
Klontang!!!
Terdengar suara berkorontang dari sebuah nampan berisi buah-buahan yang terbuat dari tembaga itu ketika jatuh di lantai aula Paseban itu.
Tampak seorang lelaki berpakaian kebesaran lengkap dengan mahkota dan segala kemewahannya beranjak turun dari singgasananya dengan mata merah yang menandakan bahwa dirinya dalam kemarahan saat ini.
"Kalian semua memang celaka! Menangkap sisa prajurit Sri Kemuning saja tidak becus. Mengapa kalian kembali jika tidak bisa menemukan keris tumbal kemuning itu hah?" Bentaknya dengan sebelah tangan berkacak pinggang dan sebelah tangan lagi menunjuk-nunjuk tepat ke arah kepala-kepala yang tertunduk itu.
Terlihat dengan jelas bahwa lelaki berpakaian mewah dan menyilaukan mata ini sedang murka.
Baru saja tadi pagi dia memerintahkan para punggawanya yaitu Soka Nanta, Wikalpa, Gagak Ireng dan Raka Pati untuk melakukan pengejaran terhadap permaisuri dengan sisa-sisa prajurit yang melarikan diri. Namun kini mereka kembali dengan kegagalan. Dan yang paling mengenaskan adalah, salah satu panglima perang kepercayaannya yaitu Soka Nanta terbunuh dalam misi pengejaran itu.
Sebenarnya Dia tidak perduli terhadap Permaisuri dan putra mahkota itu mau hidup atau mati. Karena yang dia butuhkan adalah keris tumbal kemuning. Karena, hanya dengan keris itulah dia baru bisa dikatakan Raja yang sah dalam menduduki tahta kerajaan.
"Ampun kan kami Gusti Prabu. Kami telah gagal menjalankan perintah Gusti. Ini karena, ketika kami tiba di pinggir lembah bangkai, pertempuran antara prajurit yang di pimpin oleh Panglima Soka Nanta telah pecah. Dan kami hanya menemukan mayat-mayat para prajurit kita di sana." Kata Wikalpa sambil merapatkan kedua telapak tangannya di depan hidung.
"Kalian memang bodoh semuanya. Lalu mengapa kalian tidak mengejar rombongan Yunda Galuh Cendana hah?" Bentak sang Raja.
"Itulah Gusti Prabu. Ketika kami hendak melakukan pengejaran, tiba-tiba ada lelaki tua yang menghalangi kami. Sepertinya orang tua itu dari rimba persilatan. Ilmu silatnya sangat tinggi dan kami tidak mampu menghadapinya." Jawab Gagak Ireng.
__ADS_1
"Orang tua? Siapa dia?"
"Ampun Gusti Prabu. Dia tidak memberitahu siapa namanya. Tingkah nya sungguh aneh. Seperti orang gila. Tapi ilmu nya sungguh sulit untuk di ukur."
"Eyang Santalaya? Ah tidak mungkin. Orang tua itu telah lama mati. Bahkan ketika aku masih kecil." Katanya dalam hati.
"Lalu, apa lagi yang kalian ketahui?"
"Ampun Gusti Prabu. Dari prajurit yang selamat, kami mendapat tahu bahwa putra Gusti Prabu Wardana terhumban ke dalam jurang sewaktu berebut dengan Soka Nanta."
"Menurut hamba, tidak mungkin bagi bayi yang baru berumur satu hari itu bisa selamat setelah terperosok ke dalam jurang lembah bangkai yang sangat dalam itu." Kata Raka Pati pula.
"Hmmm... Baiklah. Kali ini kalian aku ampunkan. Aku tau kemana Tunda Galuh Cendana melarikan diri. Sekarang siapkan tilik sandi dan segera sebarkan di sekitar kerajaan Setra kencana dan Kerajaan Galuh. Aku akan mengirim utusan ke kerajaan Galuh untuk mengancam paman Prabu Rakai Galuh agar tidak ikut campur dalam urusan ini. Atau aku akan menghancurkan kerajaan itu sampai rata dengan tanah." Kata Raja Pradana sambil kembali duduk di atas singgasana yang dia rebut secara paksa dari pemiliknya yang sah.
Pagi itu, puluhan orang-orang berkuda tampak meninggalkan depan istana Sri Kemuning menuju ke berbagai daerah untuk menyerap kabar tentang keberadaan Permaisuri Galuh Cendana beserta rombongannya.
Setelah itu, sekitar dua belas orang prajurit bersenjata lengkap yang di pimpin oleh Raka Pati langsung berangkat sambil membawakan surat dari Raja Pradana untuk Raja di kerajaan Galuh yaitu, Gusti Prabu Rakai Galuh.
Debu-debu tampak mengepul dari bekas jalan berdebu yang di lalui oleh rombongan yang dipimpin oleh Raka Pati ini.
__ADS_1
Beberapa orang penduduk di kota raja itu tampak berlari sambil menarik tangan anaknya kemudian memasuki rumah lalu mengunci pintu rapat-rapat.
Tampak jelas ada ketakutan dari para penduduk kota raja ini. Mereka jelas masi Trauma dengan perang selama dua hari dua malam yang mengakibatkan runtuhnya kekuasaan Raja Wardana di susul oleh kematiannya.
Sementara itu beberapa penduduk lainnya tampak hanya mengintip dari balik jendela yang tidak tertutup rapat sembari menyumpah serapah kepada rombongan itu.
"Dasar Raka Pati pengkhianat. Hanya demi secuil jabatan, rela berkomplot dengan iblis untuk menggulingkan pemerintahan yang sah."
"Sssst...! Jaga bicara mu Dinda. Nanti jika ada yang mendengar, kita bisa di tangkap dan di seret untuk menjalani hukuman pancung di alun-alun istana."
"Biarkan. Setidaknya hanya sekali itu saja aku merasakan sakit. Daripada harus di jajah oleh para prajurit Paku Bumi. Memang tidak mati. Tapi penderitaan akan kita alami seumur hidup."
"Lihat saja kelak. Pajak sawah pasti naik. Upah-upah akan diturunkan. Biaya pangan semakin meningkat dan akan banyak rampok yang bertebaran di mana-mana. Jika sudah begitu, siapa yang akan menderita?"
"Sudahlah Dinda. Kau jangan menambah penyakit. Aku belum siap untuk mati." Kata lelaki itu sambil membujuk istrinya untuk tutup mulut.
"Andai aku ini laki-laki, aku pasti sudah mengangkat senjata dan bergabung dalam barisan prajurit Sri Kemuning. Andaipun mati, mati dengan cara terhormat karena mempertahankan hak."
"Kau menyindir ku?"
__ADS_1
"Sukur kalau kakang merasa." Kata wanita itu lalu bergegas melangkah ke dapur.
Kini tinggallah lelaki tadi memandang kepergian istrinya sambil garu-garu kepala.