Pangeran Tanpa Mahkota

Pangeran Tanpa Mahkota
Kemarahan Pangeran Indra Mahesa


__ADS_3

Setelah mengabaikan rengekan kedua putri yang sedari awal memang sudah sangat membebani di dalam perjalanan, pangeran Indra Mahesa yang tidak menghiraukan rasa lelah yang dia rasakan segera saja mendaki puncak tebing yang di bawahnya adalah lorong jalan menuju ke kerajaan Galuh dari dua kerajaan besar yaitu Sri Kemuning, dan Paku Bumi.


Tiba di atas tebing itu, dia melihat bahwa lima ribu pasukan telah berada di seberang tebing sana dan lima ribu pasukan berada di seberang sini dengan Senopati Arya Prana sebagai pemimpin dari pasukan tersebut.


Tampak di ujung seberang sana Panglima Rangga mengibarkan bendera hitam ke arah pangeran Indra Mahesa yang disambut dengan lambaian tangan sang pangeran.


"Paman Senopati. Segera sebarkan seluruh prajurit ke segala penjuru di hutan ini. Dalam waktu tiga hari, siapkan jebakan sebanyak mungkin. Jangan lupa katakan juga hal yang sama kepada Paman Panglima Rangga!" Kata Pangeran Indra Mahesa berpesan.


"Hamba, Gusti!" Kata Senopati Arya Prana sembari menjura.


"Apa sudah ada berita dari Tumenggung Paksi, Paman?" Tanya Pangeran Indra.


Sebelum berangkat ke lembah jati ini, Pangeran Indra Mahesa memang sengaja mengutus Tumenggung Paksi bersama dua ribu pasukan Prajurit penunggang kuda dengan persenjataan lengkap untuk membuntuti para prajurit dari Paku Bumi yang sudah ditarik dari kadipaten Gedangan.


"Ampun Gusti. Sampai saat ini, hamba masih belum mendapat kabar dari pasukan yang dipimpin oleh Tumenggung Paksi," jawab Senopati Arya Prana.


"Hmmm... Apakah menurut paman, pasukan yang dipimpin oleh Tumenggung Paksi mendapat kesulitan atau mereka tersesat lalu bertemu dengan pasukan dari Paku Bumi?" Tanya Pangeran Indra Mahesa menduga-duga.


"Tidak mungkin, Gusti. Kami ini adalah bekas para pembesar do kerajaan Sri Kemuning. Kerajaan Sri Kemuning itu berada di atas telapak tangan kami. Masakan iya Tumenggung Paksi bisa tersesat dan bertemu dengan pasukan Jaya Pradana? Hamba meragukan itu, Gusti!" Kata Senopati Arya Prana pula menjawab keraguan dari kunjungan nya itu.


"Baiklah, Paman. Aku akan kembali dulu untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Teruslah bersiaga, Paman!" Perintah Pangeran Indra sebelum pergi.

__ADS_1


"Menjunjung Titah, Gusti!" Jawab Senopati Arya Prana sambil merapatkan sepuluh jari membentuk sembah.


Pangeran Indra terus berlari menggunakan ilmu peringan tubuh yang sudah mencapai tingkat kesempurnaan.


Tidak sampai sepeminuman teh, dia telah tiba di perkampungan tersembunyi dan langsung menuju ke sebuah rumah besar yang dulu dia tempati bersama dengan Ibundanya.


Tiba di dalam, dia langsung di sambut dengan wajah asam dari kedua Putri yang saat ini sedang menghadap masing-masing sepiring nasi tanpa lauk yang berada di hadapan masing-masing.


"Kanda.., mengapa makanan ini hanya nasi bulat saja? Tanpa lauk, tanpa sayur. Aku tidak bisa memakan makanan seperti ini!" Keluh Putri Melur sambil mendorong pinggan tempat nasi yang berada di hadapannya.


"Sabarlah wahai Tuan Putri. Kita semua sama. Saat ini hanya ada ini yang bisa untuk kita makan. Syukuri apa yang ada. Beruntung kita masih bisa makan untuk melanjutkan perjuangan ini," kata Pangeran Indra Mahesa berusaha membujuk.


"Berusahalah untuk mencari lauk, Kanda! Ajak prajurit mu untuk berburu. Di hutan ini kan banyak binatang buruan. Mengapa tidak berusaha?" Rengek Putri Melur yang juga dibalas anggukan oleh Sekar Mayang.


"Huh! Aku tidak mau. Di istana, aku tidak pernah memakan makanan seperti ini," kata Putri Melur yang langsung menendang piring nasi itu membuat Gayatri, Sadewa, Putri Sekar Mayang dan terutama Pangeran Indra Mahesa terkejut setengah mati.


Tampak Gayatri sudah akan mencabut senjata Cakra kembar di balik pakaiannya.


Gadis ini memang terkenal mudah marah dan berapi-api. Hal ini yang membuat pangeran Indra Mahesa segera menengahi.


"Aku tidak pernah mengajak mu untuk menyertaiku dalam perjuangan ini. Kau yang menggatal untuk ikut. Aku tau kerajaan Garingging adalah kerajaan yang kaya dan kau bisa makan enak di sana. Sekarang pergi kembali ke kerajaan mu. Kau terlalu merasa besar kepala dan bangga dengan dirimu yang sebagai Tuan Putri. Tapi aku tidak perduli dengan status mu."

__ADS_1


"Di sepanjang jalan kau terus merengek, mengeluh seperti anak kecil. Aku sudah melarang mu untuk ikut. Tapi kau sama sekali tidak mengindahkan larangan ku. Kau hanya manjadi beban bagiku. Makanya, jadi orang jangan bercermin di air yang keruh. Biar kau bisa melihat jelas wajah mu itu. Jika kau tidak bisa meringankan beban kami di sini, sebaiknya jangan menambahi beban kami!"


"Kau juga, Sekar Mayang! Merengek untuk ikut seperti anak kecil. Apa kau kira aku ini akan pergi bersenang-senang? Sekarang kalian ikuti aku!" Bentak sang Pangeran lalu enak saja dia menarik tangan kedua Putri itu.


Dia tidak memperdulikan lagi ringisan kesakitan dari kedua Putri manja itu.


Begitu tiba di tempat para wanita dan anak-anak, dia segera mendorong kedua putri itu hingga jatuh tersungkur.


"Kalian lihat penderitaan mereka? Buka mata kalian dan lihat! Mereka ini hanya makan sekali sehari. Mereka menderita di sini demi sebuah perjuangan. Ini telah mereka hadapi belasan tahun. Kau merasa tidak bersyukur mendapat makanan walau hanya nasi. Tapi coba kau tanya mereka ini! Mereka mendapatkan ubi pun bagaikan mendapatkan sebongkah emas. Makanya jadi orang itu jangan memandang ke atas terus! Sesekali lihat ke bawah. Lihat penderitaan orang lain agar kau tau arti sebuah kata syukur. Tidak kufur nikmat dan menyalahkan setiap keadaan!"


"Kalian ini adalah dua putri dari orang yang memiliki kekuasaan. Kalian akan menjadi panutan bagi rakyat. Jika kalian seperti ini, rakyat mana yang akan menjadikan kalian sebagai panutan?" Tanya Pangeran Indra Mahesa dengan suara menggelegar.


Saat ini, Putri Melur dan Putri Sekar Mayang hanya bisa terduduk di tanah dengan kepala tertunduk.


Terasa benar perkataan yang diucapkan oleh pangeran Indra, menusuk ke dalam hati mereka.


Dia segera mendongakkan wajahnya memandang kearah para wanita dan anak-anak yang saat ini menatap kearahnya.


Tampak keadaan mereka sangat menyedihkan.


Badan mereka kurus, pakaian compang camping, dan sebagian dari anak-anak kecil bahkan hanya ada cawat yang membungkus bagian tubuh yang penting saja tanpa memakai baju. Sungguh satu kehidupan yang jauh dari kata layak.

__ADS_1


"Jika kalian ingin kembali ke kota raja, aku akan mengutus seratus orang prajurit untuk mengawal kalian berdua. Aku sudah sangat muak dengan semua ini. Segera menyingkir dari hadapan ku sebelum aku benar-benar muntah!" Kata pangeran Indra lalu segera meninggalkan kerumunan orang-orang yang menyaksikan kemarahannya itu.


Bersambung...


__ADS_2