Pangeran Tanpa Mahkota

Pangeran Tanpa Mahkota
Hancurnya Tenaga dalam milik Pratisara


__ADS_3

Cahaya putih keperakan kini tampak melesat dari kedua telapak tangan pangeran Indra Mahesa yang langsung bertabrakan di udara dengan gumpalan kabut berwarna hitam yang dilepaskan oleh Panglima Pratisara.


Saat kedua pukulan jarak jauh itu bertemu di udara, terdengar suara ledakan yang sangat keras memekakkan telinga.


Duaaar!


Kini tampak dua sosok tubuh melayang ke arah yang berlawanan dan terhempas di tanah berdebu itu.


Brugh!


Gusrak!


"Uhuk.., uhuk.., uhuk..,"


"Hoeeek.., aaaaa..,"


Kedua sosok yang terjatuh tadi langsung memuntahkan darah berwarna kehitaman.


Kini tampak Pangeran Indra Mahesa berusaha untuk bangkit.


Melihat pemuda pujaan hatinya menderita luka dalam, Gayatri yang tadi menyaksikan pertarungan itu dengan seksama, segera melompat dan membantu Pangeran Indra Mahesa untuk duduk.


"Sudah Dinda! Jangan di bantu. Aku tidak apa-apa. Orang-orang di rimba persilatan akan menertawakan ku jika kau membantuku. Aku menginginkan pertarungan yang adil," kata Pangeran Indra Mahesa yang sudah duduk bersila.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Pangeran Indra Mahesa, Gayatri serta merta mundur beberapa langkah lalu memperhatikan saja apa yang dilakukan oleh pangeran Indra.


Di pihak lain, kini Panglima Pratisara tampak mengalami tiga kali lipat kecederaan dari yang dialami oleh Pangeran Indra Mahesa.


Lelaki setengah baya itu kini tampak merangkak mencoba menggapai sesuatu yang bisa membantu dirinya untuk duduk.


Kembali dia tersungkur karena di tempat itu memang tidak ada satupun yang bisa dia jadikan untuk menyangga tubuhnya. Sementara itu, setiap kali dia batuk, darah segar terus menyembur keluar dari mulutnya.

__ADS_1


Dia kini terpaksa menelentang dan terlihatlah dari pakaiannya di bagian dada yang terus turun naik itu gosong oleh pukulan jarak jauh yang mereka lepaskan tadi.


Dari sini bisa disimpulkan bahwa dari segi tenaga dalam, Panglima Pratisara berada jauh dengan tenaga dalam yang dimiliki oleh Pangeran Indra Mahesa.


Pukulan yang dilepaskan oleh Panglima Pratisara tadi buyar oleh ajian tapak suci yang dilepaskan oleh pangeran Indra Mahesa sehingga sinar keperakan itu terus meluruk deras menghantam dadanya. Itu lah yang menyebabkan pakaian di bagian dadanya hangus terbakar.


Dalam keadaan yang sudah sangat sekarat itu, dia dapat merasakan adanya bayangan sosok tubuh yang menaunginya dari sengatan sinar matahari.


Ketika membuka kelopak matanya, kini dia melihat bahwa pangeran Indra Mahesa telah berdiri di dekatnya sambil tersenyum.


"Gus-Gus.., Gusti! Bunuh saja aku!" Kata Pratisara dengan suara terputus-putus.


"Jika mengikuti kata hati, sudah ku cincang-cincang tubuh mu ini untuk melampiaskan kemarahan ku atas pengkhianatan yang telah kau lakukan. Namun, aku tidak pernah membunuh orang yang sudah tidak berdaya," kata Pangeran Indra Mahesa sambil berjongkok di depan tubuh panglima Pratisara.


"Hidup pun aku sudah tidak berguna. Lebih baik mati daripada hidup dengan menjadi orang yang cacat!" Rintih panglima Pratisara.


"Aku mohon agar Gusti berbaik hati untuk membunuh ku saat ini juga. Aku ingin mati sebagai pria terhormat,"


"Cih. Terhormat katamu? Kau itu binatang yang paling rendah dari kebinatangan itu sendiri. Jangan berbicara tentang kehormatan! Kau tidak memiliki sedikit pun kehormatan yang tersisa. Pengkhianat seperti mu ini sama sekali tidak memiliki kehormatan!" Kata Larkin sambil merangkak mendekati pedang milik Panglima Pratisara dengan niat, ingin menghujamkan pedang tersebut di dada lelaki yang sudah sangat sekarat itu. Beruntung Pangeran Indra Mahesa segera menghalangi.


"Keputusan berada di tangan ku. Apakah ada yang akan melangkahi titah ku?" Tanya Pangeran Indra.


"Hamba tidak berani, Gusti. Ampuni hamba!" Kata Larkin lalu beringsut mundur.


"Pratisara. Aku akan menyembuhkan luka dalam mu. Namun, aku akan menghancurkan pusat kekuatan mu. Kau butuh waktu setidaknya lima puluh tahun untuk kembali bisa mempelajari ilmu silat dan tenaga dalam. Sekarang, bersiaplah!" Kata Pangeran Indra Mahesa lalu kini, kedua tangannya berubah seperti bara api.


"A-a-ajian lebur Wesi?" Kata Panglima Pratisara dalam hati sambil menggigil ketakutan.


Belum lagi dia sempat berkata, kini Pangeran Indra Mahesa sudah meletakkan kedua telapak tangannya di atas dada Pratisara.


"Aaaaa...,"

__ADS_1


Terdengar teriakan melengking keluar dari mulut Panglima Pratisara disertai gumpalan asap hitam.


Sinar merah membara yang berada di tangan Pangeran Indra Mahesa itu kini berpindah ke arah bagian dada Panglima Pratisara, lalu terus merebak dan kini menyelubungi tubuh panglima pengkhianat itu.


Sambil terus berteriak kesakitan, panglima Pratisara terus berguling-guling di tanah dan mengejang-ngejang dengan jeritan yang tidak putus dari mulutnya.


Lebih dari sepeminuman teh keadaan seperti itu terjadi, kini cahaya merah membara itu perlahan memudar dan tampak panglima Pratisara terdiam dengan mata mendelik dan nafas terengah-engah terlentang menatap matahari.


"Minum pil ini dan kau akan sembuh sepenuhnya. Ingat pesan ku. Kau tidak akan bisa lagi mempelajari ilmu silat serta tenaga dalam. Seluruh kekuatan tenaga dalam mu telah ku gembosi dan andai kau memaksa, kau akan mati olehnya. Sekarang ini kau sama seperti rakyat biasa yang tidak memiliki kemampuan apapun," kata Pangeran Indra Mahesa lalu segera menyerahkan sebutir pil kecil ke tangan Panglima Pratisara.


Lelaki itu buru-buru meminum pil itu dan kini tampak dia kembali normal. Namun, perubahan yang dia rasakan adalah, pergerakan, serta kekuatan yang dia miliki berkurang bahkan dia merasa cepat lelah.


Bagi orang-orang di dunia persilatan, tenaga dalam sangat penting. Ketika tenaga dalam yang dimiliki tinggi tingkatannya, maka segala apa ilmu Kanuragan maupun kedigdayaan yang mereka miliki akan bisa berkembang dengan pesat. Dengan tenaga dalam yang kuat, apapun senjata yang mereka gunakan, akan berubah menjadi senjata ampuh yang mematikan ketika senjata itu telah dialiri dengan tenaga dalam. Tapi kini, dia sama sekali tidak memiliki apa-apa lagi dengan yang namanya tenaga dalam.


Sambil dibantu oleh Pangeran Indra Mahesa, Pratisara kini telah dia dudukkan di atas panggung kudanya. Setelah itu, pangeran Indra lalu memukul punggung kuda itu. Sepersekian kedipan mata, kuda itu kini meringkik lalu menghambur dengan kecepatan tinggi membawa sosok tubuh lemah milik Panglima Pratisara.


"Huh.., selesai sudah satu masalah," kata Pangeran Indra Mahesa sambil menghempaskan nafas berat.


"Lalu, apa lagi rencana Kakang?" Tanya Gayatri.


"Rencana ku? Apakah boleh membahagiakan mu?" Tanya Pangeran Indra membuat wajah gadis itu bersemu merah.


"Sudah berapa hari kakang tidak mendapat cubitan?" Tanya Gayatri sambil mengancam dengan menunjukkan gestur cubitan.


"Ada prajurit di sini. Apa Dinda ingin rasa hormat mereka kepada ku berkurang?"


"Makanya jangan menggoda ku. Ingat ya! Ada Putri Melur dan Sekar Mayang!" Kata Gayatri sambil mendengus lalu pergi melangkah menuju kuda miliknya.


"Kalian semua kembali masuk ke benteng! Jangan pernah meninggalkan benteng pertahanan tanpa perintah dari ku! Sekali lagi kalian membangkang, aku akan menghukum kalian dengan hukuman ala prajurit!" Kata Pangeran Indra Mahesa.


"Sendiko dawuh Gusti!" Jawab mereka lalu segera memutar badan untuk kembali memasuki benteng di mana di sana, Adipati Rakai langit telah menunggu mereka.

__ADS_1


Like itu gratis. jadi, biasakan untuk tidak pelit!


Bersambung...


__ADS_2