
Hari ini, adalah hari yang sangat bersejarah bagi seluruh rakyat Sri Kemuning dan wilayah taklukkan nya, yaitu Setra kencana dan Paku Bumi yang kini telah melebur menjadi satu kerajaan saja. Ini karena, pada hari ini berlangsungnya penobatan Putra Mahkota Indra Mahesa menjadi Raja di kerajaan Sri Kemuning.
Acara penobatan yang penuh adat istiadat ini berlangsung dengan khusyuk. Apa lagi ketika Pangeran Indra Mahesa di pakaikan mahkota kebesaran yang artinya, sah lah beliau saat ini menduduki puncak kepemimpinan dalam sebuah kerajaan.
Para rakyat kini kembali tumpah ruah di depan Balairung istana dan saling bergilir membasuh kaki sang raja baru mereka ini.
Setelah semuanya selesai, kini Gusti Prabu Indra Mahesa pun bangkit berdiri dan mulai menyampaikan sabdanya.
"Wahai rakyat ku sekalian. Aku adalah Indra Mahesa, putra tunggal dari raja pendahulu ku yaitu Gusti Prabu Jaya Wardana.
Di sini, aku menginginkan untuk seluruh rakyat kerajaan Sri Kemuning maupun, wilayah taklukkan lainnya, untuk bersama-sama dalam memajukan kerajaan dan mensejahterakan seluruh rakyat di kerajaan Sri Kemuning.
Dewasa ini, kita semua sudah terbebas dari belenggu penindasan, penjajahan, pemimpin yang semena-mena terhadap rakyat dan juga ketakutan. Sudah waktunya untuk membangun kekuatan dan meningkatkan taraf hidup masyarakat yang selama ini sangat menderita.
Untuk mewujudkan impian dan cita-cita yang luhur dalam membangun sebuah kerajaan yang Aman, makmur, damai dan berdaulat, tentunya aku tidak bisa sendirian. Aku membutuhkan kalian semua untuk kita agar bisa saling melengkapi.
Seorang raja tanpa rakyat, bukanlah raja. Seorang panglima tanpa pasukan bukanlah panglima. Namun, seluruh rakyat tanpa adanya seorang raja, mereka tetaplah rakyat.
Fungsi seorang pemimpin adalah untuk menjadi pengayom, mewakili isi hati dari rakyat dengan tujuan kesejahteraan bersama, menstabilkan dan membuat keputusan akhir dengan musyawarah terlebih dahulu tentunya.
Jadi, kerajaan ini akan kuat, jika rakyat nya kuat. Kuat salah arti, kuat secara sumberdaya alam nya, kuat persatuannya, kuat kecintaannya terhadap negri ini, kuat keprihatinannya terhadap diri dan sekitarnya, kuat jiwa dan raganya. Dan yang paling penting, kuat keimanannya terhadap Sang Yang Maha Pencipta. Yaitu, Tuhan yang maha esa.
Sebuah kerajaan akan berdiri teguh andai rakyat juga berdiri teguh di belakang pemimpin nya. Andai aku tersalah arah, aku harapkan agar kalian bisa meluruskan jalanku kembali. Karena, sudah banyak kisah yang kita ketahui dalam sebuah kerajaan jika rakyat tidak berdiri di belakang raja. Kerajaan itu akan segera runtuh.
Raja dan kerajaan kuat karena adanya rakyat, dan rakyat akan makmur dan sejahtera dengan adanya raja yang adil. Ini lah yang aku maksudkan bahwa, aku tidak bisa berdiri sendiri dan mengatakan, aku mampu mensejahterakan rakyat ku sekalian. Akan tetapi, aku mengajak kepada kalian semua untuk sama-sama mencapai kesejahteraan itu.
__ADS_1
Apakah kalian, para rakyat ku sekalian siap untuk mencapai kejayaan itu?"
"Kami siap.., kami siap.., kami siap..,"
"Baiklah. Di sini, di hadapan kalian semua, aku, Raja Indra Mahesa akan membagi-bagikan tugas kepada orang-orang kepercayaan ku untuk menjadi wakil ku di seluruh pelosok negeri yang berada dalam kekuasaan kerajaan Sri Kemuning."
"Untuk wilayah Setra kencana, aku mengangkat Raden Danu sebagai Mangkubumi di sana. Raden Danu bisa mendirikan kembali istana di tapak bekas istana kerajaan yang telah terbakar!"
"Sendiko dawuh, Gusti Prabu!" Kata Raden Danu sambil menghaturkan sembah.
"Untuk Panglima Rangga, Paman akan menjadi panglima tertinggi di kerajaan Sri Kemuning. Terimalah lencana kepemimpinan ini!" Kata Gusti Prabu Indra Mahesa sambil menyerahkan sebuah lencana berbentuk kepala naga. Lencana itu adalah simbol kepemimpinan yang dapat menggerakkan sebuah kekuatan besar. Lencana itu juga adalah simbol perintah mutlak dari raja ke panglima perang nya.
Panglima Rangga pun segera beringsut kemudian menengadahkan tangannya untuk menerima anugrah jabatan dan lencana kepemimpinan itu.
"Sendiko dawuh Gusti Prabu!" Kata Panglima Rangga sambil menghaturkan sembah.
"Sendiko dawuh Gusti Prabu," kata Larkin. Dia sama sekali tidak percaya bahwa Gusti Prabu Indra Mahesa memberikan kepercayaan itu kepadanya.
Dengan rasa penuh syukur, dia langsung memberikan sembah seorang abdi terhadap memimpinnya.
"Untuk Sadewa, kau akan menjadi kepala tilik sandi negara,"
"Sendiko dawuh Gusti Prabu!" Kata Sadewa yang langsung memberikan sembah.
"Paman Wiguna, Paman Arya Permadi, kalian berdua akan berangkat ke Paku Bumi. Kalian berdua adalah sahabat sejati. Maka dari itu, aku menyerahkan kepemimpinan di Paku Bumi kepada kalian berdua. Berantas sisa pemberontakan di sana!"
__ADS_1
"Sendiko dawuh Gusti Prabu. Hamba berdua akan menjalankan amanah sebaik mungkin," kata Wiguna yang juga diamini oleh Arya Permadi.
"Untuk Tumenggung Paksi, ada sebuah wilayah jauh di daerah puncak alam. Aku mengangkat mu menjadi Raja Tumenggung di puncak alam itu," kata Gusti Prabu Indra Mahesa sambil mengedipkan mata kepada Tumenggung Paksi yang langsung di sambut dengan sembah oleh lelaki setengah baya itu.
"Paman Senopati Arya Prana. Paman adalah wakil ku. Jadi, aku mengangkat Paman sebagai Mahapatih di kerajaan Sri Kemuning ini,"
Gemuruh suara semua yang ada di Balairung itu pun menggema menyambut pengangkatan ini. Mereka semua memberi ucapan selamat kepada Arya Prana yang telah diangkat menjadi Mahapatih kerajaan, setara dengan jabatan Perdana menteri.
"Orang yang layak untuk jabatan yang layak pula," kata mereka sambil bertepuk tangan.
"Sendiko dawuh Gusti Prabu, atas jabatan tinggi yang Gusti embankan di pundak hamba," kata Mahapatih Arya Prana sambil menghaturkan sembah.
"Untuk kedua Putri yang berada di samping kiri dan kanan ku, yaitu Putri Melur dan Putri Sekar Mayang. Aku tidak akan memilih salah satu dari kalian yang akan menjadi permaisuri. Bagiku, siapa pun diantara kalian yang bisa memberikan ku keturunan anak lelaki pertama, tentunya itu adalah zuriat dan benih dari ku, maka dialah yang akan aku nobatkan sebagai Permaisuri kerajaan Sri Kemuning," kata Gusti Prabu Indra Mahesa sambil tersenyum dingin.
"Kesemuanya telah ditetapkan dan tidak dapat ditarik kembali. Perkataan Raja adalah sabda. Sabda bagi seluruh rakyat. Oleh karena itu, mari wujudkan cita-cita luhur kita untuk membangun negri ini bersama-sama!" Kata Pangeran Indra Mahesa lalu turun dari singgasananya.
"Hidup Sri Kemuning,"
"Hidup Gusti Prabu Indra Mahesa!"
Para prajurit kini tampak menarik sebuah kereta kencana tanpa atap. Dengan Mahapatih Arya Prana sebagai kusir, mereka lalu berangkat untuk mengarak Raja baru di kerajaan Sri Kemuning ini untuk mengelilingi kota raja.
Di sepanjang jalan, seluruh rakyat sangat mengelu-elukan rombongan Gusti Prabu Indra Mahesa ini.
Diantara mereka kesemuanya saling berebut untuk melemparkan bunga kepada raja baru mereka ini.
__ADS_1
Bersambung...