Pangeran Tanpa Mahkota

Pangeran Tanpa Mahkota
Gayatri 2-1 Putri Melur


__ADS_3

Malam semakin larut menuju ke puncaknya tak kala pangeran Indra Mahesa membuka kelopak matanya.


Dia terpaksa memutus semadinya ketika cuping hidung nya menangkap aroma gurih dari daging panggang yang berasal tidak jauh dari tempat dia tadi bersila.


Tidak jauh berada di depannya, dia melihat Gayatri bersama dengan Sadewa sedang memanggang seekor kijang yang sangat gemuk sehingga berminyak dan minyak nya menetes ke api yang menimbulkan asap. Asap dari tetesan minyak daging kijang ini lah yang sempat menggugah selera makan pangeran Indra.


"Hmmm. Enak sekali bau daging panggang ini," kata Pangeran Indra sambil tersenyum menghampiri Sadewa dan Gayatri yang saat ini langsung menyambut kedatangan pemuda itu dengan senyum.


Sebelum duduk, pangeran Indra sempat melirik ke arah Putri Melur dan Sekar Mayang yang tidur melungker sambil memeluk kain tebal.


"Tidur seperti badak bunting," kata Pangeran Indra dalam hati. Dia lalu duduk di samping api unggun yang saat ini hanya tinggal bara.


Tak lama setelah itu, Sadewa dengan sigap langsung memotong daging panggang kijang itu di bagian paha lalu menyerahkannya kepada Pangeran Indra Mahesa.


"Gusti.., coba cicipi daging ini. Ini sangat gurih dan nikmat sekali," kata Sadewa sambil tersenyum.

__ADS_1


"Hahaha. Terimakasih. Mari kita makan bersama!" Ajak Pangeran Indra.


"Oh. Hamba tidak pantas untuk itu, Gusti. Sebaiknya, Gusti dan Nini Gayatri saja yang makan. Biar hamba menjaga saja," kata Sadewa yang merasa tidak pantas untuk makan dengan seorang Pangeran.


"Alah.., sudah lah. Mari kita makan sekalian! Kami berdua tidak akan bisa menghabiskan seekor kijang jantan yang besar ini hanya berdua," ajak Pangeran Indra Mahesa sedikit memaksa, membuat Sadewa tidak berani lagi untuk menolak.


Sementara itu, di tempat berbaring nya kedua Putri Melur dan Sekar Mayang, rupanya aroma sedap dari daging panggang itu juga menusuk ke hidung mereka berdua.


Sambil menggosok kelopak matanya dengan punggung tangan, ke-dua gadis itu segera bangkit dan mencari sumber aroma yang berhasil membuat cacing di dalam perut mereka berdua memberontak.


Pangeran Indra tidak menjawab. Dia hanya memotong sebagian dari bahu kijang tersebut dengan pedang milik Sadewa, lalu menghampiri gadis itu.


"Ini Dinda, Sekar! Makan lah selagi masih hangat!" Kata Pangeran Indra Mahesa sambil mengulurkan daging panggang yang berada di tangannya.


"Apakah hanya Yunda Sekar? Aku?" Tanya Putri Melur dengan manja.

__ADS_1


Ingin sekali rasanya Pangeran Indra menjerit sekuat tenaga sambil mencak-mencak. Namun itu urung dia lakukan lalu kembali melangkah ke arah api unggun untuk mengambil sisa daging panggang yang masih berada di atas api tersebut.


Dia memotong sekali lagi bagian tubuh kijang tersebut lalu kembali menghampiri ke arah Putri Melur.


"Ini, Tuan Putri. Maafkan hamba yang tidak melihat kehadiran Tuan Putri di tempat ini," kata Pangeran Indra.


Mungkin sedikit lucu bila di dengar. Namun, bagaimana rasanya ketika kehadiran kita sama sekali tidak dianggap? Lebih sakit daripada berada sendirian di dalam hutan daripada berada di tengah-tengah keramaian, namun merasa sepi. Setidaknya itu lah yang dirasakan oleh Putri Melur.


Sadewa dan Gayatri hanya tersenyum saja melihat wajah Putri Melur yang terkena pantulan dari cahaya api unggun mulai menghitam menahan kemarahannya.


Dia segera melirik ke arah Gayatri yang mengedipkan sebelah matanya ke arah Putri Melur.


"2-1," kata Gayatri dalam hati.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2