
Matahari kini dengan terik yang seolah-olah ingin membakar jagat membuat orang-orang yang sedang bekerja di sawah dan ladang mereka berfikir dua kali untuk melanjutkan membajak sawah nya.
Banyak diantara mereka yang hanya berdiam diri seperti enggan untuk beranjak meninggalkan dangau yang berada di tengah-tengah sawah. Mereka lebih memilih untuk berdiam diri menunggu matahari sedikit lebih condong ke arah barat.
Mungkin bagi sebagian orang, inilah masanya bagi mereka untuk beristirahat. Namun, hal demikian ini tidak berlaku bagi seorang penunggang kuda. Lelaki berpakaian serba hitam itu tampak terus memacu kuda tunggangan nya meninggalkan sebuah perkampungan menuju ke bagian Utara desa tersebut, tepatnya di hutan bambu yang berjarak hampir tiga mil jaraknya dari desa itu.
Tanpa menghiraukan terik matahari dan kuda tunggangan yang tampak sudah kelelahan, dia terus saja memacu kuda tersebut sambil sesekali berteriak-teriak.
"Heah.., heaaah.., heaaah..,"
"Ayo kuda ku! Kita harus segera tiba di hutan bambu! Jika terlambat, maka perjuangan ini akan sia-sia," bisik lelaki itu sambil merunduk agar perkataannya dapat di dengar oleh kudanya itu.
Seolah-olah mengerti apa yang dikatakan oleh Tuan nya, kuda tersebut semakin mempercepat larinya hingga meninggalkan debu yang mengepul di sepanjang jalan yang dilalui oleh mereka.
__ADS_1
"Nanti ketika kita sudah tiba, kau boleh merumput sepuas mu dan kau boleh minum sebanyak yang kau mau. Saat ini kita memang harus buru-buru. Bertahanlah!" Kata lelaki itu lagi.
Hampir sepenanakan nasi, akhirnya lelaki dan kuda tunggangan nya itu tiba juga di pinggiran hutan bambu yang saat ini sedang dijadikan markas untuk mengatur siasat oleh para prajurit dari kerajaan Galuh.
Beberapa puluh tombak lagi jarak antara si penunggang kuda dan hutan bambu itu, lelaki berpakaian serba hitam itu langsung melompat dengan ringan lalu segera mengempos seluruh ilmu lari cepatnya menuju ke arah seorang pemuda yang saat ini sedang berdiri di sebatang kayu tumbang seperti sedang memikirkan sesuatu.
Pemuda tadi langsung menoleh begitu melihat seseorang yang seperti sedang di kejar setan langsung melesat ke arah dirinya yang sedang menatap jauh lurus ke depan.
Begitu sosok serba hitam tadi mendekat, tampaklah seorang lelaki setengah baya dan langsung menjatuhkan diri berlutut di hadapan pemuda itu dengan nafas ngos-ngosan.
"Celaka, Gusti!"
"Bicarakan secara perlahan. Tarik dulu nafas mu. Kemudian minum ini. Setelah itu baru bicarakan!" Kata pemuda itu sambil memberikan sebuah kendi kecil berisi air kepada lelaki setengah baya yang berpakaian serba hitam itu.
__ADS_1
Setelah selesai menarik nafas dan meneguk air dari kendi yang diberikan oleh pemuda tadi, perlahan lelaki bernama Tumenggung Paksi itu pun mulai menceritakan sesuatu yang dia ketahui dan tampaknya sungguh sangat penting itu.
"Celaka sungguh, Gusti! Ternyata benar lah dugaan hamba,"
"Apa yang celaka, Paman?" Tanya pemuda itu tidak sabaran.
"Benarlah bahwa Pratisara ini adalah pengkhianat. Setelah Gusti mengutus hamba untuk berpura-pura kembali ke kota raja, hamba terus membuntuti Pratisara ini. Ternyata benar bahwa dia berangkat menuju perkemahan pasukan Paku Bumi yang dipimpin oleh Raka Pati. di sana dia di sambut dengan sangat ramah. Bahkan sangat dielu-elukan. Hamba tidak pasti apa yang mereka rencanakan. Namun, setelah Pratisara memasuki perkemahan, tidak sampai sepeminuman teh, Gagak Ireng mulai menarik separuh lebih dari pasukan itu ke arah hutan perbatasan kadipaten Karang Kencana. Hamba menduga mereka ingin memasang perangkap untuk pasukan kita," jelas Tumenggung Paksi kepada pemuda itu.
"Lalu, apa lagi yang paman ketahui?"
"Ampun Gusti, subuh-subuh sekali, Pratisara telah berangkat menuju perkemahan pasukan yang dipimpin oleh Gusti Adipati Rakai langit. Hamba menduga bahwa ini adalah bagian dari rencana mereka untuk menjebak para prajurit yang saat ini di bawah pimpinan Gusti Adipati Rakai langit," kata Tumenggung Paksi menjelaskan.
"Benar-benar celaka,"
__ADS_1
"Paman! Panggil Panglima Rangga dan Senopati Arya Prana! Suruh mereka untuk datang ke sini!" Titah pemuda itu.
"Hamba, Gusti!" Kata Tumenggung Paksi lalu bergegas meninggalkan tempat itu.