
Riuh renda suara orang-orang membuat kaget seisi istana kerajaan Galuh ini, yang membangunkan mereka yang masih pulas tertidur.
Beberapa prajurit tampak berjaga dan mengawal keadaan membentuk barisan agar manusia yang berkerumun entah darimana saja datangnya tidak menerobos masuk ke dalam kawasan istana.
Sebenarnya, tidak ada diantara mereka yang ingin menerobos masuk ke dalam. Hanya saja, sebagai prajurit, mereka harus disiplin dalam menjaga keamanan serta ketertiban.
Suara gaduh di luar ini tentu saja menarik perhatian dari Raja Galuh, Pangeran Indra, serta beberapa punggawa lainnya yang sontak berkeluaran dari rumah masing-masing menuju ke bagian istana kediaman Gusti Prabu Rakai Galuh.
Dengan disaksikan oleh Pangeran Indra Mahesa yang langsung berlari keluar, kini terlihat ramai kerumunan manusia dengan kebanyakan diantara mereka berusia di atas lima puluh tahun dan para wanita berbondong-bondong datang menuju ke bagian depan kediaman Gusti Prabu Rakai Galuh.
__ADS_1
"Tenang semuanya. Di harap tenang. Ada apa kalian semua beramai-ramai datang ke depan kediaman sang Prabu. Apakah kalian tidak takut Gusti Prabu murka karena kalian datang berduyun-duyun disaat Gusti Prabu masih tidur?" Kata salah satu prajurit yang berjaga di depan istana itu.
"Prajurit. Kami ini adalah rakyat kerajaan Galuh. Gusti Prabu sangat mencintai rakyatnya. Mustahil Baginda akan marah terhadap kami yang datang dengan niat baik ini," kata mereka.
"Niat baik seperti apa yang kalian maksud?" Tanya Prajurit itu lagi.
"Prajurit. Kami hanya akan mengatakan kepada Gusti Manggala Yuda Indra Mahesa. Tolong pintakan kepada beliau agar menemui kami, rakyatnya ini. Kami ingin memberikan apa yang kami mampu di dalam mencegah para penjajah yang akan menjajah negeri tercinta kita ini!" Jawab mereka.
Tak lama setelah mereka mengatakan ingin bertemu dengan panglima tertinggi di kerajaan Galuh ini, seorang pemuda yang masih menahan kantuk tampak sudah berdiri di atas salah satu undakan tangga menuju istana kediaman Gusti Prabu Rakai Galuh itu.
__ADS_1
Mereka kini tampak sangat bersemangat ketika sang Pangeran menjentikkan jari nya agar para pengawal segera menyingkir dan berdiri dibelakangnya. Ini dia lakukan agar mereka bisa langsung mengatakan apoa tujuan mereka datang ke istana ini dengan cara berbondong-bondong.
"Ampun, Manggala Yuda. Hamba adalah kepala desa dari desa Wonosari. Ini sahabat hamba, kepala dewa Wetan. Kami semua adalah rakyat dari puluhan desa di sekitar kota raja ini. Tujuan kedatangan kami ke sini adalah untuk ikut berikhtiar membantu perjuangan yang akan Gusti pimpin tak lama lagi," jawab mereka.
"Dengarkan wahai rakyat ku sekalian! Sekali lagi aku jelaskan. Bahwa untuk ukuran seorang prajurit adalah berumur dari batas tujuh belas tahun hingga di bawah lima puluh tahun. Bukankah kalian sekalian telah mengirim putra-putra, menantu, suami kalian untuk menyertai perjuangan ini? Aku melihat di sini semuanya berusia di atas lima puluhan dan kebanyakan adalah wanita. Kalian semua tidak diwajibkan untuk menyertai pasukan yang akan berangkat guna mempertahankan perbatasan. Kembalilah ke desa dan rumah masing-masing! Bantu lah kami dengan doa!" Kata Pangeran Indra Mahesa tanpa mengecilkan ataupun ingin menurunkan semangat mereka. Mereka tetap dianggap memiliki sumbangan terhadap negri walaupun hanya dengan memanjatkan doa kepada Tuhan yang maha kuasa.
"Gusti Manggala Yuda. Kami memang mengetahui bahwa kami sudah tidak mungkin lagi untuk menyertai pasukan yang akan berangkat menjaga perbatasan. Akan tetapi kami memiliki cara kami tersendiri untuk meringankan bebas kerajaan,"
Setelah berkata demikian, mereka kini menggelar tikar besar di depan Pangeran Indra Mahesa yang tampak mengernyitkan kening melihat tingkah dari para rakyat nya ini.
__ADS_1
Sedikitpun dia tidak mengetahui apa maksud dari mereka dengan menggelar tikar besar tepat dihadapannya itu.
Bersambung...