
Berita tentang dua tokoh silat yang telah lama menghilang dan kini kembali bersatu untuk mendidik seorang anak kecil lambat laun mulai menyebar ke seantero jagad rimba persilatan. Apa lagi konon anak yang mereka latih dan didik itu berbeda dengan anak-anak berusia lima tahun pada umumnya. Hal ini tentu saja menarik perhatian para dedengkot rimba persilatan baik itu dari golongan hitam, maupun golongan putih.
Beberapa tokoh Kosen papan atas di rimba persilatan dari golongan putih kini beramai-ramai mengunjungi gubuk reyot milik Bidadari kipas perak hanya sekedar ingin mengetahui apakah kabar angin yang berhembus kencang itu benar adanya atau hanya sekedar kabar burung belaka.
Berbeda dengan kalangan rimba persilatan dari aliran putih. Para tokoh kosen dari aliran hitam juga tertarik untuk menculik anak ini dan nantinya akan mereka didik menjadi seorang pendekar kelas Wahid di rimba persilatan ini untuk membantai seluruh golongan putih.
Beberapa kali percobaan penculikan itu berhasil di gagalkan oleh kedua orang tua itu. Tidak jarang juga berakhir dengan kematian bagi tokoh golongan hitam yang nekat mengadu kesaktian demi memenuhi ambisi mereka untuk menculik anak kecil itu.
Seperti hari ini. Seorang tokoh papan atas aliran hitam bernama gagak Rimang atau lebih dikenal dengan julukan setan lembah tengkorak bertekad untuk datang ke kaki gunung sumbing untuk mengadu kesaktian dengan taruhan, jika dia kalah, maka dia akan mati. Sebaliknya, jika dia menang, maka mereka harus merelakan Pangeran Indra untuk di bawa olehnya menuju danau teratai untuk digembleng dan dijadikan murid.
***
Seorang anak kecil berusia lima tahun tampak sedang memegang bulu ayam dan mengendap-endap berjalan dari samping rumah menuju dipan bambu dimana seorang lelaki tua renta sedang tertidur pulas.
Anak kecil yang berkulit putih bersih, memiliki sepasang mata bening, hidung mancung dan berbibir mungil itu menyibakkan rambutnya yang panjang sebahu sambil terus mengendap-endap berjalan setengah jongkok mendekati dipan bambu tersebut.
Begitu dia tiba di samping lelaki yang sedang terlena dibuai mimpi itu, anak kecil itu perlahan memasukkan bulu ayam yang ada di tangannya ke hidung lelaki tua tadi.
"Hasyiim..!"
Terdengar suara bersin dari lelaki tua itu membuat anak kecil itu tertawa mengikik sambil bersembunyi di bawah dipan bambu itu.
"Masih belum bangun juga eyang guru ini?" Kata anak itu lalu kembali berdiri dan memasukkan bulu ayam itu ke telinga orang tua tadi.
"Uh. Gatal sekali kuping ku ini."
Hanya itu saja yang dikatakan oleh lelaki tua itu. Dia menggeser sedikit tubuhnya lalu kembali tertidur.
"Hihihi. Eyang tidur nya seperti lembu. Ngorok terus." Kata anak itu. Kali ini tidak tanggung-tanggung lagi. Dia memasukkan bulu ayam itu ke hidung lelaki tua tadi secara kasar membuat lelaki tua itu langsung terlonjak bangun.
__ADS_1
"Setan! Kurang ajar. Siapa yang menggangu tidur ku hah? Benar-benar mencari penyakit berurusan dengan si Santalaya," kata orang tua yang ternyata eyang Santalaya adanya.
Dia memandang ke kiri dan ke kanan mencari tau siapa yang telah mengganggu mimpi indahnya.
"Siapa itu hah?" Bentak sang kakek.
"Hihihi..." Terdengar suara tawa halus dari bawah dipan bambu itu membuat lelaki tua itu segera meninjau ke bawah.
"Setan alas. Tikus busuk. Kau mengerjai ku hah? Harus di hukum. Jika tidak, hatiku tidak akan puas," kata lelaki tua itu sembari turun dari dipan bambu tempatnya berbaring tadi.
"Hihihi. Kejar saja kalau eyang mampu." Kata anak itu tertawa lalu segera bersembunyi di balik sebatang pohon besar.
"Kurang asam. Kalau dapat ku tangkap, akan aku lambungkan kau tinggi-tinggi di udara biar terkencing-kencing." Kata eyang Santalaya lalu bergegas mengejar Pangeran Indra yang bersembunyi di balik pohon besar itu.
"Kena kau?!" Sergah eyang Santalaya sambil menjenguk kan kepalanya ke arah balik pohon itu.
"Kemari kau Indra! Aku akan menghukum mu!" Kata eyang Santalaya sambil berpura-pura bahwa dia tidak mampu mengejar sang cucu.
"Tangkap saja kalau mampu. Mana ada orang pasrah menerima hukuman." Kata anak itu dengan suara pelo nya dan memonyongkan bibir mungilnya yang menggemaskan itu ke arah sang kakek.
"Kurang asam. Awas kau ya!" Ancam sang kakek lalu kembali mengejar.
"Eyang putri. Tolong aku. Eyang guru mau menghukum ku!" Kata anak itu sambil lari terbirit-birit kemudian memeluk lutut seorang wanita tua yang sedang merebus air di dapur.
"Siapa? Siapa yang berani menghukum mu hah? Akan aku pites kepalanya itu." Kata sang nenek sambil mencak-mencak keluar dari pintu belakang.
Begitu dia melihat eyang Santalaya sedang mengejar ke arah dapur, dia langsung meraih kayu bakar dan langsung menyerang lelaki tua itu dengan jurus-jurus dahsyat.
"Heh. Ampun. Anak itu harus di hukum. Dia menggangu mimpi indah ku bersama bidadari. Tapi bukan bidadari Kipas Perak." Kata lelaki tua itu sambil terus menghindar.
__ADS_1
"Ayo eyang putri. Serang terus. Jangan kasih ampun!" Kata Pangeran Indra sambil berjingkrak-jingkrak dan bertepuk tangan melihat pertarungan itu.
"Dasar tua bangka sialan. Sudah tua tak tau diri. Masih saja memimpikan bertemu dengan bidadari. Makanya kalau berkaca, jangan di air yang keruh!" Kata sang nenek sambil terus menyerang lelaki tua itu.
Tampaknya memang serangan itu hanya serangan bercanda. Tapi akibatnya, banyak juga pohon-pohon sebesar betis orang dewasa berpatahan. Maklumlah, becandaan orang rimba persilatan memang aneh. Walaupun becanda, tetap saja menggunakan tenaga dalam.
"Kau ini galak sekali. Membela murid yang berbuat salah. Pantas saja kau tidak laku. Jadi gadis tua seumur hidup mu." Kata eyang Santalaya sambil terus menghindari serangan.
"Setan alas! Apa kau itu laku heh? Kau juga sampai tua masih bujangan."
"Itu semua karena kau menggantung harapan ku. Dasar pemberi harapan palsu!" Sergah eyang Santalaya sambil terus mengelak dari serangan.
Mereka terus saja bertengkar sambil sesekali berbalas serangan.
Entah karena terlalu asyik bertengkar, sampai-sampai mereka tidak menyadari seorang lelaki berpakaian serba hitam telah berdiri di belakang pangeran Indra sambil tersenyum sinis menyaksikan pertengkaran itu.
Lelaki ini terlihat sangat menyeramkan. Dengan bola mata besar dan seperti ingin melompat keluar dari rongganya. Terdapat juga bekas luka di alis kiri melintang sampai ke hidung dan mulutnya membuat penampilan lelaki tua itu sangat menyeramkan. Dialah seorang tokoh tua aliran hitam bernama gagak Rimang.
Pangeran Indra menyadari ada seseorang yang berdiri dibelakangnya.
Ini dapat dia rasakan ketika ada bayang-bayang orang yang menaunginya dari sinar matahari.
Menoleh ke belakang, bukannya anak ini takut. Malah dia tertawa cengengesan sambil memeluk paha lelaki tua berpakaian serba hitam itu.
Ketika sepasang pasangan tua yang sedang bertengkar itu menyadari bahwa gubuk reyot milik mereka kedatangan tamu yang tak di undang, kedua orang tua itu langsung menghentikan pertengkaran mereka lalu sama-sama menatap ke arah lelaki yang baru tiba itu.
"Gagak Rimang," gumam eyang Santalaya sambil menatap lurus ke depan.
Bersambung...
__ADS_1