
Berita yang di bawa oleh tilik sandi utusan dari Gusti Prabu Rakai Galuh yang mengatakan tentang dua rombongan dari arah yang berbeda tampak sangat menggembirakan hati sang Baginda.
Bagaimana tidak? Rombongan yang di jangka akan tiba itu adalah rombongan dari kerajaan Garingging yaitu Gusti Prabu Kerta Rajasa bersama Putrinya tertua dan Sekitar seribu prajurit pengiring.
Sementara rombongan ke dua yang dijangkakan akan tiba pada petang hari ini adalah Gusti Permaisuri Galuh Cendana bersama dengan Putra Mahkota Indra Mahesa yang diiringi oleh Senopati Arya Prana, Panglima Rangga, Tumenggung Paksi bersama dengan tiga ratus orang prajurit hitam yang mengiringi rombongan itu.
Rombongan yang datang dari kerajaan Garingging ini memang lebih cepat tiba. Ini karena mereka adalah para prajurit berkuda tanpa beban kecuali harus menghadapi kemanjaan dari sang Putri yaitu Putri Melur.
Sementara itu di dalam rombongan Permaisuri Galuh Cendana, mereka lebih lambat karena mereka membawa serta empat kereta kuda yang diisi oleh Permaisuri Galuh Cendana bersama para dayang, istri para mantan punggawa kerajaan Sri Kemuning, serta perbekalan perjalanan. Hal ini lah yang menjadi penyebab lambatnya rombongan itu tiba di gerbang masuk kota raja.
***
"Hahaha. Selamat datang di kota raja kerajaan Galuh ini Kerta Rajasa!" Kata Gusti Prabu Rakai Galuh menyambut kedatangan raja Garingging bersama dengan Putrinya itu.
"Terimakasih Paman Prabu. Paman telah sudi untuk datang langsung menyambut kedatangan ku ini," kata Kerta Rajasa alias raja kerajaan Garingging itu dengan sangat hormat.
"Paman Prabu. Sepertinya paman sangat bersemangat sekali hari ini. Apakah karena kedatangan kami ini?" Tanya Kerta Rajasa pula.
"Oh. Tentu. Hari ini aku sangat merasa bahagia karena kedatangan mu. Sekaligus kedatangan Putri ku, permaisuri Galuh Cendana yang sedang dalam perjalanan bersama dengan Putra Mahkota kerajaan Sri Kemuning," jawab sang Prabu.
"Tunggu Paman! Tadi paman mengatakan bahwa Dinda Galuh Cendana datang bersama dengan Putra Mahkota? Bukankah,,?"
"Tidak Ananda Kerta Rajasa. Cucuku itu tidak mati karena terlempar ke jurang lembah bangkai. Dia telah diselamatkan oleh seorang pertapa tua bernama Eyang Santalaya. Dia lah yang mendidik cucu ku itu bersama dengan Bidadari kipas perak di kaki gunung sumbing," jawab sang Prabu.
"Kaki gunung sumbing? Sepertinya aku ada mendengar nama tempat itu baru-baru ini. Apakah?"
"Mengapa Kerta Rajasa? Apakah kau ada bertemu dengan rombongan Putri ku dalam perjalanan mu ke mari?" Tanya Prabu Rakai Galuh.
"Paman Prabu. Siapa nama Putra Mahkota kerajaan Sri Kemuning itu?" Tanya Kerta Rajasa ingin memastikan bahwa dia benar-benar telah bertemu dengan orang yang ternyata adalah Putra Mahkota kerajaan Sri Kemuning itu.
"Namanya adalah Indra Mahesa!" Jawab sang Prabu Rakai Galuh.
Deg!
Berdegup juga jantung sang Prabu kerajaan Garingging ini mendengar nama itu.
"Tak salah lagi. Pemuda tadi pasti lah Putra Mahkota itu,"
"Ada apa Kerta Rajasa? Kau tampak melamun?"
"Ah. Tidak apa-apa Paman. Oh ya. Aku ingin memperkenalkan putri tertua ku kepada Paman Prabu," kata Kerta Rajasa sambil memanggil Putrinya yang saat itu sedang memperbaiki rambutnya yang tampak acak-acakan selama dalam perjalanan tadi.
"Paman Prabu. Ini adalah Putri tertua ku. Namanya Melur,"
"Melur, ini adalah kakek Prabu mu yang sering Ayah ceritakan dulu," kata Kerta Rajasa sambil mengelus rambut anak gadis nya itu.
__ADS_1
"Terimalah salam sembah hamba Kakek Prabu!" Kata Putri Melur sambil berlutut.
"Ah. Sudahlah. Mari kalian semuanya masuk. Kita akan ke keraton dan ananda Kerta Rajasa serta yang lainnya bisa beristirahat!" Kata sang Prabu mempersilahkan.
Mereka lalu sama-sama melangkah memasuki gerbang kota raja kerajaan Galuh ini dengan dikawal oleh ratusan prajurit.
Sementara itu, Prabu Rakai Galuh tampak mempersilahkan Kerta Rajasa dan Putri Melur untuk menaiki kereta kencana yang akan membawa mereka ke keraton.
*********
Perjalanan yang sangat melelahkan berhasil dilalui oleh rombongan Permaisuri Galuh Cendana berserta para prajurit yang mengiringi.
Memang, selama perjalan mereka ini, tidak ada rintangan yang berarti yang mereka temui.
Satu-satunya masalah yang mereka hadapi adalah ketika berburu rusa di hutan watu Sewu hingga mereka harus membuang banyak waktu untuk urusan itu.
Hari ini, semua lelah dan letih mereka terbayar sudah ketika dari kejauhan, mereka melihat tembok tinggi benteng kota raja kerajaan Galuh.
Melihat pemandangan dihadapannya itu, membuat wajah Permaisuri Galuh Cendana semakin sumringah.
Betapa dia sangat merindukan untuk pulang ke kerajaan Galuh ini.
Sejenak kenangan masa kecilnya kembali terlintas dibenaknya. Di mana dulu dia dibesarkan dengan penuh kasih sayang. Bertemu dengan Putra Mahkota kerajaan Sri Kemuning lalu dipersunting. Itu adalah kenangan yang sangat membahagiakan seumur hidupnya, sebelum Jaya Pradana dari Paku Bumi datang menyerang kota raja kerajaan Sri Kemuning.
"Gusti Permaisuri. Menurut perkiraan hamba, kita akan tiba di gerbang kota raja sekitar sepenanakan nasi lagi. Ada apakah gerangan Gusti Permaisuri menanyakan hal itu?" Tanya Senopati Arya Prana.
"Berhenti sejenak! Apakah kau tega melihat junjungan mu berpakaian seperti itu untuk memasuki kota raja?" Tanya Permaisuri Galuh Cendana.
"Oh. Iy-iya. Ampuni hamba Gusti Permaisuri," kata Arya Prana lalu menggebah kuda tunggangan nya kemudian menghentikan rombongan itu setelah tiba di depan.
"Berhenti semua!" Seru sang Senopati sambil mengangkat tangannya ke atas.
"Ada apa Kakang?" Tanya Panglima Rangga heran.
"Coba kau lihat seperti apa Pangeran junjungan kita itu! Kemana wajah kita mau ditaruh?" Tanya sang Senopati sambil yang lainnya mengikuti dan serentak memandang ke arah Pangeran Indra Mahesa.
Hal ini tentu saja membuat pemuda itu juga ikut-ikutan memperhatikan dirinya sendiri.
Tak lama setelah itu, tampak Permaisuri Galuh Cendana keluar dari kereta kudanya sambil membawa buntalan dari kain sutra kuning yang sama dengan kain sutra pengikat pinggang pangeran Indra Mahesa.
"Putra ku. Tukar pakaian mu. Apakah kau akan menemui Kakek Prabu mu dengan berpakaian seperti itu?" Tanya sang Permaisuri.
"Hehehe..,"
Hanya itu yang keluar dari bibir Pangeran Indra Mahesa sambil garu-garu kepala.
__ADS_1
"Mari kakang. Aku akan membantu mu untuk mengganti pakaian!" Kata Gayatri membuat Indra Mahesa setengah mati ketakutan.
"Oh tidak Dinda. Kau akan melihat senjata warisan ku jika kau membantuku untuk berganti pakaian. Sangat berbahaya!" Kata Pangeran Indra sambil membuat gerakan penolakan.
"Mengapa kau takut? Asalkan senjata mu tidak terhunus, tentu tidak membahayakan," jawab Gayatri yang tidak tau senjata yang mana yang dimaksudkan oleh pemuda itu.
Mungkin dia berfikir bahwa senjata yang dimaksud oleh Indra Mahesa adalah keris tumbal kemuning. Padahal tentu saja bukan senjata itu yang dia maksudkan.
"Terimakasih Dinda. Tapi, aku akan berpakaian sendiri," kata pangeran Indra Mahesa lalu melompat turun dari kudanya, kemudian dia menyambar buntalan dari tangan Permaisuri Galuh Cendana. Setelah itu dia tampak lari terbirit-birit menuju ke sebatang pohon besar lalu menghilang di sana.
"Ganti baju tanpa mandi. Bodo amat lah!" Kata pangeran Indra Mahesa mengomel dalam hati.
Setelah dia selesai dengan pakaiannya yang tampak sangat mewah itu, dia kemudian keluar dari balik pohon itu dengan penampilan yang tidak karuan.
"Ya Ampun..! Mengapa seperti itu Putraku?" Tanya sang Permaisuri melihat penampilan putranya itu.
Dia kini melihat Pangeran Indra mengenakan baju dengan kancing yang tidak beraturan. Kain sutra pengikat di bagian celana nya juga entah seperti apa bentuknya. Sementara itu, kerah baju sutra itu tampak senget karena kancingnya tidak tepat. Kancing nomor satu letaknya di nomor tiga. Nomor dua letaknya di nomor empat. Begitulah seterusnya sehingga membuat dirinya persis seperti orang yang tidak pernah merasakan bagaimana memakai baju dengan benar.
"Sudah aku katakan. Kau bandel, Kakang!" Kata Gayatri sambil menahan tawa.
"Mengapa bisa begini kejadiannya?" Tanya Pangeran Indra seperti orang goblok.
"Kemari kau Putra ku!" Panggil sang Permaisuri.
Begitu pangeran Indra mendekat, dia kini lalu dikeroyok oleh beberapa orang wanita yang membuat dirinya kelabakan setengah mati.
Ada yang memperbaiki kancing bajunya. Ada yang merapikan kain songket yang terikat di bagian celananya. Ada pula yang menyisir rambutnya. Namun, ketika sebuah mahkota akan dipakaikan di atas kepalanya, dia langsung menolak dengan tegas.
"Mengapa kau menolak, Putraku?" Tanya Sang Permaisuri.
"Aku hanya akan mengenakan mahkota ketika kerajaan Sri Kemuning sudah berhasil aku rebut. Aku bersumpah tidak akan mengenakan mahkota ini sebelum seluruh rakyat ku terbebas dari penjajahan Paku Bumi!" Kata Pangeran Indra sambil menghunus keris tumbal kemuning mengakibatkan langit mendadak mendung dengan sambaran kilat saling susul menyusul.
Semua prajurit kini turun dari kuda masing-masing lalu berlutut di atas tanah melihat junjungan mereka mengacungkan keris tumbal kemuning dengan mata berkilat-kilat.
"Hidup Gusti Pangeran!"
"Hidup Sri Kemuning!"
"Hidup Gusti Pangeran!"
"Hidup Sri Kemuning!"
Suara gema itu kini terdengar memecahkan keheningan hingga sampai di pinggir gerbang kota raja kerajaan Galuh. Padahal jarak nya masih sangat jauh.
Bersambung...
__ADS_1