
Ribuan bahkan puluhan ribu obor dari kejauhan tampak memenuhi jalan dari kadipaten Pitulung menuju ke desa Waringin.
Dari kejauhan, tampak Pangeran Indra Mahesa, Bayu Gatra, Andini dan Gayatri berdiri di atas puncak tebing sambil menyaksikan rombongan itu.
Berbagai macam gejolak timbul di hati mereka menyaksikan keadaan yang tampak tidak menguntungkan itu.
Baru saja mereka ingin membuka mulut untuk mengatakan sesuatu, dari arah hutan tampak serombongan penunggang kuda menghampiri kubu pertahanan yang dibangun oleh orang-orang lembah jati ini sambil berseru.
"Lapooooor!"
Begitu mendengar suara yang datangnya dari penunggang kuda tersebut, pangeran Indra Mahesa dan yang lainnya segera melesat turun dari puncak tebing untuk menemui rombongan yang baru sampai tadi.
Kini, dia melihat bahwa Senopati Arya Prana, Wiguna dan Arya Permadi telah terlebih dahulu berada di tempat itu.
"Gusti, Pangeran!" Kata prajurit itu bergegas turun dari kuda tunggangannya dan langsung berlutut.
"Katakan siapa pemimpin mu dan berita apa yang akan kau laporkan!?" Perintah Pangeran Indra Mahesa.
"Ampun Gusti. Hamba adalah prajurit yang berada di bawah pimpinan Tumenggung Paksi. Beliau memerintahkan hamba untuk segera melaporkan bahwa prajurit dari Paku Bumi telah memasuki kadipaten Gedangan. Jika mereka terus melanjutkan perjalanan, maka dapat dipastikan subuh ini mereka akan tiba di sini. Namun, jika mereka beristirahat di kadipaten Gedangan, maka sore esok mereka akan tiba di jalan lorong bawah tebing!" Kata prajurit itu melaporkan.
Perjalanan dari kadipaten Gedangan menuju ke hutan lembah jati ini sebenarnya bukanlah perjalanan yang terlalu jauh. Bahkan, tidak sampai sehari jika berjalan kaki dan membutuhkan tidak sampai setengah hari jika menunggang kuda. Namun, karena itu adalah pasukan besar, maka waktu yang diperlukan untuk berjalan cepat tidak dapat dilakukan.
Bagi prajurit yang bersenjata lengkap dan baju besi, memang tidak mudah melakukan perjalanan. Selain mereka juga harus mengangkut barang-barang seperti tenda, senjata cadangan, bahan pangan dan lain sebagainya. Itu lah mengapa, bahwa sebuah pasukan akan memerlukan waktu berhari-hari untuk menempuh perjalanan yang jarak tempuhnya tidak lah terlalu jauh menurut orang yang melakukan perjalanan biasa.
Mendengar penjelasan dari prajurit tadi, pangeran Indra hanya manggut-manggut sambil mengurut dagu.
"Sekarang, kumpulkan seluruh prajurit dan penduduk kampung. Waktunya menjemput kemerdekaan!" Kata Pangeran Indra lalu mendahului semuanya untuk berangkat ke perkampungan tersembunyi.
*********
Ribuan orang berpakaian serba hitam tampak berdiri mengelilingi para wanita dan anak-anak yang duduk di halaman rumah besar sambil menghadap ke seorang pemuda yang kini tampak lengkap dengan pakaian perang.
Sebilah pedang dengan gagang kepala rajawali tampak tersandang di bahu pemuda itu. Sedangkan sebilah keris dengan gagang kepala naga terselip diantara ikat pinggang nya.
Baru saja pemuda itu memberikan kata-kata pembakar semangat kepada semua orang yang berada di halaman rumah besar itu.
"Gusti Pangeran! Izinkan kami ibu-ibu dan anak-anak kami untuk menyertai peperangan ini. Bagaimanapun juga, kami ingin untuk turut menyumbang tenaga bagi negri tercinta ini. Tujuh belas tahun kami menantikan saat-saat seperti ini. Saat-saat seorang pewaris tahta yang gagah berani memimpin perjuangan ini merebut kembali haknya yang telah di rampas," kata salah seorang pemuda yang baru beranjak remaja.
"Senopati Arya Prana! Apakah sudah ada pergerakan dari para prajurit dari Paku Bumi itu?" Tanya Pangeran Indra.
"Gusti, sepertinya mereka sedang beristirahat di desa Waringin. Kemungkinan terbesar adalah, besok pagi pasukan itu akan melanjutkan perjalanan," jawab Senopati Arya Prana.
__ADS_1
"Kosongkan seluruh desa ini. Bawa semua orang menuju ke atas tebing,"
"Sendiko dawuh Gusti!" Jawab Senopati Arya Prana.
"Kalian ingin ikut berperang 'kan?" Tanya Pangeran Indra Mahesa sedang suara lantang.
"Benar, Gusti. Mohon perkenankan kami untuk ikut berperang!" Kata mereka.
"Hmmm. Baiklah. Kalian akan disertakan dalam Peperangan ini. Tapi ada satu syarat. Kalian harus di uji terlebih dahulu," kata Pangeran Indra Mahesa sambil meminta kepada Bayu Gatra untuk mendekatkan sebongkah batu seukuran kepala kerbau.
"Barang siapa yang dapat mengangkat bongkahan batu ini, maka dia boleh mengikuti peperangan!" Kata Pangeran Indra Mahesa sambil menunjuk ke arah batu seukuran kepala kerbau tadi.
Kini, satu persatu diantara mereka mulai mempraktekkan mengangkat batu besar itu.
Banyak yang dinyatakan lulus ujian. Namun, tidak jarang juga yang gagal.
Satu hal yang membuat pangeran Indra Mahesa merasa terharu. Walaupun gagal, tapi mereka tidak menyerah.
Mereka lalu berkumpul dan membentuk perkumpulan seramai tiga orang dalam satu kelompok kemudian berkata.
"Gusti, jika seorang diri kami tidak sanggup mengangkat batu itu, maka, dengan bertiga, kami pasti sanggup," kata mereka lalu memperagakan cara mengangkat batu kemudian melemparkannya.
"Tidak ada lagi alasan bagimu untuk menolak mereka," bisik Bayu Gatra ke dekat telinga pangeran Indra Mahesa.
"Baiklah. Aku tidak akan lagi menghalangi kalian. Tapi ingat! Kalian tidak boleh terjun langsung ke medan perang. Kalian hanya diperbolehkan berada di atas tebing saja. Jika melanggar, akan di hukum dengan hukuman berat karena dianggap telah mbalelo terhadap pemimpin," kata pangeran Indra Mahesa memperingatkan.
"Hidup Sri Kemuning!"
"Hidup Putra Mahkota Indra Mahesa!"
"Hidup Rakyat Sri Kemuning!"
Terdengar suara yang sangat bersemangat menggema ke seantero hutan lembah jati itu.
Pangeran Indra Mahesa juga ikut mengepalkan tangannya lalu berbaur bersama seluruh rakyatnya yang mengungsi di lembah jati itu.
"Paman Senopati, Paman Panglima Rangga, Paman Arya Permadi dan Paman Wiguna! Atur semua prajurit kalian dan tempatkan di setiap penjuru. Mari kita sambut kedatangan musuh!"
"Sadewa!"
"Hamba, Gusti Manggala Yuda!"
__ADS_1
"Berangkatlah segera ke lembah jati dengan Prajurit utusan dari Paman Tumenggung Paksi. Katakan kepadanya untuk menutup jalan menuju ke desa Waringin. Setelah seluruh prajurit dari Paku Bumi memasuki lorong tebing, jangan biarkan mereka keluar. Walaupun hanya seorang. Tutup segera jalan itu, sediakan panah berapi sebanyak mungkin!" Kata Pangeran Indra Mahesa memberikan perintah akhir.
"Hamba berangkat, Gusti!"
"Segeralah berangkat! Ambil jalan memutar agar kalian tidak bertemu dengan prajurit Paku Bumi!"
"Sendiko dawuh Gusti Manggala Yuda!" Kata Sadewa lalu segera bergabung dengan prajurit utusan dari Tumenggung Paksi.
Setelah rombongan yang disertai oleh Sadewa berangkat, kini semua orang yang berada di tempat ini pun segera berlari menuju bagian tebing di lembah jati ini.
Masing-masing mereka menempati pos.
Bagi yang merasa dirinya kuat, mereka berlindung di pos pos jaga dengan jumlah tiga orang. Bagi yang sedikit lemah, mereka mulai membuat kelompok seramai sembilan orang agar mereka bisa bergotong royong ketika nanti musuh datang.
Sementara itu, pangeran Indra Mahesa segera mengikatkan tali belati yang terbuat dari serat kulit pohon ke anak panahnya kemudian menembakkan tali tersebut ke seberang dinding tebing bagian depan.
Semua diantara mereka melakukan itu sehingga kini, banyak tali-tali yang saling berhubungan diantara tebing.
"Apakah tali-tali ini nantinya tidak akan membuat mereka curiga?" Tanya Andini kepada Pangeran Indra Mahesa.
"Aku telah mempelajari tentang tebing ini, Dinda. Selain tebing ini yang sangat tinggi, ketika sore hari, matahari akan menghalangi mereka untuk memandang ke atas," jawab Pangeran Indra Mahesa.
"Kalian masing-masing ambil satu tali. Kita akan terbang dengan bantuan tali ini. Aku khawatir jika ilmu meringankan tubuh saja tidak cukup. Setiap satu tali, akan ada sepuluh orang-orang kampung yang akan menjaganya. Ketika mereka mendapat tanda, maka mereka akan segera menarik tali itu," kata Pangeran Indra lagi.
"Sepertinya keseluruhan peta peperangan ini telah kau masukkan ke dalam otak mu, Dinda?!" Kata Bayu Gatra sambil tersenyum.
"Paman Senopati Arya Prana lah yang mengajarkan ku," jawab Pangeran Indra Mahesa membuat Senopati Arya Prana yang berada di sampingnya hanya tersenyum saja.
"Lapor, Gusti! Semua prajurit telah berada di posisi mereka masing-masing!" Kata salah seorang perwira dari pasukan inti yang dipilih oleh Pangeran Indra Mahesa.
"Bagus! Waktunya sudah tiba. Mari kita berjuang!"
"Hidup Sri Kemuning!"
"Hidup Sri Kemuning!"
"Hidup Sri Kemuning!"
Kembali terdengar gema pembangkit semangat dari mereka sebelum masing-masing diantara mereka membubarkan diri menuju ke tempat persembunyian masing-masing.
LIKE NYA JANGAN LUPA!
__ADS_1
Bersambung...