
Kokok ayam jantan memecah keheningan pagi yang masih gelap ditingkahi kicauan burung-burung yang berlomba-lomba meninggalkan sarangnya untuk mencari rejeki.
Para petani mulai sibuk mempersiapkan alat-alat serta perbekalan yang akan mereka bawa nanti ke sawah. Sedangkan para pemudanya mulai sibuk mengendalikan hewan ternak mereka untuk digembalakan di padang rumput sambil sesekali menggoda para gadis yang membawa bakul cuciannya menuju ke kali.
Beginilah keadaan di sekitar kota raja kerajaan Galuh ini. Suasananya aman dan damai serta rakyatnya sangat sejahtera.
Seorang lelaki tua memakai pakaian sutra biru tampak berdiri di atas sebuah batu besar sambil memperhatikan saja kesibukan rakyat kerajaan Galuh ini. Sesekali dia tampak tersenyum. Namun, di lain waktu wajahnya tampak berubah murung.
"Oh Tuhan. Hamba memohon semoga kerajaan dan Rakyat hamba ini tetap dalam lindungan-Mu. Tidak tega rasanya hati ini melihat penderitaan mereka andai perang benar-benar meletus. Andai bisa di tukar, biarlah hamba yang menderita asalkan rakyat hamba aman, damai dan sentosa," kata lelaki tua itu sambil memejamkan matanya.
Beberapa orang yang melewati tempat di mana lelaki tua itu berdiri tampak memberi sembah lalu dengan lagak malu-malu melewati lelaki tua itu untuk kembali melakukan kegiatannya.
Siapa lelaki tua berpakaian bagus yang tampak murung di atas batu besar itu?
Dia adalah Gusti Prabu Rakai Galuh. Raja di kerajaan Galuh ini.
Beberapa hari ini fikirannya sering tak tenang memikirkan nasib rakyatnya andai peperangan benar-benar tak dapat dihindarkan lagi.
Bagaimana seorang raja yang mencintai rakyatnya akan bisa tenang jika beberapa kerajaan tetangga telah tumbang satu persatu dan kini pasukan penjajah malah sudah berada di perbatasan dengan kerajaan yang dia pimpin.
Hal ini benar-benar merunsingkan sang Raja. Dia tidak dapat membayangkan penderitaan yang akan dialami oleh rakyatnya. Cukuplah rakyat kerajaan Sri Kemuning yang mengalami penderitaan. Jangan lagi ditambah dengan rakyat kerajaan Galuh ini.
Beberapa hari ini satu persatu masalah membuatnya tidak bisa tidur dengan lena. Tidak selera bersantap, juga merasa bahwa perasaan nya tidak tenang. Hal ini disebabkan oleh berbagai masalah yang belakangan ini sering terjadi.
Di mulai dari kerajaan Setra kencana yang telah runtuh, benteng pertahanan yang masih belum selesai, serta tidak ada kabar berita dari lima prajurit utusannya yang dia utus menemui putri nya yaitu Permaisuri Galuh Cendana di lembah jati.
__ADS_1
Setiap Subuh hingga matahari mulai terbit di ufuk timur, dia akan berdiri di batu besar itu menunggu kalau-kalau ke-lima prajurit yang dia kirim itu akan tiba membawa kabar.
"Sudah lama Larso dan empat bawahannya berangkat meninggalkan kota raja ini menuju ke lembah jati. Sampai saat ini belum juga kembali. Apakah mereka baik-baik saja atau malah bertemu dengan musuh diperjalanan?!" Pikirnya dalam hati.
Sekali lagi Gusti Prabu Rakai Galuh ini menarik nafas panjang.
Baru saja Gusti Prabu Rakai Galuh hendak turun dari sebongkah batu besar tempatnya berdiri itu, dari kejauhan sayup-sayup tampak seorang penunggang kuda yang kini semakin mendekat.
Sang raja lalu mengurungkan niatnya untuk kembali ke istana ketika dia menyipitkan matanya kemudian melihat bahwa lelaki yang terlihat di kejauhan itu mengenakan pakaian seragam prajurit kerajaan Galuh.
Hati sang raja mulai gelisah. Ingin rasanya dia melesat menghampiri si penunggang kuda itu. Namun itu pantang dilakukan oleh seorang raja. Jadi, dia menunggu saja dengan sabar ditempatnya berdiri tadi.
*********
Ketika menyadari siapa yang berdiri di sebongkah batu di pinggir jalan itu, lelaki penunggang kuda itu buru-buru menarik tali kekang kudanya lalu turun kemudian berlutut di tanah.
"Sembah hamba untuk Gusti Prabu," kata lelaki yang baru tiba itu sambil merapatkan dua telapak tangannya di depan kening.
"Apa yang terjadi? Mengapa kau kembali sendirian? Kemana Larso dan ketiga teman mu yang lainnya?" Tanya sang raja sambil sesekali memandang ke arah datangnya prajurit ini tadi. Dengan harapan, ada prajurit yang lainnya menyusul. Ini karena, mereka tadinya berangkat berlima. Tentu saja sang raja merasa heran mengapa yang kembali hanya seorang saja.
"Ampun Gusti Prabu. Kami dicegat oleh prajurit dari Paku Bumi di perbatasan desa Waringin. Kakang Larso menyuruh hamba untuk lari. Hamba tidak tau bagaimana dengan nasib keempat teman hamba yang lainnya," jawab sang prajurit itu dengan masih tetap memberi sembah.
"Apa sebenarnya yang terjadi?" Tanya sang saja.
"Gusti Prabu, begini ceritanya..," kata prajurit itu lalu menceritakan semuanya yang terjadi ketika dia tiba di lembah jati.
__ADS_1
Di mulai dari dia bertemu dengan Permaisuri Galuh Cendana, sampai kepada mereka menyetok persediaan makanan, hancurnya kadipaten Pitulung, kematian Adipati dan Senopati di kadipaten tersebut di tangan pejuang kerajaan Sri Kemuning, kematian Datuk Marah Lelang dan Wikalpa, kembalinya sang Putra Mahkota bersama dengan keris tumbal kemuning lambang sahnya seorang raja menduduki tahta kerajaan Sri Kemuning, dan sampailah kepada mereka dikepung oleh ribuan prajurit dari Paku Bumi.
"Apa? Apakah cucuku masih hidup?" Tanya sang raja seolah tak percaya.
"Benar Tuan ku. Bukankah hanya keturunan dari Sri Baginda Gusti Prabu Perkasa Alam saja yang bisa mencabut keris tumbal kemuning dari warangkanya?" Tanya sang prajurit masih tetap berlutut.
"Apa kau melihat sendiri keris tumbal kemuning itu dicabut dari warangkanya?" Tanya sang Prabu.
"Ampun Gusti Prabu. Hamba secara langsung tidak melihatnya. Hanya saja, Senopati Arya Prana dan sekitar lebih seratusan prajurit pejuang memang melihat dengan mata kepala sendiri ketika keris itu di cabut. Mereka juga berkata bahwa dari keris tersebut keluar bayangan seekor naga berwarna kuning. Ampun Tuanku,"
"Tidak salah lagi. Ternyata cucu ku masiih hidup. Prajurit, siapa namamu?" Tanya sang raja.
"Hamba bernama Larkin, Tuan ku. Adik oleh Larso," jawab prajurit itu.
"Kembali ke istana sekarang! Lalu, persiapkan ribuan prajurit untuk berangkat ke lembah jati. Apa kau masih sanggup untuk melakukan perjalanan kembali ke lembah jati?" Tanya sang raja.
"Hamba, Gusti Prabu. Apakah Gusti Prabu ingin menyerang pasukan pengepung dari Paku Bumi itu?" Tanya Larkin sekedar ingin mengetahui maksud dari rajanya itu.
"Benar. Saat ini Putri dan cucuku sedang dikepung oleh ribuan prajurit dari Paku Bumi. Kali ini aku tidak akan berpikir dua kali lagi. Musnahkan para prajurit pengepung itu!" Titah sang Paduka Gusti Prabu Rakai Galuh sambil berkacak pinggang.
"Sendiko dawuh Gusti Prabu," jawab Larkin.
Kini semangatnya kembali membara. Dia akan berada dalam pasukan yang akan berangkat ke lembah jati untuk menyerang para prajurit yang mengepung hutan di perbatasan desa Waringin itu. Dengan begini, dia akan bisa segera membalas dendam atas pengepungan yang dilakukan oleh prajurit Paku Bumi itu yang berkemungkinan telah membunuh ke empat sahabatnya yang lain.
Bersambung...
__ADS_1