Pangeran Tanpa Mahkota

Pangeran Tanpa Mahkota
Misteri siapa yang benar


__ADS_3

Malam itu, tampak ke-lima penunggang kuda menghentikan laju kuda mereka lalu melompat turun dari punggung kuda itu.


Kelima orang itu kini menuntun kuda mereka masing-masing sambil menelusuri pinggiran hutan.


"Kakang Kujang emas. Coba lihat di depan sana. Sepertinya ada yang sedang beristirahat di sana. Lihatlah baik-baik! Bukankah itu adalah cahaya dari api unggun?"


"Benar Dinda kujang perak. mari kita lihat siapa mereka itu," kata salah satu dari kelima lelaki penunggang kuda tadi.


Mereka langsung menarik tali kekang kuda tunggangan mereka lalu menambatkan nya di salah satu pohon yang tidak jauh dari pinggiran hutan itu.


Kelima orang itu kini mengempos ilmu meringankan tubuh mereka lalu melesat menaiki salah satu pohon kemudian kembali bergerak dari dahan yang satu ke dahan pohon lainnya menuju ke arah api unggun yang mereka lihat tadi tanpa menimbulkan suara sedikitpun. Ini tandanya bahwa ilmu meringankan tubuh mereka sudah sampai pada tahap tinggi.


Sementara itu, di bawah sebatang pohon yang sangat besar, tampak lima orang berpakaian prajurit kerajaan Galuh sedang duduk mengelilingi api unggun untuk menghilangkan hawa dingin yang mulai menusuk ke tulang karena kawasan hutan ini memang sangat dingin hawanya jika sudah malam.


Kelima orang ini langsung terlibat obrolan yang sangat serius.

__ADS_1


"Larkin. mengapa kau kembali datang menemui kami? Apakah kau mendapatkan tugas yang baru?" Tanya salah seorang dari keempat lelaki itu. Mereka ini adalah para prajurit bawahan Sadewa yang memang sengaja ditempatkan di hutan itu sebagai pengintai.


"Benar. Aku mendapatkan tugas dari Gusti Pangeran untuk memata-matai pergerakan pasukan dari Paku Bumi," jawab Larkin.


"Apakah Gusti Pangeran juga ada menitipkan perintah kepada mu?"


"Tidak. Gusti Pangeran hanya memberikan perintah kepada ku saja," jawab Larkin.


"Oh. Kalau begitu, maka maafkan kami jika kami tidak bisa menemani perjalanan mu,"


"Sebenarnya, tidak ada bedanya jika kau berada di sini atau mengintai sendiri. Toh tujuan kita sama. Karena kita sama-sama mengintai pasukan Paku Bumi dan melaporkan kepada Gusti Pangeran," kata mereka pula.


"Mengapa tidak kau beritahu saja yang sebenarnya kepada Gusti Pangeran tentang pengkhianatan Panglima Pratisara itu?"


"Tidak semudah itu sobat. Kau tau apa jabatannya? Dia adalah seorang Panglima. Apa lagi dia kembali dalam keadaan terluka parah. Sementara aku, sedikitpun tidak tergores. Namun aku percaya. Sepandai-pandainya dia menyembunyikan bangkai, bau busuknya akan tetap tercium juga," kata Larkin seperti pasrah.

__ADS_1


"Lalu, kemana kau akan pergi, Larkin?"


"Aku akan menyamar sebagai Prajurit dari Paku Bumi. Setelah harinya tiba, aku akan menyelinap keluar dari pasukan itu dan akan membawa kabar kepada Gusti Pangeran Indra Mahesa tentang pergerakan musuh," kata Larkin menjelaskan.


"Semoga saja kau berhasil, Larkin!"


"Terimakasih. Jika begitu, aku mohon diri dulu," kata Larkin lalu segera menuntun kudanya meninggalkan ke-empat prajurit bawahan Sadewa itu.


"Kakang Kujang emas. Kau dengar itu?" Tanya salah satu dari kelima lelaki yang bersembunyi di atas pohon tepat di tempat para prajurit itu menyalakan api unggun.


"Iya. Celaka jika sudah begini. Apakah Pratisara benar-benar pengkhianat?"


"Entahlah kakang. Andai ini adalah benar, maka sandiwara lelaki itu sangat sempurna,"


"Kujang perak dan kujang besi. Mari kita kembali ke dalam pasukan, lalu beritahu semua yang kita dengar kepada Gusti Pangeran Indra Mahesa,"

__ADS_1


"Mari kakang. Semakin cepat, akan semakin baik!" Kata Kujang perak.


Tak lama setelah itu, mereka pun kini melesat kembali ke arah dari mana tadi mereka datang.


__ADS_2