
Kepala Tilik sandi bernama Sadewa itu baru saja akan tiba di luar istana ketika dari arah gerbang pintu masuk ke kota raja kerajaan Galuh ini tampak serombongan prajurit dalam jumlah sekitar seratus orang menggebah kuda mereka menuju ke depan istana lalu berhenti.
Beberapa diantara mereka ada yang hanya merosot saja turun dari kuda lalu tergeletak dengan tubuh luka-luka serta pakaian yang telah berubah bebercak oleh darah.
Melihat ini, Sadewa berhenti tepat di depan pintu. Dia seperti mematung antara ingin keluar atau kembali lagi masuk ke dalam.
Hinggalah pada akhirnya dia memutuskan untuk kembali lagi masuk ke dalam untuk menemui Gusti Prabu Rakai Galuh.
"Gusti Prabu. Celaka sungguh," katanya sambil berlutut.
"Ada apa Sadewa?" Tanya Gusti Prabu Rakai Galuh.
"Para prajurit yang dipimpin oleh Panglima Pratisara, Gusti! Mereka telah kembali dalam keadaan yang sangat mengenaskan," lapor Sadewa.
"Apa?"
"Ampun Gusti. Mereka saat ini ada di luar,"
"Mari! Mari kita ke luar! Aku ingin melihat mereka," kata Gusti Prabu Rakai Galuh lalu segera keluar diiringi oleh yang lainnya.
Begitu mereka tiba di luar, kini tampak lah suatu pemandangan yang sangat mengerikan terhidang di hadapan sang Prabu beserta para rakrian yang lainnya.
Mereka kini melihat hampir seratus orang prajurit telah bersimbah darah di halaman istana itu dengan sebagian lagi ada yang sudah tidak mampu lagi untuk berdiri.
Melihat siapa yang datang, lelaki separuh baya yang dikenal sebagai pemimpin dari pasukan itu menguatkan diri untuk merangkak menghampiri Gusti Prabu Rakai Galuh lalu mengadukan semuanya kepada rajanya itu.
"Gusti Prabu..,"
__ADS_1
"Pratisara! Ada apa? Apa sebenarnya yang telah terjadi?" Tanya Prabu Rakai Galuh sambil berjalan menghampiri panglima perangnya itu.
"Ketewasan, Gusti. Hamba dan pasukan hamba di jebak di jalan menuju kadipaten Karang Kencana," kata Pratisara melaporkan.
"Ini lah sebenarnya yang aku takutkan," kata Pangeran Indra Mahesa pula lalu segera mendekati panglima Pratisara.
"Ambilkan aku secawan air!" Pintanya.
"Hamba Gusti!" Kata Senopati Arya Prana yang langsung menuangkan air ke dalam cawan yang terbuat dari perak.
"Kau jangan terlalu banyak berbicara dulu Pratisara! Aku akan mengobati mu!" Kata pangeran Indra Mahesa lalu kembali berteriak. "Apakah kalian semua akan jadi penonton? Lekaslah bantu yang lainnya!" Bentak nya kepada orang-orang yang berdiri di belakang Gusti Prabu Rakai Galuh.
Seperti terhipnotis, mereka langsung berserabutan ke segala arah untuk membantu para prajurit. Tidak terkecuali Gusti Prabu Kerta Rajasa.
Pangeran Indra Mahesa kembali berjongkok lalu mengambil sebutir pil sebesar ujung kelingking dari dalam sabuk ikat pinggang nya.
Setelah itu, Pangeran Indra langsung menjepit sebutir pil itu hingga berubah menjadi serbuk lalu mencampurkan ke dalam air tadi.
"Terimakasih kisanak. Siapakah kisanak yang baik hati ini?" Tanya Pratisara setelah selesai meminum obat yang diberikan oleh pangeran Indra Mahesa tadi.
"Bagaimana rasanya? Apakah kau sudah merasa sedikit lebih baik?" Tanya Pangeran Indra tanpa menjawab pertanyaan dari Pratisara tadi.
"Obat yang Kisanak berikan sungguh manjur. Aku merasa lebih baik sekarang," jawab Panglima Pratisara. Dia lalu memandang berkeliling. Saat itulah dia baru menyadari bahwa diantara mereka ada Gusti Permaisuri Galuh Cendana, Senopati Arya Prana, Panglima Rangga, Tumenggung Paksi dan yang lainnya.
Melihat ada banyak orang dari kerajaan Sri Kemuning yang berada di depannya, kini dia baru menyadari siapa pemuda yang menolongnya tadi.
"Apakah hamba sedang berhadapan dengan Gusti Pangeran Indra Mahesa?" Tanya nya sambil beringsut mundur untuk memberi sembah.
__ADS_1
"Lupakan dulu segala peradatan. Aku akan membantu menyalurkan hawa murni ke dalam tubuh mu. Ingat, Pratisara! Jangan kau lawan dengan tenaga dalam yang kau miliki! Atau kau akan mati?!" Kata pangeran Indra lalu bangkit berdiri.
Dengan sebelah tangan kirinya menggenggam keris tumbal kemuning, dia lalu menempelkan tangan kanannya tepat di atas kepala Pratisara.
Perlahan namun pasti, dari kepala yang ditempeli telapak tangan kanan sang pangeran itu kini mengepul uap tipis yang semakin lama berubah menjadi kepulan asap putih kehitaman.
Tubuh Panglima Pratisara kini menggigil seperti orang terserang demam dengan keringat bercampur darah mulai membasahi pakaiannya.
Anehnya, beberapa luka kecil di tubuh panglima perang kerajaan Galuh itu kini kembali bertaut seperti tidak pernah mengalami tergores sesuatu. Namun untuk luka yang parah, mungkin butuh perawatan yang lama agar sembuh. Hanya saja, ini jauh lebih baik daripada tadi.
Lama juga kejadian ini berlaku sehingga pada puncaknya, Panglima Pratisara menyemburkan darah segar dari mulutnya. Barulah pangeran Indra Mahesa berhenti menyalurkan hawa murni melalui kepala Pratisara.
"Bawa dia ke dalam. Jangan tanyakan apa-apa kepadanya! Nanti setelah dia memulihkan keadaannya, kita akan membahas masalah ini lebih lanjut!"
Perintah dari Pangeran Indra Mahesa ini segera dituruti oleh abdi dalem di keraton itu.
"Pratisara! Segera lepaskan beban mu. Bersemedi lah agar kekuatan mu pulih!" Kata pangeran Indra bergegas melangkah menuju ke arah yang lainnya tanpa memperdulikan jawaban dari Pratisara.
"Mari Pratisara! Aku akan membantu mu!" Kata Senopati Arya Prana lalu segera memapah tubuh panglima perang kerajaan Galuh ini untuk menuju tempat istirahat.
"Kakang Senopati. Apakah benar dia adalah Putra Mahkota Indra Mahesa?" Tanya Pratisara.
"Kau tidak salah, Pratisara!" Jawab sang Senopati.
"Gila sungguh. Tenaga dalam yang dia miliki sangat mengerikan," kata Pratisara.
"Kau tau siapa gurunya? Dahulu, Junjungan ku itu pernah mendapat pemindahan tenaga dalam dari paman Patih sepuh Ireng sebelum meninggal. Untuk saat ini, kalau urusan tenaga dalam, tenaga mu, tenaga milikku dipadu dengan milik Rangga dan Paksi belum ada se-kuku hitam milik junjungan kami itu. Dia sejak kecil sudah di gembleng oleh Eyang Santalaya dan Bidadari kipas perak. Inikan lagi di pinggang nya ada keris tumbal kemuning. Dapat kau bayangkan betapa cerahnya perjuangan kita ini nantinya?!"
__ADS_1
"Benarkah begitu Kakang?" Tanya Panglima Pratisara merasa takjub.
"Kita lihat saja nanti setelah harinya tiba," jawab Senopati Arya Prana.