
Seorang prajurit penunggang kuda dengan sebuah Panji berwarna hitam berkibar dibelakangnya tampak menggebah kuda tunggangan nya sekencang mungkin.
Begitu prajurit penunggang kuda itu tiba di dekat gerbang benteng pertahanan di kadipaten Gedangan itu, beberapa orang prajurit tampak membukakan pintu gerbang dan kini prajurit penunggang kuda itu pun masuk tanpa mengurangi kecepatan kuda tunggangannya.
Tiba di depan seperti pemuda yang saat ini sedang memberi beberapa arahan dan perintah kepada beberapa lelaki yang lebih tua darinya, prajurit pembawa panji hitam tadi segera melompat dari punggung kudanya lalu berlutut dengan satu kaki.
"Lapor, Gusti! Pasukan prajurit dari Paku Bumi sudah meninggalkan pinggiran hutan menuju ke bekas istana kerajaan Setra kencana. Namun, di sana mereka tidak jadi beristirahat karena istana itu telah rata dengan tanah. Mereka kini melanjutkan perjalanan kembali ke kota raja Sri Kemuning," lapor sang prajurit yang ternyata adalah tilik sandi adanya.
Mendengar laporan ini, pemuda itu hanya tersenyum saja. Apalagi dia mendengar bahwa pasukan dari Paku Bumi batal beristirahat karena istana bekas kerajaan Setra kencana telah rata dengan tanah akibat terbakar. Dan dialah yang membakar istana kerajaan Setra kencana tersebut beberapa hari yang lalu.
"Laporan mu, aku terima. Sekarang, kau boleh beristirahat sejenak. Setelah itu, kau akan berangkat dengan prajurit inti ke lembah jati," kata Pemuda itu.
"Sendiko dawuh Gusti Pangeran!" Kata prajurit tilik sandi tadi sambil menjura, lalu dia berjalan mundur menghampiri kudanya dan menuntun kuda tersebut menuju ke salah satu kemah yang memang tidak jauh dari tempat itu.
"Sepertinya umpan siasat yang kita berikan dimakan oleh musuh,"
"Benar, Paman Senopati. Saatnya bagi kita untuk melepas lima ribu prajurit terlebih dahulu."
"Tolong panggilkan Panglima Rangga dan Tumenggung Paksi!" Perintah sang Pangeran.
Tak lama kemudian dua orang lelaki bertubuh kekar dalam lingkungan usia empat puluh lima tahun pun tiba kemudian memberikan sembah kepada pemuda itu.
"Hamba menghadap, Gusti! Apakah ada perintah yang harus hamba laksanakan?"
"Paman Panglima Rangga. Pimpin lima ribu pasukan untuk segera berangkat ke lembah jati pagi ini. Sementara itu, untuk lima ribu pasukan lainnya, akan berangkat sore ini dengan dipimpin oleh Paman Senopati Arya Prana,"
__ADS_1
"Sendiko dawuh Gusti Pangeran!" Kata Panglima Rangga.
"Sementara itu, Tumenggung Paksi, akan memimpin prajurit sebanyak dua ribu orang dengan senjata lengkap untuk berangkat mengekori pasukan dari Paku Bumi. Atur jarak agar kehadiran kalian tidak diketahui. Kemudian, bersembunyi lah di desa Waringin. Kau tau apa yang harus dilakukan?!" Kata Pangeran Indra Mahesa sambil tersenyum.
"Hamba mengerti Gusti!"
"Berangkatlah sekarang juga. Semakin cepat tiba di lembah jati, akan semakin baik,"
"Lalu, apa yang akan hamba kerjakan di sini Gusti?" Tanya Raden Danu.
"Raden Danu, Kakek Adipati Rakai langit, Kakek Adipati Panembahan Ardiraja akan memimpin sepuluh ribu prajurit di benteng ini untuk mempertahankan kadipaten ini. Bagaimanapun, kadipaten Gedangan ini tidak boleh kosong. Siapa tau bahwa kepergian mereka adalah siasat untuk memancing kita agar menganggap bahwa semuanya aman-aman saja. Dengan adanya benteng pertahanan ini, maka setidaknya butuh waktu sepekan bagi mereka untuk merebut kadipaten Gedangan ini,"
"Hamba menerima perintah!" Kata Raden Danu sambil menjura.
"Baiklah! Semuanya sudah diatur sedemikian rupa. Aku sendiri akan berangkat ke kota raja untuk memantau keadaan di sana. Kita akan segera bertemu di lembah jati," kata pangeran Indra Mahesa sambil membubarkan pertemuan itu.
Di kota raja kerajaan Galuh saat ini, berita tentang mundurnya pasukan dari Paku Bumi disambut dengan suka cita oleh seluruh rakyat dan seisi istana.
Mereka bersuka cita menyambut kabar dari kadipaten Gedangan.
Tadinya mereka berfikir bahwa dua puluh ribu pasukan Prajurit yang dipimpin oleh Pangeran Indra Mahesa akan luluh lantak dibantai oleh pasukan dari Paku Bumi yang berjumlah lima puluh ribu orang itu. Tapi, berkat keberadaan benteng dan siasat yang diterapkan oleh para petinggi di pasukan itu, mereka berhasil membendung siasat licik dari musuh.
Selama lebih dua pekan keberangkatan para prajurit meninggalkan kota raja, mereka selalu berdoa agar gelombang serangan dari pasukan Paku Bumi bisa dibendung. Ini karena, dari segi perlengkapan perang, para prajurit kerajaan Galuh ini memang serba kekurangan. Mereka harus membuang perasaan malu menerima bantuan dari seluruh rakyat untuk membiayai keberangkatan pasukan ke kadipaten Gedangan.
Di dalam istana saat ini, tampak Gusti Prabu Rakai Galuh, Gusti Prabu Kerta Rajasa, Mahapatih Mahesa Galuh, Permaisuri Galuh Cendana, Putri Melur, Putri Sekar Mayang, Sadewa dan beberapa lagi rakrian Mentri dengan wajah berseri-seri membahas tentang kepiawaian Putra Mahkota Indra Mahesa dalam menjalankan seluruh siasat.
__ADS_1
Hal ini membuat Putri Melur dan Putri Sekar Mayang tidak sungkan lagi mengakui bahwa pemuda itu adalah yang terbaik saat ini.
"Ayah. Bolehkah aku ikut terjun ke medan perang untuk membantu pasukan yang dipimpin oleh kakang Indra Mahesa?" Tanya Putri Sekar Mayang kepada Mahapatih Mahesa Galuh.
"Ayahanda. Aku juga ingin mengikuti peperangan ini. Aku memiliki keahlian khusus dalam memanah. Setidaknya, aku ingin membantu Kakang Indra Mahesa," kata Putri Melur pula tak mau kalah.
"Kalian ini. Mengapa begitu bersemangat sekali. Apakah kehadiran kalian berdua nanti tidak akan membebani Putra Mahkota?" Tanya Mahapatih Mahesa Galuh sambil tersenyum. Dia sebenarnya tau bahwa putri nya itu menaruh hati terhadap pangeran yang gagah dan tampan itu.
"Ayah. Mohonlah kepada Uwak Prabu untuk mengizinkan ku ikut menyertai pasukan yang dipimpin oleh Kakang Indra!" Pinta putri Sekar Mayang.
"Ampun Gusti Prabu. Bagaimana menurut Kakang Prabu?" Tanya Mahapatih Mahesa Galuh.
"Uwak Prabu. Izinkan hamba menyertai pasukan itu. Setidaknya hamba bisa membantu menyediakan perlengkapan dan kebutuhan kakang Indra di sana," rengek Sekar Mayang.
"Percuma saja, Putriku. Di sisi kakang Indra Mahesa mu sudah ada Gayatri yang mengurus keperluan nya. Mereka berdua adalah sepasang pendekar yang pilih tanding," kata Gusti Prabu Rakai Galuh sambil tersenyum.
"Ampun Kakek Prabu. Apa hebatnya Gayatri itu? Hamba bisa mengalahkannya dalam sebuah pertarungan andai diizinkan!" Kata Putri Melur yang mendadak merasa gerah ketika nama Gayatri disebutkan oleh Gusti Prabu Rakai Galuh.
"Jaga bicaramu, Melur! Bagaimana bisa dalam keadaan seperti ini kau lebih mementingkan diri sendiri daripada perjuangan mereka? Ubah sikap mu atau akan aku antar kau kembali ke kerajaan Garingging?!" Tegus Gusti Prabu Kerta Rajasa terhadap putri tertua nya itu.
Putri Melur hanya tertunduk saja mendengar teguran itu. Dalam hatinya dia sangat menyesal entah mengapa tidak ikut saja dalam rombongan pasukan yang akan berperang itu untuk membuktikan bahwa dia lebih hebat daripada Gayatri.
"Yunda Galuh Cendana! Mohonlah kepada Uwak Prabu agar mengizinkan aku untuk pergi ke medan perang guna mendampingi kakang Indra Mahesa!" Kata Sekar Mayang tetap tidak mau menyerah.
"Tunggulah sebentar lagi Sekar! Firasat ku mengatakan tidak lama lagi putra ku akan singgah di kota raja ini. Kau bisa meminta sendiri kepadanya nanti," kata Permaisuri Galuh Cendana membuat sedikit harapan di hati Sekar Mayang kembali tumbuh.
__ADS_1
Bersambung...