
Matahari telah condong ke arah barat ketika rombongan penunggang kuda yang berjumlah sekitar lima orang itu melintasi jalan setapak menuju ke lembah jati yang terletak berbatasan langsung dengan tiga kerajaan.
Jika diperhatikan, ke-lima penunggang kuda tersebut tampak memakai pakaian seragam prajurit kerajaan Galuh.
Memang ke-lima lelaki penunggang kuda itu, adalah para prajurit kerajaan Galuh adanya. Mereka mendapatkan tugas untuk membawa pesan kepada permaisuri Galuh Cendana yang menetap bersama sisa pasukan yang masih setia bersembunyi di hutan lembah jati ini.
"Kita sudah hampir sampai di kawasan lembah jati. Jangan ada yang yang mendahului ku! Hutan ini penuh dengan jebakan," kata ketua dari rombongan itu memperingatkan.
"Kakang Larso. Apakah mereka akan mempercayai bahwa kita ini adalah utusan dari kerajaan Galuh?" Tanya salah seorang dari keempat prajurit yang berada di belakang ketua rombongan bernama Larso tadi.
"Mereka pasti percaya. Tumenggung Paksi adalah sahabat kecil ku. Tidak mungkin dia tidak mengenaliku lagi," kata Larso sambil menggebah punggung kudanya perlahan membuat kuda tunggangan nya itu hanya berjalan santai saja memasuki kawasan hutan.
Baru beberapa langkah mereka memasuki kawasan itu, kini dari arah atas cabang di setiap pohon sekeliling mereka, terlihat bayangan hitam muluruk turun seperti gasing lalu dalam sekejap saja tampak sekitar dua puluh orang berpakaian serba hitam dengan masing-masing membawa pedang mengelilingi rombongan penunggang kuda seramai lima orang itu.
"Sebutkan dari mana asal kalian! Dan, apa tujuan kalian memasuki hutan larangan ini?!" Kata salah seorang dari dua puluh orang yang berpakaian serba hitam ala ninja itu.
"Nama ku adalah Larso. Dan mereka yang berkuda di belakang ku ini adalah anak buahku. Kami dari kerajaan Galuh. Mendapat perhatian dari Gusti Prabu Rakai Galuh untuk membawakan pesan kepada Gusti Permaisuri Galuh Cendana di lembah jati ini," kata Larso menjawab pertanyaan dari orang berpakaian serba hitam tadi.
Sebenarnya mereka sudah tau para prajurit ini berasal dari mana. Ini karena dari seragam nya saja, dapat dipastikan bahwa mereka berasal dari kerajaan Galuh. Hanya saja, untuk menjamin bahwa tidak ada mata-mata yang sengaja di kirim, mereka harus lebih berhati-hati.
"Pesan apa yang kau bawa, Prajurit?" Tanya orang berpakaian hitam itu.
__ADS_1
"Maaf kisanak. Aku tidak bisa memberitahukan kepada mu. Perintah ini dari Raja ku dan tugas ku adalah menjunjung amanah dari Raja ku, walaupun nyawa taruhannya," jawab Prajurit bernama Larso itu dengan tegas.
"Hmmm... Baiklah. Tapi, jika kau berdusta, aku pastikan akan memenggal kepala mu!" Kata lelaki itu lalu segera memimpin semuanya mengikuti jalan setapak yang berliku-liku.
"Sebaiknya kuda-kuda milik kalian ditambatkan di sini saja. Kalian tidak perlu khawatir dengan kuda milik kalian ini. Akan ada yang mengurusnya,"
"Terimakasih Kisanak!" Kata Larso. Lalu mereka pun turun dari kuda masing-masing kemudian menambatkan tali kekang kuda tersebut di salah satu pohon yang berada di dekatnya.
Setelah mereka berjalan selama sepenanakan nasi, kini mereka tiba di sebuah dinding tebing laksana benteng raksasa yang memanjang membatasi antara hutan dan kawasan lainnya.
Dengan menutup mata kelima prajurit yang mengaku dari kerajaan Galuh ini, kini mereka pun melanjutkan perjalanan kembali.
Tanpa menunggu lama, orang berpakaian hitam yang paling depan menekan sebuah batu yang menonjol di sekitar dinding tebing itu lalu kini tampak bunyi berderak yang berasal dari sebuah pintu batu yang mulai kerkuak.
Sambil memindahkan semak-semak belukar ciptaan mereka untuk mengelabui penglihatan dari pintu di tebing tersebut, kini satu persatu mereka mulai memapah ke lima prajurit yang tertutup matanya itu untuk memasuki pintu yang ternyata di dalamnya adalah sebuah lorong panjang mendaki.
Mereka terus menelusuri lorong tersebut hingga tiba lah mereka di sebuah ruangan yang sangat luas dengan diterangi oleh beberapa obor dengan berbagai bentuk dan ukuran.
Di ruangan ini, kini tampak ada puluhan lorong lagi. Namun lorong-lorong ini adalah jebakan. Andai salah dalam memilih jalan, maka tubuhnya akan terpanggang atau tertancap oleh senjata rahasia dari jebakan yang mereka pasang.
Tidak mudah bagi mereka yang tidak biasa untuk memasuki ruangan ini. Hal ini karena di sepanjang jalan tadi juga ada banyak cabang lorong palsu untuk mengelabui andai ada pasukan dari Paku Bumi datang menyerang.
__ADS_1
*********
Setelah tiba di ruangan yang penuh dengan peti-peti penyimpanan itu, mereka kini mengambil jalan ke kanan lalu terus saja berjalan mengikuti lorong itu kemudian kini tibalah mereka di pinggiran perkampungan yang sangat ramai sekali penduduknya.
Perkampungan ini sudah seperti sebuah kadipaten saja layaknya. Ini karena, banyak warganya adalah penduduk dari desa-desa di sekitar kadipaten Gedangan yang melarikan diri meninggalkan desa mereka karena tidak tahan atas siksaan yang dilakukan oleh prajurit Paku Bumi.
Setelah penutup kepala dan mata para prajurit itu di buka, kini dia seolah-olah tidak percaya telah berada di sebuah perkampungan yang sangat besar layaknya sebuah kadipaten.
"Kau heran Prajurit?" Tanya lelaki berpakaian hitam itu.
"Ya. Aku sangat heran. Bagaimana mungkin di hutan berhantu ini ada sebuah perkampungan yang sangat besar dan ramai? Padahal dulu, tidak seorang pun dari rakyat kerajaan Galuh yang sudi membuka lahan di sini. Sungguh aku tidak menyangka," ucap sang prajurit dengan takjub.
"Perkampungan ini adalah perkampungan pejuang. Mereka yang mendambakan kemerdekaan dari penjajah akan terus berada di sini menghimpun kekuatan untuk berbalik menggulingkan pemerintahan yang tidak sah yaitu Jaya Pradana,"
"Sekarang mari kita menuju ke rumah besar di sana itu. Aku akan membawamu menemui Gusti Senopati Arya Prana,"
"Baiklah. Mari silahkan!"
Mereka pun lalu berjalan bersama menuju ke salah satu rumah yang tidak terlalu besar. Menurutnya, mungkin itu lah rumah orang yang bernama Senopati Arya Prana itu.
Bersambung...
__ADS_1