
"Putriku. Di mana Putra mu Indra Mahesa?" Tanya Gusti Prabu Rakai Galuh. Dia heran mengapa tidak melihat Pangeran Indra Mahesa masuk bersama dengan Permaisuri Galuh Cendana.
"Ayahanda. Putra ananda sengaja tidak masuk bersama. Dia sengaja memberikan kesempatan kepada hamba untuk dapat melepaskan rindu kepada Ayahanda Prabu," kata Permaisuri Galuh Cendana.
"Oh. Begitu?! Sekarang, suruh cucuku itu untuk segera masuk!" Kata Gusti Prabu Rakai Galuh menitahkan.
"Hamba Gusti Prabu!" Kata Mahapatih Mahesa Galuh yang berada di tempat itu.
Tak lama kemudian tampak Mahapatih Mahesa Galuh kembali ke kursinya di sini Gusti Prabu Rakai Galuh.
"Mana cucuku itu?" Tanya Gusti Prabu Rakai Galuh heran karena dia tidak melihat Mahapatih Mahesa Galuh bersama seseorang.
"Ampun Gusti Prabu. Pangeran tampaknya sedang membincangkan sesuatu dengan para prajurit rombongannya. Tampaknya mereka kini sedang bergerak menuju keluar dari kota raja ini,"
Jawaban dari Mahapatih Mahesa Galuh ini pun membuat kening Gusti Prabu Rakai Galuh mengernyit dalam. Dia masih bertanya-tanya dalam hatinya ada apa sebenarnya.
Tak lama setelah itu, tampak seorang pemuda tampan dengan pakaian ala bangsawan kerajaan, dengan rambut terurai lurus melewati bahu, berbadan tegap dengan senyuman yang mekar di bibirnya yang sedikit mungil berjalan melewati pintu sambil menggenggam sebilah keris di tangannya.
Perbuatan pemuda ini lantas saja mengingatkan Gusti Prabu Rakai Galuh akan mimpinya sepuluh tahun yang lalu.
Ketika dia baru melangkah masuk, tampak Senopati Arya Prana, Panglima Rangga, Tumenggung Paksi segera berlutut membuat yang lainnya juga berlutut.
__ADS_1
"Terimalah sembah kami Gusti Pangeran Indra Mahesa!" Kata Senopati Arya Prana membuat beberapa tamu yang telah terlebih dahulu tiba di istana itu tertegun. Ini terlebih lagi pada Putri Melur dan Manggala yang sempat terlibat pertengkaran dengan Pangeran Indra Mahesa di hutan Watu Sewu dua hari yang lalu.
"Dia?!"
"Ayahanda Prabu. Ternyata lelaki itu?!"
"Mengapa Putri ku? Kau terkejut?" Tanya Gusti Prabu Kerta Rajasa.
Putri Melur kini tak kuasa menahan perasaan malu dan canggung di dalam hatinya.
Betapa kemarin dia telah bertindak sangat lancang di hadapan seorang Putra mahkota dan cucu kandung dari Gusti Prabu Rakai Galuh ini. Bahkan itu terjadi di wilayah kekuasaan kerajaan Galuh pula.
Kini dia hanya terpaku menatap sang Pangeran tampan itu berharap agar tatapan itu di balas oleh Pangeran Indra Mahesa. Namun, dia segera kecewa karena Pangeran Indra Mahesa sama sekali tidak menoleh kepadanya. Pangeran Indra Mahesa hanya menghaturkan sembah kepada Gusti Prabu Kerta Rajasa saja. Setelah itu bersimpuh di depan Permaisuri Galuh Cendana.
"Bangun lah Cucu ku. Mengapa kau mengatakan dirimu durhaka?" Kata Gusti Prabu Rakai Galuh sambil memegang kedua pundak cucunya itu lalu menariknya agar segera berdiri.
"Ampun, Kakek Prabu. Hamba sebenarnya ingin segera kemari. Namun, keadaan yang tidak memungkinkan. Karena, saat itu lembah jati sedang terkepung oleh para prajurit dari Paku Bumi," kata Pangeran Indra lagi.
"Kakek sudah mengetahuinya dari Larkin. Oleh karena itu, kakek mengirim Panglima Pratisara untuk memimpin dua ribu lima ratus orang prajurit untuk membatu kalian di sana. Apakah kau bertemu dengan mereka?" Tanya Gusti Prabu Rakai Galuh.
Mendengar pertanyaan ini, Pangeran Indra Mahesa langsung menatap ke arah Panglima Rangga, Senopati Arya Prana dan Tumenggung Paksi.
__ADS_1
"Ampun Gusti Prabu. Hamba memang bertemu dengan pasukan yang dipimpin oleh Dinda Panglima Pratisara. Namun, mereka telah menarik kembali pasukan setelah mengetahui bahwa kami sedang membuat jalan baru untuk menuju ke kerajaan Galuh ini. Apakah pasukan yang dipimpin oleh Dinda Pratisara belum tiba?" Tanya Senopati Arya Prana.
"Tidak. Mereka belum kembali," jawab baginda Prabu Rakai Galuh.
"Lalu?"
"Ah. Celaka jika sudah begini," kata Pangeran Indra. Tampak jelas raut kegusaran pada wajahnya.
"Siapa di sini yang bertugas sebagai kepala tilik sandi?" Tanya Pangeran Indra Mahesa.
"Hamba Gusti Pangeran!" Jawab seorang lelaki sambil menjura hormat.
"Siapa nama mu?" Tanya Pangeran Indra.
"Ampun Gusti Pangeran. Nama hamba adalah Sadewa," jawab lelaki tadi lagi.
"Sadewa. Kau tau apa yang harus kau lakukan?!"
"Hamba mengerti Gusti Pangeran!"
"Sekarang, segera berangkat. Tebarkan semua mata-mata yang kau punya. Cari kemana perginya semua pasukan yang dipimpin oleh Panglima Pratisara!"
__ADS_1
"Sendiko dawuh Gusti!" Kata Sadewa lalu segera menjura hormat kemudian bergegas meninggalkan aula Paseban itu.