Pangeran Tanpa Mahkota

Pangeran Tanpa Mahkota
Memboyong Permaisuri ke kerajaan Galuh


__ADS_3

"Pangeran.., hamba ingin melaporkan bahwa prajurit dari Paku Bumi yang mengepung perbatasan antara desa Waringin dan lembah jati ini sudah tidak berada lagi di tempat mereka. Hamba menduga mereka baru saja meninggalkan tempat mereka, Gusti. Ini karena hamba mendapati bekas api unggun masih lagi hangat," Jelas seorang lelaki berpakaian hitam tiba-tiba datang dengan nafas tersengal-sengal dan kemudian melaporkan kepada pangeran Indra Mahesa yang ketika itu sedang duduk-duduk membahas sesuatu dengan para bawahannya.


"Sunardi.., apa kau yakin dan sudah memastikan bahwa tidak satupun dari mereka yang tinggal di perbatasan itu?" Tanya Senopati Arya Prana.


"Benar Gusti Senopati. Hamba melihat mereka pergi meninggalkan perbatasan kampung dengan cara bertahap dan sembunyi-sembunyi. Andai mereka masih berada di sana, sudah pasti hamba tidak akan kembali lagi ke sini dalam keadaan hidup," jawab lelaki bernama Sunardi itu.


Mendengar jawaban prajurit pengintai ini, Pangeran Indra Mahesa, Senopati Arya Prana dan yang lainnya termasuk Bayu Gatra hanya saling pandang saja.


"Tuan ku. Benar sungguh dugaan Gusti. Ini semua ternyata hanya siasat mereka. Sambil menyelam minum air," kata Senopati Arya Prana dengan wajah berubah pucat.


Pangeran Indra Mahesa tampak gelisah menerima laporan ini. Sudah banyak sekali yang dia korbankan demi melepaskan diri dari kepungan para prajurit Paku Bumi. Termasuk membuat jalan baru yang sudah selesai sepenuhnya. Namun, itu sama sekali tidak berguna.


"Paman Senopati. Aku ingin kau menempatkan seratus orang prajurit pilihan yang bisa menyamar. Sebarkan mereka di setiap satu mil dan di setiap desa. Di mulai dari jebakan lorong jalan di bawah tebing, sampai ke kota raja kerajaan Sri Kemuning!"


"Ampun Gusti Pangeran. Untuk apa semua itu?" Tanya Senopati Arya Prana.


"Kau tentu tidak ingin pekerjaan mu membuat jebakan itu sia-sia saja bukan? Aku punya rencana untuk menarik mereka melewati jalan itu menuju ke kerajaan Galuh," jawab Pangeran Indra Mahesa.


"Bagaimana cara nya Gusti?"


"Nanti kalian akan tau. Sekarang, kau pilih seratus orang dan segera sebarkan mereka! Bekali mereka dengan uang yang cukup. Setelah semuanya kau laksanakan, kau sebarkan titah ku kepada seluruh rakyat yang berada di kampung ini untuk berjaga-jaga di sekitar tebing, siang dan malam. Mereka akan dipimpin oleh Arya Permadi,"


"Hamba Gusti Pangeran!"


"Senopati Arya Prana, Tumenggung Paksi, Panglima Rangga. Kalian bertiga pimpin setiap kalian, seramai seratus orang prajurit. Kita akan bergerak memboyong Ibunda Permaisuri ke kerajaan Galuh. Aku tidak bisa berlama-lama di sini menyembunyikan kuku ku. Bagaimana menurut mu, Kakang Bayu Gatra?" Tanya Pangeran Indra Mahesa meminta pendapat.


"Dinda Pangeran ada benarnya, Paman Senopati. Hanya tiga ratus orang. Kita bisa bergerak cepat dengan menunggang kuda ke kota raja kerajaan Galuh. Kemungkinan tenaga dan sumbangan pemikiran dari kita bisa sedikit membantu prajurit kerajaan Galuh," kata Bayu Gatra.


"Sendiko dawuh Gusti Pangeran!" Kata Senopati Arya Prana sambil menjura hormat kemudian berjongkok mundur menuju pintu.


"Paman Wiguna, Paman Arya Permadi! Aku titipkan perkampungan tersembunyi ini kepada kalian berdua. Jangan lupa untuk tetap waspada dan tunggu kedatangan kami. Mari kita sama-sama berjuang demi membebaskan rakyat dari kungkungan Paman Jaya Pradana!" Kata Pangeran Indra Mahesa sambil menepuk pundak kedua lelaki berusia lima puluhan itu.

__ADS_1


"Hamba selalu menantikan saat-saat seperti ini, Gusti Pangeran. Hamba akan berada di belakang Gusti untuk berjuang bersama-sama membebaskan negri tercinta ini," kata Arya Permadi.


"Tidak semuanya bisa menggunakan pedang Paman. Jika kita mengandalkan peperangan terbuka, kita akan kalah. Pasti kalah. Oleh karena itu, aku meminta Paman untuk tidak lalai menjaga tebing yang menjadi satu-satunya jalan menuju kerajaan Galuh dari dua kerajaan lainnya," kata Pangeran Indra Mahesa.


"Hamba akan mengikuti semua yang pangeran rencanakan," kata Wiguna pula.


"Jika begitu, bubarkan diri kalian. Aku akan memberitahu kepada Ibunda Permaisuri bahwa hari ini juga kami akan berangkat ke kerajaan Galuh menggunakan jalan baru,"


"Sendiko dawuh Gusti Pangeran," kata mereka.


Pangeran Indra Mahesa tidak menunggu lama lagi. Dia segera turun dari kursinya didampingi oleh dua dayang lalu segera melangkah ke bagian belakang ruangan di rumah besar itu untuk menemui Ibundanya yang sedang duduk ditemani oleh Arimbi.


"Sembah Ananda untuk Ibunda!" Kata Pangeran Indra Mahesa sambil berlutut.


"Ada apa anak Ibunda? Kau tampak seperti sangat bermuram durja?!" Tanya sang Permaisuri sambil mengusap rambut putranya yang sedang berlutut tertunduk itu.


"Bunda. Ananda dan yang lainnya sudah tertipu oleh para prajurit Paman Jaya Pradana. Bahkan, bukan hanya ananda saja yang tertipu. Kakek Prabu di kota raja juga tertipu oleh helah dan siasat dari Paman Jaya Pradana," kata Pangeran Indra melaporkan.


"Ampun Ibunda. Kemarin Kakek Prabu telah mengirim seramai hampir tiga ribu pasukan yang dipimpin oleh Panglima Pratisara. Ini karena Baginda Kakek mendapat kabar bahwa kita telah terkepung di sini oleh para prajurit Paku Bumi. Itulah sebabnya mengapa Baginda Kakek mengirim para prajurit pilihan kemari. Siapa sangka jika ini hanya helah saja," jawab Pangeran Indra Mahesa atas pertanyaan dari Ibundanya itu.


"Lalu, bagaimana? Apakah Nanda Putra mempunyai rencana untuk menanggulangi semua masalah yang ditimbulkan oleh Jaya Pradana ini?"


"Bunda. Ananda berpikir bahwa sebaiknya Ibunda segeralah berkemas. Kita akan meninggalkan lembah jati ini untuk berangkat menuju ke kota raja kerajaan Galuh. Ananda telah menitahkan kepada Senopati Arya Prana, Tumenggung Paksi dan Panglima Rangga untuk memimpin masing-masing seratus orang prajurit guna mengiringi keberangkatan kita. Sekaligus Ananda ingin berjuang bersama-sama dengan rakyat kerajaan Galuh untuk membendung andai serangan dari para prajurit Paku Bumi menyerang ke kadipaten Gedangan," kata Pangeran Indra Mahesa.


"Arimbi, dan kalian dua dayang! Bantu aku untuk berkemas. Sudah tujuh belas tahun aku memimpikan untuk bisa kembali ke kerajaan Galuh. Inilah saatnya aku kembali ke tempat dimana aku dibesarkan dengan membawa seorang ksatria penerus tahta Sri Kemuning,"


"Hamba Gusti Permaisuri!" Kata Arimbi sambil menjura hormat.


Mereka berempat lalu memasuki kamar sang Permaisuri untuk segera berkemas-kemas untuk meninggalkan kampung tersembunyi di lembah jati ini menuju ke kerajaan Galuh.


Sementara itu Pangeran Indra Mahesa melangkah kembali ke ruangan tengah rumah besar itu lalu terus saja keluar untuk mempersiapkan kuda dan kereta kuda yang akan mengangkut rombongan Sang Permaisuri bersama dengan Istri para pembesar lainnya menuju ke kerajaan Galuh.

__ADS_1


"Gusti Pangeran!" Sapa Senopati Arya Prana sambil membungkuk hormat.


"Bagaimana Paman? Apakah semuanya sudah dipersiapkan?"


"Hamba, Pangeran. Semuanya sudah dipersiapkan," jawab Senopati Arya Prana.


"Panglima Rangga! Pimpin seratus orang pertama untuk segera berangkat terlebih dahulu. Setelah sepenanakan nasi, Tumenggung Paksi pula yang berangkat! Sementara Senopati Arya Prana, akan berangkat bersama-sama dengan rombongan Ibunda Permaisuri!" Kata Pangeran Indra Mahesa membagi-bagi kelompok untuk segera berangkat menuju ke bagian timur hutan lembah jati ini dimana terdapat jalan baru yang mereka buat.


"Sendiko dawuh Gusti Pangeran!" Jawab Panglima Rangga.


Beliau lalu memerintahkan kepada seratus orang prajurit untuk bersiap-siap berangkat.


Tak lama kemudian mereka pun berangkat dengan menggebah kuda mereka meninggalkan perkampungan tersembunyi itu ke arah bagian timur.


Seperti yang telah direncanakan, berjarak dari sepenanakan nasi, Kini giliran pasukan prajurit yang dipimpin oleh Tumenggung Paksi pula yang berangkat.


Mereka akan menunggu rombongan permaisuri Galuh Cendana di perbatasan menuju masuk ke kota raja kerajaan Galuh seperti yang telah dipesankan oleh Pangeran Indra Mahesa.


"Mari Bunda. Hati-hati! Maaf jika nanti Ibunda Permaisuri tidak nyaman berada di dalam kereta kuda. Ini karena, jalan ini baru saja di buat," kata Pangeran Indra Mahesa sambil menuntun Gusti Permaisuri Galuh Cendana ke arah kereta kuda.


Tak lama setelah itu, rombongan yang terdiri dari sekitar seratus lebih prajurit berpakaian hitam itu pun berangkat dengan mengawal empat kereta kuda yang dinaiki oleh Permaisuri Galuh Cendana, istri dari para pembesar kerajaan Sri Kemuning, para dayang, dan perlengkapan bekal perjalanan.


Di depan tampak Senopati Arya Prana, Pangeran Indra Mahesa, Bayu Gatra, Andini dan Gayatri menunggang kuda masing-masing mendahului keempat kereta kuda dengan dikawal oleh seratus orang prajurit berpakaian serba hitam di belakangnya.


Mereka berangkat dengan diiringi tatapan oleh penduduk pengungsi dan juga para prajurit yang tersisa dengan mata berkaca-kaca.


Mereka tau bahwa perjuangan ini telah di mulai dan masa depan mereka terletak pada pundak Pangeran muda tersebut.


Jika dia memenangkan perjuangan ini, maka mereka akan terbebas dari belenggu penjajahan. Andai dia kalah dan terbunuh, maka selesailah sudah.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2