
Kedua orang beda usia ini kini mulai saling mengatur langkah mengitari arena pertarungan dengan pengembangan jurus-jurus dasar ilmu silat masing-masing.
Sementara itu, Pangeran Indra Mahesa mulai berjingkrak-jingkrak seperti seekor monyet yang kebakaran ekor dengan sesekali dari mulutnya keluar pekikan ha hi hu ha hi hu yang membuat Datuk Marah Lelang berhenti lalu bertanya. "Anak muda, ada hubungan apa antara kau dan si jahanam Santalaya itu?"
"Jaga mulut busuk mu itu, orang tua! Berani menghina guru ku, ku Lelang kepala mu!" Bentak Pangeran Indra Mahesa sambil terus melompat-lompat dengan posisi setengah jongkok.
"Kurang ajar. Berarti kau adalah muridnya si Santalaya itu. Kebetulan sekali. Aku akan membunuh mu dan mengirimkan mayat mu kepada tua bangka itu di lembah bangkai." Kata Datuk Marah Lelang dengan geram.
"Lembah bangkai?!" Kata Senopati Arya Prana sambil memandang ke arah Panglima Rangga.
"Lembah bangkai, Kakang," kata Panglima Rangga pula.
Namun kedua orang ini tidak lagi sempat berbicara banyak tentang lembah bangkai itu. Karena, pertarungan antara Pangeran Indra Mahesa melawan Datuk Marah Lelang telah pun di mulai.
"Lihat tangan!" Bentak Datuk Marah Lelang sambil mengirimkan serangan dengan posisi jari membentuk cakar.
"Uts..," kata Pangeran Indra sambil melakukan gerakan limbung. Namun, berhasil menghindari serangan tersebut.
Saat ini dia menggunakan jurus langkah sakti untuk menjajaki seberapa tinggi tingkat ilmu silat yang dimiliki oleh lawannya kali ini.
Jurus ini bukanlah jurus yang menitik beratkan pada serangan. Melainkan, gaya bertahan yang terkesan urakan dan sembarangan. Kadang seperti orang mabuk. Terkadang seperti seekor monyet yang melompat-lompat. Terkadang nyelonong ke depan. Tapi, ketika di serang, cepat berkelit bahkan sengaja menyodorkan kepalanya seperti orang minta di jotos.
"Kurang ajar!" Geram Datuk Marah Lelang karena telah lima jurus berlalu, tidak satupun serangannya yang menemui sasaran.
Pertarungan yang mendebarkan ini berulang kali membuat semua orang yang melihat terpaksa menahan nafas. Ini karena mereka melihat bahwa Pangeran Indra sama sekali bukan seperti pesilat yang pandai bertarung.
Tapi yang mengherankan adalah, mengapa tidak satupun serangan tersebut mengenai tubuhnya?
__ADS_1
"Apa kau perlu istirahat, Orang tua?" Tanya Pangeran Indra mengejek untuk memancing emosi lawannya.
"Kurang asam sekali kau. Ku bunuh kau!" Bentak lelaki tua itu semakin bertambah kalap.
Kini dia mundur beberapa langkah lalu mengibas-ngibaskan tangannya turun naik antara pinggang sampai ke dada.
Tiba-tiba asap putih tipis mengepul dari kedua telapak tangan itu yang semakin lama semakin tebal.
"Ajian tapak beracun?!" Bisik Tumenggung Paksi.
"Celaka. Pemuda itu bisa tewas jika masih terus bermain-main dengan Datuk Marah Lelang ini," kata Panglima Rangga mengemukakan kekhawatirannya.
Melihat lawan sudah mengeluarkan ajian, Pangeran Indra kini tidak bermain-main lagi.
Sejenak dia merafalkan mantra lalu menekuk sebelah kakinya ke tanah dengan jari terkepal teracung ke atas. Setelah beberapa saat, dia meninjukan kepalan tangannya ke tanah sambil berteriak..,
"Lebur Wesi...!"
"Aaaaa...!"
Grusak!
Bugh!
Terdengar dentuman keras ketika kedua pukulan jarak jauh itu bertemu di pertengahan antara Datuk Marah Lelang dan Pangeran Indra Mahesa yang menyebabkan terpental nya dua sosok tubuh ke arah yang berlawanan disertai teriakan.
Tampak pangeran Indra jatuh bergulingan di tanah dengan darah mengalir dari sudut bibirnya.
__ADS_1
Melihat pemuda pujaan hatinya itu dalam keadaan terluka, Gayatri pun bergegas menghampiri dengan maksud hendak menolong. Tapi keburu di cegah oleh Pangeran Indra.
"Jangan sentuh. Pukulan yang dilepaskan oleh orang tua itu mengandung racun yang sangat ganas. Tutup saluran pernafasan mu. Lalu, pindahkan ke perut!" Kata Pangeran Indra melarang Gayatri untuk membantunya.
Sementara itu, keadaan Datuk Marah Lelang juga tidak lebih baik.
Orang tua ini segera duduk bersila untuk mengatur pernafasan dan aliran darahnya yang kacau balau ketika bentrokan tadi terjadi.
"Kuat sekali tenaga dalam anak ini," pikirnya dalam hati.
Dia kembali bangkit berdiri ketika dilihatnya pangeran Indra sama sekali tidak terpengaruh dengan ajian Tapak Beracun yang dia lepaskan tadi.
"Bagaimana orang tua? Apakah kau butuh istirahat? Aku akan memanggilkan tukang urut untuk mu!" Kata Pangeran Indra yang kembali membuat darah tinggi lelaki tua itu naik sampai ke ubun-ubun.
"Setan alas! Kau terlalu bangga, Anak muda. Sekarang terimalah ajian ku selanjutnya!" Kata Datuk Marah Lelang sambil membuat gerakan seperti sekor harimau.
Orang tua ini kini setengah merangkak sambil mencakar-cakar tanah.
Aneh, karena bekas dari cakaran lelaki tua itu selalu mengepulkan asap hitam yang terus mengepul tanpa henti.
Sementara itu pangeran Indra juga telah mengeluarkan ajian tapak suci yang dia pelajari dari Bidadari kipas perak, dan siap menyambut serangan dari lelaki tua bernama Datuk Marah Lelang itu.
"Terimalah ajian Cakar Maut ku ini!" Teriak Datuk Marah Lelang lalu melesat ke depan sambil mendorong kan kedua telapak tangannya.
"Tapak suci...!" Bentak Pangeran Indra menyambut serangan dari Datuk Marah Lelang ini.
Sekali lagi ledakan keras terjadi membuat kedua sosok tubuh kembali terpental deras ke arah yang berlawanan.
__ADS_1
Kali ini lesatan tubuh kedua orang itu semakin deras sehingga mengakibatkan apa saja yang tertabrak oleh tubuh mereka menjadi hancur.
Bersambung...