Pangeran Tanpa Mahkota

Pangeran Tanpa Mahkota
Membuntuti Larkin


__ADS_3

Pagi itu, setelah semalaman penuh para prajurit melakukan perjalanan menuju ke kadipaten Gedangan, tampak pangeran Indra Mahesa memberikan aba-aba agar pasukan pimpinannya segera berhenti di pinggiran hutan yang berdekatan dengan sungai kemudian memerintahkan untuk mendirikan tenda darurat di kawasan itu.


Setelah mengatur segala sesuatunya, Pangeran Indra pun memberikan masing-masing tugas kepada beberapa orang prajurit termasuk Larkin yang kali ini menggantikan Sadewa untuk memata-matai pergerakan Pasukan dari Paku Bumi.


Larkin yang mendapat tugas ini dari Panglima tertinggi pasukan segera menjura dengan wajah sumringah dan tanpa berbasa-basi lagi langsung melompat ke atas punggung kudanya kemudian memecut lari kuda tunggangan nya itu menuju ke arah letaknya kadipaten Karang Kencana sambil diiringi oleh tatapan penuh curiga dari Pangeran Indra Mahesa.


Setelah kurang dari sepeminuman teh, Larkin pergi, kini Pangeran Indra Mahesa langsung berseru. "Lima bersaudara dari Banten! Siapa diantara kalian yang bisa mengikuti Larkin dan melaporkan segala tindak-tanduknya kepada ku?" Tanya Pangeran Indra Mahesa sambil menatap ke arah kelima saudara kembar dari Banten itu.


"Hamba, Pangeran. Hamba bisa untuk membuntuti Larkin itu. Ada apa sebenarnya, Pangeran? Maaf jika hamba terlalu bertanya,"


"Kemari. Aku butuh berbicara dengan mu. Kau juga Panglima Pratisara!" Kata Pangeran Indra Mahesa lalu segera melangkah pergi untuk menjauh dari para prajurit yang sedang beristirahat.


Panglima Pratisara dan saudara tertua dari Lima bersaudara dari Banten itu segera menyusul ke arah perginya pangeran Indra Mahesa tadi sambil bertanya dalam hati ada apa sebenarnya ini.


"Kau adalah saudara tertua dari Lima bersaudara dari Banten. Siapa nama mu Kisanak?" Tanya Pangeran Indra.


"Nama asli hamba adalah Ujang Wardi. Namun, hamba di kenal di dunia persilatan dengan gelar Pendekar kujang emas," jawab saudara tua dari lima bersaudara dari Banten itu.

__ADS_1


"Baiklah, Pendekar kujang emas. Begini. Aku mencurigai bahwa prajurit yang bernama Larkin ini adalah mata-mata dari pihak musuh. Aku ingin mengetahui darimu Panglima Pratisara. Sudah berapa lama Larkin ini menjadi prajurit di kerajaan Galuh?" Tanya Pangeran Indra Mahesa.


"Pastinya kapan, hamba kurang tau Gusti. Namun, Larkin ini dulunya adalah orang-orang dari rimba persilatan juga. Dia bersama dengan kakaknya yaitu Larso dikenal sebagai sepasang tangan besi dari Utara. Entah apa sebabnya mereka malah tertarik menjadi prajurit,"


"Hmmm. Jika dia ini adalah penghianat, maka bukan hanya kerajaan Galuh saja yang dikhianati nya. Melainkan, dia juga telah mengkhianati kakak kandungnya sendiri yaitu Larso,"


"Sebenarnya, apa yang terjadi dengan pasukan mu? Mengapa kau tidak tau kemana Larkin ketika itu?" Tanya sang Pangeran.


"Ampun Gusti. Keadaannya saat itu benar-benar kalang-kabut. Masing-masing prajurit bermati-matian bertahan dari gempuran musuh. Termasuk juga hamba. Semuanya di babat habis. Adapun yang selamat, maka Gusti Pangeran bisa melihat sendiri keadaan kami yang sangat mengenaskan. Itulah sebabnya hamba merasa sangat heran mengapa Larkin ini sedikit pun tidak terluka. Hamba menilai, kekuatan tenaga dalam yang dia miliki bukanlah berada di atas tenaga dalam yang hamba miliki. Itupun hamba bisa selamat atas bantuan dan pertolongan dari Gusti. Tidak mungkin Larkin ini bisa selamat begitu saja," kata Panglima Pratisara pula.


"Jika seperti yang kau katakan tadi, maka empat prajurit bawahan Sadewa saat ini pasti dalam bahaya. Celaka. Kita sudah terlambat!" Kata Pangeran Indra sambil berlari ke arah kemah prajurit untuk mencari Senopati Arya Prana.


"Pangeran.., ada apa Gusti seperti dikejar sesuatu?" Tanya Senopati Arya Prana merasa heran melihat junjungan nya itu tampak tergesa-gesa menyingkap penutup tenda lalu menghampirinya.


"Larkin ini ternyata adalah bekas orang dari rimba persilatan. Aku saat ini sangat khawatir jika dia sebenarnya adalah mata-mata. Aku harus segera mengejar orang ini!" Kata Pangeran Indra Mahesa sambil menyelipkan keris tumbal kemuning ke pinggang.


"Gusti.., apakah boleh hamba memberi saran?" Tanya Senopati Arya Prana.

__ADS_1


"Boleh. Saran apa itu?" Tanya Pangeran Indra Mahesa.


"Menurut hamba, biarkan saja dia berkhianat. Dia akan segera mengirimkan berita kepada Jaya Pradana. Dengan begitu, hal yang harus kita lakukan adalah untuk menjaga berita dari lembah jati. Gusti cukup mengirim orang-orang yang bisa menjadi penghubung antara tilik sandi kita yang berada di Sri Kemuning dengan lembah jati lalu ke kadipaten Gedangan ini. Ini akan sangat berguna, Gusti!" Kata Senopati Arya Prana.


"Hmm.., aku mengerti maksud mu. Yang aku khawatirkan saat ini adalah, empat orang prajurit bawahan Sadewa. Mereka bisa saja terbunuh oleh Larkin nantinya,"


"Benar juga. Tapi kehadiran Gusti di sini jauh lebih penting. Gusti tidak mungkin bisa berada di setiap tempat. Karena, walau bagaimanapun, Gusti tetaplah seorang manusia yang tidak bisa berada di setiap ruang dalam waktu yang bersamaan,"


"Ada baiknya Larkin ini mengadukan semuanya kepada Jaya Pradana. Kita hanya akan memanfaatkan rencana mereka. Tapi dengan satu syarat! Yaitu, perbanyak tilik sandi seperti yang saya katakan tadi,"


"Apakah selain itu, kau memiliki gagasan yang lain?" Tanya Pangeran Indra.


"Pecahkan pasukan menjadi empat ketumbuk. Ketumbuk pertama dipimpin oleh Gusti sendiri. Ketumbuk ke dua akan hamba pimpin. Ketumbuk ke tiga akan di pimpin oleh Panglima Rangga dan Pratisara. Ketumbuk ke empat akan dipimpin oleh Adipati Rakai langit dan Tumenggung Paksi," lalu mereka terus membahas setiap yang akan mereka lakukan sesuai dengan rencana untuk mengelabui pihak lawan.


"Baiklah. Aku akan tetap mengutus seseorang untuk membuktikan pengkhianatan dari Larkin ini," kata Pangeran Indra Mahesa kemudian melangkah keluar tenda.


"Pendekar kujang emas! Kau bawa keempat adikmu untuk mengejar Larkin ini. Amati setiap gerakan yang dia lakukan. Hindari bertemu dengannya. Jangan bertindak sendiri. Sebaiknya, setelah kalian berhasil mencari keterangan, segera laporkan semuanya kepada ku!" Kata Pangeran Indra Mahesa memberi perintah.

__ADS_1


"Sendiko dawuh Gusti Pangeran! Hamba berlima menjunjung titah," kata mereka lalu segera menaiki kuda masing-masing kemudian segera menggebah kuda itu menuju ke arah perginya Larkin tadi.


__ADS_2