Pangeran Tanpa Mahkota

Pangeran Tanpa Mahkota
Gagal memancing musuh


__ADS_3

Dua puluh orang penunggang kuda dengan pakaian serba hitam itu kini menggebah kuda mereka melintasi jalan setapak menuju ke desa Waringin.


Begitu tiba di luar kawasan hutan, mereka sengaja memperlambat lari kuda yang mereka tunggang dengan tujuan untuk memancing para prajurit yang mengepung perbatasan agar melihat keberadaan mereka.


Benar saja. Baru saja mereka beberapa tombak meninggalkan kawasan hutan jati, tampak dari balik semak-semak, pepohonan dan dari jauh berdatangan rombongan pasukan kemudian membuat formasi mengepung.


Tidak sampai sepeminuman teh, kini sekitar dua puluh orang penunggang kuda berpakaian serba hitam itu nyaris terkepung.


Sebelum benar-benar terkepung, ke-dua puluh orang ini segera membelokkan kuda mereka lalu merapat ke bagian hutan.


"Apakah mereka mengejar kita?" Tanya salah seorang dari orang-orang yang berpakaian serba hitam itu.


"Sepertinya tidak. Mungkin mereka mengira bahwa ini hanyalah pancingan," jawab lelaki yang di tanya.


"Ah. Sialan. Lalu bagaimana ini?" Tanya nya lagi.


"Apa kau berani jika kita menyerang mereka? Ketika mereka terluka, pasti mereka akan mengejar kita sampai ke dalam hutan,"


"Menyerang pakai apa? Kita hanya dua puluh orang ingin menyerang dua ribu orang? Mati katak kita nanti," tolak yang lainnya pula.


"Celaka jika sudah begini. Lalu, bagaimana ini? Apakah kita laporkan saja semua kejadian ini kepada Gusti Pangeran?"


"Ya sudah. Ayo kita kembali!"

__ADS_1


Mereka lalu kembali menggebah kuda mereka memasuki kawasan hutan lalu segera melaporkan semuanya kepada Senopati Arya Prana.


"Gusti Pangeran harus segera diberitahu bahwa usaha kita untuk memancing musuh gagal," kata Senopati Arya Prana lalu segera memberitahukan semuanya kepada Pangeran Indra Mahesa.


Pemuda itu tampak duduk termenung di sebuah batu besar ketika mendapat laporan dari Senopati Arya Prana.


Tampak dia berulang kali menarik nafas kekecewaan karena musuh dapat membaca maksud dari tujuannya untuk menarik perhatian para prajurit dari Paku Bumi itu.


"Aku jelas dapat meraba apa maksud dan tujuan mereka ini. Mereka jelas ingin membuat kita mati kelaparan dengan mengepung jalan keluar dari hutan," kata Pangeran Indra Mahesa yang saat ini dapat meraba maksud pengepungan itu.


"Kakang. Bagaimana jika malam ini kita serang saja para prajurit dari Paku Bumi itu. Di saat mereka tertidur, kita serang mereka dari berbagai jurusan," kata Gayatri mengemukakan pendapatnya.


Mendengar ini, Pangeran Indra Mahesa hanya menggeleng saja.


"Ampun Gusti Pangeran. Ini memang kelalaian hamba. Seharusnya hamba tidak terlalu mengandalkan yang lama tanpa adanya pasukan pelapis," kata Senopati Arya Prana sambil tertunduk.


"Paman Senopati! Kita harus membuat jalan baru. Bukankah lembah jati ini berbatasan langsung dengan tiga kerajaan? Jika begitu, bagaimana jika kita buat jalan pintas yang langsung bisa menuju ke kerajaan Galuh?" Tanya Pangeran Indra sembari mengusulkan.


"Pangeran, satu-satunya jalan yang mudah di lalui adalah dengan melewati desa Waringin ini lalu ke kadipaten Pitulung. Karena, jika kita membuat jalan baru, kawasan hutan di sebelah timur ini sungguh sangat terjal dengan banyaknya rawa-rawa. Akan sangat sulit untuk menerobos hutan lalu menjadikannya jalan keluar menuju kerajaan Galuh," jawab Senopati Arya Prana.


"Sulit bukan berarti tidak bisa. Apakah kalian harus pasrah saja. Katakanlah jika kalian mempunyai perbekalan makanan yang mencukupi selama setahun. Tapi, sampai kapan kalian harus mendekam terus di dalam hutan ini? Kerahkan seluruh orang-orang yang berada di perkampungan! Kita akan membuat jalan baru. Adapun rawa-rawa itu, kita bisa menimbun batang kayu besar untuk dijadikan gambangan. Yang terpenting, ada jalan keluar dari permasalahan ini," kata Pangeran Indra Mahesa lalu bangkit dari duduknya.


"Sendiko dawuh Gusti Pangeran!"

__ADS_1


*********


"Dengarkan seluruh rakyat ku. Aku tidak ingin merasakan hidup terjajah seperti ini. Aku tau bahwa kalian semua sudah mengalami bagaimana rasanya terjajah selama tujuh belas tahun. Tapi tentunya kalian tidak boleh pasrah dengan nasib. Aku ingin berjuang merebut kemerdekaan negri kita. Tapi, tentunya aku tidak bisa sendiri. Apakah kalian ingin anak, cucu, dan cicit kalian selamanya akan dikungkung rasa ketakutan setiap kali desa kalian dimasuki oleh para begundal dari paku bumi?" Tanya sang pangeran ketika seluruh penghuni kampung tersembunyi itu dikumpulkan di depan rumah besar milik Permaisuri Galuh Cendana.


"Junjungan! Dahulu memang kami hanya pasrah menerima nasib. Itu karena kami tidak memiliki harapan. Untuk siapa kami berjuang jika tahta kerajaan Sri Kemuning kosong tanpa ada yang berhak menduduki. Hanya wangsa Perkasa alam lah yang berhak atas tahta kerajaan Sri Kemuning. Namun sekarang, tidak lagi. Harapan kami muncul bersama kemunculan Tuan ku! Ketika lambang kerajaan berada di tangan Tuan ku, maka kami akan bangkit untuk mendukung apa saja keputusan yang akan Tuan ku putuskan!" Kata salah seorang lelaki yang dituakan di kampung itu.


"Dengarkan wahai rakyat ku sekalian. Saat ini kita sedang di kepung di bagian barat. Hanya ada satu cara! Yaitu harus membuat jalan baru. Aku membutuhkan tenaga kalian semua untuk membantu ku merintis jalan tersebut. Mulai hari ini, persiapkan diri kalian semua. Kita akan bersama-sama bekerja dan saling bergotong royong. Ini adalah bagian dari perjuangan. Apa kalian siap bersusah payah bersama dengan ku?"


"Kami rela mati demi negeri tercinta. Kami juga rela mati demi membebaskan negri ini dari kungkungan Jaya Pradana. Sudah waktunya untuk berjuang mengangkat senjata!" Kata mereka penuh semangat.


"Bagus! Ini yang ingin aku dengar dari para rakyat ku. Aku tau di luar sana masih banyak lagi rakyat ku yang mendambakan kemerdekaan. Kalian bekerja pada pagi hingga siang. Setelahnya, pada sore hingga ke malam, kalian akan di bimbing oleh Senopati Arya Prana, Panglima Rangga, Tumenggung Paksi, Wiguna dan Arya Permadi untuk mengikuti latihan olah keprajuritan. Kemerdekaan negeri kita berada di ujung pedang setiap insan yang merasa dirinya adalah bagian dari kerajaan Sri Kemuning. Apakah kalian siap?"


"Kami semua siap wahai Sri Paduka Gusti Prabu Indra Mahesa Jaya Wardana Perkasa alam!" Kata mereka serentak.


"Belum. Jangan sekali mengatakan aku dengan sebutan Gusti Prabu jika negeri ini belum dibebaskan. Berjanjilah di dalam hati kalian masing-masing untuk membebaskan negri ini. Bukan untuk kita. Tapi untuk anak cucu kita. Biarkan kita merasa di jajah, asalkan anak cucu kita kelak bisa merasakan kebebasan berpijak di negeri sendiri tanpa dikejar rasa ketakutan,"


"Baiklah. Semuanya siap! Ambil peralatan kalian masing-masing! Mari kita bekerja sama untuk membuat jalan baru yang akan tembus ke kerajaan Galuh!"


"Sendiko dawuh Gusti Pangeran!"


Mereka lalu membubarkan diri pulang ke rumah masing-masing untuk mengambil peralatan masing-masing lalu bersama-sama merambah hutan di bagian timur lembah jati ini untuk mengikuti sang junjungan mereka demi merintis jalan baru.


Hampir tujuh ribu orang baik itu kakek, nenek, paruh baya, wanita, pemuda bahkan anak-anak pun ikut bergotong-royong demi merintis jalan baru itu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2