
Rombongan dua belas prajurit yang dipimpin oleh Raka Pati itu tampak sedang tergesa-gesa menggebah kuda tunggangan mereka melewati sebuah padang rumput di wilayah yang masih di kuasai oleh kerajaan Galuh ini.
Tepat ketika mereka melewati sebuah anak sungai, beberapa pasang mata tampak memperhatikan dari balik bongkahan batu besar yang terdapat di pinggiran sungai tersebut. Mereka adalah Senapati Arya Prana dan beberapa orang perintis jalan mendahului pasukan yang mengawal Gusti Permaisuri Galuh Cendana.
"Kanda. Ternyata mereka telah mendahului kita." Kata salah seorang bawahannya sambil menatap ke arah punggung kuda tunggangan Raka Pati dan pasukannya yang semakin menjauh itu.
"Celaka kalau begini. Jika kita tetap membawa Gusti Permaisuri ke kerajaan Galuh, pasti akan terjadi peperangan yang ujung-ujungnya menyengsarakan rakyat."
"Lalu bagaimana Kanda?"
"Arya Permadi! Kau harus segera kembali ke penginapan di kadipaten Kerta kencana. Sampaikan kepada panglima Rangga dan Paksi bahwa utusan dari Sri Kemuning telah mendahului kita ke kerajaan Galuh." Kata Arya Prana berpesan kepada adiknya itu.
"Bagi dua orang-orang kita. Setelah tiba di kadipaten Kerta kencana, tunggu kami di sana. Aku akan berangkat untuk memberi kabar kepada Gusti Prabu Rakai Galuh bahwa permaisuri saat ini baik-baik saja."
"Baiklah kanda. Hati-hati!" Kata Arya Permadi lalu segera menyeberangi anak sungai itu bersama sekitar sepuluh orang lalu segera menggebah kuda mereka menuju ke kadipaten Kerta kencana.
Kerta kencana adalah kadipaten paling ujung yang terletak di perbatasan antara kerajaan Galuh dan kerajaan Setra kencana. Untuk menjaga perdamaian, pernikahan diplomasi pun terjadi antara adik dari Gusti Prabu Rakai Galuh dari seorang selir bernama Panembahan Ardiraja dengan putri tertua dari Sultan Setra kencana.
***
Setelah berpisah di anak sungai itu, Arya Prana bersama empat orang prajurit lainnya yang tinggal segera melanjutkan perjalanan menuju ke kerajaan Galuh.
__ADS_1
Tiba di kerajaan itu, dia langsung di sambut dengan pertanyaan setelah peperangan dan bagaimana dengan nasib Putrinya.
"Ampun Gusti Prabu. Saat ini Gusti Permaisuri Galuh Cendana dalam keadaan baik-baik saja. Gusti Permaisuri saat ini hamba tinggalkan bersama dengan Panglima Rangga, Tumenggung Paksi, dan adik hamba yaitu Arya Permadi." Jawab Arya Prana sambil bersimpuh di lantai. Dia lalu menceritakan semua kejadian dan kehancuran akibat peperangan yang berlangsung selama dua hari dua malam itu.
Dia juga tidak lupa mengatakan bahwa Gusti Prabu Jaya Wardana turut gugur dalam peperangan itu. Tidak hanya di situ, dia juga mengisahkan pelarian mereka dan terjatuhnya sang pangeran Indra Mahesa ke dalam jurang lembah bangkai.
Begitu mendengar laporan yang terakhir ini, Gusti Prabu Rakai Galuh langsung terhenyak. Tampak dengan jelas kemurungan di wajahnya saat ini.
Lama dia diam terpaku seolah-olah hilang kesadaran. Dan tidak pula ada seorang pun yang berani menegur. Mereka hanya tertunduk saja sambil menunggu apa yang akan diucapkan oleh Gusti Prabu Rakai Galuh ini.
Setelah lama terdiam seolah-olah sedang mengumpulkan kekuatan, kini Gusti Prabu Rakai Galuh mengangkat kepalanya lalu bertitah. "Arya Prana. Aku sebenarnya tidak terlalu perduli dengan peperangan andai putri ku kembali ke istana ini. Namun, karena kau bersikeras bahwa kau mampu melindungi putri ku, maka aku memberikan kalian tanah di perbatasan antara Sri Kemuning, Galuh dan Setra kencana. Tepatnya di lembah jati. Selama ini, tidak ada yang berani mendirikan perkampungan di tanah itu. Ini karena selain lembah terjal, sebagian besar kawasan itu dipercayai berhantu dan sangat angker."
"Aku akan mengirimkan seribu prajurit untuk membantu kalian dalam mendirikan perkampungan di sana." Kata Sang Raja menawarkan.
"Baiklah. Terserah kau saja. Sebelum kalian kembali ke kadipaten Kerta kencana, aku akan menitipkan sesuatu kepadamu untuk diserahkan kepada putriku." Kata sang Prabu sambil meminta kepada Patih Mahesa Galuh untuk mengambilkan sebuah peti terbuat dari tembaga.
Ketika Prabu Rakai Galuh memperbolehkan Arya Prana untuk membuka peti itu, maka terbelalak lah mata sang Senopati melihat ada banyak uang emas dan berbagai macam perhiasan di dalamnya.
"Junjungan mu tidak pernah mengalami penderitaan dan kesusahan. Jadikan ini sebagai bekal bagi kalian. Kelak aku ingin kalian berjuang merebut kembali kemerdekaan rakyat Sri Kemuning dari jajahan Jaya Pradana." Kata Gusti Prabu Rakai Galuh.
"Ampun Gusti Prabu. Ini.., ini terlalu banyak."
__ADS_1
"Gunakan sebaik mungkin. Sekarang kau boleh berangkat. Jangan buang-buang waktu lagi!"
"Sendiko dawuh Gusti Prabu." Kata Senopati Arya Prana sambil menyembah lalu beringsut mundur sambil membawa peti tadi kemudian keluar dari istana itu sambil diiringi tatapan sayu dari Gusti Prabu Rakai Galuh dan segenap jajaran pembesar di kerajaan Galuh itu.
"Malang sekali nasib putri ku. Namun, lebih malang lagi nasib rakyat Sri Kemuning." Gumam sang Baginda sambil merenung jauh menatap kepergian Senopati Arya Prana bersama empat punggawa lainnya.
"Kanda Prabu. Aku merasa sangat kerdil ketika kita hanya bisa menutup mata atas penderitaan yang dialami oleh putri mu Galuh Cendana." Kata Patih Mahesa Galuh.
"Kita tidak bisa berbuat banyak Dinda. Bukannya aku takut dengan peperangan. Tapi yang aku fikirkan, rakyat yang akan menjadi korban dari sebuah peperangan. Aku tidak sanggup melihat rakyat ku menderita seperti yang telah dialami oleh rakyat kerajaan Sri Kemuning."
"Kanda Prabu. Dengan cara mereka seperti itu, cepat atau lambat mereka pasti akan menyerang kita juga. Oleh karena itu, apa bedanya?" Tanya sang Patih.
"Ada. Ada bedanya Dinda. Saat ini masih ada kesempatan untuk menyusun kekuatan. Bagaimanapun, masih ada kerajaan Setra kencana di tengah-tengah. Sementara lembah jati, mereka tidak akan sanggup melewati lembah itu untuk masuk ke kerajaan Galuh ini."
"Ampun Kanda Prabu. Apakah rencana Kanda selanjutnya?" Tanya sang Patih.
"Susun kekuatan. Sebarkan pengumuman di seluruh kerajaan dan kadipaten di kerajaan Galuh ini bahwa, kita ingin membuka pintu bagi pemuda untuk menjadi prajurit." Kata Gusti Prabu Rakai Galuh.
"Jika begitu, sekarang juga akan hamba tulis selebaran dan akan segera di kirim ke setiap kadipaten." Kata Patih Mahesa Galuh dengan bersemangat.
"Kita akan membentuk pasukan terlatih untuk menjaga setiap jengkal tanah kerajaan Galuh ini dari siapapun yang ingin menjajah. Saat ini kita mengalah karena kita tidak cukup kuat. Aku mengorbankan putri ku bukan tanpa alasan. Sekarang laksanakan titah ku!"
__ADS_1
"Daulat Gusti Prabu! Titah Gusti Prabu akan kami junjung tinggi!" Kata mereka bersamaan.
Bersambung...