Pangeran Tanpa Mahkota

Pangeran Tanpa Mahkota
Kenekatan kedua Putri


__ADS_3

~Pintu gerbang benteng istana bagian Timur~


...***...


Sepasang muda mudi tampak duduk dengan gelisah menunggu kedatangan orang yang sejak tadi belum terlihat batang hidungnya.


Sesekali, tampak pemuda itu menghela nafas berat dan mulai mengomel.


"Lambat sekali Sadewa ini. Jarak dari Istana ke gerbang kota ini bukanlah jauh. Tapi mengapa begitu lama?" Kata pemuda itu menumpahkan kekesalannya.


"Sabar lah Kakang! Mungkin Sadewa saat ini sedang mempersiapkan segala sesuatunya untuk keberangkatan kali ini," pujuk sang gadis yang berada di atas punggung kuda di samping pemuda itu.

__ADS_1


Beberapa orang yang lalu lalang di depan mereka berdua tampak membungkukkan badan mereka dengan sangat hormat yang dibalas dengan anggukan dan senyum terpaksa dari pemuda itu.


"Dinda, Gayatri! Apakah kita harus menunggu Sadewa ini atau kita berangkat saja duluan meninggalkan nya? Kita biarkan saja dia menyusul kita ke lembah jati," kata pemuda itu mengusulkan.


"Kakang, Indra.., Sadewa mana tau jalan menuju ke perkampungan tersembunyi di dalam hutan lembah jati itu. Yang ada nanti dia disangka mata-mata oleh prajurit hitam yang berada di sana. Bisa berbahaya bagi keselamatannya,"


"Di saat-saat genting seperti ini, ada saja masalah. Apa mereka kira kita ini ingin berangkat bersenang-senang? Huhf!" Kata pemuda itu menghempaskan nafas berat.


Sontak pemuda itu memaki di dalam hatinya begitu mengetahui siapa kedua wanita yang bersama dengan lelaki yang tidak lain adalah Sadewa, prajurit tilik sandi yang dia tunggu kedatangannya sejak tadi.


"Oh Tuhan.., musibah apa lagi yang Engkau timpakan kepada hamba?" Kata pemuda itu sambil mendongak menatap langit.

__ADS_1


Sementara itu, gadis yang berada di sampingnya juga tampak berubah ekspresi wajah nya ketika melihat dua wanita dengan yang satu mengenakan pakaian serba putih, dan yang satunya lagi mengenakan pakaian biru tua.


Dia sangat kenal dengan mereka. Yang berpakaian putih adalah Putri Melur, sedangkan yang berpakaian warna biru tua adalah Sekar Mayang.


Lelaki yang berada di tengah yang diapit oleh kedua wanita tadi langsung melompat turun dari kudanya lalu segera berlutut di depan pemuda itu sambil berkata, "ampuh Gusti Pangeran. Hamba terlambat. Ini karena, kedua putri ini memaksa hamba untuk mengikutsertakan mereka. Gusti Prabu juga tidak dapat berkata apa-apa lagi. Mereka menyerahkan tanggung jawab keselamatan kedua Putri ini kepada Gusti!" Kata Sadewa sambil mengatupkan kedua tangannya di depan hidung.


"Lalu, kau menyetujui nya? Bodohnya kau ini Sadewa. Sudah tau begitu, mengapa kau menunggu saja dengan pasrah?"


"Dan, kalian berdua..! Apa kalian kira aku ini sedang berangkat menuju ke suatu tempat yang menyenangkan dan dihiasi oleh taman bunga? Kalian tau kalau keberangkatan ku ini menuju medan tempur. Mengapa begitu memaksakan kehendak?" Tegur sang Pangeran.


Tidak ada yang berani mengangkat kepala ketika pangeran Indra Mahesa berucap. Tapi meskipun demikian, Putri Melur dan Sekar Mayang tetap teguh pada pendiriannya bahwa mereka harus tetap mengikuti kemanapun sang Pangeran pergi. Mereka tidak ingin membiarkan Gayatri merasa nyaman tanpa adanya saingan di sisi pangeran Indra Mahesa.

__ADS_1


__ADS_2