
Dua orang penunggang kuda yang tampak saling kejar-kejaran itu tampak dengan kasar menggebah kuda yang mereka tunggangi. Hal ini jelas bahwa mereka sedang menghadapi masalah sehingga seperti di kejar-kejar oleh setan.
Dari cara mereka seperti itu, tampak bahwa mereka baru saja di kejar musuh atau sedang melarikan diri dari gerombolan rampok yang ingin mencelakai mereka.
Ketika dua orang penunggang kuda itu telah jauh melarikan kuda mereka, lalu salah satu dari mereka mulai berseru. "Kakang Larkin. Kau berangkat ke kota raja kerajaan Galuh! Aku akan memasuki hutan lembah jati ini. Apa kau sanggup kakang?" Tanya penunggang kuda yang tidak jauh di belakangnya.
Tampak keadaan kedua orang ini tidak bisa dikatakan baik.
Di pinggang orang yang dipanggil dengan sebutan Larkin tadi, tampak sebatang anak panah masih tertancap di sana. Sedangkan yang satunya lagi, lebih parah.
Di punggung orang ini tampak tiga batang anak panah tertancap dan satu di paha. Beruntung kuda tunggangan mereka tidak terkena anak panah dari musuh. Jika sampai kuda yang tertembak, maka selesailah sudah harapan mereka.
"Aku masih sanggup Dinda. Kau segera temui kanjeng Gusti Permaisuri. Bertahanlah dan sampaikan kepada mereka bahwa jalan masuk ke lembah jati dari perbatasan dewa Waringin telah di kepung oleh para prajurit dari Paku Bumi!" Kata prajurit yang di depan bernama Larkin tadi.
__ADS_1
"Baik Kakang! Kita berpisah di sini!" Kata lelaki yang berada di belakang lalu membelokkan kuda nya memasuki kawasan hutan belantara itu kemudian menerabas masuk ke sembarang arah.
Darah kini semakin banyak menetes keluar dari bekas luka tebasan pedang maupun luka akibat anak panah yang ditembakkan oleh musuh.
Semakin jauh memasuki kawasan hutan, semakin lemah pula keadaan prajurit tadi.
Begitu dia nyaris kehilangan kesadaran dan hanya menelungkup di punggung kudanya, beberapa sosok bayangan hitam tampak meluncur turun dari pohon-pohon besar lalu berusaha untuk menangkap tali kekang kuda prajurit tersebut.
"Katakan! Katakan kepada Gusti Permaisuri dan Gusti Pangeran Indra Mahesa, bahwa jalan menuju keluar dari lembah jati ke desa Waringin telah dikepung oleh ribuan prajurit Paku Bumi!"
Setelah berkata seperti itu, lelaki tadi langsung terkulai.
"Kisanak!"
__ADS_1
"Dia sudah meninggal! Sebaiknya kita bawa jenazahnya untuk dikebumikan sembari melaporkan berita ini kepada junjungan kita!" Kata salah seorang dari mereka.
Mereka lalu memperbaiki posisi lelaki prajurit tadi di atas kuda lalu menuntunnya memasuki kawasan hutan lebih dalam lagi sehingga tibalah mereka di pinggiran dinding tebing pemisah antara perkampungan lembah jati dengan hutan belantara yang selama ini selalu mereka jaga dan dipasangi perangkap.
"Dinda! Kau temui Gusti Wiguna lalu sampaikan berita tentang kematian prajurit ini dan adanya prajurit dari Paku Bumi yang mengepung jalan keluar! Aku sendiri akan melaporkan semua kejadian ini kepada Gusti Permaisuri dan Putra Mahkota. Semoga saja nanti di sana ada Senopati Arya Prana!" Kata lelaki yang menuntun kuda yang ditunggangi oleh prajurit yang telah tewas itu.
"Baik Kakang! Aku akan segera menemui Gusti Wiguna untuk melaporkan semuanya. Mungkin kami juga harus menambah lagi beberapa perangkap dan mengganti beberapa alat jebakan,"
"Baiklah! Kita berpisah di sini," kata laki itu lalu menuntun kuda sang prajurit yang tewas itu mendekati pintu masuk ke perkampungan lembah jati.
Mereka lalu berpisah untuk menjalankan pembagian tugas yang telah mereka sepakati bersama.
Bersambung...
__ADS_1