
Debu tampak mengepul lalu terbang di udara setiap tapak kaki kuda yang ditunggangi oleh lima ribu prajurit pimpinan Senopati Arya Prana meninggalkan kadipaten Gedangan di sore hari itu.
Di belakang, tampak Pangeran Indra Mahesa, Gayatri, Raden Danu, Adipati Rakai langit dan Adipati Panembahan Ardiraja berdiri tegak di atas benteng sambil memperhatikan keberangkatan prajurit gelombang ke dua ini yang semakin lama semakin mengecil dari penglihatan.
Setelah prajurit dari pasukan inti itu benar-benar lenyap dari pandangan, barulah pangeran Indra dengan didampingi oleh Gayatri mulai berpamitan kepada kedua Adipati tua itu dan Raden Danu untuk kembali ke kota raja.
"Kakek Adipati Rakai langit dan Kakek Adipati Panembahan Ardiraja, cucu mohon diri untuk kembali ke kota raja. Cucu amanahkan bagi kakek berdua dengan dibantu oleh Raden Danu untuk menjaga benteng pertahanan ini dari serangan musuh," kata Pangeran Indra Mahesa sambil menyalami kedua Adipati tua itu dan juga Raden Danu.
"Berangkatlah wahai Cucu kebanggaan kami. Saat ini beban di pundak mu terlalu besar dan berat. Kami akan membantu meringankan sedikit beban mu. Walau bagaimanapun, mempertahankan negri ini adalah tugas kita bersama. Jaga keselamatan mu. Karena, hanya dengan keselamatan mu saja kita masih memiliki harapan untuk melanjutkan perjuangan andai kita mengalami kekalahan di peperangan kali ini. Karena, tampuk kekuasaan dari kerajaan Sri Kemuning dan kerajaan Galuh ini hanya kau yang berhak mewarisi nya. Dengan begitu, jangan terlalu memaksa untuk pulang tinggal nama!" Kata Adipati Panembahan Ardiraja berpesan.
"Cucu mengerti, kakek Adipati," jawab pangeran Indra Mahesa sambil sekali lagi membungkuk hormat.
"Hati-hati Gusti. Jika terdesak di lembah jati, segeralah bergabung kembali dengan kami di sini!" Kata Raden Danu.
"Tidak, sobat. Jika kami terdesak, kalian yang akan menyusul kami di sana. Karena, ketika kita berkumpul kembali di kadipaten Gedangan ini, maka kota raja sudah pasti ditawan oleh musuh," jawab Pangeran Indra Mahesa.
"Baiklah. Kami akan menunggu kabar dari Gusti, sekalian mempertahankan benteng di kadipaten Gedangan ini,"
"Terimakasih. Jika begitu, kami berangkat dulu," kata pangeran Indra Mahesa lalu mengajak Gayatri untuk segera menuruni tangga dan segera berjalan menghampiri kuda milik mereka masing-masing.
Dengan diiringi oleh lambaian tangan ketika orang yang masih berada di atas benteng tersebut, sepasang muda-mudi itu pun langsung menggebah kuda mereka menuju ke kota raja kerajaan Galuh.
Kini tinggallah debu saya yang beterbangan dari bekas tapak kuda tunggangan kedua muda-mudi yang telah menghilang dari pandangan.
"Apa kau kelelahan, Dinda?" Tanya Pangeran Indra Mahesa kepada gadis yang saat ini menunggang kuda di samping kudanya.
"Tidak, Kakang!" Jawab gadis itu sembari tersenyum.
__ADS_1
"Sudah hampir malam Dinda. Mari kita beristirahat terlebih dahulu. Besok baru kita lanjutkan lagi perjalanan. Bagaimana?" Tanya Pangeran Indra.
"Terserah kakang saja. Hutan bambu sudah dekat. Kita beristirahat di sana saja," kata Gayatri yang langsung menggebah kuda tunggangan nya agar segera tiba di pinggiran hutan bambu.
Melihat gadis itu telah mempercepat lari kuda tunggangannya, Pangeran Indra tidak menunggu lagi. Dia segera menghentakkan tali kekang kudanya untuk menyusul gadis itu dan segera mensejajarkan kuda tunggangan mereka menuju ke pinggiran hutan bambu.
*********
"Kita beristirahat di sini saja, Dinda!" Ajak sang Pangeran sambil menuntun kudanya ke arah sebatang pohon yang sangat besar.
Tanpa membantah, Gayatri segera menyusul lalu memilih duduk di bagian kiri batang pohon yang memiliki sekatan-sekatan akar yang timbul di tanah membentuk kamar.
Pangeran Indra kini mengumpulkan ranting kayu kering lalu membuat api unggun untuk memanaskan tubuh mereka dari sengatan hawa dingin yang menusuk tulang.
Lumayan lah. Api unggun itu ternyata mampu mengusir rasa dingin yang tadi menyerang mereka berdua.
"Dinda tentu lapar. Mari kita makan dulu. Tadi kakang membawa perbekalan dari kadipaten Gedangan. Ini satu untuk Dinda, satu untuk kakang," kata Pangeran Indra Mahesa sambil mengulurkan sesuatu yang terbungkus dengan daun pisang.
"Pelan-pelan, Kakang! Makanan itu tidak akan lari," tegur Gayatri karena melihat Pangeran Indra Mahesa melahap makanan itu seperti orang kebuluran yang tidak bertemu dengan makanan seperti dua hari saja.
"Hahaha. Jarang-jarang kita bisa makan berdua-duaan seperti ini. Kakang sangat menikmati," jawab Pangeran Indra Mahesa malu-malu karena mendapat teguran. Bagaimanapun, dia adalah seorang Pangeran. Masa iya memakan makanan tanpa adab.
"Kira-kira, apakah ketika kita tiba di kota raja nanti, akan menimbulkan tanggapan bahwa kita telah kalah dalam peperangan ini?" Tanya Gayatri.
"Entahlah, Dinda. Namun, kakang tidak mungkin menceritakan bahwa sepuluh ribu pasukan inti kita telah berangkat menuju lembah jati,"
"Mengapa kita tidak langsung menyusul pasukan Paman Senopati Arya Prana saja? Kita tidak perlu singgah ke kota raja. Bukankah itu akan menghemat tenaga?"
__ADS_1
"Kita harus tetap singgah ke kota raja. Bagaimanapun, kakang ingin memastikan keamanan kota raja terlebih dahulu. Setelah itu, barulah kita akan berperang tanpa beban fikiran di belakang," jawab Pangeran Indra Mahesa.
"Bukankah di sana ada Sadewa bersama dengan seratus orang prajurit?" Tanya Gayatri.
"Kita membutuhkan Sadewa ini, Dinda. Dia akan menjadi penghubung antara orang-orang yang kita sebarkan sebagai tilik sandi," jawab pangeran Indra.
"Oh begitu. Dinda mulai mengerti sekarang," kata Gayatri manggut-manggut.
"Dinda tentu sangat lelah. Kakang akan menyiapkan tempat tidur untuk Dinda. Sebentar ya!" Kata pangeran Indra Mahesa sambil bangkit berdiri lalu mengumpulkan daun-daun kering dan menumpuk dedaunan kering tersebut sehingga berbentuk seperti tilam.
Gayatri hanya duduk saja memperhatikan ulah Pangeran Indra Mahesa ini yang tampak sangat serius menata tempat tidur untuk dirinya di bawah pohon besar tersebut.
Setelah selesai, pangeran Indra mengeluarkan kain sutra dari buntalan yang dia bawa kemudian melapisi daun tadi.
Setelah semuanya selesai, barulah dia mempersilahkan gadis itu untuk merebahkan tubuhnya.
"Tidur lah Dinda! Kakang akan berjaga-jaga di samping mu!" Kata pangeran Indra Mahesa mempersilahkan.
"Awas kalau kakang berani macam-macam ketika aku tertidur," ancam Gayatri sambil mengacungkan tinju nya.
"Hahaha. Kakang bukan jenis lelaki yang suka usil. Jika kakang mau, kakang akan dengan jantan memintanya langsung," kata Pangeran Indra sambil tertawa.
"Apa maksud kakang dengan berkata meminta secara langsung?" Tanya Gayatri sambil mendelik. Dia tau kemana arah dan maksud dari perkataan pangeran Indra Mahesa tadi. Namun, maklum lah. Wanita memang begitu.
"Tid-tidak.., tidak ada maksud apa-apa. Sudah ayo tidur. Besok Dinda membutuhkan tenaga untuk melanjutkan perjalanan. Kita baru akan tiba di kota raja selama dua hari perjalanan," kata pangeran Indra Mahesa sambil menuntun gadis itu untuk tidur.
Setelah gadis itu mulai merebahkan tubuhnya, pangeran Indra Mahesa lalu duduk membelakangi gadis itu sambil sesekali melemparkan potongan ranting kayu ke dalam tumpukan api unggun yang langsung di lahap oleh api yang berkobar itu.
__ADS_1
Jangan lupa like nya ya!
Bersambung...