Pangeran Tanpa Mahkota

Pangeran Tanpa Mahkota
Datuk Hitam terlalu tangguh


__ADS_3

"Eyang...!"


Pangeran Indra Mahesa berlutut sambil mengangkat tubuh Eyang Santalaya.


Dengan perlahan dia meletakkan tubuh Eyang Santalaya di atas baju perang miliknya sambil diikuti oleh Bidadari kipas perak.


Pangeran Indra Mahesa baru mengalihkan perhatiannya ketika melihat satu persatu para sahabatnya terpental oleh amukan Datuk Hitam.


Sementara itu, Bidadari Kipas Perak tampak berkomat-kamit di dekat tubuh Eyang Santalaya yang terlihat menghitam di bagian dada akibat pukulan yang dilepaskan oleh Datuk Hitam tadi.


"Santalaya.., kau jangan mati dulu. Kau masih berhutang banyak kepada ku. Bangun kau Santalaya!" Teriak Bidadari kipas perak sambil menggoncang tubuh lelaki kurus kering itu.


"Hahahaha... Waaahahahaha..."


Terdengar suara gelak tawa dari Datuk Hitam begitu dia berhasil memukul mundur Senopati Arya Prana dan kawan-kawannya yang menyerang dirinya setelah Bayu Gatra, Andini dan Gayatri terpental jauh ke tanah.


"Kalian ini bukanlah lawan yang sepadan untuk ku. Hahaha. Pulanglah kalian semua ke Sri Kemuning. Dendam ku telah terbalaskan. Aku tidak ingin mengotori tangan ku dengan meladeni cecunguk kecil seperti kalian ini," kata Datuk Hitam sambil mengibaskan tangannya.

__ADS_1


Begitu tangannya tersebut dia kibaskan, terdengar suara angin menderu dan langsung mendorong tubuh Senopati Arya Prana beberapa tombak jauhnya hingga menghantam akar pohon.


Baru saja Datuk Hitam akan membalikkan badannya untuk pergi meninggalkan tempat pertarungan itu, Pangeran Indra Mahesa pun berseru membuat lelaki tua itu batal pergi.


"Datuk celaka. Apa kau tidak menganggap ku?" Terdengar dingin suara Pangeran Indra Mahesa sambil tersenyum sinis.


"Hahaha. Anak muda. Kau masih muda. Masa depan mu masih panjang. Sayang jika kau terbunuh di tangan ku. Apa kau mau menyusul Paman mu si Jaya Pradana itu hah?" Bentak Datuk Hitam, lalu melanjutkan. "Lama aku menunggu saat seperti ini. Aku terpaksa menggunakan Jaya Pradana untuk memancing orang-orang dari golongan putih untuk keluar dari sarangnya. Tidak terhitung jumlah mereka yang telah aku bunuh. Terakhir, korban ku adalah Santalaya ini. Hahahaha,"


"Hanya karena dendam mu kepada satu orang, kau mengorbankan banyak nyawa orang yang tidak bersalah?! Ayah ku terbunuh oleh mu. Penderitaan rakyat juga atas ulah mu. Seribu kematian pun sepertinya tidak akan cukup untuk menghapuskan dosa-dosa mu yang selangit tembus,"


"Bedebah kau Datuk Hitam. Sekarang, aku lah lawan mu. Jangan kira kau bisa pergi begitu saja setelah kau melakukan banyak keangkaramurkaan. Kau juga telah melukai guru ku,"


"Hiaaaaah!"


Pangeran Indra Mahesa langsung melompat dan menerjang ke arah Datuk Hitam.


Tidak ada lagi jurus langkah sakti, yang ada kini hanya jurus inti dari ilmu silat miliknya yang dia keluarkan. Karena, percuma saja dia mengeluarkan jurus itu. Karena, Datuk Hitam justru lebih tau soal jurus langkah sakti karena dia adalah satu perguruan dulunya dengan Santalaya.

__ADS_1


"Anak ingusan. Di beri kesempatan hidup malah mencari mati," kata Datuk Hitam lalu berkelit kemudian menangkap pergelangan kaki Pangeran Indra Mahesa yang menerjang ke arahnya.


Setelah pergelangan kaki Pangeran Indra Mahesa di tangkap, lalu lelaki tua itu mempelintir kaki Pangeran Indra Mahesa hingga pemuda itu terbanting di tanah.


Bugh!


Tampak Pangeran Indra Mahesa meringis menahan rasa sakit. Namun, tidak ada waktu lagi baginya untuk menghayati rasa sakit akibat terbanting itu. Karena, kini dia harus pontang-panting menghindari serangan yang mencercar bagian tubuhnya.


Sambil berguling di tanah, Pangeran Indra melentingkan tubuhnya lalu bergegas bangkit dan kembali harus bersalto untuk menghindari sapuan kaki yang mengandung tenaga dalam dari Datuk Hitam.


Tidak sedikitpun Datuk Hitam memberi kesempatan kepada pemuda itu untuk melakukan serangan balasan. Pada satu ketika, sebuah tendangan tepat menghantam pinggang Pangeran Indra Mahesa sehingga membuat pemuda itu terpental deras menuju sebatang pohon.


Beruntung baginya, karena Bidadari kipas perak segera melesat menangkap luncuran tubuh pangeran Indra hingga selamat dari menghantam sebatang pohon yang hanya berjarak sedepa lagi darinya.


"Jikalau galah panjang sejengkal, jangan lautan hendak kau duga. Kau bukanlah lawan yang sepadan dengan ku," kata Datuk Hitam sambil berkacak pinggang.


"Maruta. Aku mengadu jiwa dengan mu!" Bentak Bidadari kipas perak lalu sambil mengeluarkan senjata andalannya, kini dia melesat menyerang Datu Hitam.

__ADS_1


__ADS_2