian menatap Ranti sambil mengangkat alisnya sebelah " aku jaga Ara ? nanti kalau dia buang air bagaimana ? terus kalau dia nangis lagi ? "


" aku sudah memakaikan Pampers pada Ara nanti kalau dia nangis lagi kamu tinggal hangatkan susu yang ada di botol yang aku taruh di lemari es" jelas sang istri.


" Ara tidak minum asi kamu ?"


" iya itu asi aku tadi siang aku pompa dulu lalu aku masukkan ke dalam lemari es"


Adrian hanya ber o ria saja .


Merasa bosan di dalam kamar Adrian mengajak putri kecilnya itu pergi ke ruang baca di sana sambil menidurkan bayinya Adrian juga membaca sebuah buku .


" maaf iya sayang daddy tidak bisa memberikan keluarga yang harmonis untukmu , keluarga Daddy penuh dengan masalah tapi Daddy harap kamu tidak terpengaruh dengan semua itu " lirih Adrian sambil mencium kening Arabella .


Ranti mencoba bangun saat suara tangisan anak kecil terdengar di telinganya "Adrian ? Ara?" Ranti langsung bergegas bangun dan keluar dari kamar miliknya , Ranti berada di depan pintu kamarnya yang telah terbuka di luar ada seorang perempuan yang sedang duduk sambil memeluk Ara " tidurlah wahai anakku sayang " wanita itu menimang Ara .

__ADS_1


" si siapa kamu ? " tanya Ranti mencoba mendekati sang wanita .


Namun wanita itu seakan tidak menanggapi pertanyaan Ranti , Ranti berjalan mendekat dan mengambil Ara secara paksa dari sang wanita , tak sengaja Ranti melihat wajah Laura yang penuh darah dengan kepala yang berlubang terkena luka tempat " kau benci padamu Ranti ! seharusnya aku yang berada di samping Adrian bukan kamu ! kamu merusak semua aku akan membunuh mu !" Ranti berteriak sekencang-kencangnya .


" sayang bangun " Adrian menepuk pipi Ranti agar membuat nya tersadar dari mimpi buruknya .


hosh hosh hosh


nafas Ranti terengah- engah dan dia membuka matanya lalu duduk , keringat bercucuran di pelipis nya ,Adrian menyodorkan segelas air putih pada sang istri segera Ranti meminum air putih itu sampai habis sambil mengatur nafasnya .


" kamu mimpi buruk ? " tanya Adrian , Ranti hanya mengangguk pelan.


" aku tadi mimpi Laura , dia terlihat menakutkan Adrian dan dia ingin mengambil bayi kita "


" itukan cuma mimpi dan Laura juga sudah meninggal jadi kamu tidak perlu memikirkannya " Adrian mengecup kening Ranti agar Ranti merasa lebih tenang .


" tapi aku takut terjadi sesuatu pada Ara "


Adrian menatap Ranti dalam-dalam " selama ada aku tidak akan kubiarkan seorang pun yang bisa menyakiti putri kita " melihat Adrian yang begitu yakin membuat Ranti sedikit merasa tenang .


Wanita itu langsung menghunuskan senjata tajam hingga mengenai abdomen dengan luka yang dangkal , ayah Adrian berusaha mengejar wanita itu sialnya wanita itu langsung masuk ke dalam sebuah mobil hitam dan pergi begitu saja .


Asisten ayah Adrian yang mengetahui majikannya terluka langsung membawa majikannya ke rumah sakit .


tok tok tok


Adrian. membuka pintu kamarnya ,


" nak kita harus ke rumah sakit sekarang papa kamu sedang kritis " ibu Adrian begitu khawatir dan panik, beliau yang baru saja mendapat kabar dari asisten ayah Adrian segera mencari Adrian untuk mengajaknya pergi ke rumah sakit.


" kritis? tadi papa masih baik-baik saja" pikir Adrian .

__ADS_1


" ayo nak kita kesana "


" mama tenang dulu iya , Adrian siap-siap dulu " Adrian memakai kaos lengan panjangnya , Ranti yang baru saja tertidur jadi ikut terbangun mendengar suara mertuanya yang berisik di luar " kamu mau kemana? " tanya Ranti sambil mengucek matanya .


" aku dan mama akan pergi ke rumah sakit , kata mama papa sedang kritis , aku pergi dulu iya " pamit Adrian pada sang istri . Ranti menarik baju Adrian " aku boleh ikut?"


" sayang aku ini mau ke rumah sakit , kamu di rumah saja bersama anak-anak , nanti aku minta Rasya atau Sarah untuk sesekali melihat kamu dan anak-anak " Adrian mencium pipi Ranti lalu dia segera pergi bersama sang ibu ke rumah sakit setelah membangunkan Sarah dan Rasya untuk mengecek istri dan anak-anaknya .


Di rumah sakit .


" untung saja luka nya tidak begitu dalam, hanya saja kondisi fisiknya yang sudah tua menjadi pemicu utama beliau belum sadarkan diri " jelas sang dokter pada asisten ayah Adrian .


ibu Adrian yang baru saja tiba segera menemui asisten yang berada di depan ruang ICU "bagiamana keadaan suamiku ? " tanya ibu Adrian.


" luka tusukan pada tubuh tuan tidak dalam hanya saja kondisi tuan yang sudah tua membuatnya belum sadarkan diri nyonya" jawab sang asisten .


Adrian yang berjalan santai di belakang telah tiba , dia mengintip dari celah kaca ruang ICU untuk melihat kondisi sang ayah .


" setahu ku keamanan di rumah sangat ketat tapi kenapa bisa terjadi hal seperti ini ? " tanya Adrian dengan dingin ,asisten itu langsung menunduk ketakutan .


" maaf tuan ini kelalaian kami semua tapi siapa sangka jika wanita itu berhasil masuk dan menyamar sebagai pelayan di rumah " sang asisten mencoba mencari pembenaran .


" oh , kamu sudah selidiki siapa wanita itu ?" selidik Adrian


" sudah tuan tapi dari pantauan cctv wanita itu memakai masker jadi kami tidak tahu wajah nya " Adrian menepuk jidatnya sendiri " kau bilang itu sudah terselidiki ? hah aku tak menyangka jika ayah ku bisa mempekerjakan pria bodoh seperti dirimu " Adrian marah atas kinerja asisten itu yang dia rasa tidak becus mengurus masalah ayahnya .


" sudah Adrian jangan emosi , masalah itu kesampingkan dulu yang terpenting adalah kesembuhan papa kamu " sambil mengelus lengan atas Adrian mencoba menenangkan putra nya agar tidak emosi.


" sekarang pergi lah aku akan menyuruh bawahan ku membantu mu mengurus masalah wanita itu " sebelum asisten itu pergi dia mengucapkan terima kasih pada Adrian yang sudah memberinya kesempatan untuk melakukan penyelidikan lagi .


" sayang ayo kita temui papa kamu " ajak sang ibu .

__ADS_1


mereka berdua pun masuk , di dalam Adrian melihat sang ayah yang terbaring lemah dengan selang oksigen yang ada di hidungnya " pada akhirnya aku masih tidak bisa acuh pada mu pak tua , memang benar darah lebih kental daripada air begitu pula hubunganku dengan mu tak bisa begitu saja berakhir walau pun aku sangat menginginkannya " batin Adrian sembari menatap sang ayah .


Ibu Adrian tengah menangis sambil menggenggam erat tangan pria yang selama ini menjadi suami nya itu .


__ADS_2