Pangeran Tanpa Mahkota

Pangeran Tanpa Mahkota
Kedatangan Pangeran Indra bersama Gayatri


__ADS_3

Panglima Pratisara kini berjalan sambil menyeret pedangnya di tanah berdebu itu.


Sesekali terlihat percikan bunga api ketika mata pedang yang diseret itu mengenai batu-batu kecil yang terdapat di gelanggang pertarungan itu.


Dengan lagak angkuh, dia melangkahi tubuh prajurit bawahan Sadewa yang sudah tidak bernyawa lagi.


"Malang sungguh nasib mu, Larkin. Aku bahkan telah melupakan mu. Tapi kau pandai mendekatkan diri dengan kematian. Baiklah! Aku akan mengakhiri hidup mu supaya tidak ada lagi yang dapat membongkar kedok ku," kata Panglima Pratisara sambil menyeringai jelek.


"Cuih..! Anjing Paku Bumi. Tidak ku sangka ternyata Gusti Prabu Rakai Galuh selama ini memelihara serigala berbulu babi. Kau ternyata adalah murid dari Datuk Hitam. Aku mengenal ajian tapak Ireng yang kau keluarkan tadi. Hanya Datuk Hitam dan Gagak Ireng yang memiliki ajian itu. Karena mereka adalah guru dan murid. Terakhir aku baru mendengar bahwa Jaya Pradana juga memiliki ajian itu. Kau sungguh tercela, Pratisara!" Kata Larkin sambil berusaha untuk duduk.


"Memaki lah sepuas mu, Larkin! Sebentar lagi malaikat maut akan menjemput mu melalui perantaraan tangan ku. Hahaha. Kau akan menyusul Larso ke alam kematian. Kau tau?! aku lah yang membocorkan keberangkatan kalian ke lembah jati. Dan aku pula yang mengutus orang-orang dari Paku Bumi untuk mencegat kalian. Aku juga yang meminta kepada Raka Pati untuk melepaskan salah seorang dari kalian untuk memberi kabar kepada Gusti Prabu Rakai Galuh. Kau tau betapa pandai nya aku menjerumuskan mu? Itu semua adalah rencana ku. Hahahaha..,"


"Terkutuk kau Pratisara. Kau menggigit tangan Tuan yang memberimu makan. Binatang buas pun tidak akan menerkam Tuan nya. Tapi kau melebihi binatang," teriak Larkin berang.


"Memaki lah sepuas mu. Aku yang membiarkan kau berumur panjang ketika itu. Kini, aku pula yang akan mencabut nyawa dari tubuh mu yang tertunda,"


"Sekarang, terimalah kematian mu!" Kata Pratisara sambil mengayunkan pedangnya.


Wuzzz....


Saat ini Larkin sudah memejamkan matanya menanti pedang yang ditebaskan oleh Pratisara hinggap di lehernya.


Tink!


Benarlah kata pepatah. Sebelum ajal, berpantang mati.

__ADS_1


Sedikit lagi mata pedang Panglima Pratisara menebas leher Larkin, sebutir kerikil melesat menghantam bilah pedang milik Panglima Pratisara hingga terlepas dari genggaman tangannya.


"Kurang ajar! Siapa yang berani ikut campur dalam urusanku ini?" Teriak Panglima Pratisara sambil membalikkan badannya mencari arah datangnya lemparan batu kerikil yang dialiri tenaga dalam tadi sehingga dia urung membunuh Larkin.


Begitu dia berbalik, kini dia melihat seluruh prajurit sudah jatuh berlutut di tanah dengan kepala tertunduk.


Kini di depan para prajurit itu, terlihat tujuh orang penunggang kuda. Mereka adalah Pangeran Indra Mahesa, Gayatri, serta Lima bersaudara dari Banten yang berbaris dibelakang sang Pangeran.


"Gu-gu.., Gusti Pangeran?!" Kata Panglima Pratisara dengan tubuh bergetar.


Pangeran Indra yang masih duduk di atas panggung kudanya hanya tersenyum saja sambil memperhatikan ke arah Pratisara. Namun, senyuman itu sangat sulit untuk diartikan.


"Kau mengkhianati kepercayaan ku, Pratisara?" Tanya Pangeran Indra Mahesa sambil masih terus tersenyum.


"Gusti. Hamba telah menangkap pengkhianat ini!" Jawab Pratisara sambil menunjuk ke arah Larkin.


Memang perbuatannya ini sangat disukai oleh Pratisara. Seolah-olah Pangeran Indra Mahesa saat ini sedang termakan oleh ucapannya dan hendak menghukum Larkin. Namun, yang tidak dia ketahui adalah, pangeran Indra Mahesa ingin menjauhkan antara Larkin dan dirinya agar Larkin tidak terkena serangan mendadak dari Pratisara.


"Pratisara. Apa kau mengira bahwa aku ini bodoh? Bukan hanya Larkin yang membuntuti mu. Di belakang mu juga ada Tumenggung Paksi yang menyaksikan langsung bahwa kau memasuki tenda milik Raka Pati. Kau masih mau memungkirinya, Pratisara?" Tanya Pangeran Indra. Kali ini dia tidak lagi duduk di punggung kudanya. Melainkan berjalan ke arah samping lalu memungut pedang milik Pratisara yang terpental akibat lembaran batu kerikil yang dia lepaskan tadi.


"Ampun Gusti. Hamba tidak berani," kata Pratisara sambil jatuh berlutut.


"Ini pedang mu. Aku memberimu kesempatan untuk membela diri dan mati secara terhormat!" Kata Pangeran Indra Mahesa sambil melemparkan pedang milik Panglima Pratisara yang langsung menancap di dekat kakinya.


"Sialan. Bangsat ingusan ini ternyata lebih pintar dari yang aku bayangkan!" Batin Pratisara dalam hati.

__ADS_1


"Kepalang basah, biarkan aku menyelam sekalian."


"Kakang! Tidak perlu berbasa-basi lagi dengan pengkhianat ini! Aku muak melihat tampangnya yang pandai bersandiwara itu," kata Gayatri yang terkenal dengan gayanya yang grusak-grusuk itu.


Dengan sangat ringan sekali, Gayatri melompat dari punggung kuda tunggangannya lalu segera menghampiri Pratisara.


"Hahaha. Ternyata aku tidak perlu lagi harus berpura-pura. Baiklah. Siapa diantara kalian yang ingin maju terlebih dahulu?" Kata Pratisara yang kini tidak bisa lagi menghindar.


Dia kini merasa kalau sudah ditelanjangi didepan lebih dari tujuh ribu pasukan yang dahulunya berada di bawah perintahnya.


"Ampun Gusti Pangeran. Izinkan kami untuk membekuk pengkhianat ini!" Kata Ujang Wardi yang sejak tadi sangat muak dengan kepura-puraan Pratisara ini.


"Kakang. Aku saja ya!" Rengek Gayatri dengan manja. Namun, dia berubah seperti induk singa ketika menatap ke arah Pratisara yang kini telah menggenggam gagang pedangnya yang dilemparkan oleh Pangeran Indra Mahesa tadi.


"Dia bukan lawan kalian. Aku pernah mendengar nama Datuk Hitam dari eyang guru," kata Pangeran Indra Mahesa sambil tersenyum kepada Gayatri dan ke-lima bersaudara dari Banten tanpa maksud meremehkan.


"Datuk Hitam?" Kata mereka serentak.


Siapa yang tidak pernah mendengar nama dedengkot aliran hitam itu. Dia dalah Datuk dari segala Datuk kejahatan di rimba persilatan dan menjadi momok paling menakutkan bagi golongan putih.


"Darimana kakang tau bahwa dia memiliki hubungan dengan Datuk Hitam?" Tanya Gayatri heran.


"Aku mendengar semua yang dia bicarakan dengan Larkin tadi dengan menggunakan ajian Pembeda gerak dan nadi," jawab Pangeran Indra Mahesa.


"Sekarang, Pratisara!" Bentak Pangeran Indra dengan maksud menyuruh panglima yang berkhianat itu untuk mempersiapkan diri.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2