Pangeran Tanpa Mahkota

Pangeran Tanpa Mahkota
Mencegat rombongan prajurit Kerajaan Galuh


__ADS_3

Senopati Arya Prana, Panglima Rangga, dan juga Tumenggung Paksi baru saja tiba di ujung jalan baru yang mereka rintis dan masih belum selesai itu.


Mereka bertiga langsung menambatkan tali kuda mereka di sebatang pohon yang tidak terlalu besar kemudian mulai menggunakan ilmu peringan tubuh menuju ke bagian timur hutan lembah jati ini sesuai dengan petunjuk yang mereka dapatkan tentang kedatangan prajurit dari kerajaan Galuh.


"Kakang! Kita masih belum tau dari arah mana, serta ke mana para prajurit dari kerajaan Galuh ini akan menuju. Sebaiknya sebum kita keluar dari kawasan hutan ini, aku akan memanjat pohon ini untuk melihat-lihat di mana saat ini pasukan itu berhenti," kata Panglima Rangga.


"Silahkan Dinda Rangga! Ada benarnya juga kata mu itu," kata Senopati Arya Prana menyetujui gagasan dari bekas panglima perang kerajaan Sri Kemuning ini.


Tanpa membuang waktu lagi, kini panglima Rangga langsung saja memanjat pohon yang dia rasa memiliki ketinggian yang cukup untuk melihat-lihat ke kawasan sekitarnya.


"Celaka. Ternyata mereka sudah sangat dekat!" Kata panglima Rangga dalam hatinya.


Tak mau berlama-lama lagi berada di pohon tersebut, dia segera meluncur turun lalu bersalto beberapa kali sebelum hinggap dengan sangat manis di tanah berumput.


"Kakang! Mereka sudah sangat dekat. Aku perkirakan bahwa tidak sampai sepenanak nasi, mereka pasti sudah tiba di jalan lorong jebakan yang kita pasang di kawasan tebing,"


"Ha? Ayo Dinda Paksi dan Dinda Rangga! Kita harus cepat. Kau berlari di depan. Kami akan mengikuti mu!" Kata Senopati Arya Prana.


"Mari kakang!"


Ketiga orang itu pun segera mengerahkan seluruh ilmu peringan tubuh lalu berlari sekuat tenaga untuk menyongsong kedatangan para prajurit dari kerajaan Galuh ini kemudian menyuruh mereka untuk segera mundur kembali ke kota raja.


Di kejauhan, tampak rombongan pasukan prajurit pilihan yang dipimpin langsung oleh Panglima Pratisara dengan Larkin berada diantara barisan paling depan mengiringi panglima perang kerajaan Galuh ini.


Tampak beberapa bendera berkibar diterpa angin memperhatikan lambang kerajaan Galuh pada panji-panji tersebut.

__ADS_1


"Larkin. Apakah kau bertemu langsung dengan Putra Mahkota Indra Mahesa itu?" Tanya Panglima Pratisara kepada Larkin, sang pembawa kabar atau tepatnya, utusan yang masih hidup dari lima prajurit yang di kirim oleh Gusti Prabu Rakai Galuh untuk mengirim Warkah kepada Permaisuri Galuh Cendana di lembah jati.


"Benar Gusti. Hamba sempat beberapa kali berbincang-bincang dengan putra mahkota Indra Mahesa," jawab Larkin merasa sedikit bangga.


"Seperti apa sosok Pangeran tonggak kerajaan Sri Kemuning itu?" Tanya Panglima Pratisara merasa penasaran.


"Sangat cakap, Gusti. Bentuk tubuhnya sangat kekar. Memiliki kulit putih bersih, rambut panjang melewati bahu, mata bening namun sangat tajam dan penuh selidik. Bibir mungil dengan hidung mancung. Andai hamba memiliki anak perempuan, hamba akan senang hati mengirim nya ke sisi beliau walaupun hanya sebagai selir," jawab Larkin menggambarkan sosok sang Putra Mahkota cucu dari raja mereka yaitu Gusti Prabu Rakai Galuh.


"Hahaha. Kau ini Larkin. Apa itu pantas?" Tanya Panglima Pratisara sambil tertawa.


"Hehehe. Hamba sadar diri, Gusti Panglima. Manalah pantas gagak di rimba mengharapkan merak istana yang memiliki bulu indah bak lukisan peri khayangan," kata Larkin pula sambil tersipu malu-malu.


"Larkin! Coba kau perhatikan di depan sana itu! Sepertinya ada tiga sosok hitam berlari menggunakan ilmu peringan tubuh ke arah kita," kata Panglima Pratisara sambil menunjuk ke arah depan.


"Sebentar, Gusti! Hamba dapat melihat dengan jelas. Bukankah itu adalah Gusti Senopati Arya Prana, Panglima Rangga dan Tumenggung Paksi?!" Kata Larkin.


"Benarkah? Jika begitu, kita berhenti dulu di sini. Perintahkan kepada para prajurit untuk berhenti dan beristirahat sejenak!" Kata Panglima Pratisara kepada Larkin dan pemimpin regu pasukan yang lain.


Setelah memberikan perintah kepada para prajurit untuk berhenti, panglima Pratisara dan Larkin pun segera menggebah kuda mereka menyongsong kedatangan ketiga orang yang sudah tampak jelas wujudnya itu.


*********


Di salah satu bukit landai dengan terdapat aliran kali kecil di bawahnya, panglima Pratisara dan Larkin akhirnya kini bertemu juga dengan Senopati Arya Prana, Panglima Rangga, dan Tumenggung Paksi.


Ketiga orang itu kini menghentikan lari mereka ketika di hadapan mereka kini tampak dua orang penunggang kuda seperti sedang sengaja menanti kedatangan mereka.

__ADS_1


"Kakang Senopati Arya Prana, Panglima Rangga dan Tumenggung Paksi!" Kata Panglima Pratisara sambil turun dari kuda tunggangan nya lalu memeluk ketiga orang yang baru saja tiba itu.


"Hahaha. Pratisara. Kau masih terlihat muda seperti dulu," kata Senopati Arya Prana berbasa-basi.


"Ah. Kakang terlalu memuji. Oh ya. Ada apa sehingga kakang dan kedua sahabat lainnya datang kemari? Apakah ada perintah dari Gusti Permaisuri Galuh Cendana?"


"Pratisara, siapa yang mengusulkan untuk membawa prajurit ke lembah jati ini?" Tanya Senopati Arya Prana.


Mendengar pertanyaan ini, Panglima Pratisara sedikit mengernyitkan dahi. Dia saat ini sedang menebak-nebak kemana arah pertanyaan dari Senopati Arya Prana ini.


"Kenapa, Kakang? Aku baru saja kembali dari Kadipaten Gedangan ketika Gusti Prabu Rakai Galuh memerintahkan untuk membawa pasukan. Kata Baginda, bahwa saat ini lembah jati dalam bahaya karena dikepung oleh ribuan prajurit dari Paku Bumi. Itulah sebabnya Gusti Prabu memerintahkan kepada ku untuk membawa pasukan kemari bagi memerangi para pengepung itu," kata Panglima Pratisara menjelaskan.


Terdengar tarikan nafas berat dari Senopati Arya Prana ketika mendengar penjelasan dari Pratisara ini.


"Kalian sudah dikecoh oleh prajurit Paku Bumi. Aku ingin bertanya kepadamu. Berapa orang prajurit yang kau bawa kemari?" Tanya Senopati Arya Prana.


"Semuanya berjumlah dua ribu lima ratus orang, Kakang Senopati!" Jawab Panglima Pratisara.


Senopati Arya Prana dan Panglima Rangga langsung bertukar pandang lalu, panglima Rangga yang sudah sangat biasa dalam taktik pertempuran pun kini mulai angkat bicara.


"Sahabat ku Pratisara. Saat ini aku memperkirakan bahwa prajurit dari Paku Bumi yang mengepung lembah jati memiliki beberapa tujuan. Pertama, mereka ingin membiarkan kami mati kelaparan di dalam hutan lembah jati dengan mengepung jalan keluar,"


"Yang ke dua, mereka ingin memecahkan perhatian Gusti Prabu Rakai Galuh untuk mengirim pasukan kemari. Dengan begitu, para prajurit yang bertugas untuk mempertahankan kota raja akan berkurang. Dengan begini, tentunya akan semakin mudah bagi mereka untuk memasuki kadipaten Karang Kencana serta mempersiapkan serangan di kadipaten Gedangan,"


"Akan memerlukan waktu bagi pasukan mu untuk pergi dan kembali ke kota raja bukan? Aku berdoa semoga saja ini hanyalah kekhawatiran ku saja. Tapi yang jelas, kau dan pasukan mu harus segera kembali ke kota raja. Sampaikan kepada Gusti Prabu bahwa kami di sini bersama dengan Gusti Permaisuri Galuh Cendana dan Putra Mahkota Indra Mahesa dalam keadaan baik-baik saja," ucap Panglima Rangga meyakinkan.

__ADS_1


__ADS_2